DESTINY OF LOVE

Miraculous: Tales of Ladybug & Cat Noir © Thomas Astruc & ZAG Heroez

.

Story After End of Season 3

Destiny Of Love : Chapter 1


Marinette's POV

Mataku terpejam menikmati alunan melodi yang dimainkan oleh Luka, melodi spesial yang Luka ciptakan khusus untuk diriku, kutersenyum. Namun terlintas bayangan kebersamaan Adrien dan Kagami, mungkin mereka memang ditakdirkan untuk bersama, dan aku memang 'hanya seorang teman' di mata Adrien. Sekejap senyumku tergantikan oleh rasa yang sungguh sesak dan sakit, tanpa sadar air mataku mengalir turun.

"Kamu baik-baik saja Marinette?" Tanya Luka dengan nada khawatir. Dia berhenti memainkan gitarnya, dan salah satu tangannya meraih pipiku, mengelus perlahan air mataku. Tatapan mata light aqua blue yang begitu menenangkan kudapat saat kubuka mataku. Mata yang indah itu, masih kuingat jelas tatapan yang diberikan Luka saat dia –mungkin- menyatakan cinta kepadaku. Tatapan matanya yang seolah-olah dapat melihat ke dalam jiwaku.

Tanpa ragu aku menenggelamkan tubuhku kepelukan Luka. Seperti waktu itu, saat aku sudah lelah memasang topeng bahwa aku baik-baik saja di hadapan semua orang, tidak pernah bisa menjadi diriku yang sesungguhnya. Luka mengatakan aku bisa memberitahukan semua pada dirinya atau tidak sama sekali jika itu mauku. Aku dapat menjadi diriku sendiri di hadapannya, hanya diriku. Jadi sekarang aku tidak perlu membohongi perasaanku di hadapannya dan mengatakan bahwa aku baik-baik saja, kan?

Dalam diam Luka mempererat dekapannya, dan aku mulai menangis terisak. Bisa kudengar bisik dari teman-temanku yang mulai khawatir saat menyadari keadaanku, tapi tidak satupun dari mereka yang menghampiri dan bertanya 'kenapa?', mereka mungkin tahu dan ingin memberiku waktu. Kurasakan anggukkan kepala Luka, seperti memberi kode kepada mereka, bahwa dia akan menjaga dan memastikan diriku baik-baik saja.

Lima belas menit telah berlalu, satu persatu teman-temanku mulai beranjak meninggalkan tempat ini. Luka hanya membalas dengan melambaikan satu tangannya ke arah mereka. Dan aku pun masih tetap dalam dekapan Luka, hening.

Matahari sudah tenggelam, cahaya lampu jalanan mulai dinyalakan. Sekarang aku hanya menyandarkan kepalaku di bahu Luka, terasa nyaman. Entah mengapa aku selalu merasa tenang jika bersama Luka, tapi terdengar seperti aku hanya memanfaatkannya, bukan? Luka pernah mengatakan, dia akan sangat senang untuk diriku dan Adrien jika kami bisa bersama. Dan jika tidak, dia akan ada untukku. Ya, aku tahu aku jahat dan sungguh tidak tahu malu, menjadikan Luka sebagai pilihan kedua. Menjadikannya pelarian saat aku merasa kecewa menyadari bahwa aku memang hanya sebatas teman bagi Adrien.

Marinette's POV End

Normal POV

"Udara mulai terasa dingin, aku akan mengantarmu pulang." Ucap Luka sembari membantu Marinette berdiri.

"Umm Luka, bolehkan aku ke tempatmu?" Tanya Marinette ragu.

"Ya, tentu saja." Balas Luka sambil tersenyum.

