Hanya saja kelihatannya, seorang Elizabeta terlalu serius untuk wanita seumuran dirinya–Gilbert mungkin bisa mengajarkan dia, untuk lebihsupel. Matanya mulai mengerjap. Perlahan turun seakan-akan dibebani oleh serbuk mimpi, membuat ia terseret bawah sadar. Dunia menjadi kabur. Berbagai gambar acak tampak melayang tanpa tujuan di kolam pikirannya, seolah-olah mereka diledakkan dengan kejam oleh badai, hingga akhirnya memutuskan mundur–berkubang di kegelapan.

end


Dua minggu berlalu, kafe semakin sibuk baik dengan pelanggan lama maupun baru. Sesuai rutinitas Francis mengambil pesanan, Elizabeta membuatnya, sementara Tolys bertugas mencuci, dan Matthew di kasir.

Ding

Pintu terbuka menunjukkan Gilbert yang langsung menuju tempat duduk yang menurut dirinya ialah sebagai properti dia, dan entah mengapa Francis membiarkan hal itu. Sejak pertemuan kembali di hari Senin lalu, Gilbert sering berkunjung ke kafe dalam jam sibuk maupun tidak. Hal pertama yang ia lakukan adalah menunggu hingga Francis bisa menerima pesanannya, lalu mengobrol dengan dia. Saat jam mulai tidak sibuk, ia akan mondar-mandir mengobrol dengan Tolys, Matthew dan Elizabeta. Namun, kelihatannya Gilbert lebih lama menghabiskan waktu dengan Elizabeta, daripada yang lain. Tentu Elizabeta tidak keberatan. Ia sering menceritakan hal lucu, bahkan kebodohan mengenai dirinya yang sering dilakukan saat Gilbert masih kecil yang terkadang membuat Elizabeta berpikir; bagaimana Gilbert masih bisa hidup?

Namun, yang paling Elizabeta tidak suka adalah candaan Gilbert yang selalu penuh dengan gombalan, membuat Elizabeta ingin memukul dia dengan penggorengan. Untungnya Gilbert berada jauh di dapur, dan bukan di sisi Elizabeta sekarang ini.

"Eli~"

Speak of the devil

"Apa Gilbert?" Suara dingin dan tegas memenuhi telinga Gilbert.

"Eh~ Jangan gitu, dong. Cewek cantik, kok, ambekan?~"

"Ya, ya. Terserah. Kamu mau apa, Gilbert?"

"Mau ngemil …"

"Ngemil apaan? Banyak, nih makanan. Pilih aja satu."

"Gak mau. Maunya ngemilikin kamu sepenuhnya."

Wajah Elizabeta mekar dengan warna merah mawar. Gilbert menahan senyum–bisa tahu dari parasnya yang memerah bahwa dia benar-benar menyukainya, bahkan telinganya pun kelihatan menjadi merah. Sungguh imut. Elizabeta tahu itu hanya candaan. Namun, ia tak bisa memungkiri kalau hal tersebut membuat dirinya baper –perasaan marah dicampur suka, sungguh aneh tapi nyata.

Ah. Tapi dirinya sadar dengan situasi ini. Lagian, ini hanya sebuah candaan yang tak mungkin hal lebih akan terjadi.

Ya, 'kan?

"Mikirin apa?"

Elizabeta tersadar dari lamunan, hanya untuk menemui sepasang mata merah delima yang menatap dengan intens. Raut wajahnya yang halus membuat Elizabeta sempat berpikir bahwa Gilbert mustahil bisa menjadi lebih tampan. Namun, sungguh, apa yang sebenarnya ia pikirkan? Tak mungkin pria berambut salju keturunan Jerman ini akan suka dengan dirinya. Heck, bahkan dirinya sangat sadar banyak hal yang kurang dari dirinya. Misal, rambutnya yang terlalu bergelombang susah untuk dirapikan, dan jika panas melanda, rambutnya akan menjadi lengket sekaligus lepek. Sifatnya pun terlalu tomboi menurut beberapa orang. Jadi bagaimana mungkin dari seribu kehidupan di muka bumi, Gilbert akan suka dengan dirinya? Namun, Elizabeta akhirnya mengakui pada diri sendiri apa yang ia ketahui selama ini, tetapi terlalu takut untuk mengakuinya: ia menyukainya, sangat, dan dia ingin bersamanya.

