.

.

Melqbunny

present

. .

A fictional work homin AU

Rate: AK (Aman Kayaknya)

"My boyfriend is…"

.

*inspired by something I saw in YT

.

.

.

Yunho yang duduk di sofa mematikan TV dengan remote control. Sudah sejam tak bergerak sebab sepasang tangan melingkari perutnya dengan erat. Menghela nafas panjang ketika memantabkan pilihan dan resiko yang akan mengikutinya: sakit punggung.

Memangnya mana mau pacarnya bergerak dari sofa begini? Harusnya mereka menghabiskan malam ini dengan nonton film Halloween bersama, tetapi Changmin datang terlambat dan belum ada setengah jam saja dia sudah tertidur di samping Yunho, dan tak perlu waktu lama sampai Changmin memeluknya erat.

Seperti koala jika harus dibandingkan. Menggemaskan dan imut, tetapi pelukannya begitu kuat dan susah dilepaskan.

Changmin masih bisa hampir terbaring seluruhnya, kecuali bagian atas yang memeluk Yunho dari samping. Lalu Yunho? Hanya bisa menaikkan kaki ke atas meja agar kakinya tak sakit karena terlalu lama ditekuk dan bersandar pada sofa.

.

.

.

.

Yunho terbangun berkat suara alarm yang dipasangnya, itu pun tak lagi ada tanda-tanda keberadaan pacarnya di sampingnya. Mengusap mata beberapa kali dan menyadari tubuhnya ditutupi oleh selimut yang semalam dipakai Changmin.

Yunho diam dan mendengarkan, mungkin akan ada suara dari dapur atau kamar mandi?

Tapi tak ada, tempat ini begitu sepi, mungkin Changmin langsung pergi bahkan tanpa membuat kopi atau bahkan cuci muka. Entah perusahaan seperti apa yang sedang dirintis olehnya sampai seolah tak ada waktu begini. Semalam mereka nyaris tak bertukar kata.

Changmin lelah, Yunho tahu itu dan dia ingin bisa mendukungnya semaksimal mungkin, tapi di saat yang sama dia tak ingin memaksa Changmin memberitahu detil pekerjaannya. Waktunya akan tiba, itu yang Yunho yakini.

Saatnya bagi Yunho untuk bersiap-siap dan sarapan seadanya lalu pergi kerja.

Yunho pekerja kantoran biasa, mungkin yang jadi sedikit berbeda adalah dia sudah jadi manajer dan tanggungjawabnya tak cuma di dalam kantor. Ada banyak hal yang perlu juga diselesaikan di luar ruangan seperti meninjau calon kantor baru atau rapat dengan klien. Masa depan cerah dan promosi di depan mata, bahkan beberapa wanita di kantor melemparkan kedipan genit ke arahnya.

Selalu pura-pura merasa itu tak lebih dari candaan, Yunho menepis semuanya. Mereka semua gadis baik, bahkan janda yang baik, tapi dia sudah ada pacar bernama Changmin.

Bagaimana mereka berdua bisa pacaran? Ah, mereka tak sengaja bertemu di stasiun kereta. Changmin yang terburu-buru menabraknya yang baru saja membeli kopi panas dari mesin penjual. Seluruh isi cup kertas terbuang percuma dan mengotori kemeja dan jas Yunho, yang terbaik yang dia miliki kala itu.

Lalu Changmin berlalu begitu saja, meninggalkan Yunho yang sedang terkejut dan menahan panas. Tak ada minta maaf, tak ada usaha untuk tahu apa yang barusan terjadi. Tak sopan memang.

Lalu Changmin muncul 4 hari setelahnya. Yunho bahkan tak merasa melihat wajah orang yang menabraknya, tapi melihat Changmin yang mendekatinya dengan raut yang adalah campuran kesal dan lega membuatnya berpikir pernah bertemu dimana, "Akhirnya ketemu juga! Kemana saja kau 3 hari kemarin?"

"Apa aku mengenalmu?"

"Tidak. Aku Shim Changmin."

Yunho tak tahu dari mana pemuda ini punya percaya diri yang nampak dipaksakan ini. Mengenakan celana jeans, hoodie putih dan topi hitam, tidak mencolok sama sekali. Hanya tingginya saja yang terlihat karena sedikit lebih tinggi darinya, "lalu? Ada perlu apa?"

Pemuda yang mengaku bernama Shim Changmin ini terlihat terkesiap, tak mengira akan ditanya begitu oleh Yunho, tak mengira akan ditanya sama sekali.

"Siapa namamu, tuan?" Agak ragu ketika menambahkan 'tuan', sangat aneh.

"Memangnya apa yang akan kau lakukan dengan itu?" Seoul tak selalu ramah, dia tak tahu apa niat seseorang. Bahkan dulu pernah ketika bersama teman-temannya datang ke Seoul, uang mereka dirampas. Itu adalah masa-masa konyol ketika nekad pergi saat SMP. Bukannya dia merasa tak bisa melawan pemuda ini dengan kemampuan Hapkido dan Taekwondo yang dimiliki, tapi ini tempat umum dan kecuali pemuda ini bersenjata, tak ada yang bisa jadi bukti pemuda ini berniat jahat.

Pemuda itu nampak sedikit marah hingga telinganya memerah, "akuyangmenabrakmu4harilalu. Akumaubayargantirugi."

Begitu cepatnya kali ini bahkan pipinya memerah dan kepalanya menunduk.

"Maaf… bisa katakan sekali lagi? Kau terlalu cepat."

"Aku yang menabrakmu 4 hari lalu sampai kopimu tumpah semua dan mengotori bajumu. Aku mencarimu 4 hari ini karena ingin membayar ganti rugi tapi kau tidak muncul hingga hari ini. Padahal kau pekerja kantoran dengan jam kerja tetap. Apa kau menginap?" Wajah merah dan agak kesal dan malu berhasil ditangkap oleh Yunho dengan kedua matanya.

Jadi pemuda ini menungguinya di stasiun di jam yang sama? Mungkin dia salah tentang pemuda Seoul jaman sekarang, "pekerja kantoran juga ada lembur," jawab Yunho. Kali ini mengulurkan tangannya agar Changmin meraihnya, "aku Jung Yunho. Apa kau akan membiarkan tanganku terulur terus?"

Changmin meraihnya dan mereka berjabat tangan.

Yunho rasa pemuda ini tak terbiasa berbicara dengan orang asing sepertinya, tapi masih berusaha mencari dirinya 4 hari ini.

"Jadi berapa yang harus kubayar?" Changmin bertanya.

Yunho sedang berpikir bagaimana caranya untuk menolak tanpa menyakiti perasaan sebab Changmin sampai menunggunya 4 hari berturut-turut ketika perut Changmin berbunyi keras, "huh?" Yunho menatap Changmin yang makin menunduk menyembunyikan wajahnya.

"Be… berapa?" Changmin sudah berharap untuk mengakhiri pertemuan ini dan kembali pada rutinitasnya. Tapi kenapa mereka bahkan masih berjabat tangan?

"Traktir aku makan saja."

Changmin menatap tangan mereka yang masih menjabat sambil mendengarkan kata-kata Yunho, "di dekat stasiun ada restoran. Traktir aku di sana. Bagaimana?"

Mana ada penolakan kalau begitu?

.

.

.

.

Bruk.

Changmin memijit kepalanya setelah Kyuhyun menjatuhkan lembaran file ke mejanya, "Kyu…" dia memohon sedikit bantuan.

"Tidak. Ini laporan yang harus kau tulis sendiri. Jangan mentang-mentang kau petugas lapangan dengan track record bagus lalu bisa lepas dari laporan. Lagipula kau hampir membuat seseorang terluka kali ini kan?" Kyuhyun menakuti sebelum meninggalkannya.

Changmin mendecih, sebagai seorang polisi/agen lapangan sepertinya dia harus serba cepat saat ada masalah. Kejar-kejaran saat diperlukan. Belum lagi saat ini dia sibuk menjaga seorang saksi kasus suatu skandal perusahaan hingga ada pembunuhan. Tanggung jawab yang berat dan memusingkan meski dia bukan satu-satunya yang mengalami 'penderitaan' ini. Masih ada beberapa orang lagi yang bergantian shift dengannya.

Semenjak setahun terakhir dirinya makin sibuk, tugas-tugasnya rasanya membuatnya kewalahan hingga tak punya waktu untuk pacaran. Sampai dia bertemu dengan Yunho.

Niatnya untuk minta maaf berujung dengan mendapatkan pacar. Bukannya Changmin ingat wajah pria yang ditabraknya, waktu itu Changmin sampai mengecek CCTV dan memastikan siapa yang ditabraknya berkat mengejar seorang pelaku kriminal, bahkan sampai memastikan jam kereta yang dinaiki Yunho setiap pulang kerja.

Changmin tahu namanya Jung Yunho, dari Gwangju dan bekerja di sebuah perusahaan start up selama 2 tahun sebelum diterima di perusahaan besar di Seoul. Changmin hanya pura-pura tak tahu apa-apa saat mereka ngobrol di restoran di dekat stasiun. Memanfaatkan jabatan dan kuasa? Tak masalah untuk Changmin selama tujuannya benar dan satu-satunya tujuannya kala itu hanyalah agar bisa minta maaf.

Yunho yang membayar makanan mereka kala itu, dan Changmin memaksa agar mereka bisa bertemu lagi agar bisa 'melunasi' hutang-hutangnya. Mereka bertukar nomor hp sebelum berpisah. Dan resmi berpacaran setelah 3 bulan.

Mereka saling mendekati, meski awalnya Changmin merasa ragu karena alasan yang jelas. Dia tak merasa Yunho punya perasaan padanya, sama sekali.

Tapi mendapatkan pesan dari Yunho terasa menyenangkan, juga mendapatkan telepon darinya dan mengobrol hingga lewat tengah malam.

Lalu Yunho mengajaknya makan di luar bersama, lalu nonton film, juga nonton musikal. Dan tahu-tahu Yunho menciumnya di pipi ketika mereka sedang nonton film lepas tengah malam. Changmin yang terkejut langsung membelalakkan mata dan menatap Yunho. Tapi hanya senyuman yang diperlihatkan oleh Yunho.

"Kenapa mencium pipiku?" Changmin bertanya setelah mereka keluar dari bioskop. Rencana mereka akan pulang dengan taxi.

Yunho justru mendekatinya, "sebenarnya aku ingin mencium bibirmu," akunya dan berbalik.

Changmin sempat melihat semburat pink di pipinya, langsung menarik lengan Yunho, "hyung bilang apa?" Changmin memanggilnya hyung karena Yunho lebih tua darinya.

Dipaksa untuk berhenti serta menoleh ke arah pacarnya, Yunho menghela nafas. Bermaksud untuk tak perlu mengulangi kata-katanya barusan, "kubilang aku ingin mencium bibirmu."

Lalu Changmin melepaskan cengkeraman tangan dari lengan Yunho demi mencengkeram kerah kemeja Yunho dan menciumnya di bibir dengan cepat dan keras hingga terasa sedikit sakit.

Ciuman terlepas dengan mereka saling berpandangan tak percaya. Hingga kini Changmin percaya ada setan yang mendadak merasukinya kala itu.

"Changminie…" gumam Yunho pelan. Yang dipanggil hanya bisa melepaskan cengkeraman di kerah baju Yunho dan berusaha melewati Yunho untuk melarikan diri.

"Hei! Changmin!"

Shim Changmin, yang terbiasa mengejar pelaku kejahatan kini tengah kabur dari pacarnya sendiri karena sebuah ciuman. Ternyata dia ini pengecut.

Dan bicara soal lari, Yunho tak kalah soal kecepatan dan stamina, tahu-tahu sudah berhasil mengejarnya yang lari 2 blok dari bioskop dan balas mencengkeram tangannya, "Changminie…"

Mereka berhenti berlari di sebuah gang yang sepi.

"Maaf…" gumaman itu nyaris tak terdengar, "hyung pasti marah?"

"Lakukan lagi…"

Changmin merasa dia akan dipukul atau apa, sampai dia mendengar kata-kata Yunho, "A…apa?"

"Kubilang lakukan lagi," senyum Yunho dan pipinya yang memerah karena berlari masih bisa terlihat berkat cahaya lampu jalan. Changmin tak tahu lagi ketika kedua bibir mereka kembali bertemu, lebih lembut dan lebih lama kali ini.

.

.

.

.

Meeting dengan klien berakhir dengan baik, atasannya juga puas dengan hasilnya. Merantau ke Seoul tak sia-sia dengan kesuksesan yang dia perjuangkan. Jauh berbeda dengan kondisinya dulu yang tinggal di apartemen sempit bersama 2 orang lain, sama-sama berusaha meraih mimpi untuk sukses di ibu kota. Salah satu temannya menjadi pemain drama setelah jatuh bangun, sedangkan kawan mereka yang lain kembali ke Gwangju karena kesehatan.

Yunho ingin menghubungi Changmin, tetapi mereka berdua sama-sama sibuk dan tak punya waktu luang yang pasti, jadi hanya bisa meninggalkan pesan saja.

Tak kunjung dijawab, Yunho hanya bisa mengambil kesimpulan kalau Changmin pasti sibuk. Entah perlu waktu berapa lama lagi sampai mereka punya waktu luang di saat yang sama, harus sukses dulu untuk itu? Sayang Changmin tak memberitahukan apa yang sedang dikerjakannya. Dia hanya tahu kalau Changmin bekerja dan memulai perusahaan start up.

Dulu rasanya tidak sesibuk ini. Dulu masih ada pesan-pesan masuk ke handphonenya, mengingatkannya untuk makan siang; sebab tentu saja Yunho terkadang terlalu bersemangat bekerja sampai lupa makan. Changmin juga pernah mengirimkan makanan yang di pesan ketika Yunho sedang sakit tapi belum bisa menjenguk.

Mereka ada jadwal nonton akhir minggu ini bahkan Changmin sendiri yang mengusulkan, Yunho jelas setuju karena mereka jarang ada waktu bersama. Dan lagi semenjak ciuman di bioskop itu, Changmin jadi lebih terbuka dengan skinship yang mereka lakukan. Tak lagi terlalu malu-malu.

.

.

.

.

"Changmin, kita ada rapat mendadak."

"Huh?" Tentu itu bukan sikap yang tepat jika ditujukan pada atasan tetapi Changmin lelah setelah berkutat dengan laporan. Padahal sudah berharap laporan itu jadi pekerjaan terakhir untuk hari ini. Tentu saja harus ada yang menghancurkan harapannya seperti atasannya atau penjahat.

Penjahat rupanya, karena ada jaringan narkoba yang telah lama mereka incar. Sepertinya ada yang berhasil menangkap ekornya.

"Belum ditangkap. Justru karena itu aku mengumpulkan kalian kemari," atasannya begitu santai, "cuma teri, perlahan-lahan saja kita gali sampai ke tingkat atas."

Terlalu mencurigakan, Changmin sampai menemui atasannya ketika semua orang fokus dalam misi menangkap ikan teri sasaran mereka sejam kemudian.

"Apa maksudnya tadi?"

Atasannya menatapnya malas, "ternyata kau memang punya otak."

"Ya?"

"Pengkhianat, Shim. Kalau kau tahu artinya itu. Siapa aku tak tahu, untuk sekarang. Yang pasti kau awasi sambil menjaga saksi kita."

Changmin tak bisa menolak perintah itu meski itu berarti dia harus memastikan saksi mereka hidup sampai minggu depan sambil mencari apel busuk di divisinya. Kenapa dulu dia memilih untuk jadi polisi?

Ah ya, ini semua salah Lee Donghae.

.

.

.

.

Yunho mengirimkan pesan untuk yang kesekian kalinya dari sudut bioskop. Berkali-kali memeriksa handphone dan arlojinya tapi tak ada pesan yang masuk. Kemana perginya Changmin? Ini bukan kali pertama Changmin terlambat tetapi biasanya dia memberi tahu. Apa terjadi sesuatu padanya?

Yunho tercabik antara keinginan untuk mencari pacarnya atau menunggu hingga Changmin datang. Jadwal film yang seharusnya mereka saksikan bahkan sudah tayang setengah jalan. Saat begini hanya bisa berdoa saja semoga Changmin tak kenapa-kenapa.

