NOMIN FANFICTION

LEE JENO X NA JAEMIN

NCT DREAM

Original Story By :

fungichan22_ a.k.a aaaloy22_

Cerita ini terinspirasi dari Drama Korea Scarlett Heart Ryeo, Rooftop Prince dan The Tale of Nokdu

Enjoy and Happy Reading


Acara penyambutan pesta untuk kedatangan utusan dari Qing akhirnya tiba. Jaemin benar-benar akan berjudi kembali dengan keberuntungan. Hari ini ia sudah memasrahkan semuanya kalau saja nanti penampilannya tidak memuaskan.

Selama dua hari ini Jaemin sudah berlatih menari mati-matian demi acara yang sungguh Jaemin sebenarnya tidak peduli. Ia bahkan rela hanya tidur selama dua jam dan menolak semua tamu yang ingin ia layani demi berlatih menari.

Pagi ini Jaemin dan gisaeng-gisaeng pilihan sudah berada di tempat acara. Jaemin yang berada di barisan paling depan para gisaeng mulai merasa tangannya berkeringat. Berkali-kali ia melirik pada kursi di atas tangga yang dihias begitu mewah. Itu adalah kursi yang akan diisi oleh Raja, Ratu, dan Putera Mahkota.

"YANG MULIA RAJA TIBA!"

Suara gong ditabuh bersamaan dengan pintu gerbang dibuka. Disana munculah sang Raja Joseon diikuti Ratu dan Putera Mahkota dengan arak-arakan para dayang di belakang mereka.

"YANG MULIA!"

Semua yang ada di tempat acara membungkuk serentak menyambut, tak terkecuali dangan Jaemin. Disana tepat di belakang Ratu, Jeno memperhatikan Jaemin. Merasa diperhatikan, Jaemin sedikit mengangkat kepalanya.

Lagi-lagi Jaemin disambut senyum menawan dengan mata bulan sabit. Ia bisa melihat Jeno menggerakkan bibirnya.

'Kau cantik.'

Sial! Jaemin mengerti meski Jeno hanya menggerakkan bibirnya tanpa suara. Wajahnya bersemu merah, tersipu dengan apa yang baru saja Jeno lakukan.

'Sialan Na Jaemin! Kau baru saja tersipu karena dipuji seorang pria? Yang benar saja Tuhan!'

Jaemin buru-buru menyadarkan pikirannya. Seharusnya ia marah disebut cantik karena sesungguhnya ia adalah seorang pria. Bukannya malah tersipu malu saat ada yang mengatakannya cantik. Sebagian jiwa kelelakian Jaemin sedikit terluka dengan tingkahnya barusan.

"Utusan dari Qing akan segera tiba. Aku sangat terpana karena Putera Mahkota telah membuat acara dengan begitu baik." Jeno membungkuk hormat saat Raja memujinya.

"Kau lihat itu? Rumor yang beredar jika Putera Mahkota sangat tampan memang benar adanya."

"Lihat senyumannya itu! Aku berani bertaruh jika Putera Mahkota adalah pria paling tampan di Joseon."

"Kau sudah mendengar kabar pemilihan Puteri Mahkota? Siapapun wanita yang akan bersanding dengannya dan menjadi Ratu benar-benar sangat beruntung!"

Jaemin mengerutkan dahinya mendengar percakapan kecil dua orang gisaeng di belakangnya. Ia menoleh sebentar untuk menegur gisaeng itu.

"Tolong jaga ucapan kalian. Tidak seharusnya kalian membicarakan Putera Mahkota disaat seperti ini." Peringat Jaemin membuat dua gisaeng itu menunduk.

"Maafkan kami eonnie. Kami tidak akan mengulanginya lagi." Ucap salah satu gisaeng itu. Jaemin menahan diri untuk tidak bergidik ngeri saat dipanggil eonnie. Ia merasa jadi seperti benar-benar seorang wanita.

"UTUSAN QING TELAH TIBA!"