Yang ia tidak tahu adalah Gilbert merasakan hal yang sama, setiap kali melihat mata Elizabeta yang berona hutan, dan seperti dikelilingi lumut gelap itu. Jenis hijau milik Elizabeta adalah yang bersahaja yang menghidupkan rumput, setelah musim dingin yang kejam dan tak kenal ampun. Tidak pernah sebelumnya mata memiliki bahaya dan keindahan yang begitu bersamaan. Elizabeta adalah api yang liar: sembrono, liar, namun menawan membuat Gilbert tertarik saat pertama bertemu. Dalam kurun waktu seminggu ia bahkan bisa memecahkan teka-teki wanita itu, dari makanan favorit hingga cara membuat Elizabeta bersemu merah dengan mudah. Dia suka dengan Elizabeta, tentu. Ia memikirkannya sepanjang hari. Dia suka dengannya, tapi Elizabeta tidak akan pernah menjadi miliknya–Gilbert sudah tahu sejauh itu.

Francis yang melihat dari jauh hanya bisa menggigit jari melihat mereka berdua. Padahal sangat jelas mereka saling suka–apa keduanya begitu bodoh atau bagaimana? Haruskah Francis memukul kepala mereka berdua dengan tongkat hockey milik Matthew, agar mereka berani menyatakan perasaan? Melihat mereka yang jelas-jelas saling suka membuat Francis sakit kepala, apalagi memikirkan cara supaya mereka bersama. Lagi pula mereka di kafe–seharusnya kencan saja di kafe ini, duh!

Keinginan untuk menampar mereka sungguh tinggi, bagi Francis yang darahnya mendidih.

Time skip

Malam pun tiba. Tolys menyapu lantai, Matthew mengelap gelas di bar, Elizabeta mengelap meja yang masih kelihatan kotor, sementara Francis sedang merapikan buku menu yang berserakan di salah satu meja. Gilbert keluar sebentar untuk membeli makanan buat mereka, karena ia suka berdiam di sana sampai malam, sehingga mereka terbiasa dengan Gilbert yang membeli makanan, selagi mereka membereskan yang ada.

"Eli …" panggil Francis.

"Ya?"

"Kau harus kasih tahu dia, cepat atau lambat."

"Hah? Maksudmu?"

"Kau suka sama Gilbert, 'kan?"

Kulit wajah yang putih dipenuhi gelora merah sekali lagi, membuat Francis tertawa dan mengisengi Elizabeta terus-menerus, seperti ibu yang mempermainkan anaknya jika punya pacar.

"Tau gak, sih? Melihat kalian berdua aku tuh sampe stres."

"Apa, sih, Francis? Kamu mengada-ada aja. "

"Enak aja! Kulihat kalian saling curi pandang tadi, lalu Gilbert sejauh ini hanya gombal dengan kamu. Dulu dia sering banget gombal dengan wanita lain, sampai tiga wanita yang berbeda."

"…"

"Terlalu berlebihan?"

"Yang ada aku malah makin gugup, Francis. Bagaimana jika itu memang sebatas angin lalu? Dia bisa mencari wanita lain yang lebih cantik. Lebih baik!"

"Tapi dia memilihmu," terka Matthew sebelum Francis sempat menjawab.

"Anak kecil jangan ikutan," debat Francis

"Aku bukan anak kecil, Papa! " lanjut Matthew sambil mengelap piring yang basah, bersama Tolys yang juga membantu mengelap sisa sendok dan garpu.