.

.

.

.

Changmin berlari sekencangnya begitu turun dari taxi. Gara-gara saksi mereka bertingkah, Changmin jadi telat ke bioskop. Padahal dirinya yang mengusulkan. Sudah berapa lama Yunho menunggu? Memangnya Yunho masih menunggunya?

Waktu Changmin melihat sosok itu berdiri dengan cemas sambil menatap layar handphonenya, Changmin merasa sangat bersalah, "Changminie… kau tak apa? Apa kau terluka? Kau tak kenapa-kenapa, kan?" cecar Yunho yang langsung memegang kedua lengannya.

Changmin yakin ada ratusan pesan dan voice mail masuk ke dalam handphonenya, "ti… tidak apa-apa," salah satu penyelidik terbaik di kepolisian terbata-bata di depan pegawai kantoran biasa. Memang kelemahan Changmin yang terbesar adalah Yunho.

"Benar? Kau tak bohong kan? Kenapa tidak menghubungi?"

"I… itu tadi ada kecelakaan. Bukan aku! Temanku… lalu… aku jadi…"

Yunho mendadak membawanya ke dalam pelukan. Bahkan meski Changmin lebih tinggi, Yunho selalu bisa membuatnya merasa kecil saat Yunho menenggelamkannya dalam pelukan, "syukurlah kau baik-baik saja," ada kelegaan dalam suaranya.

Dan debaran yang kencang dalam dada Changmin. Dia telah mengatakan kebohongan. Tak ada temannya yang kecelakaan, dia hanya terlalu sibuk dengan urusan kepolisian seperti gembong narkoba dan mata-mata dalam divisinya.

Changmin ingin minta maaf, tapi kalau dikatakan entah bagaimana menjelaskan pada Yunho. Soal pekerjaannya harus ditutupi dari Yunho. Dengan resiko pekerjaan yang dia hadapi, Changmin akan dengan mudah membuat Yunho terkena serangan jantung karena khawatir setiap saat. Dan soal Yunho harus ditutupi dari pekerjaannya. Terlebih dengan adanya pengkhianat di kepolisian, Yunho akan jadi sasaran juga, mengancam nyawa kekasihnya. Dia tak mau itu.

"Um, jadi filmnya?" Changmin masih tak nyaman berpelukan di tempat umum begini. Meski siapa yang bisa menolak dipeluk oleh Jung Yunho?

"Kau masih mau nonton?" Yunho melepaskan pelukannya perlahan. Wajahnya terlihat tak yakin. Changmin tak ingin memaksa Yunho untuk nonton mungkin saja dirinya justru akan ketiduran di dalam bioskop. Karenanya Changmin menggeleng dengan senyum sekilas, "ke apartemenku saja," sahut Yunho dengan cepat.

Mereka tak melakukan apa-apa selain berbaring di kasur Yunho dan saling berpandangan. Tak ada film atau snack malam, "kenapa hyung melihatku seperti itu?"

"Kalau membayangkan ada kecelakaan, lalu tahu kau baik-baik saja rasanya lega namun jahat. Aku lega kau baik-baik saja, tapi rasanya aku jahat sekali karena tidak memikirkan orang yang sudah kecelakaan tadi."

Changmin jadi merasa semakin bersalah sudah membohongi Yunho, "gombal."

"Aku serius!" Protesnya namun tetap dengan senyum, "tidur Changminie…"

"Hm?"

Mereka hanya saling menatap sampai perlahan mata Changmin menutup dan terbawa ke alam mimpi.

Yunho masih menatapnya lalu mengecup dahinya ketika Changmin telah memejamkan mata. Masih ingin menatap lebih lama, sebelum dia tak bisa menatap wajahnya lagi.

Karena kebiasaan Changmin ketika tidur; memeluk apa saja yang ada di dekatnya.

Dan benar dua puluh menit kemudian Changmin mulai menggapai-gapai hingga menemukan satu-satunya 'benda' terdekat, yaitu tubuh Yunho. Kepala Changmin bahkan sampai menempel di dada Yunho.

.

.

.

.

"Mana Changmin?" Hojun menatapnya dengan menahan rasa sedih. Bukan sedih untuk sendiri melainkan untuk Yunho.

"Dia sedang sibuk."

Hanya dua kali saja Hojun pernah bertemu dengan Changmin, dia bisa merasakan cinta dan sayang antara Yunho dengan kekasihnya itu. Bahkan sempat terhembus rasa cemburu dan pandangan tajam dari Changmin. Meski segera usai dengan penjelasan kalau hubungan Yunho dengannya sudah seperti kakak adik, yang juga berjanji akan mengambil peran dalam pernikahan masing-masing. Entah sebagai MC atau penyanyi.

Tentu Yunho tetap tersenyum menjawabnya, dan Hojun mengalihkan percakapan mereka ke arah lain. Hojun tahu, Yunho sudah berusaha mengajak Changmin lagi, dan lagi-lagi dibatalkan secara mendadak entah karena kesibukan atau bahkan Changmin tak memberi tahu sebelumnya dan akan minta maaf pada Yunho.

Hubungan mereka begitu tulus dan serius, tetapi ada saja yang jadi misteri kenapa Changmin seperti itu. Pekerjaan macam apa memangnya yang bisa seenaknya membatalkan janji? Teman-teman Yunho datang ke cafe friends ini sebagian dengan pasangannya. Yunho seperti orang yang masih sendiri, meski tak ada masalah, Hojun tahu sedikit banyak Yunho merasa iri.

Bukan iri karena kebahagiaan teman-temannya, apalagi hanya sekedar pamer pasangan. Akan tetapi iri karena sebagian temannya bisa menghabiskan waktu bersama kekasih mereka. Sedangkan Yunho tidak.

"Hei, Yunho! Bisa bantu aku disini sebentar?" Untung ada teman lain yang sensitif juga, memberikan kesibukan untuk Yunho agar perhatiannya teralihkan.

Tentu Hojun pernah mencari tahu soal Shim Changmin, tetapi bahkan detektif yang disewanya tak memberikan hasil apapun.

Yang jadi satu-satunya hal yang mencurigakan.

Siapa sebenarnya Shim Changmin dan kenapa dia berpacaran dengan Yunho namun bisa mengaburkan semua informasi. Dia pasti bukan orang biasa. Yunho mudah mempercayai orang dan berpikir semua orang punya niat baik. Tentu bukan berarti Yunho mudah ditipu sebab dia juga punya intuisi, hanya saja apakah maksud Changmin sebenarnya? Dia tak tahu.

.

.

.

.

Changmin tengah memeriksa data seorang bandar judi yang berhasil mereka tangkap. Menurut informasi dia juga punya pemasok narkoba. Jika dari kartel maka orang ini penting dan bisa dibunuh. Perlu penjagaan ekstra bahkan dari dalam; jika perkataan atasannya saat itu soal pengkhianat benar adanya.

"Kau tahu kau terlalu gila kerja?"

"Aku tidak seperti itu," Changmin menjawab Donghae dengan malas, rekan beda tim yang menyebabkannya menjadi seorang penegak hukum sama, "apa yang kau lakukan di sini? Ini bukan kantormu, kan?"

"Cih, mengunjungimu sudah dilarang ya?" Jawab Donghae dengan kesal, dia bersandar di meja Changmin, membuat pemiliknya kesal karena Donghae lebih tua darinya jadi dia tak bisa berbuat banyak selain memasang wajah jijik, "aku mau ambil cuti untuk pernikahan kakakku."

"Memangnya pernikahan serumit itu? Sudah ada wedding organizer juga kan?" Berusaha mengalihkan perhatian dari kelakuan Donghae yang memang sering tak peduli pada kenyamanannya ini.

Donghae terlihat malas lalu menjawab dengan ketus, "aku sekalian perlu berobat, oke! Cerewet saja kau ini!" Rekan sekantor Changmin sudah banyak yang pergi saat Donghae berbisik, "aku diminta untuk memeriksa sesuatu juga di sana. Kau pikir aku ini hanya main-main?"

"Yah, kuharap kau bisa dapat pacar sekalian waktu pulang ini…" Changmin sengaja tidak berbisik demi akting. Semenjak tahu ada pengkhianat di divisinya, tak bisa dia merasa aman di kantor. Selalu waspada namun harus terlihat bodoh di luar. Merepotkan.

"Kau juga sebaiknya cari pacar, Shim. Meski dengan kesibukan dan mulutmu yang penuh kritikan itu, aku sanksi ada yang mau denganmu!" Donghae membalasnya dengan kepala terangkat dan mata menyipit. Donghae meremehkan kemampuannya punya pacar?

Ada tahu! Lelaki yang sangat baik, malah! -tetapi tak bisa dikatakannya. Harus menutup rapat-rapat kalau dia sudah punya kekasih. Dengan adanya pengkhianat ini, Yunho bisa jadi target dan sandera.

"Ah… aku akan bisa bertemu dengan teman-teman lama," Donghae bahkan mengatakannya sambil meregangkan badan. Secepat itu dia bisa merubah moodnya.

"Kutunggu oleh-olehnya saja…" Changmin tak terlalu menanggapi Donghae, mereka berdua punya urusan masing-masing. Meski memusingkan, tapi dia akan bisa memeluk Yunho lagi sebentar lagi. Bahkan membayangkannya saja sudah membuatnya tersenyum.

"Kau barusan memikirkan hal jorok, kan Changmin-ah?" bisik Donghae tepat di telinganya.

Kedua matanya langsung terbelalak dengan senyum ditahan. Lalu menggelengkan kepala dengan sangat kaku namun cepat.

"Ah… kasihan sekali kau pasti lebih banyak main sendiri. Itupun kalau ada waktu. Padahal akhir-akhir ini pekerjaan bertumpuk. Memang merana kehidupanmu…" Donghae berlalu pergi. Meninggalkan Changmin yang nyaris melemparkan gelas kopinya ke kepala Donghae. Dia tak mau ditangkap dengan tuduhan pembunuhan, sayangnya.

.

.

.

.

Yunho berusaha menelpon Changmin tetapi tidak diangkat, bahkan handphone Changmin dalam keadaan mati. Sebenarnya Yunho hanya berniat mengabari kalau dia akan pulang ke daerahnya sebentar, 2 hari saja. Akan tetapi rasanya khawatir jika Changmin mendadak sampai di depan apartemennya saat Yunho tak ada.

"Ayo, Yun!"

"Iya, hyung!" kali ini juga pergi bersama dengan Hojun hyung dan seorang teman.

Bahkan ketika sampai di rumah, dan ibunya bercerita tentang pacar Jihye (tidak, Yunho tidak mengamuk atau langsung mencari siapa pria yang dikatakan baik oleh ibunya, meski Yunho sempat terkejut dan sudah siap mengambil handphone untuk menghubungi teman-temannya untuk menyelidiki pria ini), Yunho justru kembali memikirkan Changmin.

Yunho belum memberitahu kedua orangtuanya soal Changmin sama sekali. Tak perlu ada keraguan akan keinginannya untuk memberitahu mereka berdua. Waktu saja yang dia tak yakin.

Changmin belum pernah bertemu dengan kedua orang tua Yunho dan begitu juga sebaliknya. Rasanya hubungan mereka memang terfokus pada mereka berdua saja. Tapi Yunho tak pernah diberitahu dimana kedua orang tua Changmin tinggal. Mungkinkah orang tua Changmin tinggal di Seoul juga seperti mereka berdua?

"Oppa, kau melamun?"

"Ah, maaf. Hanya terpikir sesuatu," sepupunya, Didi membuyarkan lamunannya.

"Tinggalkan pikiran soal pekerjaan. Kau di sini untuk menghadiri pernikahan dan untuk bertemu dengan keluargamu!" Serunya dengan ceria, "atau kau punya masalah dengan cewekmu?" Kalimat ini dikatakan dengan berbisik.

Yunho ragu sesaat, karena ada rasa percaya yang besar pada sepupunya ini, "Didi…" pasti wajahnya sangat serius sekarang karena bahkan Didi kehilangan senyumnya, "bukan cewek. Pacarku, laki-laki."

Didi terlihat kaku sesaat lalu tersenyum dan berbisik di telinga Yunho, "kebetulan, pacarku juga perempuan."

Yunho balas memandang Didi dengan keterkejutan, matanya tak bisa membulat lebih lagi. Dia tak menyangka.

"Tapi…" Didi melanjutkan, "kami masih belum lama memulai hubungan. Sedangkan kalau oppa mengatakan sesuatu tentang ini, pasti dia orang yang benar-benar spesial, kan? Oppa ingin menghabiskan sisa waktu bersamanya?"

Satu helaan nafas untuk menenangkan diri sebelum menanggapinya, "entahlah. Aku belum yakin tapi… aku justru ingin mengenalkannya pada kedua orang tuaku," satu senyum kecut tersaji di wajahnya, "aku mungkin akan dicoret dari daftar keluarga."

Didi terlihat lebih sedih darinya, "belum tentu. Paman dan Bibi begitu baik. Mereka ingin anaknya bahagia. Tapi… jika kita berdua sama-sama dicoret dari daftar keluarga, kita justru tetap jadi keluarga."

"Kau ini bisa saja," Yunho tersenyum mendengarnya.

"Oh ya seperti apa orangnya?" Sepupunya yang seorang DJ ini mengajukan pertanyaan yang membuat Yunho langsung terdiam, "astaga, pipi oppa memerah, pasti oppa sangat menyukainya, ya?"

"Uhh… dia pacar lelakiku yang pertama. Kau tahu aku biasanya berpacaran dengan perempuan. Hanya saja… rasanya dia begitu spesial. Bukan tipe yang kecewekan begitu tapi dia manis. Dia juga cukup atletis kurasa."

Didi menutup mulutnya agar senyumnya yang terlalu lebar tak terlihat oleh Yunho.

"Kau menertawakanku, ya?" Tanya Yunho kesal. Padahal jujur begini malah diketawai.

Didi langsung memeluk lengan Yunho dengan manja, "itu karena aku tak pernah melihat oppa terlihat tersipu seperti sekarang," Yunho cemberut dengan tidak elit, "sepertinya oppa memang sangat menyukainya melebihi pacar-pacar sebelumnya. Kalau sudah yakin katakan saja pada ahjussi dan ahjumma," Didi mengatakannya dengan pelan, tak ingin membuat Yunho salah mengerti. Mereka memang sepupu, tetapi jarak umur yang tak jauh serta rumah yang dekat membuat mereka serta Jihye dan sepupu lain sering bermain bersama sejak kecil.

"Kau hanya ingin aku mencobanya lebih dulu untuk referensimu sendiri bukan?" Yunho memutar matanya.

Didi tertawa, "yah, ketahuan. Ayo oppa, kapan kau akan mencari cincin tunangan? Aku tahu toko yang bagus."

"Kau ini…"

.

.

.

.

Changmin sedikit bersemangat karena bisa pulang lebih awal dari pada biasanya. Tak ada lembur hari ini meski itu tak lebih untuk mencegah kecurigaan pengkhianat yang belum diketahui siapanya. Terpaksa menunda investigasi pribadinya, tetapi berkat itulah dia bisa membeli beberapa pastry dengan strawberry yang melimpah dan bir. Yunho tak terlalu bisa meminum bir, jadi sudah ada soju juga.

Tak lama Changmin sudah berdiri di depan apartemen Yunho, tetapi setelah menekan bel berkali-kali demi efek kejutan sebab Yunho memberikan kunci cadangan serta pasword apartemennya, tidak ada yang membuka pintu untuknya. Apa Yunho belum pulang karena lembur?

Barulah Changmin ingat kalau dia mematikan handphonenya; dan segera masuk pesan-pesan yang ditinggalkan oleh Yunho untuknya.

Membacanya membuat Changmin kecewa karena Yunho sedang pulang kampung. Meski hanya 2 malam saja. Padahal saat seperti ini jarang terjadi dan Changmin sudah membeli pastry dengan strawberry yang akan membuat Yunho senang.

Berbalik pergi meninggalkan apartemen, Changmin akan menata meja dengan kue dan bir, memotretnya lalu mengirimkannya pada Yunho.