Sekarang mereka telah berada di rumah kapal kediaman Couffaine tepat di dalam kamar Luka dan Juleka. Bukan hal asing lagi bagi Marinette, dia sudah sering kemari untuk berlatih gitar bersama laki-laki berambut hitam dengan warna biru muda di ujungnya. Dan kebetulan Juleka tidak berada di kamarnya karena dia pergi menginap di rumah Rose malam ini. Marinette hanya duduk di atas tempat tidur Luka diam dan gugup, padahal biasanya dia tidak seperti ini.

"Aku akan membuatkanmu hot chocolate." Tawar Luka, Marinette hanya mengangguk sambil tersenyum kikuk.

Langkah kaki Luka terdengar mulai menjauh, Tikki keluar dari tas mungil Marinette, "Marinette, kamu baik-baik saja?" Tanya Tikki melayang di hadapan wajah Marinette.

Gadis berkuncir dua itu menghela nafas berat, tertunduk, "Aku tidak tahu Tikki, aku bingung dengan perasaanku sekarang. Jujur aku masih mencintai dan mengharapkan Adrien, tapi di sisi lain aku ingin mencoba membuka hatiku untuk Luka, aku menyukainya Tikki. Dia selalu ada untukku, tanpa perlu aku berkata pun dia selalu mengetahui isi hatiku, semua perasaan yang sedang kualami. Luka sungguh mengerti dan melihat diriku seutuhnya." Jelas Marinette sambil menangkup Tikki ke tangannya.

Tikki berusaha menghibur pemiliknya, "Oh… Marinette, mungkin kamu bisa mencoba membuka hatimu untuk Luka." Tikki terbang berganti dari tangan ke pipi Marinette, memeluk pipinya sembari menenangkan, "Apapun keputusanmu, aku akan selalu mendukungmu Marinette."

"Terima kasih Tikki, tapi aku takut. Aku takut akan menyakiti perasaan Luka nantinya, dengan hatiku setengah-setengah seperti ini. Andai saja aku bertemu dengan Luka terlebih dahulu sebelum Adrien, mungkin aku tidak perlu mengalami semua hal ini. Aku pasti akan langsung jatuh hati kepada Luka tanpa ragu sedikitpun." Ungkap Marinette penuh harap. Tikki hanya bisa memandang sedih kepada pemiliknya, berharap takdir tidak mempermainkannya seperti ini.

Tikki segera kembali bersembunyi ke dalam tas Marinette saat mendengar langkah kaki yang mulai mendekat. Tak lama Luka datang dengan membawa segelas hot chocolate buatannya, dan memberikannya pada Marinette. "Aku berharap kamu menyukainya, aku juga memasukkan beberapa marshmallow ke dalamnya. Sayang kami tidak mempunyai cookies atau macaroon yang lezat seperti di rumahmu." Ucap Luka tersenyum sembari mendudukkan dirinya di sebelah gadis pujaannya itu.

"Ya, tidak apa-apa Luka, Terima kasih untuk hot chocolatenya." Marinette tersenyum dan meniup-niup minuman panas itu, perlahan dia mulai menyeruputnya. "Yum… hot chocolate buatanmu ini sangat enak Luka." Puji Marinette sungguh-sungguh.

Luka tersenyum melihat reaksi Marinette yang seperti anak kecil dengan mata bluebell-nya yang berbinar. "Sama-sama Marinette, aku senang kamu menyukainya." Dia mengambil gitar hitam putihnya, dan mulai memainkan melodi. Alunan melodi yang selalu tepat menyatakan suasana hati Marinette.


Kini gelas di tangan Marinette hanya menyisakan kurang dari setengah di dalamnya. Luka menatap ke arah Marinette, gadis itu bisa merasakannya. Mengesampingkan gitarnya, jemari dengan kuku dicat hitam itu menyentuh pinggir bibir Marinette, mengusap perlahan sisa minuman yang tertinggal di sana.

Marinette merona, "Terima kasih Luka." Ucapnya tersipu malu.