Tawa kecil merekah dari Elizabeta. Namun, obrolan mereka diganggu secara brutal oleh empat pria yang berteriak. Elizabeta melihat ke arah mereka dan menjadi pucat. Keempat pria itu mengenakan pakaian hitam, dan menutupi wajah mereka dengan balaclavas. Yang lebih parah lagi, dua dari mereka memiliki pistol, dan salah satu dari mereka mengarahkannya ke Matthew yang berdiri paling dekat dengan mereka.

"Kamu, ikut aku," kata pria itu dengan kasar.

Matthew membeku di tempat. Dia didorong dengan kasar.

"Apakah kamu tidak mendengarku?!" Pria itu berteriak marah.

Matthew tersentak.

"Hei!" Elizabeta berteriak, sebelum dia menyadarinya.

Keempat pria itu memandangnya bingung.

"Ah. Berani sekali." Salah satu dari mereka berkata sambil menyeringai.

Elizabeta merasa keberanian dalam dirinya menciut. Keempat pria itu berjalan menuju Elizabeta yang perlahan mundur. Dua pria meraih lengannya, yang ketiga mengikat pergelangan tangannya menggunakan tali, dan yang keempat mengarahkan senjata ke arahnya. Elizabeta merasakan air mata membakar matanya–ingin menangis, tetapi masih ditahan.

"Sekarang, jadilah gadis yang manis dan buka mesin kasir untuk kita. '' Pria dengan pistol itu menyeringai.

Mata Elizabeta berair. Rasanya berat sekali, baik itu raga maupun jiwa.

"JANGAN MENANGIS!" Pria lainnya dengan pistol berteriak.

Elizabeta melakukan yang terbaik untuk menahan air matanya. Kedua pria itu, yang memegang lengannya, mendorongnya ke arah mesin kasir secara kasar.

"Beri tahu kami kodenya." Pria itu menuntut.

"Tidak akan! '' Elizabeta berteriak balik.

Salah satu pria itu memegang pinggangnya, dan melempar dia ke dinding. Elizabeta membentur tembok dengan keras. Perlahan-lahan tersungkur ke lantai kafe dengan mata tertutup.

"ELI! '' Semua pelayan berteriak, kecuali Matthew, yang baru saja melebarkan matanya.

Kemudian, salah satu dari mereka fokus pada Tolys.

"Siapa kamu?" Mereka bertanya pada Tolys.

Mata Tolys sedikit berkaca, dan dia mundur.

"Mungkin dia ingin memberitahu kita kodenya. '' Salah satu dari mereka berkata.

"Jangan berani-beraninya kalian mendekatinya!" Tolys tiba-tiba mendengar suara Francis.

Francis berlari ke arahnya–merentangkan tangan dan menyipitkan matanya.

"Jangan berani-berani menyentuhnya." Francis mendesis.

"Oh, lihat. Dia berani juga." Salah satu pria itu berkata sambil menyeringai.

"Hei!" Gilbert berteriak. Tiba-tiba dua muncul bersama Antonio.

Gilbert lalu berlutut di samping Elizabeta, yang matanya masih tertutup.

"Apa yang terjadi? '' Antonio bertanya, sementara dia dan beberapa orang memasuki kafe.

Lalu, mata mereka membelalak.

"Lihat, kita terkepung! '' Salah satu pria itu berkata.

Perampok bersenjata tersebut mengarahkan pistolnya pada Gilbert.

"Jadilah pria yang baik dan bergeraklah. Kalau tidak, kami akan melakukan hal-hal buruk pada pacarmu." Dia mengancam tanpa niat main-main

Gilbert malah tersipu mendengarnya–sejenak merasa bego.

"Poin pertama, dia bukan pacarku. Poin kedua, BERANINYA KAMU BERPIKIR UNTUK MENYAKITI DIA, HAH?! " Gilbert berteriak penuh amarah yang tidak terkendali. Mengepalkan tinju bersiap menghajar siapa pun yang masih nekat.

"Baiklah. Kalau begitu kau dulu yang mati." Pria itu berkata.

Dia mengincar Gilbert, tetapi tiba-tiba senjatanya terhempas dari tangannya oleh bola sepak–sumbernya adalah Antonio.

