Francis merasa kantuk menguasai dirinya ketika kembali ke kafe. Dia naik ke lantai dua. Mencari Matthew yang ditemukan tertidur di salah satu kamar. Francis lalu pergi ke kamarnya sambil menyalakan TV dengan suara kecil. Perlahan, pikirannya melambat seperti carousel yang indah–masing-masing menari seperti pita dari tali layang-layang yang menjangkau langit, menuju alam mimpi yang menunggu dirinya di sana.

End.

Senin, pukul enam pagi.

Pada pagi ini, awan meredakan cahaya pagi manis yang lembut; mereka bergerak seperti samudera, menunjukkan warna biru di antara abu-abu, merpati keputih-putihan menghiasi langit. Terbangun, Elizabeta membenamkan dirinya ke dalam selimut yang hangat dan lembut. Dia mengusap sisa-sisa bekas tidur dari matanya kemudian menatap jendela–cahayanya yang terang melesat masuk menerangi kamarnya yang redup. Teringat bahwa hari ini adalah hari kedua ia bekerja di Café du Coeur, usai mengumpulkan seluruh nyawa dia bangkit dari tempat tidur, dan melangkah menuju kamar mandi.

Kamar mandinya bisa dikatakan agak bobrok. Cat pada meja rias terkelupas, sedangkan di wastafel enamel yang mengalaminya. Air bocor dari pipa wastafel ketika sedang digunakan, tapi itu masih bersih. Cermin tua bernoda tampak berkilau di tengah cahaya pagi dan kamar mandi–meskipun juga terkelupas–hanya saja putih cemerlang seperti di ruang pamer. Handuknya harum, halus, dan dengan hati-hati dilipat di kursi pojok. Elizabeta lalu melepas baju. Melangkah perlahan ke dalam bak, memutar putaran shower di atas kepalanya, dan membiarkan rambutnya basah kuyup.

Dia mengambil sedikit sabun cair, membasuh badannya, lalu mengambil sampo dan meremas rambutnya yang sedikit digosok. Ia pun membasuhnya sampai rambut depannya menempel di wajah. Uap memenuhi ruangan hingga menciptakan kabut putih, mengundang tawa kecil melihat ulah dirinya membuat ruangan kabut. Dia lalu mengambil handuk. Mengeringkan diri hingga akhirnya kembali ke kamar dengan rambut, dan badan tertutup handuk yang halus. Lalu ia membuka lemari untuk memilih baju yang akan dipakai ke kafe. Setelah sepuluh menit, Elizabeta akhirnya memutuskan memakai blouse putih, celana jogger dipadu combat boots hitam.

Ketika melihat jam ia terkejut bahwa sudah waktunya berangkat. Langsung saja Elizabeta melesat keluar, sambil membawa barang pribadi dalam tas selempang. Larinya bagaikan angin musim dingin yang bertabrakan dengan benda mati, atau deburan ombak menghantam garis pantai. Rambut panjangnya yang cokelat berkibar di belakang punggungnya, seperti kisah yang berapi-api. Hingga akhirnya ia mencapai tujuan melihat Francis sedang mengatur meja dan bangku.

"Pagi, Bos!"

"Ah. Bounjour, Elizabeta. Kau datang pagi sekali."

"Hehe … saya terlalu bersemangat. Hari ini, kan, hari pertama saya mulai kerja."

Francis hanya mengerjapkan mata diikuti ekspresi terkejut. Setelahnya ia tertawa lepas, sambil menggeleng-geleng tidak habis pikir. Elizabeta menatap keheranan. Mencoba menebak apa yang membuat ia tertawa.

"Apa kau sudah sarapan?"

Mendengar itu, Elizabeta teringat bahwa ia belum sarapan. Perutnya sudah menjawab duluan sebelum mulutnya, membuat dirinya bersemu merah karena malu. Francis menggeleng sekali lagi, dan mengajak Elizabeta ke bagian belakang coffee shop, yaitu dapur. Jika di depan terlihat sederhana dan nyaman, dapurnya terlihat profesional sekaligus rapi dengan tembok putih yang begitu kontras, dengan peralatan masak beraksen hitam. Bahkan lantainya ada semacam rasa modern dengan bentuk ramping, datar dan monokrom.