Setelahnya Yunho akan langsung video call dengannya. Kecuali jika Yunho sedang bersama dengan keluarganya dan minum-minum.

.

.

.

.

"Astaga, Didi!"

Yunho baru keluar gedung saat sepupunya memaksa tangannya untuk ada di dadanya karena jantungnya nyaris terjatuh, "jadi kapan akan beli cincin?"

"Berisik!" Yunho menutup telinga dengan dua tangan sambil berjalan pergi. Sepupunya mengekori sambil terus-menerus menanyakan hal yang sama. Sampai Yunho membekapnya dan menyeretnya pergi dari sana karena bisa menyebabkan orang kantornya penasaran. Sebab sudah ada seorang seniornya serta tiga pekerja dari divisi lain yang melewati mereka berdua.

Didi bekerja sebagai DJ dan Changmin sudah pernah melihat foto-foto Yunho bersama keluarganya. Karena itulah tak ada rasa khawatir jika terpergok oleh kekasihnya itu karena Changmin sudah melalui masa cemburu ketika dia bertanya siapa wanita dengan rambut dicat pirang yang duduk di sebelah Yunho. Memangnya Changmin lewat dekat kantornya?

Changmin yang cemburu terlihat lucu sekali, dengan wajah baby face begitu dia memperlihatkan emosinya. Bukannya menyeramkan, justru terlihat imut. Setelah menjelaskan kalau satu-persatu tentang keluarganya tentunya Didi yang terakhir dia jelaskan, telinga Changmin jadi memerah. Yunho tak tahan untuk tidak memeluk Changmin erat dan mencium telinga dan pipinya yang memerah.

"Apa maumu?"

Didi memperlihatkan wajah sedih hingga air mata nyaris jatuh dari matanya.

"Tak perlu drama segala. Katakan saja apa maumu!" Yunho sudah kebal dengan sepupunya ini. Karena Didi anak pertama sama sepertinya, dia terkadang sengaja bertingkah seperti seorang adik yang manja pada Yunho.

"Aku kan hanya ingin menemani oppa," dengan nada seperti anak kecil tak berdosa yang sengaja dibuat-buat.

"Kau pikirkan saja pacarmu. Sana! Kau mau kerja, kan? Sempat-sempatnya menggangguku…" Yunho berusaha menyingkirkan Didi dan untungnya sepupunya hanya menjulurkan lidahnya kesal sebelum pergi ke arah berlawanan.

Malam ini ada janji dengan Changmin untuk makan malam dan nonton film di apartemen Yunho. Untung Yunho tidak memberitahukan jadwalnya ini atau Didi akan mengekorinya demi mengganggu mereka berdua.

Makan malan di rumah Yunho tidak memungkinkan tanpa adanya restoran take away atau delivery service. Karena tidak pandai memasak dan Changmin tahu itu, Yunho berjanji akan membeli makanan dari luar. Jadi yang harus dia lakukan sekarang adalah pergi ke restoran italia langganannya dan memesan beberapa masakan.

.

.

.

.

Changmin sudah bersiap untuk pulang saat sebuah pesan sampai ke handphonenya; dari atasannya. Bukan pesan yang bisa dia abaikan, jadi dengan wajah datar dia membuka pesan itu.

Setelahnya barulah Changmin pergi dari sana, berpapasan dengan Kyuhyun yang belum pulang karena beda shift, "kenapa kau sudah pulang?"

"Daaah, Kyu" Changmin melambaikan tangannya dan segera pergi ke dekat stasiun. Akan tetapi bukan stasiun yang dia tuju, melainkan area pasar dan mencari restoran yang menjual ikan. Sebuah tempat makan bernama "neck tie" kalau tak salah.

Changmin agak skeptis dengan pilihan restoran ini, entah apakah karena masakannya atau karena lokasinya yang membuat atasannya mwngajaknya bertemu di restoran yang terletak di cabang gang sempit yang nyaris semuanya menjual menu ikan. Langsung menuju lantai 2, Changmin menemukan orang yang dia cari, "cepat juga," atasannya berkomentar.

"Berapa banyak orang di kantor yang tahu tempat ini?" Changmin segera duduk di hadapan atasannya. Atasannya terlihat nyaman; pasti salah satu langganannya. Padahal tempat ini tidak besar dan letaknya ada di dalam gang hingga Changmin nyaris melewatkannya. Apa masakannya benar enak atau hanya karena letaknya saja.

"Tak ada. Aku kadang kesini saat masih SMA."

Changmin otomatis mengangkat satu alisnya, bentuk kepercayaan kah? "Lalu apa yang perlu dibicarakan?"

"Bagaimana penyelidikanmu?"

"Orang ini benar-benar ada di satu divisi dengan kita. Aku masih belum yakin siapa," meski ada kecurigaan terhadap beberapa rekannya. Harus mengetatkan penjagaan.

"Masalahnya. Aku curiga bukan hanya 1 orang."

Changmin menerima amplop coklat yang segera dibukanya.

.

.

.

.

Berkali-kali Yunho memeriksa handphonenya dan tak ada pesan apapun dari Changmin. Sudah pukul 9 malam tapi pacarnya masih belum kelihatan batang hidungnya. Padahal Changmin sudah berjanji untuk sampai di apartemen Yunho pukul 8 malam tepat. Apa terjadi sesuatu lagi? Kali ini ada rekannya yang kecelakaan mungkin? Atau…

Yunho menggelengkan kepala lalu menegak air dingin untuk menghilangkan pikiran negatif dalam kepalanya. Tak akan terjadi sesuatu, kekasihnya akan baik-baik saja.

Pintu terbuka mendadak saat hampir pukul 10 malam, bisa jelas terlihat bulir-bulir keringat dan nafas terengah. Changmin melepaskan sepatu dengan asal -sangat bukan seperti dirinya dan menemukan Yunho di samping sofa terlihat sedang berusaha mengumpulkan kesadarannya, "maaf, aku ketiduran," Yunho berdiri dan Changmin merasa sangat bersalah. Padahal malam belum larut tapi Yunho ketiduran, itu berarti dia sedang lelah bukan? Masalah kantor?

Dan dia lupa ada janji dengan Yunho karena atasannya menghubungi dan mentraktirnya makan malam. Padahal malam ini mereka janji untuk makan malam bersama. Yunho pasti tidak menyentuh makanan italia yang telah dibelinya meski punya masalah lambung.

"Ayo makan Changminie…"

"Ah, ah… hyung cuci muka dulu, aku akan menghangatkan makanannya," Changmin buru-buru menghangatkan makanan yang sudah tertata rapi di meja, berusaha mengacuhkan pandangan mata Yunho sebelum kekasihnya akhirnya pergi ke kamar mandi untuk mencuci muka.

5 menit kemudian sepasang lengan kekar mengintari pinggang Changmin, "aku khawatir, tahu?"

"Maaf…"

"Syukurlah kau baik-baik saja," Yunho mengeratkan pelukannya dan itu membuat hati Changmin sakit. Dia sungguh-sungguh menyayangi Yunho dan menyadari kalau sudah memperlakukan Yunho dengan kurang baik. Meski tak ada marah yang keluar dari bibirnya.

"Hyung… ayo makan…"

Yunho membalikkan tubuh Changmin lalu mencium bibirnya. Ciuman yang memaksa Changmin untuk meremas kemeja Yunho hingga kusut. Perlahan ciuman itu berakhir, "Changminie… kalau kau sudah kenyang, makan dessert saja tak apa."

"Aku masih lapar!" Protesnya. Namun Yunho hanya memberinya sebuah senyum sebelum mengecup bibirnya lagi.

.

.

.

.

Dongho hanya diam saja meski sebenarnya begitu khawatir. Dalam pikirannya sahabatnya ini tak akan melangkah terlalu jauh. Dia sudah jadi manusia yang buruk dengan mengharapkan hal buruk terjadi pada hubungan sahabatnya dengan pria itu. Pria yang membawa kebahagian bagi Yunho dan memberikan pengharapan palsu di saat yang sama.

Mereka saling mencintai, mungkin. Yunho jelas mencintai kekasihnya, tetapi Dongho ragu jika pria itu punya perasaan yang sama pada sahabatnya. Sering terlambat dan melupakan janji menjadi alasannya. Entah bagaimana Yunho tak berhenti menunggunya meski bukan hanya waktu yang terkorbankan, tetapi juga pikiran. Itu bukan hal yang sepele. Jika hal seperti itu pun tak bisa dijalankan, bagaimana dengan komitmen seumur hidup?

Meski begitu sebagai seorang sahabat, Dongho menemani Yunho pulang ke Gwangju. Ini adalah keputusan yang tak dia setujui, walaupun Dongho ada di sana. Menemaninya melewati yang sebentar lagi akan datang, suatu upaya melewati neraka dunia -Dongho tak tahu apa istilah yang tepat untuk menamakan itu. Yang jelas dia akan menunggu di depan pintu apartemen kedua orang tua Yunho, dengan mobil terparkir yang siap melaju.

Setelah satu jam, atau lebih, Dongho merasa ini salah satu saat-saat terpanjang dan menegangkan baginya, Yunho membuka pintu apartemen dan menutupnya sepelan mungkin. Tak ada darah di baju Yunho yang berarti Yunho masih waras untuk tidak melakukan hal terkutuk tapi tak ada kata yang keluar dari bibirnya.

Sedari tadi menunggu, Dongho mengira akan mendengar teriakan, kemarahan, tangisan, permintaan maaf atau semacamnya. Tapi tak ada. Keluarga ini terlalu tenang atau terlalu terkejut.

Yunho berjalan mendahului Dongho hingga ke dalam lift. Dan butuh jarak hingga mereka keluar dari batas kota saat Yunho buka mulut, "kurasa aku beruntung mereka tidak terkena serangan jantung," meski suaranya sedikit tergetar.

Mereka benar beruntung kedua orang tua Yunho tak mendapat serangan jantung setelah putranya menyampaikan kalau putra mereka memiliki pacar seorang pria.

"Aku diusir. Tak boleh menemui mereka lagi," Yunho melanjutkan.

Dongho tak tahan lagi, "apakah pengorbananmu setara? Kau mungkin akan putus dengannya dan…"

"Aku berniat melamar Changmin…" Yunho memotong, Dongho rasa dia perlu berhenti dan cari minum, "aku sudah beli cincin dan sedang memilih tempat dan waktu yang tepat untuk melamarnya," Dongho bukannya perlu air, dia perlu soju atau vodka.

.

.

.

.

Selama lebih dari seminggu Yunho harus pergi ke Jeju untuk urusan perusahaannya. Dongho yang terus-menerus memeriksanya via telpon dan video. Dia bisa melihat senyum sedih yang terkadang muncul di wajahnya. Apa Shim Changmin tak bisa melihat kesedihan itu dari wajah Yunho?

Saat ini sahabatnya mungkin telah dibuang dari keluarga, namanya dicoret dari dalam daftar warisan. Tapi bukan itu. Yunho tak peduli dengan uang, melainkan kehilangan orang tuanya yang memukulnya.

Anak yang baik dan berbakti kini menjadi durhaka karena cintanya pada seorang yang Dongho tak yakin punya kepedulian yang sama dengan yang telah Yunho berikan pada kekasihnya.

Dia perlu menemui kedua orang tua Yunho.

.

.

.

.

"Dan kau berharap bisa mendamaikan mereka?"

Dongho memejamkan mata erat sekilas, pertanyaan yang sulit dijawab dengan jawaban yang rasanya sudah jelas. Memangnya siapa dia sampai bisa membalikkan hati kedua orang tua Yunho? "Entahlah Didi. Aku tak tahu. Aku berharap bisa minum alkohol sepulang dari Gwangju tapi aku tak bisa tenang karena Yunho mungkin dalam bahaya. Bunuh diri atau semacamnya mungkin."

Dongho mengajak Didi, sepupu Yunho yang terlihat terkejut namun tak terlalu terkejut lagi karena ternyata Didi sudah tahu tentang kakak sepupunya yang punya pacar lelaki. Justru terlihat marah ketika tahu Yunho sudah membeli cincin untuk melamar, "soal hubungan sepupumu dengan orang tuanya jauh lebih penting daripada dia sudah menemukan cincin yang tepat tanpamu!" -salak Dongho kala itu. Fokus Didi salah padahal Yunho ada di dalam masalah besar.

"Aku mungkin juga akan dicoret dari daftar keluarga," Didi terdengar sedih kali ini.

Kenapa pula cewek yang diajaknya ke Gwangju juga punya hal seperti ini? Apa jangan-jangan sudah ada di dalam darah keluarga mereka namun ditutupi dengan teramat baik? Apakah itu sesuatu yang terkait genetis?

"Kau harus berusaha untuk kakak sepupumu kali ini," Dongho meminta/memaksa dengan halus. Ayolah, Yunho bahkan memanjakan sepupunya ini, dia lebih sering ikut menanggung atau mendukung teman serta anggota keluarganya.

"Yunho oppa itu pria yang luar biasa, kan? Dia pria sejati yang jujur, cerdas dan berkepribadian. Aku rasa aku juga iri dengan siapapun yang akan mendapatkannya," senyum sedih yang hanya sekilas terlihat di wajahnya. Untuk kali itu Dongho jadi ragu apa pilihannya mengajak Didi adalah keputusan yang tepat. Sebab bisa saja sepupu Yunho ini sebenarnya jatuh cinta pada kakak sepupunya itu.

"Didi…" suaranya mengancam.

"Aku tahu! Justru karena itu aku harap dia bisa mendapatkan yang terbaik untuk hidupnya," juga dari caranya segera memperbaiki apa yang telah terucap. Mencurigakan.

.

.

.

.

"Changminie… aku kangen…"

Kekasihnya sedang memajukan bibirnya, dia cemberut bukan? Terlihat kesal seperti anak TK. Terlalu imut, Changmin tak tahan melihatnya, "hyung di Jeju masih lama ya?"

"Harusnya 9 hari tapi ada perpanjangan dari kantor jadi 2 minggu," nah kan, Yunho masih cemberut. Padahal sudah manajer tapi masih bisa terlihat seperti itu.

Changmin berusaha tetap terlihat cool, meski dalam hati ingin melompat ke dalam pelukan Yunho dan mencium bibirnya. Seminggu saja ditinggal Yunho, manajemen stresnya langsung memburuk. Jujur, pekerjaan membuatnya stres; kasus narkoba diperparah dengan polisi korup. Siapa yang bisa dia percaya, dia tidak tahu, tetapi Yunho selalu jadi tempatnya kembali, "hyung akan beli oleh-oleh untukku, kan?"

"Aku akan beli banyaaaak sekali untukmu."

"Hei hyung… jangan-jangan hyung akan naik pangkat ya?" entah bagaimana pikiran itu terlintas begitu saja, jangan-jangan terlalu sering berhati-hati di kantor membuatnya memperhatikan bahkan hal yang terkecil. Pergi ke jeju 2 minggu bukan detil yang kecil sebenarnya.

"Hng?" Yunho tak menyangka Changmin akan mengatakan itu, lalu dia menggedikkan bahu, "tak tahu."

Yunho sudah mencapai sejauh itu. Memang pekerjaan mereka berdua berbeda dan punya tipe penghargaan yang berbeda pula, meski hampir sama. Ah ya Yunho mengira dirinya bekerja di perusahaan start up, bukan?

Setelah mengucapkan 'selamat malam' , 'selamat tidur' , 'aku merindukanmu' dan 'mimpikan aku malam ini'. Mereka mengakhiri sambungan video.

Yunho tersenyum senang lalu kembali murung. Banyaknya pekerjaan sangat membantunya melupakan apa yang terjadi di Gwangju. Namun mustahil tak kepikiran sama sekali. Sekarang tak punya lagi kampung halaman. Kemarin Jihye menelpon dan meski sudah mempersiapkan diri menerima cacian dan makian dari adik perempuan satu-satunya, Jihye hanya menangis dan Yunho menunggu meski matanya berkaca-kaca.

Jihye bukannya sedih karena kekasih yang dia pilih, dia sedih karena kakaknya didepak dari keluarga. Dan berjanji mereka tetap saudara apapun yang terjadi.

