"Well, well, well. Tak lain dari Gilbert Beilschmidt sendiri, apa yang kau lakukan disini?"
… … … … … … … … ..
Seorang pria berambut putih salju dengan mata seperti batu merah delima berjalan mendekat ke arah Francis, sambil mengulurkan tangannya untuk melakukan sebuah "Giving dap".
"Francis, mein Freund, wie geht es dir?" (Francis, temanku, bagaimana kabarmu?)
"I'm great! Mais où étiez-vous?" (Aku baik! Darimana saja kau?)
"Ah, gak ke mana-mana, kok. Masih tinggal di satu tempat, kesesese."
"Aku sudah lama tidak melihatmu sejak kau pindah ke Jerman. Ah, sudahlah. Ayo duduk dulu!"
Francis mengajak pria tersebut ke sebuah meja dengan kursi malas sebagai tempat duduk, kemudian dia duduk dengan santai seperti hampir jatuh ke dalamnya.
"Now, ceritakanlah bagaimana kabarmu, kawanku. Apa yang kau lakukan selama ini?"
"Francis. Tak bisakah aku menikmati secangkir kopi lebih dulu?"
"Ah, bien, tetapi habis ini kau harus menceritakan semuanya."
Pria tersebut–Gilbert Beilschmidt–hanya mengangkat kedua tangannya, disusul mengidikkan bahu. Wajahnya memperlihatkan senyuman iseng yang sampai-sampai membuat Francis ingin melempar buku ke wajahnya. Namun, apalah daya pemuda itu teman baiknya.
Francis lalu meminta Elizabeta membuat kopi untuk temannya yang satu ini. Elizabeta mengangguk, sambil sekilas melihat pria tersebut. Mata hijau terangnya bertemu iris merah delima. Jika Elizabeta sedikit jujur, dia memiliki bentuk wajah yang bisa menghentikan seseorang di tengah jalan, memesona dengan gelagat acuh tak acuh, dan senyum nakal miliknya yang gurih.
"Eli? Kau mendengar?"
Elizabeta menggeleng menyadarkan diri dari "halu" yang terjadi.
"Apa, Francis?"
"Kubilang apakah kau bisa membuat kopi pharisäer untuk tamu kita?"
"Ya. Tentu. Apa kau juga mau kopi, Francis?"
"Café au late saja."
Elizabeta mengangguk, dan dengan cepat membuat kopi tersebut. Pharisäer dibuat dengan dua ons rum dicampur kopi hitam dan gula, lalu dilapisi krim kocok. Elizabeta membuat satu lagi untuk Francis. Ia lalu mengambil nampan kecil, mengantarkan kedua kopi tersebut ke meja yang dimaksud. Elizabeta bersumpah dia merasa diawasi setelah menaruh kopinya. Namun, ketika berbalik sebentar mata ruby merahnya hanya menemui kekosongan–balik pada percakapan yang Francis serta Gilbert ciptakan.
Elizabeta memalingkan wajah, kemudian mengambil sapu dari tempat penyimpanan barang–menyapu area depan sambil membalikan papan menjadi "close", yang diam-diam juga sedikit menguping percakapan mereka berdua–kebiasaan buruknya memang, jika ingin tahu pasti langsung menguping.
Sejauh ia menguping, Elizabeta belajar bahwa pria itu keturunan Jerman, punya adik yang suka olahraga, dan suka sekali dengan bir. Francis berkata dia cepat mabuk. Namun, bukankah negara Jerman terkenal dengan orang-orang yang mempunyai kemampuan menenggak bir yang kuat? Elizabeta memasang ekspresi bingung. Dia … unik. Suara tawanya bahkan terdengar terbahak-bahan yang agak lucu, seperti suara kantong plastik yang diremas saja.
Dengan tenang Elizabeta kembali menggeleng, berusaha menganggap tidak terjadi apa-apa dan hanya melanjutkan pembersihan sekeliling café lalu membantu Tolys dan Matthew di belakang.
"Yah. Begitulah caraku mendapatkan pekerjaan yang lebih baik di Frankfurt. Adikku juga bekerja, tapi di Berlin."
"C'est impressionnant, je suis fier de toi. Terakhir kita berbicara kau melakukan banyak pekerjaan part time untuk melunasi hutang, sampai-sampai jarang hang out denganku dan Antonio." (Itu mengesankan, aku bangga padamu).
"Ja ich weiß. Maafkan aku, Teman. Tapi aku berencana untuk tinggal di negara ini selama beberapa bulan. Tahu, lah, untuk mengejar waktu yang kita lewatkan" (Ya saya tahu).
"Mon amie. Tentu saja kita akan hang out lagi! Semoga kau masih bisa tahan minum bir, honhonhon"
"HA! Kau tak mungkin mengalahkan Ze awesome me."