Francis lalu menyuruh Elizabeta untuk mengambil beberapa bahan dari kulkas, sementara dirinya mengambil rempah yang tumbuh di sebuah pot kecil dekat jendela kecil dapur. Ia lalu meminta bantuan Elizabeta untuk memotong roti segar yang dipanggang di toaster. Mereka berdua sibuk dengan kegiatan masing-masing, sampai tidak mendengar langkah kaki yang mendekat.

"Bounjour, Papa, Wah, pagi-pagi sudah masak saja."

"Bonjour, Mon Fils. Ayo masuk! Kita sarapan bersama, aku membuat makanan favoritmu~ Pancake!" (Selamat pagi anakku).

Time skip

Setelah semua tertata di meja, mereka bertiga bersiap untuk sarapan bertepatan dengan Tolys yang datang untuk menyapa. Francis tentu saja mengajak dia makan bersama, membuat dari bertiga berubah menjadi berempat. Sepiring omelette terpampang di depan Elizabeta. Wangi mentega memenuhi hidungnya hingga senyum kecil merekah di wajahnya. Francis duduk di seberangnya sambil mengolesi roti bakar dengan selai stoberi, sementara Matthew dan Tolys berada di sebelah kiri dan kanan Elizabeta. Elizabeta mengucapkan terima kasih ke Francis, lalu menggigit omlette keju dengan sayuran hijau gelap kecil yang tercampur bersama telur.

"Boss, ini sangat enak. Apa namanya yang berwarna hijau?"

Dengan senyum kekanak-kanakan Francis mengangkat alisnya, kemudian membuka matanya, "Nettle, daun bawang, dan daun dandelion yang menyengat. Omong-omong, tolong panggil aku Francis." ( Nettle atau sering disebut jelatang menyengat ini merupakan tanaman yang ingin disingkirkan karena dapat membuat kulit menjadi merah bintik-bintik jika mengenainya. Namun bila diolah dengan benar bisa dijadikan bahan masakan)

Elizabeta diam seolah-olah pikirannya berhenti total, "Jika saya panggil Anda Francis, maka panggil saja saya Eli. Juga demi Tuhan, omelette ini enak."

Dia mengangkat bahu yang selalu diberikannya ketika bangga pada dirinya sendiri, tetapi juga menggelitik perasaan malu dalam dada Francis. "Ambil tangkai dari dandelion. Rebus selama beberapa menit. Basuh air dingin, peras, cincang. Itu saja. Rasa menyengat akan hilang. Makan apa yang sudah disediakan alam. Mudah."

Sungguh Elizabeta terpukau dengan keahlian bos-nya. Bahkan dari tanaman yang dianggap liar, bisa menciptakan omelette seenak ini.

"Setidaknya bangga sedikit, lah, Papa. Masakanmu memang selalu enak dari dulu," terka Matthew.

"Ohonhonhon. aku tidak sehebat itu, Mon Fils." (anakku)

"Tapi itu kenyataan, Sir. Semua makanan di meja ini lezat," puji Tolys.

"Kalian semua baik sekali. Ingin gaji awal, ya? Hahaha …."

Mereka semua pun tertawa dan melanjutkan obrolan, seperti keluarga kecil yang makan bersama. Entah mengapa itu membuat Elizabeta merasakan kehangatan membasahi hatinya, yang menuju setiap sel yang ada di tubuhnya. Perasaan itu aneh. Namun, menyambut layaknya pelukan selamat datang dari teman lama. Tanpa sadar senyum kembali terukir di wajahnya. Sudah lama ia tidak mengalami kehangatan seperti ini.

"Eli Kalau boleh tahu kamu berasal dari mana?"

Pertanyaan Matthew membuat Eli lengah hingga dirinya tersedak. Ia terbatuk kecil sambil memukul dadanya sedikit.

