NOMIN FANFICTION
LEE JENO X NA JAEMIN
NCT DREAM
Original Story By :
fungichan22_ a.k.a aaaloy22_
Cerita ini terinspirasi dari Drama Korea Scarlett Heart Ryeo, Rooftop Prince dan The Tale of Nokdu
Enjoy and Happy Reading
Backsound : Jay Park - Happy Ending
.
.
.
"Putera Mahkota! Kau tahu sekarang hari sudah petang? Seluruh istana mencarimu dan kau pergi berkeliaran di luar tanpa izin?!"
Jeno menunduk saat Raja tiba-tiba datang ke paviliunnya, bahkan sebelum Jeno berganti pakaian. Beliau sangat murka terlihat dari wajahnya yang merah padam. Di belakang sang Raja, berdiri sang Ratu yang menatap Jeno dengan wajah lelah.
"Maafkan saya Yang Mulia..." Ucap Jeno. Ia berlutut di hadapan Raja menunggu hukuman yang akan ia terima.
"Sebagai calon penerus tahta, tidak seharusnya kau berkeliaran tanpa izin. Tidak tahukah kau, jika hari ini Ratu begitu sibuk mengurus acara pemilihan Puteri Mahkota? Sikapmu benar-benar mengecewakan."
"Hamba pantas dihukum, Yang Mulia..." Tanpa takut, Jeno mengucapkannya dengan lantang. Bukan sekali dua kali ia dimarahi dan mendapat hukuman karena berkeliaran tanpa izin. Tapi Jeno tidak pernah menyesal, ia bahagia. Dengan pergi dari istana ia lebih merasa hidup, ia merasa dirinya benar-benar menjadi manusia. Tanpa adanya tekanan yang selalu mengharuskannya menjadi sempurna.
Wajah Raja melunak saat sang Ratu menyentuh lengannya. Beliau menghembuskan nafas berat, mengerti dengan yang ada di hati puteranya. Beliau tahu jika puteranya menginginkan kebebasan, bukan tekanan dari orang-orang yang haus kekuasaan di istana.
"Hwan, Puteraku..."
Raja ikut berlutut mensejajarkan tubuhnya dengan Jeno. Beliau menyentuh kepala Jeno dan mengusapnya lembut. Senyum lembut terlukis di bibir sang Raja kala puteranya itu menatap wajahnya.
"Aku tahu kau menginginkan kebebasan, tapi istana lah tempatmu berasal. Sebentar lagi kau bukan lagi Putera Mahkota, kau lah yang akan menggenggam Joseon, semua rakyat akan bertumpu di atas pundakmu. Aku tahu kau melakukan ini sebagai penolakan acara pemilihan Puteri Mahkota. Tapi mengertilah, aku berharap begitu besar padamu."
"Abeoji..." Jeno berkata lirih. Ia benci saat Raja berkata begitu lembut padanya. Jeno lebih suka dihukum dengan lima puluh kali pecutan di betis atau memindahkan dua puluh gentong air dari paviliunnya ke pavilun Raja. Jeno benci karena hatinya tidak akan pernah bisa menolak.
"Cepat berbenah dan temui aku di balai pertemuan. Sebagai hukuman aku akan menyuruhmu memeriksa semua laporan pajak yang masuk ke istana." Jeno mendongak saat sang Raja berdiri dan hendak pergi. Ia tersenyum begitu lebar, ternyata dirinya tetap mendapat hukuman.
"Hamba akan melaksanakan hukuman dari Yang Mulia Raja!" Ucap Jeno lantang tanpa menghilangkan senyum lebar di bibirnya.
"Ayo Ratuku. Kau pasti lelah." Ucap Raja tanpa membalas ucapan Jeno. Tapi bisa Jeno lihat, Raja maupun Ratu tersenyum sebelum benar-benar pergi dari paviliun Putera Mahkota.
Jeno mengusap cincin giok berwarna hitam di jarinya, memandangnya lalu tersenyum malu. Ia menutup wajahnya yang tiba-tiba memerah.
"Tidak menyesal aku melanggar aturan..."
.
.
.
Jaemin memeriksa tugas yang ia berikan tadi siang pada murid-muridnya. Bibirnya terus tersenyum melihat tulisan-tulisan berantakan yang mereka buat. Ia merasa menjadi seorang guru TK yang pertama kali mengajari mereka menulis.
"Ya ampun! Tulisannya kenapa mirip ular melintang seperti ini? Ini apa lagi? Mirip sandi rumput yang kupelajari saat pramuka! Ckckck..."