Gong kembali ditabuh. Raja berdiri bersamaan dengan pintu gerbang yang kembali dibuka. Para pejabat dan semua orang yang ada disana berdiri serentak untuk menyambut. Disana dua orang pemuda yang disinyalir sebagai untusan dari Qing turun dari kudanya. Kedua pemuda itu lalu berjalan hingga di depan tangga menuju Raja.

"Salam untuk Wang, Wangbi, dan Wangseja*." Ucap salah satu pria yang membungkuk hormat di depan Raja dengan bahasa Joseon yang fasih.

(Raja, Ratu/Permaisuri, Putera Mahkota)

"Selamat datang untuk Putera Mahkota dan Pangeran Utama Qing. Aku begitu tersanjung anda datang memenuhi permintaan dari Joseon."

Raja menuruni tiap undakan tangga dan menyambut dengan menepuk pundak kedua pria utusan Qing itu. Raja lalu berseru pada semua yang ada di tempat acara dengan lantang.

"Pemilihan Puteri Mahkota akan segera tiba. Sebagai adat dan penghormatan kepada Kerajaan Qing, maka Putera Mahkota dan Pangeran Utamq dari Qing akan tinggal sementara di Joseon hingga Wangseja menikah sebagai saksi dari Qing."

Raja mengamati jajaran pejabat yang mulai berbisik-bisik. Sudah ia duga peperangan akan segera dimulai dimana mereka akan melakukan segala cara agar puteri mereka bisa bersanding dengan Putera Mahkota.

"Salam kepada Putera Mahkota dan Pangeran Utama Kerajaan Qing." Semua yang ada di tempat membungkuk hormat.

Sedangkan Jaemin yang berdiri tidak terlalu jauh dari Raja dan dua utusan Qing merasa nyawanya akan lepas. Lagi-lagi ia diberikan sebuah kejutan.

"Huang Renjun dan Zhong Chenle..."

Jaemin menatap kedua kaki dan tangannya tidak percaya. Ia baru saja menampilkan tarian solo di acara penyambutan. Saat menari, Jaemin seakan merasa sedang kerasukan. Tiba-tiba tubuhnya bergerak begitu saja dengan ringan mengikuti alunan musik. Kegugupannya sebelum tampil bahkan hilang begitu saja entah kemana.

Selama itu juga dari ratusan orang yang hadir, atensi Jaemin hanya tertuju pada Jeno. Seperti magnet mereka terus bertatapan tanpa bisa Jaemin mencegahnya. Seolah-olah jika Jaemin menari hanya untuk Jeno.

Kini Jaemin sudah kembali duduk bersama gisaeng lain di kursi panjang membuat sebuah barisan panjang. Di hadapan mereka sudah tersaji berbagai macam arak dan kudapan. Karena hari masih siang, para gisaeng belum diperbolehkan untuk melayani para tamu. Mereka hanya diizinkan untuk menampilkan tarian, bermain musik, berpuisi, dan bernyanyi.

Acara yang sebenarnya akan diadakan setelah matahari terbenam. Para tamu diizinkan memilih gisaeng-gisaeng yang mereka inginkan untuk melayani mereka. Pesta arak sebenarnya juga akan dilaksanakan saat hari menjelang malam.

Jaemin memandang penasaran pada arak beras yang ada di depannya. Ia melirik ke samping kanan dan kirinya, tidak ada gisaeng yang meminum arak. Tapi rasa penasaran Jaemin membuatnya tidak peduli. Apapun yang terjadi ia ingin sekali mencobanya meskipun hanya satu cawan kecil.

"Eonnie, anda yakin ingin meminum arak di siang hari?" Tanya salah satu gisaeng yang duduk di samping kanan Jaemin. Mendengar gisaeng itu kembali menyebutnya eonnie, Jaemin kembali bergidik tapi ia coba untuk menahannya.

"Aku hanya penasaran dengan rasa arak dari istana. Apakah semenakjubkan tempat yang menyiapkannya."

Tanpa ragu Jaemin meneguk satu cawan arak dalam sekali tegukan. Matanya melotot antusias saat rasa panas, manis dan pahit itu menyapa lidahnya.