"No tan rapido." Antonio mendesis. (Tidak secepat itu)

Keempat pria itu saling memandang. Ketakutan mulai mengacaukan.

"Cepat cari jalan keluar!" Satu orang tampak berteriak ke yang lain.

Semua orang memblokir jalan keluar dan karena orang-orang itu tidak punya senjata lagi, mereka terperangkap. Dalam beberapa menit, polisi yang sudah ditelepon tiba di lokasi.

"Gehackt," ujar Gilbert dengan seringai kemenangan. (Tertangkap)

Polisi berlari ke arah kafe, dan menguasai para perampok.

Para lelaki tersebut menggeram ketika diseret keluar dari kafe. Polisi berjalan menuju Francis–hendak menginformasikan sesuatu tampaknya.

"Kami akan mengirim seorang pekerja kepada Anda nanti, untuk berbicara dengan Anda dan para pelayan tentang kecelakaan itu. Dia bisa mencegah trauma." Polisi menjelaskan penuh wibawa.

Francis mengangguk singkat.

"Sementara itu, pastikan kalian selalu bersama, agar kejadian ini tidak terjadi lagi." Polisi melanjutkan.

"Itu tidak masalah," jawab Antonio.

Kemudian polisi pergi. Setelah itu, Tolys masih mengalami ketakutan yang menganggu mentalnya dan berlutut, lantas dia menangis diam-diam. Matthew segera berlutut di sampingnya–memberi pria rapuh itu pelukan.

"Sshh ..." Matthew mencoba menenangkan.

Meskipun dia berusia delapan belas tahun, sama seperti Matthew, Tolys adalah yang termuda dari mereka semua. Ia menutup wajah dengan telapak tangan, sementara buliran air tetap terjatuh. Sementara itu, Gilbert berlutut di samping Francis untuk melihat Elizabeta. Saat Elizabeta perlahan membuka mata penglihatannya masih kabur. Dia mulai bisa menemukan Francis, usai mengerjap-ngerjap sebentar membiasakan pandangan.

"F-Francis?" panggilnya lemah.

Francis mengangguk, sementara dia meraih Elizabeta dan memeriksa apakah lukanya parah atau tidak. Kemudian, Elizabeta mengenali orang lain. Wajahnya memerah seperti orang gila.

"K-Kamu," katanya.

Gilbert tersenyum.

"Hai, sapanya.

"G-Gilbert …" Elizabeta tergagap.

"Bagaimana perasaanmu?" tanya Gilbert khawatir.

"Hanya sakit kepala," jawab Elizabeta.

"Itu pukulan yang cukup keras," ujar Francis lembut.

"Aku baik-baik saja. Sungguh," balas Elizabeta sambil tersenyum.

Elizabeta perlahan berdiri dibantu oleh Gilbert. Francis juga beranjak. Membersihkan kotoran yang menempel dari pakaiannya, dan menghela napas.

"Apakah kamu baik-baik saja?" Mendengar suara yang tidak asing di belakangnya, Francis berbalik dan menatap tepat ke wajah Antonio.

"A-aku baik-baik saja," jawabnya sambil menatap tanah.

"Dari apa yang aku lihat, kamu tidak baik-baik saja," kata Antonio sambil menepuk pundak temannya dengan simpatik.

Francis mengangguk dengan murung. Dia melihat sekelilingnya–masih bisa merasakan aura tegang di kafe. Untungnya tidak ada yang rusak, tetapi bisa terlihat bahwa semua pelayan sangat trauma. Francis teringat kembali pada salah satu pria itu menodongkan pistol padanya. Tiba-tiba saja Francis merasa pusing, seperti harus muntah, membuat posisi berdirinya menjadi terhuyung.

"Permisi," kata Francis sembari dia meraih kursi, dan membiarkan dirinya duduk di sana.

Francis meletakkan kepalanya di antara tangannya. Antonio berlutut di depannya.

"Hei. Apa kamu baik-baik saja?" Antonio bertanya cemas.

Francis mendongak dan mengangguk. Air mata menggenang di matanya.