Dengan telaten Jaemin memeriksa lembar demi lembar kertas yang berserakan di atas meja kecil di kamarnya. Karena malam belum terlalu larut, belum banyak tamu yang datang ke Chosun. Jaemin cukup bersyukur karena berarti ia memiliki waktu untuk memeriksa pekerjaan murid-muridnya.
Pandangan Jaemin tiba-tiba teralih pada tangan kanannya. Ia menatap cincin giok putih yang melingkar di jari manisnya. Ingatannya kembali pada kejadian siang tadi saat Jeno membawanya berjalan-jalan di pasar.
"Nana! Bisa kau lepas sanggulmu itu?" Pinta Jeno tiba-tiba. Jaemin terkejut, memangnya kenapa ia harus sampai melepas sanggulnya?
"Kenapa? Lagipula saya selalu memakainya setiap hari." Jawab Jaemin bingung.
Tapi bukannya mengindahkan pertanyaan bingung dari Jaemin, Jeno tiba-tiba saja melepas tusuk konde yang menyangga sanggulan rambut Jaemin hingga terlepas. Menyisakan rambut asli Jaemin yang panjang diuntun biasa dibalik rambut palsunya.
"Yang Mulia! Apa yang anda lakukan! Ahhh... rambutku~" Rengek Jaemin melihat jika rambut palsunya ada di tangan Jeno. Masalahnya Jaemin tidak bisa memasangnya sendiri, sanggulan itu Mina yang membuatnya.
"Hari ini aku ingin kita bebas. Aku bebas dari gelarku sebagai Putera Mahkota dan kau bebas dari gelarmu sebagai gisaeng. Kau tidak sadar jika hari ini aku begitu sederhana?"
Jaemin mengerucutkan bibirnya tapi tetap mengamati penampilan Jeno. Benar, pria itu memang terlihat lebih sederhana. Ia tidak memakai pakaian sutera kualitas terbaik miliknya dan hanya memakai pakaian biasa dari kain yang kasar. Tidak ada yang akan mengira jika Jeno adalah Putera Mahkota. Tapi Jaemin akui jika Jeno terlihat tetap tampan dengan pakaiannya yang seperti rakyat biasa.
"Kau menatapku terlalu lama. Apa aku begitu tampan?" Goda Jeno. Jaemin merebut rambut palsu dan tusuk kondenya dari tangan Jeno dan melenggang pergi. Sedikit salah tingkah karena ketahuan menatap Jeno terlalu lama.
Jeno tertawa melihat Jaemin yang berjalan sambil menggerutu dan memeluk rambut palsunya. Ia lalu berjalan menyusul Jaemin yang mulai memasuki pasar yang ramai. Jeno kemudian menarik tangan Jaemin yang terus berjalan tanpa mempedulikannya.
"Kau mau kemana? Aku yang mengajakmu pergi jadi tetap di sampingku, Nana." Jaemin memelankan langkahnya saat tangan Jeno menggenggam tangannya. Ia ingin sekali berteriak jika dirinya adalah pria. Jaemin tentunya sedikit risih diperlakukan seperti itu. Tapi ia tidak bisa menolak.
"Tangan anda, Yang Mul-"
Belum sempat Jaemin menyelesaikan kalimatnya, Jeno lebih dulu membekap mulutnya dan melotot pada Jaemin. Ia melihat ke sekeliling takut jika ada yang mendengar perkataan yang Jaemin ucapkan.
"Sssttt... Panggil aku Hwan. Dan hentikan panggilan kerajaan itu." Ucap Jeno sambil melepaskan bekapannya. Jaemin langsung mengatupkan mulutnya rapat-rapat, mulutnya memang terkadang susah dikendalikan.
"M-Maafkan saya, Yang-" Lagi-lagi hampir salah bicara, Jaemin membekap mulutnya yang licin itu saat Jeno lagi-lagi melotot padanya.
"Emmm... Hwan." Ucap Jaemin pelan. Jeno tersenyum dan kembali membawanya untuk mengitari pasar.
Jeno membawa Jaemin pada kerumunan yang sedang menampilkan pertunjukan sulap. Mereka ikut berbaur dan sesekali bertepuk tangan takjub dengan pertunjukan yang mereka lihat. Jeno tersenyum saat melihat wajah antusias Jaemin dari samping. Jeno bahkan tidak bisa menahan tawa saat Jaemin memekik heboh dengan mengacungkan rambut palsu di tangannya tinggi-tinggi dan membuat gestur meninju udara. Ini pertama kalinya Jeno merasa dirinya begitu bahagia. Bahkan saat sang Raja menghadiahkan sebuah paviliun, Jeno tidak pernah sebahagia ini.