Tapi kali ini lelaki itu tidak tersenyum seperti biasanya, senyum manis yang selalu terpasang di wajahnya. Melainkan tatapan serius dan dalam, tatapannya yang terasa dapat menembus hingga ke dalam diri Marinette. Luka memperlembut tatapannya, menangkup pipi Marinette dengan kedua tangannya. Marinette dapat merasakan dingin metal dari cincin yang Luka kenakan menyentuh pipi kanannya. Luka mulai menghapus jarak di antara mereka, perlahan mendekatkan wajahnya ke Marinette. Gadis itu bisa merasakan hembusan nafas hangat Luka. Jantungnya berdegup kencang, tangannya meremas gelas yang ada di genggamannya, tanpa sadar matanya mulai terpejam. Luka mengecup pelan bibir mungil itu dengan lembut, perlahan ia mulai menggerakkan bibirnya ketika merasa tidak ada penolakan dari Marinette.

Ciuman yang Luka berikan begitu hangat dan lembut, Marinette mulai membalas ciuman Luka. Menyadari hal itu Luka melingkarkan salah satu tangannya di pinggang ramping Marinette, menariknya lebih ke dalam dekapannya. Luka memperdalam ciumannya, Marinette menempatkan salah satu tangannya pada dada bidang Luka. Lelaki itu juga mulai memejamkan matanya, menikmati ciuman mereka.

"Manis…," ucap Luka setelah menyudahi ciuman mereka, ia dapat merasakan rasa manis coklat dari mulut Marinette. Marinette merona hebat, wajahnya terasa panas dan jantungnya masih berdebar-debar. "Aku mencintaimu Marinette." Ungkap Luka, tulus menatap mata gadis di hadapannya. "Luka, aku…, aku-," ucapan Marinette terhenti saat Luka meletakkan jari telunjuknya di depan bibir Marinette yang masih basah. "Kamu tidak harus menjawabnya sekarang Marinette," Ucap Luka tersenyum penuh pengertian, "Aku siap dengan semua jawabanmu, bahkan jika kamu tetap memilih Adrien nantinya." Ia mengecup pelan kening gadis itu. "Aku akan mengantarmu pulang sekarang, aku tidak ingin orang tuamu khawatir jika kamu pulang terlalu malam." Luka berdiri, tapi-

"TIDAK!" Teriak Marinette sambil menahan lengan bawah Luka dengan tangannya. "Tidak, bu-bu-bukan, ma-maksudku tunggu!" Ucap Marinette gelagapan sambil menatap mata Luka menahan malu. Luka tersenyum maklum, sudah bukan hal aneh lagi baginya melihat gadis itu gelagapan, sama seperti saat pertama kali mereka bertemu.

Luka kembali mendudukan dirinya di samping Marinette, masih dengan tangan gadis itu memegang lengannya. "Ada apa Marinette?" Tanyanya.

Marinette memberanikan diri untuk mengungkapkan isi hatinya pada Luka, "Aku, bolehkah aku mencoba menjalaninya denganmu Luka? Maksudku, aku tahu aku masih memikirkan Adrien, dilain sisi aku juga ingin mencoba membuka hatiku untukmu Luka. Tapi aku takut, aku takut akan melukai perasaanmu nantinya." Ungkap Marinette jujur.

Luka meletakkan tangannya ke bahu samping Marinette, "Kamu tahu, tidak masalah jika aku terluka nantinya, bagiku yang terpenting adalah kebahagiaanmu Marinette." Balas Luka meyakinkan Marinette.

Hati Marinette bergetar mendengar pernyataan Luka, lelaki itu sungguh mencintainya tulus tanpa menuntut balasan apapun darinya. "Tidak Luka, kamu pantas untuk bahagia." Marinette melepas pegangan di lengan Luka dan berganti menyentuh pipi lelaki itu.

"Terima kasih Marinette," Luka menggenggam tangan Marinette di pipinya, melepaskan dan menuntun tangan itu ke bibirnya, mencium punggung tangan itu lembut. Sambil menatap gadis itu ia berkata, "Senyummu adalah kebahagiaanku, aku akan selalu berusaha menjaga agar dirimu tetap tersenyum mulai dari sekarang."