"Wow! Rasanya luar biasa. Sayangnya orang-orang di masa ini tidak akan tahu betapa nikmatnya meminum arak ditemani chicken box. Rasanya benar-benar bisa membuatku menggelinjang keenakan."

Terhitung Jaemin menenggak sekitar empat cawan arak. Ia memutuskan untuk berhenti saat beberapa gisaeng mulai menatapnya aneh karena meminum arak di siang hari. Terlebih cara minumnya yang tidak mencerminkan seorang wanita. Karena Jaemin dengan gerakan kasar meminumnya sekali tenggak. Lagi-lagi ia melupakan siapa dirinya dan dimana ia berada.

"Apa kita diizinkan untuk undur diri? Aku merasa disini sangat panas." Keluh Jaemin pada gisaeng yang tadi bertanya padanya. Gisaeng itu mengangguk pada Jaemin.

"Boleh beristirahat sejenak. Tapi jangan terlalu lama dan harus segera kembali ke tempat sebelum mendapat teguran."

"Baiklah. Aku ingin mendinginkan tubuhku sejenak."

Jaemin bangkit dan pergi dari tempat acara yang terasa panas dan sesak. Jaemin tidak mengenal tempat-tempat di istana, tapi ia memutuskan untuk menyamankan diri di tepi kolam ikan di sebelah timur tempat acara. Hanya tempat itu yang bisa Jaemin temukan.

Belum saja Jaemin melangkahkan kaki ke tempat tujuannya, ia melihat sesosok figur yang beberapa saat lalu mengobrak-abrik pikirannya. Sebelum orang itu sadar, Jaemin menjinjing roknya berniat berbalik secepat mungkin.

"Nana, kenapa kau berbalik?"

Jaemin menutup matanya dan merutuk dalam hati. Perlahan dengan tangan yang masih menjinjing roknya, Jaemin berbalik dengan senyum aneh.

"Saya berniat untuk beristirahat sejenak dari acara. Maafkan saya jika mengganggu anda Yang Mulia." Ucap Jaemin sopan. Berbanding balik dengan hatinya yang ingin segera berlari kemanapun asal tidak bersama orang di depannya.

"Kemari, kita bisa beristirahat bersama."

Orang itu, Jeno menarik tangan Jaemin untuk ikut bersamanya. Jeno membawa Jaemin untuk duduk di bawah pohon oak merah dan beralaskan rumput hijau. Di depan mereka tersaji sebuah kolam yang berisi berbagai macam ikan hias yang sangat cantik.

"Bagaimana jika ada yang melihat kita?" Jaemin sedikit panik dengan keadaan sekitar. Meskipun hanya ada dirinya dan Jeno, ia takut ada orang yang melihat interaksi mereka.

"Tidak ada. Semuanya terlarut dalam acara. Tidak ada yang akan melihat kita disini."

Keduanya terdiam cukup lama. Hanya suara semilir angin yang sejuk dan gemericik air kolam yang menjadi penengah keduanya. Jaemin memejamkan kedua matanya, menikmati ketenangan dari suara-suara alam yang ia dengar.

Jeno mengamati Jaemin yang tersenyum dengan mata terpejam. Bulu mata lentik dan tebal itu mengundang siapa saja untuk menatapnya. Pemandangan indah di depannya itu, membuat Jeno lagi-lagi tidak bisa untuk tidak tersenyum.

"Disini, adalah tempat pertama kita bertemu." Jeno tampak menerawang dengan kejadian di masa lalu. Jaemin yang mendengar ucapan Jeno kembali membuka matanya dan menatap wajah tampan di sampingnya.

"Waktu itu aku melihatmu menari bersama Tuan Ok. Aku yang lari dari kelas etika malah terdiam melupakan jika para pelayan sedang mencariku. Kau ingat? Kau menyapaku yang terus berjongkok seperti orang bodoh disana." Tunjuk Jeno pada batu besar yang tidak jauh dari tempat mereka sekarang.