Setelah pertunjukan selesai, Jeno memberikan beberapa keping koin dan menarik Jaemin dari kerumunan. Jeno lalu membawa Jaemin menepi ke sebuah toko yang menjual perhiasan. Sedangkan Jaemin, ia hanya pasrah saat Jeno menariknya kesana-kemari sesuka hati.
"Nana, pilihkan satu untukku." Ucap Jeno. Jaemin yang awalnya hanya diam mengamati kini mengalihkan pandangannya pada jajaran cincin dari giok yang ditunjuk Jeno.
"Bagaimana dengan yang ini, apa sesuai dengan anda?" Jaemin menunjukkan sebuah cincin berwarna hitam dari batu giok. Sekilas cincin itu tampak polos dan sederhana, tapi saat diamati terdapat garis-garis kecil berwarna emas di sekelilingnya.
Jeno mengambil cincin yang dimaksud Jaemin dan mengamatinya. Kemudian ia mengambil satu cincin lagi dengan bentuk serupa berwarna putih.
"Bagus. Ayo ambil yang ini."
Setelahnya Jeno membayar cincin yang dibelinya. Jaemin sebenarnya tidak peduli dengan apa yang dibeli oleh Jeno, sebelum Jeno tiba-tiba mengulurkan tangannya pada Jaemin.
"Kemarikan tanganmu."
Jaemin bingung tapi ia tetap menumpukan tangan kanannya di atas telapak tangan Jeno. Setelahnya ia cukup terkejut saat Jeno memakaikan cincin yang baru saja dibelinya ke jari manis Jaemin lalu jarinya sendiri. Giok putih untuk Jaemin dan hitam untuk Jeno.
"Yang Mulia..."
Melupakan ucapan Jeno yang menyuruhnya untuk tidak memanggil gelar kerajaannya, Jaemin menatap Jeno tidak percaya.
"Jangan menatapku seperti itu, kau membuatku malu..." Ucap Jeno sambil memalingkan wajahnya yang memerah.
"Kenapa anda memberikan saya cincin? Saya kira anda akan menghadiahkannya untuk kekasih Yang Mulia."
"Anggap saja itu hadiah karena kau sudah mau menemaniku hari ini. Ayo! Kita harus mengunjungi semua tempat disini."
Tanpa disadari, Jaemin tersenyum saat Jeno kembali menautkan tangan mereka. Terlebih saat ia melihat ada cincin yang melingkar sama di jari mereka.
DEG
DEG
DEG
"Yak! Na Jaemin! Apa yang kau pikirkan barusan, hah?" Jaemin memukul-mukul dahinya beberapa kali. Wajahnya tiba-tiba memanas, ditambah wajah Jeno yang tersenyum terus saja berputar di kepalanya.
"Ingat Na Jaemin, tetap fokus! Ingat, kau adalah pria sejati. Tugasmu adalah memikirkan bagaimana cara kembali ke masa depan. Ayo fokus! Fokus!"
Jaemin menempatkan kedua jari telunjuk dan jari tengahnya di pelipis, membuat gestur agar tetap tenang dan fokus. Tapi jantungnya terus berdegup kencang, dan tubuhnya seakan memanas.
DEG
DEG
DEG
Tiba-tiba saja Jaemin merasa pusing di kepalanya. Sebuah bayangan-bayangan melintas begitu saja seperti sebuah film. Jaemin mencoba untuk tetap sadar, tapi bayangan-bayangan itu terus berputar tanpa henti.
"Hyung! Kapan Hyung akan bangun? Jisung rindu."
"Jaemin, kau tidak rindu dengan kami? Kau tidak rindu dengan penggemar-penggemar kita?"
"Jaemin... Aku akan tetap disini, menunggumu."
"Hidup Yang Mulia Raja Joseon! Hidup Yang Mulia Raja Joseon!"
"Maafkan aku Nana..."
"Yang Mulia!"
Jaemin tersentak. Nafasnya memburu begitu bayangan-bayangan aneh itu hilang. Air mata tiba-tiba mengalir begitu deras di wajahnya tanpa bisa ditahan, Jaemin tidak mengerti.
"Astaga apa yang terjadi? Kenapa aku menangis..." Ucap Jaemin sambil menyeka air matanya dengan punggung tangan.