"Ehh?! M-maaf Eli. Terlalu personal, ya?"

"T-tidak. Hanya kaget saja, hehe …."

"O … oh … maaf ya …."

"Sudah, sudah. Jadi ... em ... sejak kecil hingga umurku sembilan belas, aku tinggal di Hungaria. Lalu sekarang, aku memutuskan pindah ke sini."

"Mengapa pindah?

"Ya …. karena ingin mendapat sensasi baru saja. Aku cinta negaraku, tentu. Tapi aku ingin menjelajah, sehingga hidupku tidak monoton."

Matthew mengangguk paham sambil melanjutkan makanannya, selagi Francis bertanya ke Tolys.

"Sedangkan kau Tolys? Kau berasal dari mana? Kau juga tidak kelihatan dari negara ini."

Tolys menangkat kepala dari makanannya. Mengangguk singkat sembari mengunyah makanan yang berada di mulutnya, sebelum melanjutkan percakapan.

"Diriku sebenarnya lahir di Lithuania, lalu pindah ke Rusia. Selama delapan belas tahun aku tumbuh di Rusia. Namun, aku juga belajar bahasa negara lain, terutama negara kelahiranku. Karena mendapatkan beasiswa di sini, makanya aku pindah."

"Wow. Qui aurait pensé, kau sangat pintar, Tolys." (Wow. Siapa sangka ….)

Tolys hanya tersenyum malu sambil menggaruk belakang kepalanya, seperti kebiasaan yang sudah sangat terpatri. Mukanya semerah mawar. Tidak terbiasa dengan pujian.

Francis melihat jam dinding–sedikit terkejut bahwa sudah jam delapan. Maka, ia bangun dan segera meminta tolong semua pegwainya untuk membereskan meja, jika sudah selesai makan dan mengisi kembali stok kopi, air dispenser, juga mengelap meja sertamenata kursi.

Hari makin dekat dengan waktu Grand Opening. Matahari–putri langit itu–mengambil tempat yang tepat sekali di cakrawala. Dia membiarkan sinarnya mengalir ke dunia. Membawa pemandangan ke tampilan penuh yang kecerahannya sesuai. Menurut jam dinding sekarang ini pukul sepuluh. Ketika mereka selesai mempersiapkan kafe, dan Francis keluar untuk membalik papan menjadi "open" beberapa pengunjung berada di luar kafe-nya lansung masuk.

Francis bertugas menerima tamu, dan mengambil pesanan. Tolys bagian kasir. Sementara Matthew dan Elizabeta sebagai barista. Semua berjalan begitu mulus, dan Francis tak bisa lebih bahagia dari sekarang. Semakin siang semakin banyak yang datang. Francis berjalan ke sana kemari, selagi Matthew mengisi dispenser dengan kopi, dan Elizabeta yang meracik kopi. Tolys sibuk mengembalikan uang yang lebih, sekaligus menata uang di kasir.

Sore kian menambah warnanya membuat kafe mulai sepi, menyisakan dua sampai tiga orang yang duduk menikmati kopi yang diisi keluh kesah. Matahari mulai mencelup ke belakang cakrawala, tetapi sinarnya masih terasa di udara, seperti tidak sengaja tertinggal. Francis sedang membersihkan meja yang kotor bersama Tolys, sementara Matthew dan Elizabeta membersihkan area dapur dan counter.

Lonceng pintu terdengar bergema, ketika seorang pria berkulit putih seumpama salju dengan mata merah bersinar–warna darah–tetapi bukan merah tua dari darah yang baru saja tumpah, melainkan merah tua yang memang merah tua saja. Francis melihat ke arah pria itu dan tersenyum lebar. Matanya berbinar seperti saat melihat teman lama.

"Well, well, well. Taklain dari Gilbert Beilschmidt sendiri, apa yang kau lakukan disini?"

.

.

.

To be continued

A/n :

Apakah ini terhitung Cliff hanger? Anyway, jaga kesehatan minna. Istirahat yang cukup ya ja nee.