"Aku masih tidak percaya dengan apa yang terjadi," bisiknya lemah, "Kami baru buka selama dua minggu, dan kemudian ... ini ..."

Antonio terlihat berbelas kasih.

"Va a estar bien. Aku di sini, Gilbert juga. Temanmu semuanya selamat." Dia berkata sambil tersenyum. (Semua akan baik-baik saja)

Francis mengangguk, lalu senyum sedih merekah di wajahnya. Gilbert sendiri tengah mencoba menenangkan Elizabeta yang sedang menangis dalam diam.

"Hey,. Semua baik-baik saja, kau selamat. Semua selamat, kok. Shh …"

"Iya. Tapi tetap saja ini mengerikan. Kita baru buka, dan sudah dirampok."

Tidak berhasil, pikir Gilbert yang kemudian ia memikirkan cara lain, dan semu merah kecil menghias wajahnya lagi.

"A-Apakah kau mau pelukan?" Dia bertanya malu-malu.

"P-Pelukan?" tanya Elizabeta yang juga malu-malu.

Gilbert mengangguk.

"Ya …" bisik Elizabeta.

Gilbert memeluk gadis manis di depannya ini, dan perlahan menariknya mendekat. Elizabeta meringkuk ke dalam rengkuhannya. Menutup mata. Gilbert tersenyum tipis, dan meletakkan dagunya di kepala Elizabeta.

"Jangan khawatir. Sungguh. Jangan khawatir ... '' Gilbert berkata lembut.

Tolys dan Matthew hanya saling memandang, dan berusaha untuk tetap kuat. Pada saat itu pekerja pun tiba seorang wanita yang tampaknya baik. Dia mengajak para pelayan mengobrol secara terpisah. Setiap pelayan yang selesai dengan pembicaraan berangsur kembali, sambil tersenyum–trauma mereka mulai membaik rasanya. Ketika pekerja itu pergi, Antonio melihat arloji agak kaget.

"Kawan-kawanku. Atidak ingin merusak momen ini, tetapi sudah agak larut," katanya.

"Iya. Sepertinya aku akan membereskan semua ini besok, dan aku belum mau masuk lagi, ataupun ke atas. Antonio. Bolehkah aku, Matthew dan Tolys singgah ke tempatmu untuk malam ini?"

Awalnya Tolys ingin menentang untuk ikut dengan Francis. Namun, ia terlalu lelah sehabis menangis akibat kejadian tadi. Keluarganya akan diberitahu besok jika begitu, setelah suasana hatinya mendingan.

"Tentu saja, Francis! Dengan senang hati~" ucap Antonio riang.

"Elizabeta, kau di tempat Gilbert untuk sementara. Tak papa?" tanya Francis.

"Tak bisakah saya pulang sendiri saja?"

"Non! Ini sudah larut! Aku tidak ingin kejadian buruk terjadi padamu," tambah Francis dengan tegas.

Elizabeta melihat ke angkasa yang kosong seperti kanvas, dan dari kelihatannya memang sudah cukup larut. Ia terlalu lelah untuk berargumen, sehingga dengan enggan terpaksa mengangguk.

Mereka pun berjalan terpisah menuju tujuan masing-masing.

Rumah Gilbert

"Sampai~" ungkap Gilbert sambil membukakan pintu untuk Elizabeta, agar masuk terlebih dahulu.

"Aku akan mempersiapkan kamar tamu lebih dulu. Kamu boleh lihat-lihat," lanjut Gilbert selagi berjalan menuju kamar tamu.

Elizabeta melihat sekeliling rumah yang bisa dikatakan cukup rapi untuk seseorang yang sebegitu … heboh. Di dinding ia melihat banyak foto yang menggantung–ada yang berdua dengan seseorang berambut pirang–mungin adik?–juga sebuah pemandangan. Namun, yang menarik perhatiannya adalah foto bingkai yang diisi Gilbert, Francis dan Antonio. Di bawahnya terdapat tulisan, "bad touch trio" entah apa maksudnya–ia pikirkan nanti saja.