Kembali mengingat bayangan-bayangan tadi, perasaan rindu terhadap keluarga, teman-teman, dan penggemar-penggemarnya menyeruak di hati Jaemin. Ia kembali merasa sendiri sekarang. Meskipun banyak wajah familiar yang ia temui disini, tapi mereka tetaplah asing. Mereka bukan orang yang Jaemin kenal.
Setelah kembali menguasai dirinya, Jaemin menghembuskan nafas berusaha tenang. Ia mulai memikirkan apa saja kemungkinan yang bisa membawanya kembali ke masa depan. Dan hanya satu nama yang hati Jaemin yakini bisa membawanya kembali.
Lee Jeno. Ah tidak! Tetapi Hwan sang Putera Mahkota.
Setiap Jaemin merasa hatinya bergetar saat berada di samping si Putera Mahkota atau saat memikirnya, bayangan atau suara-suara aneh pasti akan muncul di kepalanya.
"Aku harus pergi mencari cenayang! Ya benar! Selain tampan kau benar-benar cerdas Na Jaemin!"
Jaemin mengepalkan kedua tangannya di udara membuat gestur semangat. Mencari cenayang, ia belum pernah mencobanya, maka besok ia akan pergi mencari untuk kelangsungan hidupnya.
"Hanya tiga bulan..."
.
.
.
Jeno meregangkan otot-otot tubuhnya yang kaku. Ia baru saja selesai menjalankan hukumannya dengan memeriksa seluruh laporan pajak yang masuk ke istana. Jeno yang begitu serius bahkan tidak menyadari jika sudah lewat tengah malam.
"Kasim Park!" Panggil Jeno.
Setelahnya sorang pria paruh baya masuk ke ruangan Jeno dan membungkuk hormat.
"Ya, Yang Mulia."
"Sampaikan ini pada Putera Mahkota Huang. Katakan padanya jika aku menginginkan bantuannya." Jeno menyerahkan sebuah kotak hitam dari kayu berukuran sedang pada Kasim Park.
"Akan saya sampaikan pesan anda, Yang Mulia." Ucap Kasim Park lalu segera pergi untuk melaksanakan perintah sang Putera Mahkota.
Jeno tersenyum tipis. Tidak akan ada yang bisa mencegahnya. Ia sudah menyerahkan senjata terakhirnya di tangan Qing.
.
.
.
Suara berisik dari halaman yang disapu membangunkan tidur Jaemin yang hanya sebentar. Ia menggeliatkan tubuhnya yang terasa sangat pegal.
"Manager Hyung, kau terlalu berisik..." Racau Jaemin yang masih setengah sadar. Butuh beberapa menit sampai Jaemin benar-benar mengumpulkan nyawanya.
Jaemin tiba-tiba melotot, matanya melirik ke kanan dan kiri. Kemudian tubuhnya bangun dalam sekali tarikan. Kembali melihat ke sekeliling, Jaemin menampilkan wajah frustasinya.
"Ahhhh... Kenapa aku masih disini?!"
Meluapkan rasa frustasinya, Jaemin kembali berguling-guling dan mengacak-acak selimut. Padahal baru saja ia bermimpi jika dirinya kembali ke masa depan, bertemu teman-temannya dan penggemar-penggemarnya. Tapi saat kembali ke realita, Jaemin kembali frustasi. Ia masih berada di Joseon.
Mencoba memperbaiki suasana hatinya, Jaemin bangkit dan membuka jendela kamarnya yang terbuat dari kayu. Ia menghirup udara pagi hari yang begitu segar. Setidaknya rasa segar di pagi hari membuat Jaemin merasa lebih baik.
"Selamat pagi, Nana. Tidurmu nyenyak?" Tanya Paman Oh, pelayan yang selalu membersihkan rumah Chosun setiap pagi.
"Selamat pagi juga Paman Oh. Yahhh... Paman tahu sendiri aku tidak pernah punya banyak waktu tidur." Balas Jaemin. Paman Oh tertawa dengan jawaban Jaemin dan melanjutkan kegiatannya menyapu halaman.
Jaemin merapikan tali chima-nya yang miring dan rambutnya yang hanya dikepang sederhana. Setelahnya ia mengambil sepatunya yang selalu ia simpan di sudut kamar, lalu melompat dari jendela.
"Paman, air ini boleh aku gunakan untuk mencuci wajah?" Tunjuk Jaemin pada segentong air yang ditaruh dibawah pohon.
"Tentu. Itu air sumur yang baru saja kuambil." Jawab Paman Oh.
"Terima kasih."