Meski Jaemin tidak tahu dengan apa yang Jeno ucapkan, tapi ia merasa jika ada sesuatu yang familiar di hatinya. Yang ada diingatannya pertama kali ia bertemu dengan Jeno adalah saat pertama kali diterima sebagai trainee. Jaemin tidak tahu apa saja yang pernah dilakukan Jeno dengan Nana, yang jelas ia merasa terhubung dengan Jeno di masa ini.

"Yang Mulia benar-benar sangat manis. Begitu beruntung nanti Puteri Mahkota bisa bersanding dengan Yang Mulia." Jaemin mengatakannya dengan tulus.

Jeno tersenyum simpul, "Sebenarnya aku tidak peduli dengan pemilihan Puteri Mahkota yang sedang marak dibicarakan. Jika boleh memilih aku ingin dilahirkan sebagai pria biasa bukan putera Raja. Dimana aku bisa hidup selayaknya tanpa tekanan dari orang-orang yang haus kekuasaan."

"Boleh saya melihat tangan Yang Mulia?" Tanya Jaemin.

Meski tidak mengerti Jeno tetap mengulurkan tangan kanannya yang disambut oleh Jaemin. Jaemin meletakkan telapak tangan Jeno di atas tangannya. Lalu menunjuk-nunjuk garis tangan yang ada di telapak tangan Jeno.

"Saya ramal, di kehidupan selanjutnya harapan Yang Mulia akan terwujud. Yang Mulia akan kembali dilahirkan sebagai pria dengan penuh kasih sayang dan cinta. Meski tetap akan ada sebagian yang membenci, Yang Mulia akan tetap dikelilingi oleh mereka yang mengasihi tanpa memandang siapa dan dari mana Yang Mulia berasal."

Jaemin tersenyum lima jari pada Jeno. Meski kata ramalan yang ia sebutkan barusan adalah bualan, tapi selebihnya adalah gambarannya terhadap Jeno di masa depan. Menurut Jaemin, Jeno di masa depan maupun masa lalu adalah orang yang sama. Terlihat keras di luar, tapi sebenarnya adalah orang yang penuh cinta dan kasih.

"Nana..."

"Yang Mulia tidak perlu berterima kasih dengan ramalan saya." Jaemin tertawa saat Jeno menatapnya matanya.

"Saya pun sama seperti Yang Mulia. Saya mempunyai harapan jika kejadian yang saat ini terjadi di hidup saya adalah sebuah mimpi buruk. Saya selalu menunggu saat ada seseorang yang membangunkan dan mengatakan jika semuanya adalah mimpi."

Meskipun kini Jaemin tersenyum lebar padanya, tapi Jeno bisa melihat kesenduan di mata Jaemin. Dengan perlahan Jaemin kembali melepaskan tangannya pada tangan Jeno dan menatap ke depan, mengamati ikan-ikan yang berenang bebas.

"Hari ini mungkin adalah hari terakhir dimana aku hidup sebagai pria bebas. Jadi untuk hari ini apakah kau bersedia menemaniku?" Jeno mengatakannya dengan penuh harap, ia menatap dalam kedua mata Jaemin.

Jaemin terdiam. Ia tidak tahu harus menjawab seperti atas apa permintaan Jeno. Jaemin sadar disini jika posisinya hanyalah seorang gisaeng, tidak baik terlalu dekat bersama Jeno yang merupakan Putera Mahkota. Terlebih Jeno adalah pria yang belum menikah. Akan terjadi banyak rumor jika sampai ada yang tahu jika ia terlalu dekat dengan Jeno.

Mengerti dengan apa yang Jaemin pertimbangan, Jeno segera mengoreksi permintaannya.

"Aku memintamu untuk menemaniku, sebagai seorang teman..."

Jaemin lantas mengangguk dan menyodorkan jari kelingkingnya.

"Sebagai seorang teman." Ucap Jaemin.

Tidak mengerti dengan Jaemin yang menyodorkan jari kelingkingnya, Jeno mengerutkan dahi. Tapi saat Jaemin terus mengacungkan kelingkingnya Jeno paham dan melakukan hal yang sama.

"Tidak ada si Putera Mahkota dan si gisaeng paling sohor di Joseon. Kita adalah teman." Jeno mengatakannya dan tersenyum hingga kedua matanya menyipit.