Dia belum selesai–Francis tahu dari cara dia memutar mata merah delima ke langit-langit kafe, dan setengah menggigit bibirnya. Dari dalam dadanya, datanglah gemetar yang hebat menyebabkan otot-otot wajahnya menjadi kencang. Francis melipat tangan. Alis tampak melengkung, menunggu. Tawa meledak dari Gilbert terkesan seperti air pipa bocor–malu-malu pada awalnya, tetapi lambat laun mengucur deras–melengkung ke langit musim panas yang cemerlang, membasahi semua orang di sekitarnya dengan angin, hingga menampar paha dan memilih gambar wajah gembira. Francis ingin tetap berwajah lurus. Namub, sebelum dia bisa mengendalikan dirinya sendiri, mulutnya yang datar bergerak ke atas duluan, dan dia cekikikan diikuti tawa lepas.
Wajah Gilbert seumpama dicium oleh merah muda dari mawar musim semi, sementara Francis seperti mandi di bawah mentari karena merah rona pipinya. Mereka berdua akhirnya berhenti. Menarik napas terengah-engah, tetapi sayup-sayup masih cekikikan macam anak SD. Francis berhasil menenangkan diri. Senyum lebar masih terukir di wajah. Matanya jadi berbinar, karena air mata yang mengumpul di pelupuk mata. Francis mengusap dengan telapak tangannya, lalu mengambil koran sambil sedikit mengipas–merasa telah melakukan marathon panjang.
Gilbert pun tak mau kalah. Matanya yang berpijar membuatnya terlihat berkilau, menyerupai batu paling murni di semesta. Sudah lama mereka tidak melontarkan komentar dari satu orang ke orang yang lain, seperti permainan bola karet anak-anak. Mereka tidak pernah yakin apakah mereka menjadi lebih lucu setiap malam tiba, atau apakah itu hanya efek tawa yang membuat semuanya tampak jauh lebih konyol.
Malam semakin larut. Bintang-bintang menerangi langit seperti serpihan salju di malam hari. Namun, tampak diam seperti foto tua. Gilbert beranjak, berkata bahwa ia harus pergi karena sudah malam. Namun, sebelum pergi dia sempat diperkenalkan pada Tolys–tumbuh di Lithuania, sesosok mahasiswa cemerlang, dan dia lebih pintar daripada gurunya alias jenius.
Lalu ada Elizabeta, wanita yang sempat ia lihat secara sekilas. Dia adalah tipe gadis yang paling sering dibenci wanita. Perawakannya macam orang dewasa, Gilbert kira, tetapi sebenarnya muda sehingga dia masih memiliki kegembiraan masa muda. Elizabeta memiliki tampilan macam bintang film–tingginya sedang, dan ramping, hanya saja lebih seperti bintang film aksi. Ototnya sempurna, dan dia selalu berjalan dengan percaya diri seperti seseorang yang satu dekade lebih tua. Elizabeta tidak hanya sempurna stuktur fisiknya. Kulitnya pun ibarat sutra di atas kaca, membuat ia memancarkan kecantikan yang cerdas.
Gilbert berpikir bahwa wanita itu cantik, tentu. Tapi, ada sesuatu dari dirinya yang membuat Gilbert merasa lumayan tertarik. Yang ia tak tahu, di sisi lain Elizabeta berpikiran sama, tetapi mati-matian membantah. Lagian, Gilbert bukan tipe Elizabeta, 'kan?
Yang membuat Gilbert terkejut ialah bahwa ada anak Francis yang ikut membantu di kafe–bukankah seharusnya ia di Kanada? Tengah mengenyam bangku pendidikan? Namun, setelah semua diperjelas kebingungan berhenti melanda membuat ruangan dipenuhi canda tawa terakhir, sebelum Gilbert melambai pergi keluar dari kafe.
Selain kegelapan dan dirinya, yang tampak hanyalah angin dingin yang menggigit keras kulitnya yang bisa dirasakan melalui jubahnya. Gilbert bisa merasakan bulu kuduk di lengannya terangkat. Gigitan angin pun sudah meninggalkan tandanya dalam bentuk benjolan-benjolan kecil yang menggelitik di lengannya, tetapi gigitannya sendiri memang lebih dari sekadar daging. Darah di nadinya mengalir dalam kedinginan, dan tulangnya seolah-olah beku. Gilbert meniup tangan, tetapi panasnya gagal mencapai kulitnya. Dia bergegas menyusuri jalan menuju rumah. Sepatunya terdengar menampar tangga batu yang mengarah ke pintu depan. Pada saat tiba di rumah, malam semakin menyelimuti kota dalam gelap gulita.