Marinette terkesiap, "Jadi… kamu dan aku..?"

"Ya, kupastikan kali ini aku akan benar-benar mengantar kekasihku ini untuk pulang ke rumah." Kata Luka menggoda Marinette, dan membuatnya tertawa kecil.


Mengenakan jaket Luka, Marinette melepas pegangan eratnya yang melingkari pinggang Luka dan turun dari sepeda. Kini ia berdiri di depan rumah bakery-nya yang telah tutup, melepas helmet dan memberikannya pada Luka, "Terima kasih telah mengantarku Luka." Ucap Marinette dan mengecup pipi Luka yang masih duduk di atas sepedanya.

"Sama-sama Marinette," Sambil mengelus sayang pucuk kepala gadis yang kini telah menjadi kekasihnya. "Terima kasih telah memberiku kesempatan untuk menjagamu, dan jika ada yang lain terlintas di pikiranmu, kumohon jangan ragu untuk mengatakannya padaku." Marinette tersenyum mengangguk, "Tapi, aku tidak akan menyerah padamu begitu saja dengan mudah Marinette, karena aku tidak akan membiarkanmu pergi untuk melihatmu terluka." Ucap Luka serius.

Marinette mematung merona menatap Luka, "Masuk dan istirahatlah." Ucap Luka menyadarkannya. "Ahh! Ya! Sebentar." Marinette melepas jaket Luka yang ia kenakan, dan mengembalikannya. "Terima kasih sudah meminjamkan jaketmu."

Luka mengambil dan memakai kembali jaket birunya sambil berkata, "Padahal aku ingin kamu memakainya Marinette, kau terlihat cocok dan sangat manis. Dan kamu bisa mengembalikannya kapanpun."

Dengan gerakan cepat Marinette menarik kerah jaket Luka dan mencium bibirnya sekilas. "Aku tidak ingin kamu kedinginan, dan aku bisa memakainya lagi di lain waktu," Luka merona. Tersadar akan aksinya, Marinette segera melepas tangannya, mundur beberapa langkah dan bertingkah gelagapan. Luka tertawa kecil, "Sampai jumpa besok Marinette."

"Ya! Sampai jumpa besok Luka," Marinette merona sambil melambaikan tangannya. Luka memastikan Marinette masuk ke dalam rumahnya sebelum ia pergi dari sana.

Tanpa mereka sadari dari ketinggian ada sepasang mata yang telah memperhatikan mereka sedari tadi.

Marinette's POV

"Wow Marinette, aku senang akhirnya kau mulai membuka perasaanmu."

"Ya Tikki, aku harap keputusanku kali ini tidak salah, aku akan belajar mencintai Luka dengan sepenuh hatiku mulai dari sekarang." Ucapku mengelus kepala Tikki.

Aku merebahkan tubuhku ke kasur, menatap jendela di atas tempat tidurku. Bayangan ciuman bersama Luka terlintas dipikiranku. Sensasi ciuman yang belum pernah aku rasakan sebelumnya, seperti ada ribuan kupu-kupu yang sedang menari di dalam perutku. Aku malu menutup wajahku, membalikkan tubuhku ke samping menghadap arah dinding, dan mataku menangkap foto-foto Adrien yang kutempelkan pada bingkai dan dinding kamarku.

Tanganku perlahan menyentuh foto-foto itu. "Maafkan aku Adrien, aku akan mencoba melupakan perasaanku padamu dan menyerah tentang dirimu." Aku beranjak bangun dari posisi tidurku berganti duduk, dan mulai melepas foto-foto Adrien satu persatu. Jujur hatiku terasa sakit, tak bisa kupungkiri. Aku pun mulai menangis, "Selamat tinggal cinta pertamaku."

To Be Continue…