"Teman!"

Jaemin menautkan jari kelingkingnya dengan Jeno. Setelah kedua jari kelingking itu bertaut, Jaemin kembali mendengar suara yang begitu familiar berbisik di telinganya.

"Terus genggam langit di tanganmu..."

"Siapa gerangan wanita beruntung yang berhasil merebut atensi Tuan Muda?"

Jaehyun yang sibuk memandangi bunga lily putih di genggaman tangannya tersentak. Kemudian ia tersenyum saat wanita paruh baya yang merupakan pengasuhnya sejak kecil ikut duduk di samping Jaehyun, ia selalu memanggilnya Bibi Song. Wanita itu sudah Jaehyun anggap sebagai ibu keduanya.

"Ada seseorang yang begitu aku suka tutur kata dan gerak-geriknya." Jaehyun tersenyum menampilkan dua lesung pipinya yang sangat indah.

"Tidak terasa anda sudah dewasa. Sepertinya sebentar lagi saya akan menimang cucu."

Jaehyun menggeleng pelan dan meremas pelan bunga di genggamannya, "Tapi sayangnya, orang itu bahkan tidak menaruh matanya padaku."

Bibi Song terkejut dengan apa yang baru saja Jaehyun ucapkan. Siapa gerangan orang yang dimaksud yang dengan bodohnya menolak Tuan Muda Jung yang terhormat?

"Seharusnya aku memberikan bunga ini tepat setelah ia menyelesaikan tugasnya. Aku melihatnya bekerja keras dua hari ini, dan aku ingin sekali mengapresiasi kesungguhannya dengan memberikannya hadiah yang tidak seberapa—" Jaehyun menggantung kalimatnya dan menatap bunga di tangannya yang sedikit rusak dengan sendu.

"—Tapi belum saja aku memberikannya, aku sangat merasa rendah diri saat melihatnya tertawa bersama orang yang tidak mungkin aku kalahkan."

Bibi Song mengerti, jika Tuan Mudanya sedang patah hati. Karena Bibi Song tahu inilah pertama kali Tuan Mudanya menempatkan hati pada seseorang.

"Gila! Dasar pria cabul penjahat kelamin! Hampir saja aku diperkosa!"

Jaemin merapikan kembali atasannya yang sempat terbuka. Ia melirik sebal pada seorang pria bangsawan yang tergeletak di lantai kamar dengan hidung yang mengeluarkan darah. Untung saja Jaemin sempat memukul hidung pria itu dengan cangkir teh. Jika tidak bisa-bisa Jaemin benar-benar diperkosa.

Semakin larut pesta penyambutan yang diadakan semakin gila. Banyak gisaeng-gisaeng yang ditarik oleh para pria bangsawan untuk melayani mereka, termasuk Jaemin. Ternyata orang-orang dimasa ini sama saja dengan orang-orang di masa depan. Kebanyakan dari mereka hanya suka bersenang-senang dan meniduri para pelacur.

Setelah memastikan pakaiannya kembali rapi, Jaemin memutuskan pergi ke luar kamar. Ia berjalan perlahan menyusuri lorong-lorong dengan cahaya yang remang. Wajahnya sesekali mengernyit jijik saat tidak sengaja mendengar desahan-desahan yang menodai telinganya.

"Shit! Tempat ini benar-benar menjijikkan." Jaemin bergidik ngeri dan ingin segera cepat-cepat pergi dari sana.

Suara langkah kaki yang ribut tertangkap oleh indra pendengaran Jaemin. Ia berjalan agak was-was jika saja yang datang adalah pria gila yang sedang mabuk.

Tapi baru saja Jaemin akan berbelok di tikungan lorong, ada seseorang yang menghantamnya dari arah samping dengan sangat keras. Membuat tubuh Jaemin dan tubuh orang itu terjatuh dengan keras di lantai.

Jaemin menahan nafas saat melihat siapa orang yang baru saja menabraknya. Tubuh orang itu tepat berada di atas menindih tubuh Jaemin. Terlebih saat tangan kanan orang itu tepat berada di atas dada Jaemin.