Tanpa basa-basi lagi Jaemin langsung berkumur dan mencuci wajahnya disana. Air segar yang dingin membuat pikirannya kembali positif. Di Seoul Jaemin hampir tidak pernah menemukan udara dan air yang segar.
Setelah merasa cukup, Jaemin lalu melakukan peregangan untuk melemaskan otot-ototnya yang kaku. Ia terus membuat gerakan ke kiri ke kanan, ke belakang ke depan. Sedangkan bibirnya terus berhitung setiap ia mengganti gerakan. Paman Oh menghentikan kegiatannya sejenak, memperhatikan Jaemin dengan pandangan aneh.
"Satu... Dua... Satu... Dua... Tiga... Empat..."
Kegiatan Jaemin terganggu saat tiba-tiba Nyonya Song muncul dari pintu belakang sambil menenteng sebuah keranjang.
"Nana, cepatlah bersiap! Antarkan buku-buku yang ada di kamarku ke perpustakaan milik Tuan Hong. Dan jangan coba-coba membacanya!"
Jaemin tersentak mendengar teriakan Nyonya Song. Ia cepat-cepat menghampiri Nyonya Song dan terlibat sebuah percakapan sebelum kembali masuk ke kamarnya.
Sedangkan Paman Oh diam-diam mengamati keadaan sekeliling. Ia mulai menggerakkan badannya, mengikuti apa yang selalu Jaemin lakukan setiap pagi. Menggerakkan tubuhnya ke kanan dan ke kiri sambil berhitung.
"Satu... Dua... Satu... Dua... Tiga... Empat..."
.
.
.
Sesuai dengan perintah Nyonya Song, setelah bersiap Jaemin lantas pergi ke kamar Nyonya Song mengambil buku yang beliau maksud. Jaemin lalu mengambil setumpuk buku yang ditaruh di sudut ruangan dan segera keluar.
"Nana? Ingin saya temani?" Tanya Mina saat melihat Jaemin yang bersiap untuk pergi.
"Tidak perlu. Aku bisa membawa ini sendiri. Selesaikan saja pekerjaanmu." Ucap Jaemin pada Mina yang sedang melipat pakaian.
"Tapi jika anda sendiri—" Ucapan Mina lantas dipotong oleh Jaemin yang terus memaksa ingin pergi sendiri.
"Jangan berlebihan. Aku tidak akan lama dan lekas kembali. Oh! Satu lagi. Tolong ingatkan pada gisaeng lain agar belajar dengan rajin. Aku akan mengetes sejauh mana kalian belajar."
Jika sudah seperti itu Mina tidak bisa menghentikan keinginan Jaemin. Meskipun dalam hati ia selalu khawatir, karena kemungkinan besar pasti ada saja orang yang selalu mencoba mengganggu Jaemin. Pesona Nona kebanggaan Chosun itu tidak main-main.
"Hati-hati di jalan!" Teriak Mina yang diacungi jempol oleh Jaemin.
Saat berjalan di tempat yang agak sepi, tiba-tiba teringat dengan ucapan Nyonya Song. Ia menatap setumpuk buku kecil di tangannya dan tersenyum aneh.
'... Dan jangan coba-coba membacanya.'
Kata-kata Nyonya Song itu terus terngiang di kepalanya. Jaemin malah semakin tersenyum aneh, ia semakin penasaran terlebih saat ia mengintip sedikit isi buku itu.
Dengan segenap rasa penasarannya yang tinggi, Jaemin menepi dan duduk di salah satu bangku kecil milik penduduk. Ia lantas membuka salah satu dari buku yang dibawanya dan matanya membulat.
"Wah.. Wah... Apa ini? Apa Nyonya Song yang menggambar dan menulisnya?"
Jaemin tersenyum mesum saat ia baru saja membuka halaman pertama dan disuguhkan gambar erotis seorang gisaeng dan seorang pria yang sedang berciuman. Lalu ia kembali membuka halaman demi halaman buku tersebut. Tanpa disadari Jaemin terus tersenyum aneh dan terkekeh mesum. Bagaimana pun ia adalah seorang pria, melihat gambar seperti itu tentu membuatnya girang bukan main.
Akhirnya Jaemin sampai pada halaman dimana gambarnya benar-benar vulgar. Menggambarkan dimana dua orang telanjang yang sedang bercinta.
"Gila! Apa ini semacam Fifty Shades dengan versi visualisasi kuno?"