Adik perempuannya menangis dan menceritakan bagaimana ibu mereka menangis dan tak berselera makan. Bahkan jika Yunho membujuknya makan, rasanya hanya akan diusir dan memperpanjang masalah. Dia hanya minta Jihye untuk memasakkan apapun kesukaan ibu mereka, ajak ayah dan ibu pergi liburan atau kemana saja, Yunho akan mengirim uang.

.

.

.

.

Changmin tidak terlihat di malam kepulangannya ke Seoul, dia baru muncul esok harinya dan langsung memeluk Yunho erat. Tentu Yunho tak tahu soal pengedar narkoba yang berhasil ditangkap, juga tak tahu kalau pria itu mati ditembak orang tak dikenal saat dibawah pengawasan Changmin. Dia kehilangan aktor kunci untuk dapat menyasar mangsa yang lebih tinggi.

Berada dalam pelukan Yunho dapat mengurangi stres secara drastis. Meski dia harus menulis laporan dan memikirkan celah baru untuk menangkap gembong narkoba dan pengkhianat dalam divisi mereka.

"Aigoo, kenapa Changminie?"

Changmin tak menjawab dan hanya mengeratkan pelukan saat duduk di atas pangkuan Yunho di sofa. Dia bisa saja salah satu agen terbaik di divisinya, atau di seluruh gedung kantornya. Akan tetapi dia akan berubah menjadi sosok yang kurang bisa diandalkan saat sedang bad mood dan dalam pelukan kekasihnya begini.

Meski tingginya bahkan lebih tinggi dari Yunho, tetapi dia akan mengkerut di tangan Yunho, "kangen hyung. Kenapa pergi lama sekali?" Changmin merajuk, rekan-rekannya akan muntah jika tahu kelakuannya saat ini.

Yunho hanya bisa tersenyum sambil memeluknya erat dan mengecup puncak kepalanya, melupakan sejenak masalah yang dia miliki sendiri.

.

.

.

.

Dongho baru melihat Yunho dua hari setelah sahabatnya kembali dari Jeju, "hei…" Yunho terlihat riang.

"Kau menelpon orang tuamu, Yunho?"

"Tidak. Aku memang meninggalkan pesan untuk mereka. Tapi menelpon?" Yunho menggeleng lemah, "aku menghubungi Jihye berkali-kali untuk menanyakan kabar mereka, kuharap mereka akan baik-baik saja."

Dongho tahu ada istilah untuk anak yang kehilangan orang tuanya, istri yang kehilangan suaminya, suami yang kehilangan istrinya. Konon tak ada istilah untuk orang tua yang kehilangan anaknya karena rasa sakitnya begitu besar dan tak bisa digambarkan oleh apapun.

Yunho sudah punya gambaran soal reaksi kedua orang tuanya meski tidak seluruhnya tepat. Kesedihan yang dirasakan tak bisa ditekan meski dalam kepalanya sudah melakukan simulasi ribuan kali.

Dia dan Didi, sudah berusaha untuk menemui kedua orang tua Yunho dan memohon. Dan keduanya, terutama ayah Yunho terlihat dingin saja menanggapinya. Meski sudah menceritakan kalau kesehatan Yunho sempat memburuk (ini bukan bohong, Yunho memang sempat sakit selama di Jeju tapi Changmin tak tahu menahu), mereka tak bergeming.

"Coba temui mereka lagi," usul Dongho.

Yunho tersenyum, "mereka tak ingin bertemu denganku, Dongho-yah."

"Lalu… apa rencanamu? Tetap melamar Changmin meski kau belum berdamai dengan orang tuamu?"

Terlihat Yunho tak menyukai topik ini. Biar saja, "aku belum tahu pasti kapan akan melamarnya. Kutunda sampai aku lebih tenang."

"Mungkin Changmin memang hal terburuk dalam hidupmu!"

Yunho menahan kilat amarah yang sudah menyambar hatinya. Dia tak akan mengeluarkannya, hanya akan membuktikan kalau Changmin adalah hal terbaik dalam hidupnya.

.

.

.

.

Yunho terkejut ketika Changmin mendadak menyalakan bel di apartemennya meski Yunho memberinya kunci. Dia terlihat senang dan membawa kardus makanan yang tidak sedikit, "apa di kantormu ada pesta lalu kau bawa sisanya?"

Changmin langsung cemberut mendengarnya, "aku tak akan memberi makanan sisa pada hyung."

"Aku cuma bercanda. Terlalu banyak untuk sisa pesta kantor start up. Apa ada keberhasilan di kantor?"

Changmin menemukan pengkhianatnya namun tak bisa mengatakannya pada siapapun, bahkan pada Donghae yang terserempet peluru kala itu. Karena itu dia juga membawa alkohol dalam jumlah banyak, "aku hanya mendadak ingin makan saja."

Yunho mengambil alih satu kotak yang dibawa dengan hati-hati oleh Changmin, "cake? Apa ada perayaan yang aku lupakan?" Yunho masih tak mengerti. Mereka memang tak terlalu detil dengan perayaan yang biasanya dirayakan oleh perempuan jadi ini tidak biasa.

"Aku dapat diskon 50% di toko cake," sepupunya memberikannya kupon diskon karena sedang diet. Sementara perut Changmin begitu spesial karena tidak mudah gendut, yang sudah membuat sepupunya serta banyak perempuan lain iri berat.

"Ahh…" Yunho mengangguk mengerti, tak ada perayaan berarti, hanya diskon saja.

Changmin terlihat semangat sekali dalam menghabisi makanannya juga minum alkohol. Sampai-sampai Yunho harus mencegahnya untuk minum lagi karena mabuk. Dengan wajah merah dan kesadaran yang berkurang, Changmin masih berusaha meraih botol soju di hadapan Yunho, "yak, Changminie, kalau kau ada masalah, katakan pada hyung!"

Tak jadi meraih botol soju karena dihalangi oleh Yunho, maka Changmin hanya meletakkan kepalanya di atas meja dan diam.

Yunho memeriksa wajahnya kalau-kalau matanya tertutup dan tertidur, tetapi matanya masih terbuka (juga mulutnya), "hyung… kalau ada orang yang diam-diam merugikan perusahaanmu, apa yang akan kau lakukan?"

"Putus kontrak?"

"Kalau dia adalah bagian dari tim? Karyawan juga?"

Yunho membaca pertanyaan Changmin dan mengerti mengapa kekasihnya minum sampai mabuk, "kau bisa diam-diam mengkonfrontasinya dan memintanya bertobat atau pergi. Tapi jangan lupa simpan bukti jika dia memutuskan untuk tetap merugikan perusahaanmu."

Changmin menghela nafas, "begitu ya?" Lalu hening beberapa lama, "aku kan tidak mahir dengan yang namanya pembicaraan diplomatis."

"Aku bisa melatihmu kalau kau mau," Yunho menawarkan. Selama ini Changmin tak pernah memberi tahu soal pekerjaannya. Akan tetapi dengan adanya satu orang yang berusaha mengeruk keuntungan untuk dirinya sendiri terutama di masa-masa awal perusahaan, bisa-bisa bangkrut yang menanti.

Setelah tak ada suara selama 5 menit, Yunho kembali memeriksa Changmin yang ternyata tertidur dengan pipi menempel di meja, air liur bahkan sudah ada di permukaan meja. Terlalu sayang untuk tidak mengabadikan momen yang satu ini, lumayan bisa digunakan untuk mengancam pacarnya ini kapan-kapan.

.

.

.

.

Yunho mengirimkan hadiah serta makanan saat ulang tahun ayahnya, dan menanti reaksi beliau melalui laporan Jihye. Bahwa hadiahnya tidak disentuh sama sekali, mungkin dibuang atau entahlah.

Bukannya menyerah, hal ini tak bisa dengan memaksakan diri. Belum lagi tidak mudah bolak balik Seoul-Gwangju hanya untuk ditolak dan diusir. Yunho masih paham sekali bagaimana dia tak ingin membuat nama kedua orang tuanya cemar, sehingga dia tak boleh terang-terangan diusir dari rumah dan diketahui tetangga. Orang tuanya akan jadi bahan gosip. Masih lebih baik gosip anaknya tidak pulang ke rumah karena terlalu sibuk, dari pada kalau keluarga Jung memutuskan hubungan dengan putra pertama mereka karena melamar seorang pria.

Yunho berkali-kali menghimpun informasi restoran atau tempat yang romantis. Tempat yang tidak terlalu ramai atau moderat, apa menyewa villa? Liburan? Itu kalau Changmin punya waktu sebab Yunho belum tahu apa masalah di kantor Changmin sudah selesai atau belum.

Perlu menunggu hingga setidaknya Changmin muncul di apartemennya dengan senyum terkembang atau senyum sedih yang berarti kehilangan salah satu rekannya. Memang pekerjaan tak selalu mulus.

Ah, apa yang sedang dilakukan Changmin sekarang ya?

.

.

.

.

Kyuhyun mengangkat satu alisnya ketika menemukan sahabatnya berdiri di depan mesin kopi, tak bergerak. Nyaris dia mengira Changmin tertidur dalam posisi berdiri, tapi matanya selalu tertutup saat tidur, bukan?

Saat tangannya menepuk pundak Changmin, dia berjengit, "oh, hei Kyu."

"Kau baik-baik saja?" Sebab pasti sudah melamun lama di sana sampai tak menyadari keberadaannya atau suara langkahnya.

"Ya, kurasa…"

"Kasus kali ini sangat serius sampai memenuhi kepalamu, ya?" Pertanyaan yang bahkan sudah jelas apa jawabannya jika melihat kondisi Changmin sekarang. Rapi seperti biasanya namun jika dilihat dari dekat, detilnya cukup kacau. Itu juga bila punya pengamatan yang baik serta pertemanan yang cukup lama dengan Changmin.

"Kau tidak?"

Kyuhyun menggedikkan bahunya lalu menekan tombol di mesin kopi, memanfaatkan uang Changmin yang entah sejak kapan ada di dalam mesin. Baginya ini hanya suatu kasus, tak boleh melibatkan perasaan sekalipun ada rekan yang terluka. Atau dia akan kehilangam fokus dalam bekerja.

"Seonjae kritis karena serangan orang tak dikenal," lanjut Changmin yang tak mendapatkan rekasi verbal dari rekannya itu.

"Kau pikir ini ada hubungannya dengan kasus itu? Bisa saja Seonjae ada di tempat dan waktu yang salah. Lagipula pekerjaan ini bukannya tanpa resiko."

"Aku tahu, hanya saja…"

"Sudahlah, Changmin," Kyuhyun memotong protes sahabatnya, "Tangkap saja pelakunya dulu baru berpikir ulang. Paling tidak kau bisa balas dendam pada pelaku kejahatannya," mata Kyuhyun tajam ketika mengatakannya. Dia sangat serius namun berubah di detik berikutnya, "Itu, kalau tidak ada orang besar yang melindunginya. Terimakasih kopinya, ya?"

Kyuhyun pergi dan Changmin kembali memasukkan uang untuk membeli kopi dengan krim dan gula. Saat kembali ke ruangannya dia berpapasan dengan atasannya yang berbisik sambil berlalu, 'malam ini'.

.

.

.

.

"Ada berita apa, hyung?"

Yunho sedari tadi tak mengalihkan matanya dari TV, membuat Changmin yang baru keluar dari kamar mandi penasaran, "berita penangkapan gembong narkoba. Ah, ada pelaku yang tewas juga."

Pelaku yang tewas hanya ikan teri, yang jelas atasannya berhasil menghentikan pimpinan kartel meski dengan tembakan. Sementara di saat yang bersamaan, Changmin mengurus pengkhianat dari kepolisian; rekannya sendiri yang sudah dia kenal lama bukan hanya mengarahkan pelatuk padanya tapi juga menembak. Beruntung Changmin bisa menghindar di saat yang tepat.

Meski sukses, tak ada perayaan setelahnya sebab ada rasa kehilangan dan tak percaya dari rekan-rekannya yang lain karena ulah pengkhianat itu. Changmin mungkin akan mendapatkan promosi, hanya saja itu tak terpikirkan karena untuk berkonsentrasi pada laporan saja sudah sulit.

"Oh ya, kemarin sore ada paket yang dikirimkan salah seorang temanku di Jepang. Mau membukanya bersama, Changminie?"

Penawaran yang aneh, "Memang apa isinya?"

"Macam-macam. Aku tak tahu detilnya tapi dia bilang akan mengirimkan bir dan sake."

"Aku mau! Dimana?"

"Kau mau bir-nya, kan?"

Changmin meringis dan Yunho menggelengkan kepalanya, tapi tetap membiarkan Changmin membuka paketnya dan terlihat seperti anak kecil yang mendapatkan permen ketika tangannya menyentuh kaleng-kaleng bir aneka merk dan rasa. Dia menatap Yunho penuh harap dan segera mendapatkan apa yang dia inginkan.

"Oh, hyung! Bir dengan rasa sakura!"

"Itu seasonal. Beruntung sekali dapat ini juga."

"Hyung coba!" Changmin memaksa dan Yunho mencicip sedikit saja.

"Kau sajalah…"

Changmin senang dan segera mengamankan birnya kembali. Paketnya sebagian berisi alkohol, makanan ringan, coklat dan macam-macam lagi. Yunho menatanya satu persatu dan mencoba coklat rasa sake. Ada satu kotak yang nampaknya lolos dari mata Yunho, karenanya Changmin meletakkan bir dan mengambil kotak yang dibungkus kertas coklat itu. Di dalamnya ada bungkus warna warni kecil-kecil yang ditata rapi, waktu menariknya Changmin langsung kaku tak bergerak.

Dia menoleh pada Yunho yang sedang mengambil air untuk membersihkan mulutnya dari rasa sake karena ingin mencoba jelly muscat.

"Hyung benar-benar tidak tahu akan dikirimi apa saja?"

"Aku memang minta bir dan sake, sisanya aku tak tahu."

Changmin mengangkat kemasan kecil tadi menunjukkannya pada Yunho, "apa itu?" Yunho mendekat untuk melihat lebih jelas. Reaksi Yunho tak beda dengan Changmin yang langsung kaku ketika menyadari benda apa yang dipegang oleh Changmin, yang dikirim oleh kawannya.

Wajah dan telinganya terasa hangat, pasti saat ini Changmin semerah tomat. Kenapa juga dia memutuskan bertanya dan bukannya pura-pura tidak tahu? Kenapa tidak diletakkan kembali ke dalam kardusnya, "hyung tidak tahu?"

Seolah terbangun, Yunho menggeleng pelan, masih tak percaya, "kembalikan saja dan disimpan kembali," Yunho mendekat dan tangannya terulur untuk mengambil kemasan itu dari tangan pacarnya, tetapi Changmin menangkap satu pergelangan tangan Yunho.

Changmin menelan ludah, "hyung…" dia memulai pelan, lalu berdiri. Mengaitkan jemarinya dengan Yunho, "aku mau…"

"Chang…" Yunho merasa bibirnya dan kerongkongannya kering meski baru saja minum air. Changmin makin mendekat dan memeluk tubuhnya erat.

.

.

.

.

Yunho terbangun ketika langit masih gelap, namun Changmin sudah tidak ada dalam pelukannya. Ada suara dari dalam kamar mandi, jadi Yunho memutuskan untuk bangun dan menyusul Changmin yang ternyata tengah berdiri di depan cermin dengan hanya mengenakan boxer pendek.

Wajah Changmin langsung memerah ketika melihat bayangan Yunho.

"Ada apa?"

"Ah itu… bekasnya tidak sampai leher…" Changmin gelagapan.

"Kurasa aku khawatir kalau kau jadi bahan candaan teman-temanmu," Yunho menjawab dengan jujur.

Selalu memikirkan semuanya, kekasihnya yang sempurna ini. Benar-benar beruntung mendapatkan cinta Yunho.

Yunho melihat satu tanda yang dia buat semalam di punggung Changmin. Lalu mendekat untuk mencium tanda itu hingga Changmin tak sengaja melengkungkan tubuhnya karena terkejut, "hati-hati dengan yang ini, ya" Yunho menasehati.

Nafas hangat yang menyentuh leher dan punggungnya membuat Changmin bergidik, belum lagi sempat menyenggol sesuatu di bawah sana yang… persetan -umpat Changmin dalam hati. Atau dengan keras karena Yunho terlihat terkejut.