"Eli. Kamarnya sudah siap!"

Gilbert lalu mengantar Elizabeta ke kamar tamu. Ruangannya berukuran sedang dengan queen size bed, dan dinding yang dilapisi cat biru langit membuatnya menampilkan kesan cerah.

"Ini. Aku punya sisa pakaian. Jadi, kamu bisa pakai bajuku untuk malam ini."

Elizabeta menerima baju tersebut dengan senyuman kecil. Ia lalu berterima kasih pada Gilbert, dan beranjak ke kamar mandi, sementara Gilbert pergi ke kamarnya sendiri untuk bersiap. Senyum simpul merekah di wajahnya diikuti dengan tawa kecil. Ia benar-benar tidak percaya bahwa wanita yang ia suka berada di rumahnya!

Lainnya dengan Elizabeta–pikirannya kacau sekali daritadi. Mengapa ia bisa berakhir di sini? Di rumah pria yang ia suka? Haruskah ia kabur saja? Dirinya tersipu–sudah menginap di rumahnya, bahkan dipinjamkan baju–mimpi, kah? Jika iya, mendingan ia bangun saja dan melupakan kejadian tadi sampai sekarang. Elizabeta memutuskan mandi. Ia memakai baju yang dua kali lebih besar darinya itu, membuat wangi khas Gilbert membekas di baju. Elizabeta tak bisa menahan senyum lebar di bibirnya, dan ingin berguling di ranjang. Ia melihat jam di atas nakas–sudah di angka sepuluh tepat. Elizabeta lalu mengeringkan rambut dengan handuk kering, dan segera menempatkan diri di atas kasur. Memejamkan mata. Menyerahkan diri kepada kantuk.

12.45 Am

Elizabeta terbangun dari tidurnya. Kejadian tadi berulang di kepalanya, bagaikan kaset yang tak dapat berhenti. Ia merasa air mata membasahi wajahnya–dengan cepat menyekanya menggunakan telapak tangan, dan melihat sekitar bahwa ia masih di kamar tidur, bukan di kafe. Elizabeta lalu beranjak dari tempat tidur, untuk ke dapur mengambil segelas air putih. Setelah selesai ia hendak ke kamar lagi, apabila tak melihat kamar Gilbert yang sedikit terbuka. Entah apa yang dipikirannya Elizabeta perlahan mendekat, dan membuka pintu tersebut dengan perlahan.

Di sana Gilbert tampak mengenakan piyama motif kapal dengan rambut berantakan, sementara di atas nakas terdapat kandang burung, dan seekor burung kuning tertidur. Elizabeta mendekat dan memperhatikan wajah Gilbert. Menurutnya ia terlihat lebih damai, juga semakin tampan, walaupun baju piyamanya membuat Elizabeta cekikikan.

Sekarang dia berpikir, melakukan ini pasti akan dianggap aneh dan jika Gilbert bangun, pasti dirinya akan dianggap stalker atau lebih buruk; mesum. Elizabeta lalu memutuskan untuk balik, ketika ia merasa sebuah tarikan kecil menahan tangannya.

Oh .. dia ditahan Gilbert.

Bagaimana sekarang? Mana mungkin ia beranjak ketika ditahan seperti ini?

Elizabeta lalu mencoba menarik lengannya dengan pelan. Namun, kelihatannya Gilbert terus menahan, dan tanpa diduga menarik seluruh badan Elizabeta sampai dianggap guling.

Wajah Elizabeta berubah panik, dan parasnya memerah menyaingi mawar. Dirinya mencoba untuk melepaskan genggaman Gilbert. Namun, apalah daya, sehingga ia terpaksa terjebak dalam posisi ini sampai Gilbert bangun.

Hanya satu hal logis yang bisa Elizabeta lakukan–memejamkan mata sambil berhara, ia bisa tidur dengan mudah hingga esok hari.

Juga tentunya, seperti semua cerita romantis fanfiction yang reader sering baca–ia tertidur dengan nyenyak.

.

.

.

Tbc…