Tolong catat! Di atas dada Jaemin! Meskipun hanya berupa sumpalan kain, tapi saat ini identitas Jaemin adalah seorang wanita. Sudah sepantasnya ia cukup terkejut saat ada orang asing yang tiba-tiba menyentuh dadanya. Ditambah ada dua orang pelayan pria yang baru saja datang kini menatap Jaemin dengan pandangan horor. Sudah dipastikan mereka akan salah paham.

Beberapa saat mereka hanya terdiam mengamati ekspresi terkejut masing-masing. Sebelum teriakan Jaemin menggema menyadarkan keduanya yang malah terdiam bodoh.

"YAK! PARK JISUUUUNGG!!!"

Jisung, orang yang menabrak Jaemin langsung bangkit dari posisinya. Ia menatap tangan kanannya tidak percaya. Apa yang baru saja terjadi? Ia baru saja menempatkan tangannya di dada seorang gisaeng! Jisung ingin sekali menangis menatap tangan kanannya yang ia anggap sudah tidak suci.

"Bodoh! Apa yang dilakukan bocah sepertimu di tempat seperti ini, hah?" Jaemin memukul belakang kepala Jisung saat melihat jika bocah itu termenung dengan wajah terkejut.

"Tuan Muda Park..." Ucap salah satu pelayan pria yang ada disana tidak percaya.

Mata sipit Jisung semakin membola. Terlebih saat Jaemin memukul belakang kepalanya dengan wajah yang menyeramkan.

"N-Nona... Ma-Maafkan ak-u..." Ucap Jisung tergagap. Ia lantas berdiri tanpa mempedulikan Jaemin yang masih terduduk di lantai. Setelahnya dengan secepat kilat Jisung pergi menabrak dua orang pelayan pria yang masih setia menatapnya tidak percaya.

"HUAAAAAAAA... MINHYUNG HYUNGGGG!!"

Jaemin melotot horor. Apa yang baru saja dilakukan bocah bernama Park Jisung itu? Bahkan keributan yang mereka ciptakan membuat beberapa tamu yang menempati kamar-kamar disana keluar hanya sekedar untuk melihat apa yang terjadi. Dengan canggung, Jaemin lekas berdiri dan membungkuk dengan wajah bersalah.

"Maafkan saya jika sudah mengganggu waktu Tuan-Tuan..."

Setelah Jaemin mengatakan itu, masing-masing dari semua tamu yang disana kembali masuk ke kamar. Dalam hati Jaemin membuat catatan mental untuk bocah Park Jisung itu, ia harus mengomelinya sampai habis karena sudah berani pergi ke tempat yang tidak seharusnya anak di bawah umur kunjungi.

'Park Jisung! Tidak di masa ini atau masa depan, kau selalu saja membuatku cepat tua!' Omel Jaemin dalam hati.

"Aish! Dasar bodoh! Sebenarnya ini dimana?" Jaemin mengedarkan pandangannya ke sekeliling, ia benar-benar tersesat. Maksud hati ingin pergi mencari ketenangan, ia malah tersesat. Lingkungan istana membuatnya linglung karena hampir semua bangunannya terlihat sama.

"Aku sangat berterima kasih untuk pencipta teknologi bernama Google Maps di masa depan. Karena disaat-saat seperti inilah itu sangat dibutuhkan. ARGHHHH! AKU INGIN PULAAAANGGG!!"

Jaemin mengangkat roknya tinggi-tinggi dan berjalan tidak tahu arah. Di sekelilingnya hanya ada bangunan-bangunan yang sangat sepi dengan cahaya temaram. Jaemin sampai bergidik ngeri saat mendengar suara anjing melolong di tengah kesunyian.

Karena merasa lelah, Jaemin mendudukkan diri di salah satu teras bangunan yang ada disana. Ia berusaha berpikir positif, karena berada di kegelapan malam dan bangunan sepi tidaklah terlalu buruk.

Ya, tidak terlalu buruk. Karena memang sangatlah buruk!