Changmin menurunkan boxernya dan mundur sedikit agar tubuhnya menyentuh Yunho. Dari bayangan yang terpantul di cermin, Yunho sudah tahu apa maksud kekasihnya, tapi tetap saja dia tak bisa menghentikan mulutnya, "Chang…"

"Hyung!" Changmin memotong untuk menghapus keraguan Yunho, "lakukan di sini. Lalu kita mandi bersama…"

"Aku ambil…"

"Tak usah! Aku percaya pada hyung. Hyung percaya padaku, bukan?"

.

.

.

.

Donghae menegur Changmin yang tersenyum-senyum sendiri di ujung selasar tempat mereka terkadang minum kopi atau mengobrol. Changmin membawa segelas kopi yang masih penuh namun tampaknya es di dalamnya sudah mencair semua, ice americano.

Seharusnya Changmin merasa tertekan atau depresi karena kejadian penangkapan yang lalu, yang tak bisa diikutinya karena dia masih ada duduk di apartemennya karena kakinya tertembak. Oleh karena itu Donghae datang untuk sedikit menghiburnya, tetapi justru yang akan dihibur melamun dengan senyum-senyum tidak jelas.

"Ada yang habis tidur dengan cewek, nih?"

Changmin nyaris melepaskan gelas kopinya dan kini justru jantungnya sudah terlempar ke lantai, "Lee Donghae!"

Pasang muka santai, dia mengejek, "Apa? Kau sendiri yang melamun…"

Masih mengelus dadanya yang terasa tak nyaman karena dikejutkan barusan, Changmin menyadari satu hal, "Kenapa kau sudah masuk kerja?"

"Karena aku sudah sembuh," hanya Lee Donghae yang masih bisa tersenyum meski terluka.

Karena Changmin masih melotot, Donghae jadi memberikan penjelasan tambahan, "iya, iya. Belum 100% tapi aku ingin bertemu denganmu," dan memang Donghae masih mengenakan kruk di satu tangan saja, "kupikir kau bakal kenapa tapi kalau tahu kau sudah senang begini, aku jadi tenang. Jadi kau sudah punya pacar, huh?" Donghae menaik turunkan alisnya, sengaja mengganggu.

"Diam, Donghae. Lebih baik kau bantu aku membuat laporan," ucapnya sedikit keras.

"Enak saja, sekarang masih jam istirahat, kan? Hei, jadi kau sudah punya pacar? Bukan sebatas cinta satu malam, kan?" bahkan Donghae menyikutnya berkali-kali.

Tentu dia menghindar karena merasa risih, meski Donghae tetap mengejarnya, "Berisik! Berisik! Pekerjaan tidak memberikan kesempatan pada kita untuk pacaran, tahu!"

"Untukmu saja, karena kau agen terbaik jadi terpaksa berurusan dengan macam-macam. Beda denganku," katanya terlihat membusungkan dadanya sedikit. Changmin skeptis Donghae punya kekasih meski bisa menyombongkan diri begini. Memang rekannya yang lain ada yang punya kekasih, tetapi sebagian besar tidak. Benar, bukan? Atau dia saja yang tidak memikirkan itu?

"Aku pesimis kau sudah punya pacar," kata Changmin malas, tak ingin memperlihatkan antusiasme meski sempat terlintas dalam pikirannya kalau dia ini jadi penggila kerja. Tap seperti yang dia bayangkan dulu saat masih di akademi.

"Yah! Aku belum punya pacar karena masih ingin sendiri, tahu!"

Changmin sengaja memberinya tatapan skeptis untuk mengganggunya.

.

.

.

.

Yunho menjatuhkan tasnya ketika melihat dua orang wanita di depan pintu apartemennya, "ibu… Jihye…"

Mata ibunya segera berkaca-kaca dan Yunho tak punya hati untuk melihatnya, tetapi setelah mengambil tasnya yang terjatuh, Yunho segera berjalan mendekat dan berlutut di hadapan ibunya, "maafkan aku…" . . +-+-+-+-+-+-+ . . Yunho sadar dirinya bukan anak yang berbakti, dia sudah menyakiti hati kedua orang tuanya. Akan tetapi ibunya menerimanya dan terus menyayanginya.

Ayahnya masih tak bergeming dan ibu serta adiknya mengatakan kalau mereka akan berusaha menenangkan ayahnya. Yunho tak masalah dibenci, dia juga tidak mengharapkan akan dimaafkan dengan mudah begini oleh ibunya.

Yunho memperlihatkan foto Changmin karena ibunya yang meminta, "dia tampan dan manis. Apa orangnya baik?" ada senyum di wajah beliau, senyum sedih dan bahagia, Yunho yakin hati ibunya masih sakit. Tak peduli seperti apa penjelasan yang bisa diberikan soal Changmin, itu tak akan meyakinkan apapun dan bisa menaburkan lebih banyak garam di luka yang belum kering.

"…iya."

.

.

.

.

Dongho sedang menikmati makan malam yang terlambat, tapi menu steak ini harus dinikmati dengan penuh khidmad dan juga dengan segelas wine. Hanya kurang seorang wanita dalam balutan gaun serta musik untuk menemaninya.

Satu iris daging nyaris masuk ke dalam mulutnya andaikan tidak ada seseorang yang mengetuk pintu kamarnya seperti kesetanan.

Kesal, Dongho tetap membuka pintu dan menemukan Yunho dengan mata berbinar dan senyum terkembang. Jika ini tanda bahwa Yunho sudah melamar Changmin dan mendapat jawaban iya, maka Dongho tak akan segan menutup kembali pintu apartemennya dan mengusirnya karena sudah mengganggu makan malamnya.

Sayangnya ini bukan tentang itu.

"Ibu memaafkanku, Dongho yah. Dan ayah mungkin bisa memaafkanku. Ibu minta supaya kami bisa makan malam berempat, ayah, ibu, aku dan Changmin karena ibu bilang ayah mungkin akan berubah pikiran setelah melihat langsung," Yunho bicara seolah tanpa bernafas dan Dongho perlu berusaha sedikit untuk meresap semua informasi itu ke dalam kepalanya.

Dongho tak tahu apa dia harus merasa senang atau sedih. Dongho bahkan tak tahu harus merasa apa.

.

.

.

.

"Oke, Changmin. Ini tugasmu!"

Begitu saja atasannya memberikan perintah, dan Changmin merasa ujung alisnya berkedut tak suka. Bahkan mungkin atasannya juga menyadari itu, "karena kau berperan banyak di kasus terakhir… kurasa kau bisa menangani yang ini juga."

Changmin terang-terangan memberikan wajah datar. Investigator bukan hanya soal nilai saat di akademi melainkan juga pengalaman. Masih banyak senior yang lebih berpengalaman, kenapa harus dia yang diberikan tugas begini?

"Kau tak suka?"

"Aku hanya ingin beristirahat sebentar," jawabnya.

"Sayangnya orang-orang jahat itu tak tahu keinginan kecilmu ini."

Apa itu bisa disebut empati?

Tentu Changmin ingin mengumpat, tetapi dia mengambil file yang ada di meja dan keluar dari ruangan atasannya.

Changmin bahkan tak mempedulikan pesan dari Yunho hingga keesokan harinya, tentu saja dia tidak tidur di apartemen Yunho setiap malam.

.

.

.

.

"Makan malam, hyung?"

"Iya. Kau bisa, kan?"

Changmin memeriksa kalender di mejanya, "kurasa aku bisa. Jam 8 malam?"

"Iya. Aku akan mengirimkan detilnya besok ya. Oh ya. Apa malam ini kau ke tempatku?"

Changmin menyadari jika Yunho terdengar sedikit terlalu bersemangat, tetapi dia tak ingat bila ada sesuatu yang dia lewatkan. Tak mungkin bila ini soal ulang tahun sebab ulang tahun mereka berdekatan. Tanggal jadian pun bukan, apalagi hari valentine dan white day yang tidak mereka rayakan juga, "Entahlah hyung. Pekerjaanku banyak sekali kali ini, mungkin aku akan lembur."

"Jangan lupa makan dan istirahat kalau begitu ya. Apa aku perlu mengirimkan makanan?"

"Tidak usah, hyung. Tak apa kok."

Saatnya kembali kepada tugas-tugasnya dan coba menangkap orang jahat yang sudah mengganggu keinginan kecilnya untuk beristirahat. Berita baiknya adalah Lee Donghae sudah pulih dan siap membantunya kejar-kejaran bila diperlukan. Berita buruknya Lee Donghae masih mengira Changmin berhasil membuat gol dengan seorang gadis yang sedikit nakal. Yang berarti gangguan di saat luang.

Bayangan Lee Donghae yang terus menerus mengganggunya terasa sangat jauh dari kata nyaman.

.

.

.

.

Yunho berdiri dengan kaku di depan sebuah restoran, mengecek jamnya setiap beberapa detik dan rasa ingin muntah yang sedari tadi dirasakannya. Sebuah taxi berhenti tak jauh darinya, dan Yunho merasa jantungnya berdetak lebih kencang.

Pintu terbuka dan seorang pria keluar dari sana; ayahnya. Yunho ingin sekali berlutut dan meminta maaf sekali lagi tetapi alih-alih hanya mendekat dan membungkuk memberi hormat.

"Kau baik?"

"Iya," jawab Yunho singkat tak berani mengangkat kepalanya. Ayahnya tak diberi tahu jika Changmin akan datang dalam acara makan malam ini. Dengan pikiran bahwa ayahnya akan bersikap lebih baik di tempat umum, dan tentu saja ayahnya akan melakukan itu, tak akan mengusirnya atau bahkan Changmin. Mungkin akan marah atau yang lainnya tapi tak akan ditampilkan di muka umum, kesempatannya untuk mengenalkan Changmin padanya?

Ayahnya segera berlalu masuk ke dalam restoran. Sudah pukul 19.51, sembilan menit sebelum Changmin datang, dan Yunho telah meninggalkan puluhan pesan sejak kemarin. Hingga tadi pagi masih terkirim selanjutnya Yunho tak tahu.

.

.

.

.

Waktu menunjukkan pukul 8 malam, dan Changmin masih ada di sebelah ruang interogasi. Terpisahkan oleh cermin/kaca satu arah sehingga siapapun di dalam ruang interogasi tak tahu jika mereka sedang diamati. Satu rekannya, seorang profiler sedang menginterogasi pelaku yang ditangkap oleh Changmin tiga jam yang lalu. Ada 4 pelaku totalnya dan mereka berhasil menangkap 3 di antaranya serta melumpuhkan satu lainnya dengan timah panas hingga tewas.

"Kau pikir masih ada pelaku lainnya?" Atasannya bertanya, sejak kapan pendapatnya jadi begitu dihargai?

"Kurasa… ada yang disembunyikan entah apa."

"Seojun juga sependapat denganmu," karena itulah mereka masih menunggu Seojun, profiler mereka selesai menginterogasi.

20 menit kemudian, interogasi berakhir dan Seojun masuk, "orang ini mengerikan," Changmin menyambutnya dengan kalimat itu.

"Dia menikmati kejahatan yang dia perbuat," Seojun setuju.

"Dia punya kembaran? Kekasih atau sahabat?"

Atasannya yang kemudian berbicara, "Kembarannya mengalami gangguan pasca operasi, mereka dulunya kembar siam. Tak ada riwayat sekolah sama sekali, mungkin sudah tewas tak lama sejak operasi."

Seojun dan Changmin bertukar pandang, "itu dia!"

Nampaknya mereka berdua bisa jadi tim yang bagus - pikir atasan Changmin. Buktinya mereka berdua langsung mencari file pendukung yang diperlukan. Tinggal memasukkan pria ini ke dalam sel kalau begitu.

Tentu saja Seojun dan Changmin mencari dengan teliti dan sampai bekerja melebihi shift mereka hari ini, "kau ternyata suka lembur, Changmin?"

"Tidak juga. Aku hanya penasaran."

"Ah, ya. Untung istriku pengertian dengan pekerjaan suaminya ini."

Changmin berhenti membaca, dia melupakan sesuatu yang penting. Dalam hitungan detik, Changmin meletakkan file yang dibawa dan menyalakan handphone khusus untuk koneksi dengan kehidupan pribadinya. Changmin menerima puluhan pesan teks dan suara.

"Seojun! Maaf! Aku pergi duluan!"

Changmin berlari kencang, dia punya janji dengan Yunho jam 8 malam.

Waktu sudah menunjukkan pukul 10 lewat.

.

.

.

.

Yunho memegang gelasnya di dalam restoran. Duduk sendirian setelah kedua orang tuanya pergi dengan taxi. Dia harusnya pergi juga sekarang sebelum tergoda untuk memesan red wine dan mabuk.

Pertemuan dengan kedua orang tuanya lancar, tetapi Changmin tidak muncul juga meski sekarang hanya 20 menit sebelum pukul 11 malam. Bahkan ibunya tadi memberikan kode-kode hingga bertanya langsung saat ayahnya ke toilet, kenapa Changmin belum datang juga. Yunho yakin dia mendapat jawaban pasti dari Changmin, bahkan sudah mengingatkan berkali-kali, tetapi kejadian seperti ini bukan kali pertama bukan?

Kalau dipikir lagi, Yunho tak tahu apa-apa soal kehidupan pribadi Changmin; tak ada foto orang tua atau saudaranya, tak tahu klub apa yang diikuti oleh Changmin dulu. Yunho tahu Changmin suka lego, makanan dan alkohol, dia juga cerdas dan sopan.

Apa mungkin…

Yunho membayar dan segera keluar dari restoran, berjalan sedikit untuk mencari taxi, atau menelpon taxi jika tak bisa menemukannya dalam 10 menit.

Ah, ada satu taxi berhenti tak jauh darinya, dia bisa naik kalau begitu. Kecuali seseorang yang turun dari taxi adalah pacarnya, Changmin.

"Hyung!" Yunho tak bergeming, pertanda yang sangat-sangat buruk sebab tak pernah terjadi sebelumnya. Biasanya Yunho menyambutnya dengan kecemasan yang pekat, seolah ingin memastikan bahwa yang datang adalah tubuh solid, bukan hantu.

"Kali ini… apa ada yang meninggal?" Hyung bertanya dengan nada datar.

"Apa maksud hyung? Tidak ada. Aku benar-benar minta maaf sudah terlambat, ayo kita masuk, hyung. Mungkin kita bisa memesan sebelum tutup," Changmin meraih pergelangan tangan Yunho tapi pemiliknya tak bergeming; tubuhnya berdiri dengan kuat, "hyung…" apa usahanya untuk ceria ini tak ada artinya? Tetapi Yunho belum pernah begini, jadi harus bagaimana untuk menghadapi ini?

"Tak ada gunanya, Changmin. Kedua orang tuaku sudah pergi. Kembali ke Gwangju."

Changmin mengernyit, tak ada pembicaraan soal orang tua sebelumnya. Tunggu, apakah itu berarti Yunho bermaksud mengenalkannya pada kedua orang tuanya, kah? Tangannya perlahan jadi terasa basah, dia tahu dia belum siap, bahkan mengatakan pada kedua orang tuanya sendiri dia tidak berani meski kedua orang tuanya punya pemikiran yang lebih terbuka dan demokratis. Bisa saja ini jadi sebuah kejutan atau suatu ujian. Yang jelas dia sudah mengacaukan semuanya, "ke… kenapa orang tua hyung?"

"Aku kembali ke Gwangju beberapa waktu yang lalu bukan? Aku sudah menyampaikan keinginanku pada mereka dan…" Yunho bukan sengaja mengambil jeda, melainkan ada sesuatu yang menghentikannya, tercekat di tenggorokan, "tidak terlalu baik. Lalu kuingat-ingat lagi tentangmu. Tentang bagaimana sebenarnya aku tak tahu apa-apa tentangmu…" Yunho mengambil jeda untuk menghela nafas yang terdengar lelah sekali, "aku tak benar-benar mengenalmu, kan? Yang kau tunjukkan ini apa benar dirimu? Apa kau tak bisa mempercayaiku? Aku juga tak tahu apa-apa soal teman atau keluargamu, apa aku ini hanya rahasia kotor di hadapan teman dan keluargamu? Kalau begitu terus, apa kau pernah berpikir agar kita bisa terus bersama?"