Jaemin segera menutup buku di tangannya dan kembali ia bereskan. Setelah kembali menetralkan wajahnya yang seperti pria mesum, Jaemin kembali melanjutkan perjalanan. Setidaknya ia sudah tidak penasaran dengan apa isi buku yang dibawanya.
Perpustakaan Tuan Hong yang dimaksud oleh Nyonya Song ternyata berada di pasar yang berdekatan dengan jalan menuju pintu gerbang Sungkyunkwan. Jaemin mendengus, pasti pelajar-pelajar Sungkyunkwan lah yang akan membaca buku mesum seperti yang ia bawa. Dengan dalih mencari literatur untuk bahan belajar.
Jaemin mengerti karena ia pernah melakukannya.
Setelah menyerahkan buku pada Tuan Hong dan sesekali melihat beberapa buku disana, ia lantas pergi. Awalnya Jaemin hendak kembali ke Chosun, tetapi saat mengingat sesuatu ia mengurungkan niatnya.
"Ah! Apa aku harus mencari cenayang hari ini? Benar! Aku sedang sendiri sekarang." Gumam Jaemin pada dirinya sendiri.
Mulanya Jaemin hanya berkeliling dan berjalan tidak tentu arah. Ia benar-benar tidak tahu seperti apa tempat yang harus ia kunjungi untuk mencari seorang cenayang. Sesekali Jaemin memutar bola matanya malas kala ada pria-pria yang terang-terangan menggodanya. Untungnya wajah jutek Jaemin tersamar oleh kain tipis yang menjuntai dari topinya. Ia jadi tidak perlu berpura-pura ramah.
Setelah berjalan cukup lama, Jaemin merasa dirinya menyerah. Kakinya terasa pegal dan kepalanya pusing karena sanggul dan topinya yang berat. Ternyata mencari seorang cenayang tidak semudah dugaannya.
Tapi seolah ada magnet yang menariknya, Jaemin penasaran saat melihat sebuah gubuk kecil dengan kain berwarna-warni yang menghias pintunya. Banyak barang-barang aneh dan lonceng bergantungan di gubuk itu. Jika dilihat memang gubuk itu terlihat begitu nyentrik di tengah bangunan yang ada disana.
Jaemin melangkahkan kaki semakin mendekat. Ia menyibak kain warna-warni di depan pintu dan masuk ke dalam. Saat baru saja melangkah masuk, Jaemin begitu terkejut saat seorang wanita paruh baya dengan pakaian nyentrik duduk di tengah ruangan dan menatapnya tajam. Di tangan wanita itu ada segenggam dupa yang dibakar.
"Tidak seharusnya kau ada disini, Na Jaemin!"
Betapa terkejutnya Jaemin begitu wanita itu menyebut nama aslinya di masa depan. Jantungnya berdegup kencang membuat tangan dan kakinya gemetaran. Perlahan Jaemin mendekati wanita itu dan duduk sehingga mereka kini berhadapan.
"K-Kau tahu aku? Kau tahu apa y-yang terjadi padaku?" Tanya Jaemin terbata. Ia meremas roknya melampiaskan keterkejutan yang menyerangnya.
Wanita di depan Jaemin tidak segera menjawab pertanyaan Jaemin. Ia dengan gerakan anggun menaruh dupa di genggamannya pada sebuah guci dari tanah liat dan merapalkan sesuatu. Jaemin hanya bisa diam mengamati apa yang akan wanita itu lakukan.
"Panggil aku Cenayang Gong." Ucap wanita itu. Ia lalu meniup asap dupa dalam guci itu ke wajah Jaemin, membuatnya terbatuk.
"Pasti telah terjadi kesalahan disini."
Jaemin menatap bingung Cenayang Gong. Apa maksudnya kesalahan? Jadi keberadaannya disini adalah kesalahan? Tapi kesalahan apa? Begitulah pertanyaan-pertanyaan yang ada di benak Jaemin.
"Bisa aku melihat tanganmu?" Jaemin segera mengulurkan tangan kanannya yang disambut oleh Cenayang Gong. Ia tidak mengerti saat Cenayang Gong mengamati garis tangannya lalu menatap dalam pada manik kecoklatan miliknya.
"Jadi apa yang sebenarnya terjadi padaku?" Tanya Jaemin. Ia begitu penasaran karena selama tinggal di Joseon hingga detik ini, Jaemin tidak mengerti karena alasan apa ia bisa terlempar melewati berbagai jaman secara tiba-tiba.
Cenayang Gong menggelengkan kepalanya pelan dan menghembuskan nafas kasar. Melihat reaksi Cenayang Gong membuat jantung Jaemin berdetak semakin kencang. Ia tiba-tiba merasa tidak siap dengan apa yang akan ia dengar selanjutnya.