"Tahu begini tadi aku layani saja pria cabul itu. Siapa tahu pulang-pulang dapat sepuluh batang emas!" Racau Jaemin. Ia berharap jika ada seseorang yang lewat dan menunjukkannya jalan kembali ke tempat acara.

"SEMUANYA MENYEBAR! PERIKSA JANGAN SAMPAI ADA ORANG ASING MENGIKUTI KITA!"

Jaemin tersentak saat mendengar suara gaduh yang perlahan mendekat. Ia begitu panik sampai tidak sengaja tangannya menyenggol tumpukan kayu bakar disampingnya, membuat suara gaduh.

"YAK! SIAPA DISANA?!"

Jaemin sudah memasrahkan diri kalau saja tidak ada orang yang tiba-tiba menariknya dari belakang.

Jantung Jaemin berdetak sangat kencang saat tubuhnya tiba-tiba dihempaskan ke teras berlantai kayu salah satu bangunan disana. Tubuhnya lalu ditindih oleh orang yang menariknya, yang ternyata adalah seorang pria. Hampir saja Jaemin berteriak jika saja orang yang menindihnya itu tidak membekap mulutnya.

"Sssttt... Jangan berteriak, Nana. Ini aku Jaehyun..." Jaehyun melepaskan bekapan tangannya di mulut Jaemin.

"T-Tuan..."

"Tetaplah diam seperti ini. Atau kita bisa mati konyol disini." Bisik Jaehyun. Pria Jung itu semakin merapatkan tubuhnya pada Jaemin yang terlentang, saat suara dan langkah kaki kian mendekat.

Wajah Jaemin memerah kala merasakan nafas Jaehyun menggelitik permukaan wajahnya. Tangan kanan pria Jung itu menahan tangan kiri Jaemin, dan tangan kirinya dijadikan sebagai tumpuan. Jika dilihat dari beberapa sisi, Jaemin dan Jaehyun tampak sedang berciuman. Meskipun Jaemin juga seorang pria, tapi berada dengan jarak sedekat ini tetap membuatnya cukup risih.

Tiga orang pria dengan pakaian prajurit datang menghampiri Jaemin dan Jaehyun. Salah satu dari mereka bersiul jahil saat melihat posisi Jaemin dan Jaehyun yang siapa saja yang melihat pasti akan salah paham.

"Dasar anak muda! Jika ingin bermain carilah penginapan! Ckckck..."

Jaehyun lantas bangkit dari posisinya menindih Jaemin dan berpura-pura gugup, seakan benar-benar tertangkap basah sedang melakukan hal yang tiga orang prajurit itu pikirkan.

"M-Maafkan kami Tuan..." Ucap Jaehyun. Sedangkan Jaemin kini bersembunyi di belakang punggung Jaehyun, mengintip sedikit dari balik punggung lebar itu.

"Carilah tempat lain, disini terlalu bahaya! Ahhh... Dasar anak muda yang terlalu meledak-ledak ckckck..."

Setelahnya tiga orang prajurit itu pergi. Jaehyun mengulurkan tangannya membantu Jaemin berdiri yang tentunya disambut baik. Pria Jung itu bahkan membantu Jaemin membersihkan roknya yang sedikit kotor oleh tanah.

"Nana... Apa yang kau lakukan? Disini terlalu berbahaya." Tanya Jaehyun.

Jaemin mengerucutkan bibirnya, "Awalnya saya ingin mencari tempat tenang karena terlalu penat berada di tengah acara penyambutan. Tapi saya tersesat..."

Mendengar jawaban Jaemin, lantas Jaehyun tersenyum. Menampilkan kedua lesung pipinya yang sangat menawan. Pria Jung itu lalu menarik Jaemin untuk pergi dari sana.

"Ayo aku antar kembali ke tempat acara. Disana lebih aman karena banyak orang. Tadi aku melihatmu berbelok dari arah Utara. Karena khawatir, aku mengikutimu hingga kemari. Tolong jangan salah paham." Jelas Jaehyun. Genggaman tangannya di tangan Jaemin sudah terlepas.