"Hyung?"

"Sebab aku memikirkannya, Changmin-ah!" Suara Yunho lebih keras, "tapi kau tidak. Lalu dibandingkan dengan harus menunggu untuk waktu yang aku tak tahu sampai kapan, aku bahkan tak tahu isi hatimu! Kalau kau bahkan tak mempercayaiku atau menganggapku sebagai aib, maka… sebaiknya kita akhiri saja hubungan ini."

Changmin merasa tersambar petir, butuh waktu lama untuknya memahami, hingga Yunho berbalik dan berjalan kembali, "tunggu, hyung! Kumohon. Beri aku satu kesempatan," Changmin sampai berlari, menghalangi jalannya sambil mencengkeram lengan atas Yunho.

Yunho menatapnya dengan datar, menutupi isi hatinya, "katakan Changmin ah, apa nama perusahaan tempatmu bekerja? Dimana kantornya?"

"I… itu…"

"Kau tahu semua tentangku, tapi aku tahu apa? Kau juga tak bisa memberi tahuku tentangmu."

Changmin merasa tubuhnya lemas dan tak bisa lagi menahan Yunho untuk tidak pergi. Ketika orang yang baru saja menjadi mantannya berjalan pergi, Changmin hanya bisa menunduk lesu.

.

.

.

.

Lee Donghae sedang bersiap untuk berbaring di kasurnya setelah hari melelahkan ini ketika ada yang menelponnya. Tak biasanya Changmin menghubungi di jam ini pula, "ya ada apa, Chang?"

"Kau bisa… menjemputku?" Suara serak itu membuat Donghae bergegas pergi.

Untuk pertama kalinya Donghae menemukan Changmin menangis di sebuah taman. Tak ada suara sesenggukan, tetapi air matanya tak berhenti, "Changmin, hei, astaga. Ayo pergi dari sini. Kita ke apartemenku…" Donghae memapahnya untuk masuk ke dalam mobil yang dia pinjam dari temannya yang satu apartemen.

Waktu sampai di apartemen Donghae, pemilik kamar itu bergegas memberinya air minum, "kau jangan masuk besok."

Kali ini pekerjaan tak terlintas di kepalanya, "dia tak mau bersamaku lagi…"

Donghae tertarik oleh perkataan serak itu. Changmin penggila kerja, nyaris seperti itu jika dilihat dari dedikasinya, mungkin juga sebuah akibat dari tanggung jawab yang dijatuhkan di pundaknya. Dan karena itu Donghae mengira Changmin tak punya pacar serta hanya terlibat dalam hubungan cinta satu malam. Tapi tentu saja tak mungkin Changmin menggunakan jasa prostitusi! Mereka ini polisi!

"Sudah… lupakan saja gadis itu. Masih banyak gadis lain!"

"Tak ada yang sepertinya! Dia selalu sabar meski aku selalu terlambat datang saat kencan. Tapi… aku tak tahu kalau dia akan membawa orang tuanya!"

"…" gadis ini benar-benar serius rupanya.

"Aku sudah mengacau. Dia mau menikahiku tapi aku mengacau. Aku harusnya memberitahukan pekerjaanku yang sebenarnya padanya. Jadi dia bisa mengerti kenapa aku terlambat. Tapi dia selalu ada untukku Donghae-yah" air mata mulai terkumpul di matanya sebelum akhirnya terjatuh, "aku egois!"

.

.

.

.

Lee Donghae merasa jika hidupnya cukup beruntung, punya pekerjaan dan teman yang baik. Dia juga bisa menikmati hidup meski pekerjaannya cukup menguras pikiran dan waktu. Setidaknya dia masih bisa mengikuti kencan buta dengan seorang wanita cantik berambut panjang dan dewasa.

Sebab jika melihat Changmin pagi ini yang masih terlihat kusut setelah libur satu hari, hidupnya jauh lebih baik. Siang itu juga Donghae melihat Changmin di ujung selasar yang biasa, dengan ice americano yang esnya sudah mencair.

"Kau masih bisa mencari yang lebih baik," Donghae langsung ke pokok masalah.

"Tidak dengan waktuku yang sekarang."

"Kau jelas tahu kalau Seojun-ssi punya istri dan penangkapan kembaran pelaku kejahatan kemarin bisa dilakukan. Kau mungkin hanya harus lebih percaya dengan rekan-rekanmu," Donghae mengusulkan dan menasehati sebab dia tak tahan lagi.

Ada tawa kecil mengejek keluar dari mulut Changmin, "orang sesempurna itu tak akan bisa kudapatkan lagi. Dia sudah memaafkanku berkali-kali meski aku terlambat datang kencan. Lalu sampai mengatakan pada orang tuanya kalau dia ingin menikah denganku. Orang tuanya tak setuju, jelas. Kalau mengingat cerita tentang orang tuanya yang begitu lurus, pasti pacarku sampai di coret dari daftar keluarganya."

Donghae mengernyit, "kenapa memangnya? Apa salahnya ingin menikah dengan polisi sepertimu? Memangnya dia anak mafia?"

Changmin tersenyum lalu menoleh pada Donghae, "kau bisa menyimpan rahasia? Karena aku sudah putus dan tak minat mencari orang sepertinya."

"Apa?" Tanya Donghae gemas.

"Dia pacar lelaki pertama dan terakhirku."

Donghae terdiam dengan informasi itu.

"Kau pasti akan menjauhiku, bukan?"

"… siapa?" Suara Donghae kecil, "siapa orangnya? Biar kuhajar dia untukmu!"

Changmin terkejut dengan reaksi Donghae, namun dia sangat bersyukur, "terimakasih Lee Donghae…"

.

.

.

.

Dongho menerima komplain dari Hojun dan kawan-kawannya karena Yunho tidak lagi berkumpul dengan mereka. Selalu menghindar untuk bertemu meski pesan-pesan tetap dibalas. Seolah melarikan diri, yang tak pernah terjadi sebelumnya. Jangan-jangan Yunho sudah melamar Changmin dan sekarang bocah itu sudah mengambil alih sahabatnya sepenuhnya.

Atau tidak.

Karena Dongho justru menemukan Yunho di club MMA dimana temannya teman bekerja. Tentu saja dia yang harus menemukan Yunho meaki tanpa sengaja. Hanya dengan diberi tahu kalau ada anggota baru di klub MMA yang punya dasar beladiri bagus namun bekerja sebagai pekerja kantoran biasa, yang semangatnya seolah tak bisa padam.

"Kau di sini?"

"Oh, hai Dongho!"

Yunho terlihat ceria, dan terlihat lebih kurus. Bukannya sahabatnya itu kelebihan berat badan, hanya saja akhir-akhir ini tak datang ke gym untuk membakar lemak. Memang bukan tipe yang suka berolahraga di gym, "sejak kapan ikut MMA?"

"Satu setengah bulan lalu."

Tentu saja Jung Yunho akan dengan mudah menguasai hal semacam ini dengan tekad. Tapi waktu? "Kau rajin latihan, dari yang kudengar dari temannya teman," Dongho segera menambahkan.

"Ah… pantas saja kau bisa menemukanku."

Yang berarti Yunho tak ingin ditemukan, oleh siapapun. Dia melarikan diri bahkan dari dirinya yang tahu soal masalah yang lalu dengan kedua orang tuanya, atau hanya tak ingin bertemu dengan siapapun? "memangnya kencanmu tidak terganggu? Bukannya kau akan melamarnya?"

"Sudah putus."

Ah… begitu rupanya. Semua ini karena hal itu. Apakah hubungan itu bisa serapuh ini di tangan Yunho? Seingatnya tidak ada masalah apapun sebelumnya, "lalu, sudah tidak bertemu lagi?"

"Tidak. Dia bahkan tak mengambil barang-barangnya yang tertinggal di apartemenku."

Dongho jadi tergoda untuk minta tolong salah seorang temannya Yunho untuk menyelidiki Changmin.

.

.

.

.

Satu hal yang mungkin menyebabkan Changmin tidak mengambil barang-barangnya di apartemen Yunho adalah : penyesalan.

Artinya Changmin tahu jika apa yang dilakukannya selama ini terhadap Yunho merupakan kesalahan besar.

Dongho melihat satu buah kardus di sudut kamar tamu, "punya Changmin?"

Yunho menjawab 'iya' sebelum berlalu ke kamar untuk ganti baju.

Didi tergoda untuk membuka kardusnya tetapi Dongho menyeretnya untuk ke dapur demi memindahkan cemilan yang mereka bawa ke dalam piring, "oppa tahu kalau mengetahui isinya bisa dipakai untuk bahan penelitian?" Didi berbisik meski Yunho ada di kamar sekarang.

"Kau hanya terlalu ingin tahu tapi tidak sensitif."

"Aku tahu kalau Yunho oppa cinta mati pada Changmin ini, sampai mengambil resiko untuk memberi tahu kedua orang tuanya kalau mau menikahi Changmin. Buktinya sampai sekarang masih stres, kan?" Mereka sama-sama tahu kalau mengikuti klub MMA adalah cara Yunho mengatasi stresnya. Lagipula dia tak mungkin memukul orang tak bersalah untuk mengurangi stresnya.

"Poinnya?"

"Mungkin kita bisa cari tahu? Siapa tahu sebenarnya Changmin sudah kesini tapi Yunho oppa tidak ada di rumah dan melarikan diri ke club MMA?"

"Kalau begitu usahanya kurang keras," si Changmin ini. Apa jangan-jangan hanya mempermainkan Yunho saja?

"Kalian berdua ini menggosipkan orang padahal orangnya hanya ada di ruangan sebelah," Yunho menegur mereka berdua yang tidak sadar kalau suara mereka makin keras. Dongho dan Didi tak melanjutkan percakapan mereka dan hanya berdiri salah tingkah. Yunho yang melihat keduanya mendadak tersenyum, "kalian sadar tidak kalau kalian sebenarnya cocok?"

"ENAK SAJA!" mereka berdua berteriak bersamaan. Yunho jadi tertawa melihat muka merah keduanya.

Kali ini Didi dan Dongho tak memperpanjangnya karena bisa melihat Yunho tertawa.

.

.

.

.

Pekerjaan menjadi teman setia bagi Changmin untuk mengisi kekosongan dalam hatinya. Tentu ada Donghae juga yang berusaha untuk menyeretnya dalam kencan buta. Changmin tak punya waktu untuk itu dan tidak berminat. Terutama untuk sekarang saat hatinya belum pulih.

"Atau kau bisa temani aku?"

"Donghae!"

"Apa? Kau kan belum dengar semuanya?" Donghae menantang dengan sedikit kesal, "aku cuma dihubungi oleh seorang teman saja kalau dia butuh bantuanku."

"Jangan menyalahgunakan jabatan," ancam Changmin.

"Hng? Kalau tak salah Kwangsoo hyung pernah mencari seorang gadis melalui CCTV, itu baru menyalahgunakan jabatan, bukan? Kalau yang ini, bertemu dengan temanku saja belum bagaimana bisa sudah dibilang menyalahgunakan jabatan?"

Changmin bakal tersedak seandainya dia sedang menegak air, sebab justru dia pernah melakukan hal yang sama seperti Kwangsoo-ssi untuk menemukan Yunho. Dia berhasil minta maaf, tapi hatinya direnggut saat itu. Sampai sekarang masih terasa sakit. Dengan satu helaan nafas akhirnya Changmin setuju, tapi dia hanya akan menunggu di dalam mobil saja.

Jam makan siang, Changmin mengantar Donghae menemui temannya, atau temannya teman, tak benar-benar berteman tapi sudah berani begini, memang ya, Lee Donghae itu.

"Ah, itu dia!" Donghae menunjuk ke arah seseorang yang sedang berjalan ke tempat pertemuan mereka, sebuah cafe. Asal jangan lama-lama karena masih harus makan siang, Changmin mengingatkan; memangnya bagi Changmin kapan makan tidak penting? Bisa mati diracun kalau begitu caranya.

Donghae menurunkan jendela mobil, "hyung!"

Yang dipanggil pun membungkuk untuk memastikan itu benar Donghae yang memanggilnya. Harus menurunkan kecepatan agar tak terlalu cepat untuk temannya Donghae yang berjalan beriringan dengan mobil ini bukan keahliannya. Lebih mahir di kecepatan tinggi.

"Hei Donghae!"

Changmin menunggu di mobil meski nampaknya teman Donghae sempat menunggunya untuk turun. Tak akan terjadi. Jadi dia tak tahu apa yang dibicarakan oleh Donghae dan temannya teman ini. Ada tawa juga lalu mulai serius, sepertinya Donghae terkejut dengan apa yang dikatakan oleh pria yang sepertinya setinggi Changmin.

Dan 8 menit kemudian, Donghae kembali ke mobil dengan 2 cup kopi, satu ice americano dan satu latte, "kau tahu aku bukannya suka sekali dengan ice americano, kan?"

"Kau bisa ambil latte-nya. Ini hanya ditraktir," ah, wajar kalau Donghae memilih yang paling murah. Tapi kenapa sampai rela memberikan latte padanya.

"Kau baik-baik saja? Tadi terlihat serius sekali."

"Yah… temanku yang juga temannya hyung tadi sedang sedih."

Percayakan sepenuhnya pada Lee Donghae untuk terbawa perasaan karena temannya sedang bersedih, Changmin tak mengerti kenapa temannya ini bisa bertahan menjadi polisi, "Kau tak akan menggunakan kekuasaan untuk urusan pribadi, kan?" sebagai seorang teman, mencegah temannya melakukan suatu kebodohan itu cukup penting, jangan sampai dia jadi terbawa kebodohannya.

"Tidak, tidak. Hanya diminta untuk mengunjungi temanku tadi untuk menyemangatinya. Kasihan sekali, temanku dicoret dari daftar keluarga karena bermaksud menikah dengan orang yang tak disukai orang tuanya."

Itu cukup menenangkan, "Ah… baguslah kalau hanya menyemangati…"

"Sudah beli cincin dan bayar DP sewa tempat untuk melamar. Juga sudah memesan jas dan chapel."

Terlalu banyak informasi, apa tak bisa menyimpan rahasia darinya? Kalau sudah dianggap teman oleh Donghae, maka mudah saja untuk tahu berbagai cerita, "memang restu orang tua penting, tapi setidaknya mereka saling mencintai, kan?" Changmin berusaha bijak menanggapi sebab tentu saja Donghae ikut sedih, entah sedih karena temannya atau sedih karena merasa gagal menjadi teman yang baik.

"Aku tak tahu kapan temanku mulai pacaran. Akhir-akhir ini tak ada waktu untuk kumpul, tapi katanya temanku putus karena pacarnya tidak terbuka. Yah, kepercayaan satu pihak begitu bisa timbul masalah. Hhhhh, aku jadi ingin melabrak orang kalau begini."

"Tugasmu melindungi masyarakat. Bukan menakut-nakuti!" Changmin berusaha cuek tapi jadi memikirkannya. Yunho selalu hati-hati jika tentang dirinya, satu-satunya yang bisa membuat wajahnya memerah dengan mudah. Yunho mempercayainya sepenuh hati, tapi… dia memang tak pernah membuka diri pada Yunho. Kenapa tidak mau? Karena tak percaya? Tak mungkin, Changmin yakin bisa memasrahkan dirinya pada Yunho. Apa karena takut Yunho terluka karena dirinya? Khawatir Yunho jadi sasaran? Itu sih yang penting musuh-musuhnya tak ada yang tahu.

Ataukah, rasa tak mampu untuk memberitahukan yang sebenarnya setelah menipu sekian lama? Takut akan reaksi Yunho? Bukankah Yunho pemaaf? Dia bisa minta maaf, bukan? Mungkin lebih baik begitu. Meski tak bisa memperbaiki hubungan mereka, mungkin…

Mungkin sebenarnya dia masih terlalu mencintai Yunho.

Bukan 'mungkin'.

Dia masih merasakan dingin yang menusuk hingga ke tulang di malam hari.

.

.

.

.

