Inspired by Taylor Swift - Cruel Summer.

Disclaimer :

This is a fanfiction of TaeKook ship, and other members of BTS are also mentioned.

Enjoy.


"Lo inget gak, pas kita berantem yang paling parah?" kata Jungkook, membuat Taehyung tertawa kecil kala mengingatnya. Lima tahun lalu, mereka belum sematang sekarang. Mereka terbiasa untuk bertengkar dengan saling pukul, saling menyakiti secara fisik, namun satu jam kemudian mereka kembali tertawa bersama. Namun kejadian lima tahun lalu ini, pertengkaran ini beda dari pertengkaran keduanya yang sudah lalu. Mereka tidak saling memukul, tidak pula saling berteriak. Keduanya duduk berseberangan, berbicara empat mata, sangat serius hingga dirasa mencekam. Setelah itu mereka terdiam, dan pergi dengan dua pasang mata yang basah.

Taehyung ingat, begitupun Jungkook, bagaimana hari-hari setelah itu mereka lewati. Begitu berat rasanya untuk tidak memiliki orang yang penting dalam hidup ada di sebelahmu, padahal sehari-hari kalian selalu bersama-sama melakukan hal bodoh.

Taehyung ingat, ia kerap menangis di malam hari mengingat bodohnya ia karena tidak memperjuangkan pertemanan mereka, bagaimana pertemanan mereka yang berharga retak karena satu insiden, dan Taehyung ingat bagaimana keesokan harinya ia melihat Jungkook menghadiri kelas dengan kacamata hitam, kabarnya kedua matanya bengkak dan sembab.

Taehyung ingat, ia berkali-kali mengetik dan menghapus pesan yang hendak ia kirim untuk Jungkook, begitupun dengan Jungkook. Ratusan, bukan, ribuan pesan hampir terkirim untuk sekadar mengetahui kabar satu sama lain karena kabar yang mereka terima dari orang lain tidaklah cukup. Mereka perlu mendengar dari satu sama lain secara langsung.

Periode itu berjalan selama hampir satu tahun penuh, sekarat karena ketidak hadiran satu sama lain, mencoba bertahan hidup bahagia walaupun kedua pasang mata mereka menangis di malam hari, mencoba mengumpulkan keberanian untuk mengetik pesan –entah pendek atau panjang– namun akhirnya kembali dihapus.

Mengingatnya, Taehyung mengusap air mata yang tak terasa sudah membasahi kedua pipinya, kemudian tersenyum kepada Jungkook yang juga menangis, berdiri di atas mimbar.

"Inget, kan? Pas kita duduk di kafe kayak orang bego, ngomong serius? Bukan kita banget," ucap Jungkook, diakhiri tawa renyah. "Gue bilang ke lo waktu itu, gue capek sama lo, gue bosen sama lo, gue nemu temen lain yang lebih cocok sama gue, gue udah mainnya sama lo. Dan gue gatau gimana, waktu itu lo iya iya aja. Dasar goblok." Tamu undangan tertawa meriah, melihat bagaimana mempelai pria dan best mannya dengan gampangnya mengatai satu sama lain. "Jujur, gue balik dari kafe nangis. Gue yakin lo juga sih, soalnya sedot ingus mulu lo selama kita duduk bareng. Berisik, anjir." lanjutnya, yang disambut tawa meriah lagi.

Taehyung semakin tersenyum, walaupun air mata yang turun semakin deras. Jungkook melanjutkan, "Malemnya, gue mikir, pasti itu hal terburuk yang pernah gue kasih tau ke lo, dan hal terburuk yang pernah lo terima dari gue." Jungkook melihat ke arah Taehyung, yang disambut oleh anggukan agresif dari Taehyung.

"Tapi lo gak tau kan," Jungkook mengusap air mata yang mengalir deras. "Ada yang belum gue sampein waktu itu, Tae."

Kalimat lanjutan Jungkook mendapatkan perhatian penuh dari Taehyung yang tangisnya terhenti sendiri tanpa dia sadari. Jungkook dapat melihat ketakutan Taehyung di matanya, bagaimana Taehyung takut untuk kehilangan temannya, sahabatnya, kawan sejiwanya.

"Waktu itu, gue punya dua opsi." Jungkook mengangkat dua jarinya. "Satu, untuk bilang gitu ke lo," diturunkannya satu jari, "atau dua, gue ngaku." Kemudian Jungkook menurunkan jari kedua. "Tapi, gue mikir, lo segalanya buat gue, gue gak sejahat itu sama lo, sama diri gue juga. Jadi gue milih opsi pertama."