"Alasan kau bisa terlempar ke masa ini karena Na Minjae sudah mati."
DEG
"M-Mati? Maksudmu gisaeng ini sebenarnya sudah mati?" Tunjuk Jaemin pada dirinya sendiri.
"Ya. Dan rohmu dari masa depan masuk ke jasad Na Minjae yang sudah tidak bernyawa. Aku tidak tahu mengapa ini terjadi, tapi tampaknya di masa depan kau sudah membuka sebuah portal yang tidak seharusnya terbuka."
Jaemin kembali mengingat-ingat terkahir kali ia berada di masa depan. Yang ia ingat terakhir kali hanyalah ia tidak sengaja menginjak sandal kayu milik Chenle yang entah kenapa ada di tengah tangga, dan setelahnya ia terjatuh dan saat terbangun sudah berada di Joseon.
"Aku ingat saat itu terjatuh dari tangga karena menginjak alas kaki. Tapi jika rohku masuk ke tubuh Na Minjae lalu bagaimana dengan tubuhku di masa depan? Lalu kenapa Na Minjae mati?" Tanya Jaemin gusar.
"Na Minjae mati karena takdirnya. Sedangkan sekarang kau berada di antara hidup dan mati. Jika kau bisa kembali maka kau akan hidup dan jika kau gagal? Kau di masa ini dan masa depan akan mati."
DEG
DEG
DEG
Lagi-lagi perkataan itu. Jaemin kembali teringat seorang wanita dengan pakaian lusuh yang ia temui tempo hari. Yang bahkan sampai saat ini Jaemin tidak mengerti maksud perkataannya.
"Lalu bagaimana cara agar aku bisa kembali ke masa depan? Apa yang harus aku lakukan?"
"Langitmu sudah ada di depan mata, tapi kau terus menolaknya.
"L-Langit?" Tanya Jaemin kembali. Ucapan Cenayang Gong sama dengan nenek yang ia temui tempo hari.
"Caranya adalah cintai langitmu yang selalu ada di setiap kau melangkah. Ikatan kalian yang kuat dan ketulusannya yang akan membawamu kembali. Kau hanya belum menyadarinya." Ucap Cenayang Gong.
Jaemin terdiam. Siapa? Di langit mana Jaemin harus letakkan hatinya?
"Pulanglah. Renungkan dan tanyakan semua pada hatimu. Semoga Dewa melindungimu..."
Cenayang Gong lalu pergi ke sebuah ruangan yang ada disana dan meninggalkan Jaemin sendiri. Merasa Cenayang Gong tidak akan mengatakan apapun lagi padanya, Jaemin lantas pergi. Ia meninggalkan beberapa keping uang di atas meja sebagai imbalan.
Setelah Jaemin pergi, Cenayang Gong keluar dari ruangannya. Ia menatap beberapa keping uang yang ditinggalkan Jaemin dengan wajah yang sulit diartikan.
"Jika tidak dimasa ini, semoga di masa depan..."
.
.
.
Jaemin berjalan dengan nyawa setengah melayang. Ia benar-benar berpikir keras dengan apa yang baru saja dikatakan oleh Cenayang Gong. Ingin sekali ia berteriak melampiaskan segala sesuatu yang mengganjal hatinya.
Saat berjalan melewati tikungan, tiba-tiba Jaemin mendengar suara teriakan seseorang. Dengan segenap rasa penasaran di hatinya, Jaemin menghampiri asal suara itu. Dan betapa terkejutnya Jaemin saat melihat seorang pria muda dengan pakaian lusuh yang dipukuli oleh tiga orang pria dengan tampilan seperti preman.
"YAK! APA YANG KALIAN LAKUKAN?" Teriak Jaemin.
Ketiga pria itu menghentikan kegiatan mereka dan menoleh pada Jaemin. Sedangkan Jaemin melotot begitu melihat siapa pria yang dipukuli oleh ketiga preman itu.
"Haechan?" Ucap Jaemin tidak percaya. Sedangkan pria yang Jaemin panggil Haechan hanya meringis memegangi dadanya.
Ketiga preman itu lalu tertawa ketika melihat Jaemin, seakan meremehkannya. Bagaimana pun di mata mereka Jaemin adalah seorang wanita.
"Apa yang dilakukan Nona cantik disini? Sebentar, bukankah kau Nana? Si Nona paling sohor di Joseon?" Ucap salah satu preman itu pada Jaemin. Ia kemudian mendekati Jaemin dan bersiul genit.