Changmin menurunkan topinya dan mengeratkan jaketnya; berpakaian tak seperti biasanya saat bertemu Yunho. Lagipula dia punya koleksi pakaian untuk penyamaran, hal seperti ini mudah saja dilakukan. Hanya belum pernah dilakukannya sebelumnya; membuntuti Yunho.

Mantan pacarnya itu masih tetap tampan, tetapi terlihat lebih kurus. Hanya kurang dari 2 bulan jadi sekurus itu?

Changmin tak menyangka Yunho mengambil arah yang berlawanan dengan jalan pulang, mampir dulu ke sebuah klub olah raga. Bukan gym, melainkan klub tarung bebas, MMA. Changmin terpaksa tahu tentang bela diri karena pekerjaannya, tapi ini?

"Apa kau mau mendaftar?" Seorang pria yang berotot menyapanya.

"Tidak, hanya melihat-lihat," Changmin sebisa mungkin memberikan jawaban yang pendek. Dia tak ingin terlihat meski sadar tingginya 184,5 cm.

"Kau bisa masuk."

Changmin mengeratkan topinya dan menunduk bahkan sedikit membungkuk, "Aku tak ingin terlihat banyak orang di sana."

"Kau mencurigakan. Akan kupanggil polisi…"

Panik kesempatannya hilang, Changmin mengeluarkan sesuatu dari sakunya dengan buru-buru, "aku polisi. Tolong kerjasamanya."

"A… apa ada pelaku kejahatan masuk klub ku, pak polisi?" Paniknya beralih ke pria berotot ini.

"Ini hanya penyelidikan," bicara soal menyalahgunakan kekuasaan.

.

.

Yunho terlihat begitu kuat dan ganas saat berada di dalam ring. Changmin tak akan mau jadi lawannya. Bakal remuk kalau benar ada di pertandingan serius.

'Aku pernah ingin jadi jaksa atau hakim,' -kata Yunho waktu kencan pertama mereka.

Kencan pertama dimana Changmin yakin setengah dari keseluruhan waktu yang dihabiskan, wajah dan telinganya memerah malu. Bukannya Yunho memperlakukannya seperti wanita, tidak sama sekali.

Pria yang selama ini selalu memeluknya dan menciumnya lembut, terkadang terlalu hati-hati seperti takut memecahkan kristal; di atas ring jadi orang yang berbeda, pukulan telak dan tendangan yang cepat dan kuat.

"Namanya Yunho," pemilik klub tadi berbisik padanya, "bukan dia orang yang kau cari, kan? Dia orang baik-baik. Hanya sepertinya datang ke klub untuk melepas stres sejak 2 bulan lalu. Perkembangannya juga pesat mungkin karena memang sudah ikut bela diri sejak kecil."

Changmin segera keluar dari klub sebelum Yunho menyadari dia ada di sana. Hanya berjalan tak jauh dari sana demi menemukan gang sepi dan masuk ke dalamnya. Berhenti saat dirasa tak akan ada yang menyadari keberadaannya, sebelum akhirnya sepasang mata yang selalu dipuji oleh Yunho meneteskan air mata.

.

.

.

.

Seojun bersandar di meja, mengawasi Changmin yang sedang melihat peta dengan banyak paku payung dan catatan-catatan. Kasus mereka kali ini, "hei Changmin. Istirahat sebentar."

"Nanti dulu."

Ada keheningan, ternyata karena Seojun sedang berpikir untuk menjatuhkan bom atau tidak, "Kau sedang ada masalah pribadi, kan?"

Changmin menoleh secepat kilat dan mengernyit, "tidak ada," dia menoleh kembali pada peta dan data di tangannya.

"Sejak 3 bulan lalu kau ada masalah, mulai dari saat kau buru-buru pulang."

Profiler sialan.

"Kalau ada masalah kau bisa bilang padaku."

"Aku tak suka mencampuradukkan pekerjaan dengan kehidupan pribadi," jawabnya dingin, tak menoleh ke arah Seojun. Dia tak ingin 'dibaca' lebih jauh.

"Setelah masalah dengan Kyuhyun ssi yang merupakan temanmu sejak sebelum masuk akademi wajar kau berkata seperti itu. Tapi aku mengatakan ini sebagai teman dan juga rekan kerja. Memforsir diri tak selalu bagus, dalam jangka waktu lama itu akan mempengaruhi performa kerja dan kesehatanmu. Tapi kalau kau ingin mati silahkan tinggalkan surat wasiat dan bunuh diri dengan tenang," Seojun berceramah.

Changmin merasa Seojun ada di batas teman dan rekan kerja, juga antara perhatian atau hanya sebatas tak ingin kehilangan rekan kerja, seorang agen, "kurasa aku bisa menangani ini sendiri."

"Atau tidak," Seojun memutuskan. Tak biasanya dia sevokal ini terhadap hal yang sama sekali tidak berkaitan dengan kasus, "Sudah 3 bulan dan masih seperti ini. Masalah akut yang melibatkan orang yang kau sayangi. Keluargamu tidak mendapat ancaman, bukan?"

Hipotesis Seojun tepat, "Tidak. Mereka aman."

"Kalau begitu kekasih."

Changmin terdiam sebelum menjawab, "aku tak punya kekasih."

"Putus 3 bulan lalu, kan?"

"Apa maumu Seojun hyung?" Changmin menjawab dengan cepat, dengan nafas keras.

Seojun tahu dia sudah mengatakan hal yang tepat sasaran, sampai kesabaran Changmin hanya tinggal setebal kertas lagi untuk sampai di titik terendahnya, "Istirahatlah sejenak, aku pesan makanan dan sebentar lagi sampai. Setelah itu baru kau boleh bekerja lagi."

Changmin terdiam meski Seojun berdiri untuk mengambil makanan dari lantai bawah. Lalu baru memutuskan untuk berhenti sejenak dari melihat data dan peta.

Tapi tak ada pelukan hangat lagi saat dia pulang nanti.

.

.

.

.

Seojun bukan orang lapangan, dia ini profiler, tapi kenapa justru dia harus berlari seperti orang kesetanan dan sambil membawa sepucuk senjata pula? Ah, ya. Itu karena rekan kerjanya Changmin terlalu obsesif dengan pekerjaannya, kenapa hatinya masih tak sembuh juga setelah 3 bulan? Berarti jelas ini salah Changmin kenapa bisa sampai putus.

"Gawat, Changmin. Kalau tak segera mereka akan membahayakan orang biasa!" Seojun nyaris berteriak kala melihat 3 orang target mereka berlari ke arah jalan. Tak mungkin tak membawa senjata.

"Aku tahu!" Changmin terdengar gusar, tentu ini salah satu keahliannya. Mereka harus cepat atau bisa ada sandera dan lebih buruk; korban rakyat jelata. Meski jam segini mungkin tak terlalu banyak orang. . … . Yunho sedang jogging di malam hari, sekarang dia lebih banyak berolah raga dibandingkan berkumpul dengan teman-temannya. Perlu waktu dan ruang sendiri, untuk berpikir atau justru untuk menjernihkan pikiran. Dia tak ingin terlihat menahan sesih saat bersama teman-temannya meski benar itu yang dirasakan. Akan tetapi setelah rutin berolahraga kembali, setidaknya dia merasa ada yang bisa dilakukannya selain hanya memikirkan yang telah dengan rela dia tinggalkan.

Saat itulah dia mendengar teriakan "MINGGIR!" yang ditujukan padanya. Otomatis menoleh kebelakang dan melihat tiga orang berlari ke arahnya membawa pistol, serta dua orang lagi dalam jarak yang lebih jauh yang mengejar mereka dengan teriakan "diam di tempat!" -polisi, jika Yunho benar mengingat film-film polisi yang sering dia saksikan ketika remaja.

Jadi… dirinya ada di tengah film action?

Tak menghiraukan teriakan yang sempat diarahkan padanya, Yunho justru memukul salah seorang pria bersenjata. Tak ayal dirinya menjadi sasaran bahkan tembakan terdengar, tetapi tak ada satupun yang mengenainya. Sebaliknya dengan mudah melumpuhkan ketiganya.

Seojun dan Changmin sampai terdiam dan ragu-ragu memgarahkan pistol mereka, tak tahu apa yang harus diperbuat ketika target mereka dilumpuhkan dengan mudah oleh seorang pejalan kaki, atau pelari? Gerakannya yang cepat, efisien dan fatal sudah menggambarkan kemampuannya. Mungkin seorang ahli bela diri atau atlet.

Itupun tak bisa mencegah Changmin berteriak padanya karena sudah membuat jantungnya nyaris copot, "hei! Kau sadar bahayanya, tidak?!" Ketika pejalan kaki tasi sudah membuat dua orang tak sadarkan diri dan seorang lagi ditahannya.

"Polisi!" Seojun mengeluarkan pengenalnya.

Pria dengan hoodie abu-abu itu masih menahan tangan salah seorang target mereka. Seojun curiga dia anggota kepolisian karena bisa mengamankan senjata api dengan mudah. Lalu pria itu menoleh ke arah mereka berdua yang berjalan mendekat. Seojun sudah memborgol satu di antaranya tapi Changmin terhenti langkahnya saat melihat wajah pria itu.

"Cha…"

"Hyu…"

Sebuah mobil melaju dengan cepat, Yunho melihat kilatan cahaya tak biasa dan segera berdiri untuk melindungi Changmin dengan memaksanya tiarap. Tembakan terdengar namun Changmin tak merasakan sakit. Semua terjadi begitu cepat dan dia sudah ada di bawah Yunho yang melindungi tubuhnya. Pistolnya diambil paksa oleh Yunho dan hyungnya menembak ke arah mobil, terkena bannya sehingga tergelincir dan menabrak pohon tak jauh dari sana.

Satu mobil lain yang dikenali Seojun sebagai mobil milik divisinya melaju cepat dan bermaksud berhenti tak jauh dari sana, "tangkap yang di sana!" Seojun mengarahkan agar mereka mengurus target yang baru saja menabrak pohon.

"Changmin bantu aku!" Seojun kesal dan tak sabar karena Changmin tak bergerak untuk mengamankan satu orang yang tersadar dan bermaksud melarikan diri, tapi waktu melihat ke arah rekannya itu, dia justru melihat Changmin berlutut kaku di hadapan pria pejalan kaki yang harus diakui, lebih mahir darinya.

Lalu merah mewarnai hoodie pria pejalan kaki itu. Gawat.

Seorang rekan mereka mengambil alih target yang masih ditahan oleh Seojun. Sementara Seojun menampar Changmin, "bangun, bodoh!" rekannya tak pernah seperti ini.

Changmin terkesiap lalu dengan ragu menyentuh lengan Yunho, tapi juga ada warna merah di sana jadi dia tak tahu apa yang harus dilakukan. Sementara Yunho yang terduduk makin membungkuk dengan satu tangan bertumpu di trotoar masih dengan pistol di tangannya, sementara tangan yang lain memegang perutnya.

"Hyu… hyung…" Seojun mendengar suara Changmin yang bergetar, "Yunho hyung…" pejalan kaki tadi hilang kesadaran di pelukan Changmin. Seojun yang satu-satunya menyadari kalau Changmin meneteskan air mata.

Beruntung satu mobil polisi rekan mereka segera mendekat. Seojun berusaha mengangkat tubuh Yunho namun Changmin seolah menahannya, "Changmin! Kita pakai mobil polisi. Bantu aku!" Barulah Changmin ikut menegakkan tubuh Yunho agar bisa masuk ke dalam mobil polisi. Changmin duduk bersama Yunho dan menekan lukanya sementara Seojun di samping kursi sopir, melihat ekspresi Changmin yang seolah jadi cerminan hatinya saat ini; kacau balau.

.

.

.

.

Changmin tak mau beranjak meski atasan mereka datang dan menuntut penjelasan. Seojun yang mengurusnya, memberikan penjelasan bahwa pengejaran mereka dibantu oleh seorang pejalan kaki yang dia tak tahu siapa namanya yang kebetulan sedang jogging malam di waktu dan tempat yang salah.

Ini korban yang sangat minimal, tanpa bantuan orang tadi, mungkin Changmin dan dirinya sudah tertembak dari belakang. Atau dari depan. Jumlahnya sempat tak seimbang dan bantuan datang terlambat.

Hebat juga pria tadi bisa menembak ban dengan tepat meski pasti sudah tertembak. Menahan sakit selama berkonsentrasi. Apa seorang aparat juga? Atau anggota interpol? Kalau Changmin mengenalnya mungkin senior Changmin di akademi. Dan pasti cukup dekat kalau melihat reaksi mereka. Mungkin pria tadi adalah senior di akademi yang tidak berakhir di kesatuan seperti Changmin. Meski begitu kemampuannya bagus sekali. Dan sialnya pria tadi tak membawa identitas atau handphone.

"Mau ditahan sampai orangnya sadar? Tapi kita perlu menginformasikan juga pada keluarga dan tempatnya bekerja bukan? Atau pakai sidik jari?" Seojun berbicara dengan jelas pada atasannya serta seorang rekan mereka mengenai administrasi rumah sakit yang sebenarnya masih bisa ditunda karena berkaitan dengan kasus. Jadi agen lapangan seperti Changmin melelahkan, untung tidak sering-sering.

"Namanya Jung Yunho, manajer di perusahaan di Seoul, tapi berasal dari Gwangju," Changmin yang sedari tadi duduk tak jauh dari ruang operasi dengan tertunduk lesu menjawabnya.

"Kalau ayahku masih hidup, aku pasti dibunuhnya," celetuk atasan mereka tiba-tiba, terdengar sangat lelah, "Daejun urus itu. Aku akan memberitahu keluarganya setelah hasil operasinya keluar."

"Inspektur, anda mengenalnya?" Seojun terkejut dengan reaksi yang tiba-tiba ditunjukkan oleh atasannya.

"Cucu kesayangan ayahku. Dia memang sudah belajar bela diri sejak kecil dan sempat kuikutkan di klub menembak, tapi akhirnya memilih untuk bekerja di perusahaan."

"Ah… dunia ini sempit ya…" Seojun menyeletuk. Satu misteri terungkap, misteri lainnya?

.

.

.

.

Operasi berakhir dengan baik dan Yunho dipindahkan, Changmin masih mengikuti, yang berarti Seojun juga terpaksa mengikutinya. Dengan segelas kopi hangat, dia mendekati Changmin yang kemeja dan jasnya terkena darah Yunho. Dia menyerahkan gelas kopinya "terimakasih," Changmin sempat tersenyum kecil sebelum kembali menunduk. Doanya tak pernah putus ya?

Seojun duduk di sebelahnya, "minum!" Changmin menelan seteguk kopi yang sudah hangat, Seojun tak mau mengambil resiko dengan membwrikan kopi panas.

"Ini sudah lewat tengah malam. Bagaimana kalau kau pulang dan ganti baju?"

"Aku…" Changmin gagal menyelesaikan kalimatnya, kembali menunduk menatap hitamnya kopi di tangannya..

"Bajumu kena bekas darah," kemeja putihnya bahkan. Sekilas seperti dia yang terluka.

Changmin masih tak bereaksi. Baju masih bisa dicuci atau beli, tapi, "dia akan baik-baik saja, kan?" akhirnya menoleh menatapnya.

Seojun melihat wajah pemuda yang khawatir, bukan penegak hukum yang keras dan tegas serta gila kerja, "aku bukan dokter, meski kudengar peluangnya cukup besar."

"Tapi nyaris. Dan pendarahan hebat!"

"Kau sebenarnya ingin pria itu mati atau hidup?"

"Tentu saja aku ingin dia hidup! Kenapa dia harus melindungiku? Harus menggunakan tubuhnya sendiri? Sampai mengorbankan diri segala? Dia bisa mati!"

Pertanyaan-pertanyaan seolah tanoa jeda pun disertai emosi yang kuat, "Kau juga bisa mati," jawabnya tenang. Menghadapi api yang menggebu, dia harus tetap dingin, "Aku beruntung karena terhalang kalian berdua, yang berarti kau bisa mati seandainya dia tidak menggunakan tubuhnya untuk melindungimu. Kalau dia tidak melakukannya, bisa saja kau bahkan tidak sampai ruang operasi. Terkadang yang kelihatannya kurang beruntung justru sangat beruntung."