"Terima kasih, Tuan. Jika bukan karena anda mungkin saya akan disini sampai terbit fajar." Ucap Jaemin tulus yang dibalas anggukan Jaehyun.

"Nana, berjalanlah di sebelahku. Tidak perlu berjalan di belakang karena saat ini kita hanya berdua." Jaehyun menghentikan langkahnya dan berbalik saat Jaemin berjalan dengan membuat jarak dengannya. Pria Jung itu lalu kembali menarik tangan Jaemin sampai berada di sampingnya. Lalu kembali berjalan dengan tangannya yang kini menggandeng tangan Jaemin.

"Aku akan memegang tanganmu. Karena jika aku melepasnya, kau akan kembali berjalan di belakang."

Jaemin begitu tersentuh dengan perlakuan Jaehyun. Hidup di masa ini sebenarnya sangatlah sulit bagi Jaemin terlebih saat ini posisinya adalah sebagai wanita dan gisaeng. Dimana beberapa orang memandangnya rendah karena gender dan statusnya.

"Anda terlalu baik pada saya yang rendahan ini, Tuan."

"Tidak. Kita sama-sama manusia, tidak ada yang salah dengan yang aku lakukan padamu."

Bagaimana Jaemin tidak terpana. Di Joseon yang sangat memandang kasta masih ada orang yang seperti Jaehyun. Ia jadi semakin mengidolakan Jaehyun, tidak hanya di masa depan tapi Jaehyun di masa ini juga akan menjadi idolanya.

"Betapa beruntungnya wanita yang akan bersanding dengan anda yang berbudi pekerti." Puji Jaemin.

Jaehyun tersenyum tipis, "Betapa beruntungnya pria yang memenangkan hatimu..."

Jaemin mengerutkan dahinya bingung. Apa maksud Jaehyun?

"Saya Kasim Han izin menghadap pada Yang Mulia Putera Mahkota." Seorang pria paruh baya dengan pakaian hijau membungkuk hormat pada Jeno yang duduk tenang membaca buku.

"Ada apa Kasim Han?" Tanya Jeno tanpa mengalihkan pandangannya.

"Saya diutus oleh Yang Mulia Ratu untuk memberikan daftar nama yang sudah terdaftar pada acara pemilihan Puteri Mahkota."

Kasim Han memberikan gulungan kertas pada Jeno yang langsung diterima dengan baik. Jeno lalu membuka gulungan kertas itu dan membaca deretan nama-nama yang ada disana. Beberapa nama Jeno mengetahuinya karena mereka adalah puteri-puteri dari pejabat penting di istana. Selebihnya ia tidak tahu dan tidak peduli.

"Kapan acaranya dimulai?" Tanya Jeno.

"Dua hari dari sekarang Yang Mulia."

Jeno kembali memandangi deretan-deretan nama yang ada disana. Satupun tidak ada yang menarik hatinya hanya dengan membaca nama-nama itu. Berbeda dengan seseorang yang apabila ia ucapkan namanya, mampu membuat kedua bibirnya tertarik.

"Apa jika aku sudah menikahi calon Puteri Mahkota kelak, apa aku diizinkan memilih selir, Kasim Han?" Tanya Jeno yang membuat Kasim Han benar-benar terkejut.

"Tentu, Yang Mulia. Dengan catatan Puteri Mahkota tidak sanggup memberi anda keturunan. Maka anda diizinkan untuk mengambil selir." Ucap Kasim Han hati-hati.

Memang sebagai calon Raja, Jeno kelak diizinkan memiliki selir dengan jumlah yang tidak terbatas. Tetapi langsung memiliki selir tidak lama setelah menikah dengan Puteri Mahkota tentunya akan menimbulkan masalah. Kecuali Puteri Mahkota tidak sanggup memberikan keturunan.

Jeno tersenyum kecut. Dalam hatinya ia benar-benar tidak menginginkan pernikahan yang sudah menjadi tradisi kerajaan. Tapi ia juga takut akan terjadi pertumpahan darah jika seandainya menikahi orang yang salah.

"Jika tidak bisa saat ini, kumohon di masa depan Dewa..."

TBC