"Tapi hari ini istimewa, semuanya bisa liat kalo matahari lebih terang hari ini, tumbuhan lebih ijo, cuaca bersahabat. Jadi gue akan kasih pengecualian karena keindahan hari ini." Jungkook melirik Taehyung, Taehyung masih terlihat takut, namun setelah Jungkook tersenyum kepadanya, Jungkook dapat melihat ketakutannya perlahan pudar.

Jungkook menarik nafas panjang, dan membuangnya kembali.

"Gue..." katanya, menggantung. "Ini musim panas ya? Makasih ya, tadi minjemin hp lo ke gue." Jungkook menatap lurus ke mata Taehyung. "Gue gak mau jahat, tapi ini musim panas yang buruk buat gue, jadi sekali aja gue mau jahat sama lo setelah gue mendem ini bertahun-tahun."

Pikiran Taehyung terbelit-belit. Dia dapat mendengar Jungkook yang berteriak di hadapan semua tamu undangannya betapa Jungkook membencinya, betapa merepotkannya Taehyung. Rasanya Taehyung ingin lari, pergi meninggalkan gedung resepsinya, meninggalkan semuanya dan duduk di pojokan kamarnya sambil memeluk kedua lutut. Taehyung dapat melihat Jungkook masih tersenyum kepadanya, namun kedua netra Jungkook menunjukkan bahwa Jungkook sakit. Setiap detik terasa seperti satu tahun, setiap menit terasa seperti satu dekade, dan semakin lama Jungkook menggantung kalimatnya, semakin Taehyung sekarat.

"Gue sayang sama lo, yang bukan temen ke temen, tapi orang ke orang lain," ucap Jungkook, menarik nafas dengan getaran yang jelas. "Gue cinta lo, Taehyung, dan bukan 'cinta' yang lo suka bercanda bilang ke gue." lanjutnya, disusul dengan pecahan tangis yang dengan kerasnya berusaha ditahan dengan menggigit pipi bagian dalamnya.

Kedua netra Taehyung melebar, terkejut bukan main. Di hadapannya, Jungkook hanya berjarak lima langkah, namun terasa begitu jauh. Bibirnya menutup rapat, membentuk senyuman miris, namun kedua netra Jungkook yang selalu menjadi tempat ia mengadu dan mengharap perlindungan dengan jelas mengucapkan perpisahan yang amat lantang, memekakkan kedua telinganya.

Kedua matanya masih terbelalak ketika Jungkook menutup pidatonya, ketika Jungkook turun dari panggung, ketika Jungkook berjalan melewati seluruh tamu undangannya yang juga membatu sepertinya. Kedua matanya masih terbelalak ketika Jimin bangkit untuk mengejar Jungkook yang berlari keluar dari ruangan, disusul oleh Namjoon dan Seokjin. Semua terjadi secara cepat, namun kemudian dunia Taehyung seperti melambat.

Derasnya air mata kembali mengalir dari kedua netra Taehyung, bersamaan dengan rusuhnya tamu undangan pernikahan Taehyung. Taehyung bangkit, seluruh sarafnya berkata kejar Jungkook!, namun wanita di sebelahnya menahan lengan Taehyung, dan untuk pertama kalinya Taehyung marah, namun tidak dapat berbuat apa-apa, tidak berdaya. Terlalu banyak yang dikorbankan untuk sampai di titik ini, dan terlalu banyak hati serta wajah yang harus dia jaga.

Maka Taehyung duduk kembali dan memasang senyumannya, menyambut tamu undangan yang mulai mengantri lagi untuk memberikan selamat kepadanya, yang hanya dibalas oleh senyuman miris Taehyung, dan mata yang mati. Taehyung meraih ponselnya setelah seluruh rangkaian acara selesai, dan segala jejak tentang Jungkook telah hilang di ponselnya. Semua kenangannya dengan Jungkook hilang, seluruh foto, percakapan yang mereka kirim ke satu sama lain, bahkan hingga hal kecil seperti tanggal ulang tahun Jungkook.


Lima bulan kemudian, Taehyung mengakhiri pernikahan dengan istrinya karena tidak ingin terus menerus menyakiti istrinya dengan sakitnya Taehyung. Semua temannya bungkam, bahkan Hoseok yang dikenalnya tidak pernah tega kepadanya. Semuanya menjalani kehidupan sehari-hari seakan-akan tidak pernah ada yang terjadi. Tak satupun dari mereka menyebut Jungkook, dan tak satupun dari mereka angkat suara ketika Taehyung bertanya tentang Jungkooknya. Taehyung merasa dirinya sudah gila.

Baru Taehyung tersadar, dunianya berporos pada Jungkook. Maka dengan hilangnya Jungkook dari hidupnya, dunianya pun sirna.