Daun-daun yang luruh berserakan di jalan. Warna merah berbaur dengan cokelat gelap, dan dia menginjaknya merasa puas. Lampu teras menyala. Cahaya kuning yang akrab membuat rumah terasa hangat, dan seperti ingin mengundang orang-orang mampir. Pot bunga baru di sebelah kanan pintu dipenuhi cornflower pink, biru dan ungu yang tampak serasi, memperindah suasana di sekeliling rumah.
Gilbert mengeluarkan kunci kecil dari kantungnya. Logam gagang pintu terasa dingin di telapak tangan, lalu dia memutarnya dengan muda–memasuki ruang tamu yang cukup gelap.
Dia menyalakan lampu. Menaruh jubahnya sembarang dengan dilempar ke sofa, duduk begitu saja dan mengeluarkan sepuntung rokok. Api dinyalakan menggunakan lighter. Gilbert menarik napas panjang membuat racun yang manis memenuhi paru-paru, dan dia mengembuskannya dengan lega dalam bentuk asap abu-abu–berputar ke atas menyerupai penari menuju langit langit putih, melahap semua yang ada pada lintasan mematikan, sebelum meringkuk ke dalam ketiadaan sekali lagi.
Zat pucat itu adalah pita kematian. Gilbert sejenak menatapnya–terpaku pada lipatan tipisnya saat mereka menghilang yang sambil merenggut kesehatannya. Dengan cepat Gilbert mematikan rokok–sadar sendiri bahwa itu berbahaya, hanya saja ia tak bisa menahan. Gilbert sedang mencoba untuk mengurangi kebiasaan itu, agar minimal tidak separah di masa remajanya, di mana ia bisa menghabiskan dua bungkus dalam satu hari. Sekarang Gilbert hanya merokok jika stres, atau anxiety-nya kambuh. Berkat adiknya pula dia berjuang keras untuk tidak candu terhadap rokok. Seekor burung kuning kecil kemudian terbang menghampiri Gilbert, dan hinggap di kepalanya secara tiba-tiba.
"Halo, Gilbird."
Burung itu hanya berkicau, dan membuat sarang kecil dari rambut Gilbert–berusaha menyamankan diri dengan mencari posisi yang tepat.
"Bosan dengan kandangmu, ya? Sudah kuduga, kesesese. Tapi aku harus mandi dulu, Kawan."
Gilbert beranjak ke kamar mandi. Jari-jari kakinya tersentak, ketika mereka menyentuh lantai keramik yang dingin. Ia memutar tuas tua dari logam. Ribuan tetes air berjatuhan dengan deras yang membasahi rambutnya, dan mulai menetes ke mana-mana. Mata Gilbert terpejam menikmati kehangatan, sementara Gilbird menunggu sambil melantunkan lagu yang ia buat sendiri. Setelah selesai Gilbert membuka lemari baju, untuk mengambil pajama dengan motif kapal laut–walaupun motifnya kekanak-kanakan, bahan bajunya sungguh enak dipakai tidur.
Ia lalu melemparkan diri ke tempat tidur dengan posisi tengkurap, sambil memeluk tumpukan bantal yang ada diikuti Gilbird yang sekali lagi menetap di kepalanya. Setiap gagasan, ide, dan peristiwa dari harinya akan diputar ulang dalam benaknya–menuntut suatu analisis sebelum ia diizinkan tidur. Akhirnya ketika berhenti, dan pikiran Gilbert dapat berkelok-kelok bebas, dia pun menyadari bahwa dirinya hampir terlelap. Namun, hari ini entah mengapa dan sejak kapan, pikiran Gilbert justru melayang pada wanita yang ia bekerja di kafe itu, dibandingkan memikirkan hal-hal lain. Dengan rambut bergelombang seperti laut, dan mata hijau indah mengikuti pola zamrud, mungkin sedikit demi sedikit Gilbert mulai terhipnotis, kah?
Hanya saja kelihatannya, seorang Elizabeta terlalu serius untuk wanita seumuran dirinya–Gilbert mungkin bisa mengajarkan dia, untuk lebihsupel. Matanya mulai mengerjap. Perlahan turun seakan-akan dibebani oleh serbuk mimpi, membuat ia terseret bawah sadar. Dunia menjadi kabur. Berbagai gambar acak tampak melayang tanpa tujuan di kolam pikirannya, seolah-olah mereka diledakkan dengan kejam oleh badai, hingga akhirnya memutuskan mundur–berkubang di kegelapan.
A/n :
Giving dap adalah tanda sapaan, persetujuan, atau solidaritas yang bersahabat antara dua orang yang telah menjadi populer di budaya Barat, Pemberian dap biasanya melibatkan berjabat tangan (seringkali, dengan mengaitkan ibu jari), memeluk, memukul kepalan, atau menabrak dada atau kepalan.