"Pulanglah. Tugasmu hanya mengangkang untuk para pria bukan sok pahlawan seperti ini."
Emosi Jaemin langsung naik ke ubun-ubun saat mendengar apa yang baru pria itu katakan. Ditambah suara tawa lain yang seakan mengejek dan mentertawakannya. Dengan wajah memerah menahan amarah, Jaemin melepas topi gisaeng khasnya dan melemparnya ke sembarang arah. Ia menyeringai pada pria di depannya kemudian memukul wajah itu dengan kepalan tangannya.
BUGH
BUGH
Jaemin memberi dua pukulan di kiri dan kanan wajahnya, membuat pria itu terjatuh dengan bibir yang mengeluarkan darah.
"Ayo lawan aku! I'll kill you bastard!" Ucap Jaemin dengan memasang kuda-kuda seperti seorang petinju.
"Boleh juga wanita ini."
Dua pria lain kemudian menyerang Jaemin. Tapi dengan mudah Jaemin menghindar dan menendang dua pria itu bergantian tepat di dada dan perut.
"Sial! Serang dan buat wanita itu bungkam!" Ucap pria yang tadi menggoda Jaemin. Ketiganya lalu menyerang Jaemin membuatnya cukup kewalahan. Apalagi saat salah satu pria itu berhasil memukul bahunya kencang, membuat Jaemin terbatuk.
Saat akan kembali menyerang, lima orang petugas patroli istana yang biasa memeriksa keamanan tiba-tiba datang. Membuat ketiga pria yang menyerang Jaemin menghenntikan aksinya.
"APA YANG TERJADI?" Ucap salah satu petugas patroli itu lantang. Jaemin yang cepat menyadari situasi menyeringai mengerti apa yang harus ia lakukan.
"A-Ah... Pria-pria ini tiba-tiba menyerangku dan pria itu, Tuan." Ucap Jaemin berpura-pura kesakitan memegangi bahunya. Sebenarnya memang sakit tapi Jaemin berakting seolah-olah sakit luar biasa.
"Anda tidak apa-apa Nona?" Salah satu petugas patroli itu menghampiri Jaemin.
"Ini sakit sekali. Tangkap pria-pria tidak tahu etika itu, Tuan. Bisa-bisanya mereka menyerang wanita!"
Na Jaemin dan aktingnya benar-benar luar biasa. Para petugas patroli itu lalu mengikat ketiga preman itu yang terus berteriak memaki Jaemin.
"Tolong hukum mereka dengan setimpal, Tuan."
Sebelum petugas patroli itu pergi, Jaemin memberikan sebuah kedipan dan senyuman genit pada mereka. Membuat mereka salah tingkah dengan wajah memerah.
"Anda tenang saja, Nona. Kami akan menghukum mereka dengan setimpal."
Setelah keliama petugas patroli yang membawa preman-preman itu pergi, Jaemin segera menghampiri Haechan yang terduduk dengan wajah menunduk. Jaemin meringis saat melihat wajah itu penuh dengan lebam dan hidung yang berdarah.
"Kau tidak apa-apa?" Tanya Jaemin hati-hati. Ia berjongkok untuk mensejajarkan tubuhnya dengan Haechan.
"Terima kasih, Nona..." Ucap Haechan pelan. Jaemin tersenyum dan membantu Haechan berdiri.
"Ayo berdiri, kau harus mengobati lukamu." Ucap Jaemin tulus.
"H-Huh?"
"Ikut denganku, Donghyuck-ah..."
Haechan melotot mendengar panggilan yang diucapkan Jaemin. Siapa wanita di depannya ini?
.
.
.
TBC
Terimakasih yang selalu setia membaca cerita-ceritaku. Tanpa kalian aku bukan apa-apa
Big Thanks for :
pocarist ️: Terimakasih udah ngikutin aku dan baca cerita-ceritaku dari wattpad nyampe sini. Buat saat ini aku hanya publish cerita disini ya, dan aku belum punya akun wattpad baru
nominiz : iya, aku republish disini karena akun wattpadku hilang. Terimakasih udah baca ceritaku
Wu Xinlian : Terimakasih banyak udah meluangkan waktu membaca ceritaku. Aku bakal terus memperbaiki tulisanku untuk ke depannya
FIWND : Terimakasih banyak. Iya, aku memang pengen nyoba tema yang agak berbeda dari kebanyakan cerita lain. Semoga suka dan gak bosenin ya
