Francis Bonnefoy adalah pemilik coffee shop bernama "Café du coeur", alias "kopi dari hati". Sekarang adalah satu hari sebelum grand opening dari coffee shop tersebut. Terletak di jalan Jean Marie Ego, tempat yang ia pilih tidak terlalu ramai–cocok untuk seseorang yang ingin menikmati secangkir kopi secara santai serta penuh pemandangan indah. Francis sedang mempersiapkan pembukaan coffee shop, seperti mengelap meja, menyiapkan alat pembuat kopi, mengisi kembali kopi, dispenser, dan membuka tirai yang menutup jendela.
Pagi ini matahari terbit sempurna, mengingatkan Francis pada saat-saat dia tidur di gubuk pantai–saat liburan ke Spanyol, enyaksikan lautan muncul di bawah kilau keemasan. Untuk sesaat pikirannya memunculkan gelombang berirama–lembut di pantai berpasir, dan merasakan jantungnya berdetak dengan kecepatan lambat yang sama. Dia menarik napas dalam-dalam. Hari baru telah dimulai. Dia mencapai kain yang melilit pinggangnya. Memperhatikan betapa dekatnya cahaya mengalir, melalui setiap ruang terbuka di antara serat-serat–tidak berbeda dari bagaimana itu dahulu menembus dinding-dinding gubuk pantai, menerangi seperti lalat api yang cemerlang setiap fajar.
Kain tirai terasa hangat di bawah jari-jarinya, dan ketika matahari membanjiri ruangan–mengecat warnanya lagi–dia merasakan sedikit sinar emas itu meresap ke dalam kulitnya. Namun, bayangan tersebut hilang ketika dentangan lonceng terdengar di telinga Francis. Dia menoleh ke arah pintu, dan tersenyum hangat. Teman baiknya–Antonio Fernández–telah datang membawa keranjang buah, dan sebuah kado yang dibungkus kertas merah.
"Bounjour Antonio! Mon ami. Bagaimana kabarmu? Kau datang terlalu awal, Kawan. Grand opening dimulai besok!" ( Selamat pagi, Antonio, temanku …)
"Buenos días, Francis! Aku tahu. Hanya saja ku berpikir untuk memberimu hadiah terlebih dahulu." ( Selamat pagi, Francis)
"Merci beaucoup. Kau terlalu baik, bagaimana bila kau menjadi pelanggan pertama ku? Tenang. Ini gratis." ( Terima kasih banyak)
"Eres muy amable conmigo. Muchas gracias." (Kamu sangat baik padaku. Terima kasih banyak)
Francis memeluk temannya lalu merangkul bahunya. Mengajak dia duduk di salah satu kursi dengan meja yang sudah tertutupi kain putih. Sebuah koran terlipat rapi di meja tersebut. Francis segera menyibukkan diri membuat kopi kesukaan temannya.
"Café Caramel?"
"Si." (Ya)
Dengan lincahnya Francis mengambil sebuah french press*, dan mendidihkan air. Ia mengambil empat sendok makan kopi, lantas memasukannya ke alat tersebut. Setelah airnya mendidih, ia tuang ke dalam french press lalu menutupnya dengan alat penekan. Setelah empat menit, bagian atasnya ditekan secara perlahan hingga ampas kopi turun ke bawah, menyisakan kopi saja. Francis menuang sebagian kopi ke gelas, lalu sedikit susu kental manis yang diaduk secara merata.
Setelahnya ia membawa kopi tersebut ke meja Antonio, yang sibuk membaca berita terbaru di koran.
Antonio melirik ke atas, dan berterima kasih ke Francis atas kopinya. Menghisap sedikit rasanya, membuat senyum merekah di wajahnya yang menghangat.
Hidup itu indah.
Mereka berdua bercakap-cakap mengenai produk kopi, politik dunia, bahkan lelucon. Ah. Tak terasa waktu berlalum dan sudah saatnya Antonio pergi mengurus kebun tomatnya. Mereka saling mengucapkan salam perpisahan, dan Francis sekali lagi ditinggal sendiri. Francis lalu menaruh kado yang diberikan di meja, dan sekarang ia mempunyai satu urusan lagi.
Mencari pegawai.
Francis mengambil sebuah papan tulis kecil, menuliskan " We're Hiring", dan memasangnya di sebelah pintu.
Time skip
Sejam berlalu. Dentingan lonceng memberi tahu Francis ada seseorang yang datang.
"Permisi. Anda mencari karyawan?"
Seorang wanita masuk dengan kepercayaan diri yang tinggi, segala sesuatu mulai dari cara berbicara, hingga pandangan percaya diri yang tak tergoyahkan di matanya mengatakan dia bisa melakukannya. Wanita tersebut memiliki rambut berwarna cokelat mahoni tua, kaya dan dalam. Dengan setiap langkah, helai-helai itu jatuh, mencerminkan penguatan siang hari dalam gelombang.
"Bounjour, Mademoiselle! Selamat datang di Café du coeur! Seperti katamu, kami sedang mencari karyawan." ( Selamat pagi, Miss. [Biasanya panggilan untuk wanita yang belum menikah])
Francis mendekati wanita tersebut. Mengangkat tangannya, dan menciumnya sebagai tanda kesopanan sekaligus hormat. Pada wajah wanita tersebut terlihat sedikit semu merah. Namun, ekspresinya seperti menahan rasa jijik, entah apa yang dipikirkannya. Francis lalu melihat penampilan wanita itu dari kepala hingga ujung kaki. Yang pertama kali Francis perhatikan adalah warna matanya seperti danau jernih di hutan yang gelap–hijau namun terang. Dia lalu memperhatikan pakaian wanita tersebut–agak maskulin, tetapi ada sentuhan feminim yang samar. Ia lalu mengantar wanita tersebut ke salah satu meja, dan mempersilahkan wanita tersebut duduk terlebih dahulu, sementara dirinya membuat segelas latte untuk diberikan kepada wanita itu. Francis lalu duduk di seberangnya, dan mereka mulai bercakap.
"Jadi, Mademoiselle, selamat datang! Mari kita langsung saja, ya. Hemm … boleh cerita tentang diri Anda?"
"Nama saya Elizabeta Héderváry. Saya berumur dua puluh tahun, dan saya telah berkecimpung di industri kopi selama lebih dari dua tahun, terutama bekerja dalam peran barista. Saya baru-baru ini bekerja sebagai professional cupper untuk menilai, dan mencicipi berbagai jenis kopi di perusahaan." Entah mengapa suaranya cukup berat untuk seorang wanita, seperti puding vanila–manis dalam rasa yang biasa, namun memiliki kekayaan nada berupa kedalam dan keberanian.
"Wow. C'est cool. Anda hebat sekali untuk seumuran Anda. à côté, kenapa Anda memilih untuk bekerja di sini?" (Wow sangat keren ... selanjutnya ...)
"Karena saya ingin mendapat pengalaman baru, dan dengan kafe Anda saya merasa banyak yang dapat dipelajari disini."
"Ah. Merci beaucoup, Mademoiselle. Saya memang cukup bangga dengan tempat ini." (Terima Kasih)
Wawancara berlanjut sekitar lima menit yang diakhiri dengan Elizabeta sebagai barista. Sungguh, Francis merasa bahagia bisa mendapat satu karyawan. Namun, supaya grand opening esok berhasil, dia harus mempunyai minimal tiga karyawan. Maka untuk sementara waktu, ia terpaksa meminta bantuan Elizabeta untuk memindahkan beberapa karung kopi ke dapur. Namun, ia cukup terkejut dengan berapa banyaknya wanita itu bisa membawa karung kopi–sungguh menganggumkan
Dua jam berlalu. Francis telah menemukan dua karyawan lainnya, yaitu anaknya Matthew Williams yang baru pulang dari Canada karena libur kuliah–jadi, dia bisa bekerja sampai liburan usai–dan seseorang bernama Tolys Laurinaitis–pria berambut cokelat dengan mata hijau seperti rona hutan yang dibalut lumut. Menurut Francis dia agak introver terbaca dari gerakannya. Walaupun begitu, ia membutuhkan semua tenaga yang ada, sehingga ia menerimanya tanpa basa-basi.
Semua sudah dipersiapkan untuk esok hari. Meja sudah ditata. Bahan untuk membuat kopi sudah ada di tempatnya, serta buku menu yang tertata rapi di sebuah podium mini dekat pintu masuk. Francis merasa bangga dengan staff-nya, sehingga memberi kue ditambah kopi gratis. Selesai briefing dengan staff barunya, dia mengantar kedua staff–Elizabeta dan Tolys–ke rumah mereka masing-masing menggunakan mobil venturi miliknya. Maklumm dia merasa ketika sudah malam, tak baik untuk pulang sendirian.
Pertama, mereka ke rumah Tolys yang berada di daerah menengah ke atas. Rumah yang dihuni Tolys terlihat nyaman dengan lampu yang redup, dan memiliki bayangan yang seperti duduk bersama lantas tertawa. Tolys berterima kasih kepada Francis, hingga membuat janji makan malam bersama di rumahnya. Francis hanya malas menjawab, bahwa memang bahaya apabila pulang sore. Selesai mengantarnya, Francis bertanya ke Elizabeta di mana ia tinggal. Namun, ia hanya terdiam yang sekadar menjawab arah jalan melalui isyarat. Semakin Francis memperhatikan, semakin suram daerah yang ia datangi yang ternyata; Elizabeta tinggal di sebuah kost kumuh.
"Kau tinggal di sini?"
"Iya …"
Sungguh. Ingin rasanya Francis membawa Elizabeta agar tinggal di kafe bersama Matthew dan dirinya–tentu lebih baik, daripada tempat kumuh seperti ini. Sejak merekrut Elizabeta, entah mengapa Francis merasa wanita itu harus dilindungi, seperti dia melindungi Matthew walaupun ia tahu Elizabeta kuat. Namun, tetap saja dirinya merasa seperti ayah yang harus protektif.
"Apa kau yakin? Kau akan baik-baik saja?"
"Iya, Pak. Tenang. Saya bisa jaga diri"
Francis menghela napas, lalu membiarkan wanita itu kembali ke "tempat tinggalnya". Besok ia akan mencoba menyakinkan Elizabeta untuk tinggal bersama dirinya, dan Matthew, daripadatinggal sendiri di daerah berbahaya itu.
Francis merasa kantuk menguasai dirinya ketika kembali ke kafe. Dia naik ke lantai dua. Mencari Matthew yang ditemukan tertidur di salah satu kamar. Francis lalu pergi ke kamarnya sambil menyalakan TV dengan suara kecil. Perlahan, pikirannya melambat seperti carousel yang indah–masing-masing menari seperti pita dari tali layang-layang yang menjangkau langit, menuju alam mimpi yang menunggu dirinya di sana.
To be continued…
Author note
Terima kasih sudah mau membaca hingga akhir, jangan lupa riview. Jaga kesehatan ya. Jaa nee.
*French Press adalah perangkat menyeduh kopi dipatenkan oleh desainer Italia Attilio Calimani pada tahun 1929. Benda ini biasa disebut sebagai cafetière, сafetière à piston, press pot, coffee press, atau coffee plunger.