Changmin seolah menahan sesuatu, "Aku tak tahu kau bisa sangat optimis," kemudian menyesap kembali kopinya.

"Kau terlihat terlalu kacau padahal kukira kau berdarah dingin."

"Siapa?" Changmin terkejut dengan analis yang didengarnya, sementara Seojun mengangkat satu alisnya menuntut penjelasan.

Benar-benar kacau, "Temanmu ya? Tadi kalian terlihat sangat terkejut waktu melihat wajah masing-masing. Seniormu di akademi?"

Changmin diam, dan Seojun menunggu saja, tak perlu memaksakan rekannya buka mulut,"Bukan. Dia mantan pacarku yang putus 3 bulan lalu."

Misterinya terungkap semua, Seojun pun menghela nafas, "aku baru tahu kalau kau begitu."

"Tidak. Ini yang pertama dan terakhir. Dan semua salahku yang tidak terbuka dengan pekerjaanku. Jadi pasti tadi Yunho hyung sangat terkejut."

"Aku tak perlu mendengar terlalu detil," Seojun berusaha menghentikan Changmin, untungnya berhasil. Bahkan rekannya sampai menegaskan kalau keponakan atasan mereka ini adalah satu-satunya pria yang sedang dan akan dicintainya, "Hanya saran saja agar kau pulang dulu. Atau jika masih ingin menunggu sampai lewat masa kritisnya kau bisa menghubungiku kalau ingin pergi dari RS. Aku tak mempercayaimu untuk pulang sendiri," Seojun berdiri dan bersiap pergi, mungkin ke kantor dulu dan menulis laporan, "oh ya Changmin, kalau dia melindungimu begitu, kurasa dia masih ada rasa padamu," dengan satu kedipan mata, Seojun lalu berbalik badan dan pergi.

.

.

.

.

Yunho membuka matanya dan harus menyipit dan mengedipkan mata berkali-kali karena merasa cahaya terlalu terang. Dia menghela nafas ketika menyadari sedang berbaring di ruangan yang tak terlalu besar tanpa hiasan; rumah sakit. Ada kebas di dada dan perutnya, efek obat bius yang dia syukuri masih efektif. Pasti akan sakit sekali setelah pengaruhnya habis.

Berapa peluru yang mengenai tubuhnya? 2? 3?

Seingatnya dia melihat Changmin berdiri dengan kaku saat melihatnya. Jadi ini maksud perusahaan start up super sibuk sering lembur? Rasanya seperti bukan orang yang dia kenal. Tak pernah terpikir Changmin punya keinginan untuk bekerja sebagai penegak hukum atau bahkan menjadi salah satunya.

Changmin baik-baik saja; Yunho tahu. Meski sudah berusaha agar tidak ambruk tetap saja akhirnya hilang kesadaran. Dan hal terakhir yang diingatnya sebelum tak sadarkan diri adalah suara mantannya dan kemeja putih dan jas hitam. Akhirnya kembali jatuh di pelukan mantannya, secara harfiah.

Kantor bagaimana? Orang tuanya bagaimana?

Tapi justru wajah mantan kekasihnya yang terlintas. Changmin begitu khawatir bahkan tubuhnya kaku hingga tak bisa bergerak ketika mobil dengan orang bersenjata terlihat. Memang baik dirinya maupun Changmin sama-sama belum benar-benar berpaling. Masih ada rasa yang tertinggal namun tak akan diakui.

Seorang dokter memeriksanya dan berkata akan memberitahu polisi yang bertugas.

Karenanya mungkin dia sedikit saja kecewa ketika polisi yang datang adalah pamannya sendiri, yang terlihat gusar tapi bukan padanya. Baiklah, sedikit saja kegusaran itu ditujukan padanya. Terutama ketika mengatakan, 'Kakekmu akan hidup kembali untuk membunuhku jika sesuatu terjadi padamu!'

Bagaimana mengatakan jika dia tak tahu apakah ayahnya ingin menemuinya atau tidak. Setelah 3 bulan lalu dia sama sekali tak berbicara dengan ayahnya. Harusnya dia mencampuradukkan masalah, tetapi rasanya dia tak ingin disangka meninggalkan Changmin demi keluarganya. Perpisahan yang terjadi bukan karena ayah dan ibunya, bahkan ibunya sudah cukup bisa menerima.

"Tak ada korban lagi dan semua tertangkap?"

"Iya. Kami akan rilis berita kalau kau kebetulan tertembak saat sedang jogging malam. Tak masalah tak ada kredit?"

"Justru bagus kalau identitasku dirahasiakan," kenapa dia merasa lega?

"Aku akan bicara langsung dengan atasanmu. Tapi aku belum menghubungi kedua orang tuamu, kurasa menghubungi mereka berdua di tengah malam saat putra mereka kritis bisa menyebabkan mereka kena serangan jantung," jelasnya.

Yunho tertawa kecil dengan candaan itu, tak ingin membebani luka-lukanya namun tetap bisa menutupi kenyataan bahwa meski sudah sempat bertemu, tetapi dia tak tahu apakah ayahnya sudah memaafkannya atau menerimanya. Ini bukan masalah sudah putus dengan Changmin, kedua orang tuanya tak tahu menahu soal itu. Dia bukannya putus karena ingin mendapatkan kedua orang tuanya kembali, ini murni karena hubungannya dengan Changmin yang ternyata menyimpan bom waktu, "tunggu sampai aku agak baikan atau akhir minggu saja tak masalah. Kasihan jika mereka harus buru-buru ke sini."

"Walau kau mengkhawatirkan reaksi mereka, tapi sebagai orang tua akan lebih berat jika tidak diberitahu."

Harus bagaimana? "Biar Didi saja yang memberi tahu."

"Ah ya, aku belum memberitahunya," terlihat baru ingat soal putrinya yang dekat dengan Yunho. Putri yang menurutnya susah diatur, alih-alih memilih pekerjaan yang biasa, putrinya memilih menjadi DJ di Seoul.

"Dia mungkin pacaran dengan temanku…" Yunho menyeletuk, dan wajah pamannya langsung berubah menyeramkan. Perlu usaha ekstra untuk menahan tawa; Didi dan Dongho, siap-siap saja.

.

.

.

.

Donghae menghampiri Changmin di kantornya, dia sudah membawa bunga dan buah, "kalau ingin memberi selamat…"

"Siapa?" Donghae cemberut, "aku justru akan mengajakmu ke rumah sakit."

"Kau tak sadar juga pakai anggaran negara untuk urusan pribadi?"

"Sudah minta ijin atasanmu dan diperbolehkan. Justru kau yang harusnya ke sana," Changmin merasakan firasat buruk sekarang. Kemarin baru pulang pagi setelah Yunho melewati masa kritis, bahkan Changmin kembali ke rumah sakit untuk mengetahui kabar mantan kekasihnya yang sudah sadar kembali. Suatu kelegaan besar yang dia rasakan.

Setelah itu seperti ingin masuk ke ruangan tempat Yunho berada untuk melihatnya langsung, tetapi dia tak punya nyali dan memilih untuk menyibukkan diri dengan laporan. Seojun sesekali kedapatan menatapnya tajam, entah untuk apa.

"Sudahlah Lee Donghae ssi, aku sedang banyak laporan dan interogasi, kau bisa minta tolong yang lain kalau memang sudah dapat ijin," Changmin menjawabnya dengan dingin, tanpa ketertarikan sama sekali.

Donghae menekuk wajahnya, "hari ini kau aneh sekali. Bukannya ini tanggungjawabmu?"

"Darimananya?"

"Aku mau menjenguk pejalan kaki yang tertembak saat penangkapanmu. Kau harusnya perlihatkan rasa syukurmu bisa pulang tanpa luka dengan menunjukkan simpati."

"Aku berempati."

Donghae memutar bola matanya sebelum berbalik pergi. Seojun yang menyaksikannya dari jauh sembari menyesap kopinya yang kedua untuk hari itu melengos. Mau bilang Shim Changmin seorang profesional? Dengan masalah mantan yang sudah 3 bulan putus saja masih kekanak-kanakan. Perlu menyeretnya ke rumah sakit kalau begitu?

.

.

.

.

Changmin menolak permintaan Donghae sebab dia tak punya muka untuk bertemu mantannya itu, pun tak menjelaskan alasannya. Mana bisa membongkarnya pada Lee Donghae begitu saja? 'Dia mantan pacarku, dan aku masih tak ingin bertemu dengannya'.

Konyol. Sungguh konyol. Padahal dirinya yang salah dalam hubungan mereka tapi justru seolah dirinya yang bertindak seakan disakiti oleh Yunho. Tak ada kekerasan, justru dirinya yang selama ini membuat Yunho menunggu tanpa kejelasan. Menunggu kepastian Yunho lolos dari masa kritis saja rasanya sudah tak menyenangkan, sementara berapa lama Yunho menunggunya?

Yunho kuat, dia bisa lolos dari maut karena terjangan peluru. Dia bisa jadi agen yang hebat dengan kemampuan bela dirinya yang sudah Changmin saksikan sendiri. Apanya yang khawatir kalau ada apa-apa dengan Yunho? Dia justru bisa menjaga diri lebih baik dari Changmin bukan?

"Shim! Ikut!"

"Baik!" Changmin terkejut dengan perintah atasannya. Juga kenyataan kalau saat ini dia sedang berada di dalam mobil dengan Seojun sebagai pengemudi. Tak ada kalimat yang dilontarkan di dalam mobil dan Seojun terlihat rileks saja saat mengemudi.

Rumah sakit.

Andaikan bisa, Changmin sudah melompat dari mobil daripada harus pergi ke rumah sakit. Tapi itulah yang terlihat di hadapannya sekarang, "maaf tapi, apa ada investigasi yang perlu dilakukan?"

"Tidak. Kau yang membuat keponakanku harus masuk rumah sakit. Tentu saja kau setidaknya harus minta maaf."

Seojun masih memasang tampang santai tak peduli, akan tetapi hatinya tertawa kencang. Ini balasan sudah menyeretnya mengejar penjahat, "oh ya. Kenapa keponakan inspektur tidak jadi polisi saja?"

Atasan mereka menghela nafas, "Keponakanku itu… Andaikan dia tidak punya keinginan untuk membangun sekolah untuk orang kurang mampu, dia mungkin ada di divisi kita. Alih-alih mencari pekerjaan yang memungkinkannya punya uang banyak."

"Anda bangga sekali dengannya ya?" Seojun menanggapi, tepat saat mobil berhenti di parkiran.

"Aku tak punya anak lelaki. Tanpa sadar jadi merefleksikan harapanku padanya."

"Pasti stres punya beban sebanyak itu," komentar Seojun. Atasannya ini orang yang berambisi, apalagi jika gender menentukan besarnya harapan pada keturunannya.

Atasannya tak mengelak dan justru membanggakan keponakannya itu. Seojun jadi penasaran dengan putri atasannya ini kenapa sepertinya tidak disebut-sebut

"Pasti orang yang bisa mendapatkannya sangat beruntung," komentar Seojun sengaja menggosokkan garam ke luka Changmin yang belum mengering.

"Bagaimana keadaanmu?"

"Ah, ahjussi. Sudah lebih baik," Yunho tersenyum pada pamannya, tak aneh dikunjungi pamannya begini, hanya dia tak mengira akan ada yang mengekor, dua orang, dan salah satu di antaranya adalah mantan kekasihnya sendiri yang terus melihat kemanapun asalkan bukan pada dirinya.

Pamannya mengambil kursi untuk duduk di samping ranjangnya, tetapi ketika salah satu anak buah pamannya ikut mendekat, Changmin justru tak beranjak dari dekat pintu, "Orang tuamu sudah datang? Tadi sempat menelponku dan bertanya padaku soal pacarmu. Kau tak jadi melamarnya? Kudengar dari Didi kau sudah siapkan cincin?"

Benar-benar sepupunya itu, pasti setelah dilabrak pamannya ini langsung bocor soal cincin, "Aku sudah memberi tahu mereka kalau sudah putus," dari posisinya sekarang dia bisa melihat Changmin berjengit mendengar perkataannya. Apa kau menyesal, Changminie?

"Yunho… seperti bukan kau saja. Tak mungkin kau berniat melamarnya kalau kau tidak yakin. Atau dia yang memutuskanmu?"

Yunho tertawa, "aku yang memutuskannya ahjussi…"

Pamannya menyipitkan matanya curiga, Seojun ingin sekali memutar bola matanya dan menarik lengan Changmin untuk mengenalkan atasannya pada mantan kekasih keponakannya. Bukankah mereka belum saling mengenal?

"Kurasa aku bisa mengerti kenapa Didi sampai berteriak begitu padaku," ah ya, Changmin ingat Didi, sepupu Yunho yang bekerja sebagai DJ, dia terlalu fokus pada gadis itu sampai tak menyadari siapa ayahnya, "Aku bisa mengenalkanmu dengan gadis baik. Di kesatuan ada banyak kan, Seojun?"

Seojun terdengar sangat-sangat tersinggung, "saya sudah punya istri yang sangat cantik."

"Ah benar juga," pamannya seolah terlihat bosan dengan jawaban itu, Seojun ini sepertinya biasa melontarkan sarkas jika dibutuhkan, "Bagaimana Changmin? Tunggu, aku belum mengenalkannya padamu, bukan? Ini agen lapangan terbaik, tapi kurasa bahkan dia bisa belajar darimu soal bela diri dan menembak. Kau kan pernah juara menembak reaksi. Bisa mengenai sasaran meski sudah terluka, kau bukan manusia kan, Yunho?" Setelah informasi berlebih yang tak tahu untuk siapa, "Nah, namanya Shim Changmin. Changmin, ini keponakanku, Jung Yunho."

Changmin yang terpaksa mendekat segera membungkuk sekilas tanpa menatap wajah Yunho.

Pamannya menoleh untuk melihat anak buahnya itu, nampak jauh dari puas, "Biasanya dia dikenal sebagai agen berdarah dingin. Entah kenapa jadi begini, sepertinya tak enak hati karena sudah menyebabkanmu terluka."

"Si… siang…" usahanya untuk terlihat kuat justru membuatnya canggung.

Yunho memejamkan matanya agak lama, ada rasa sakit yang menusuk jantungnya, "Bukan salahmu. Itu keputusanku sendiri. Maaf ya, jangan sampai kepikiran karena hal itu."

"Tolong ajari dia cara mengatasi kepanikan. Kau sepertinya lebih mahir darinya."

"Ahaha. Tidak mungkin. Aku hanya pekerja kantoran. Yang kemarin hanya kebetulan saja," Yunho tetap merendah. Tapi Changmin tahu, jika Yunho tak ada di sana, bisa saja mereka mati diterjang peluru dari belakang dan buruan mereka lolos. Changmin melihat bunga di samping meja, seperti pernah melihat karangan yang didominasi bunga dafodil. Bukankah Yunho belum boleh dijenguk selain keluarga dekat saja?

"Aku menyuruh Lee Donghae untuk membawa serta Changmin menjengukmu. Tapi kurasa dia sibuk seperti biasa jadi baru bisa kuseret sekarang."

Lee Donghae? "Kau mengenalnya?" Changmin tak bisa menahan mulutnya.

"Iya. Teman lama. Dia sempat membantuku pindah apartemen."

Ah ya, Changmin ingat Donghae pernah mengatakan akan membantu temannya pindah di akhir pekan. Tapi kalau Yunho mengenal Donghae, berarti…

Pintu mendadak terbuka dan disana ada seorang wanita dewasa yang langsung menghampiri Yunho dan seorang wanita. Disusul gadis muda yang juga mirip Yunho. Changmin merasa keringat dingin ketika gadis itu menatap Changmin dengan keterkejutan yang tidak ditutupi. Tak perlu jadi profiler untuk bisa mengambil kesimpulan bahwa gadis ini tahu siapa dirinya. Pasti dari Yunho.

"Ayahmu mana Jihye?"

"Ah? Beliau sedang ada urusan," Changmin merasa itu hanya kebohongan saja. Ada yang disembunyikan. Yunho benar-benar dibenci oleh ayahnya?

Ada rasa sedih dan senang yang bercampur. Bukankah lebih baik walau ayahnya membenci tetapi Changmin disampingnya? Andaikan ada satu kesempatan.

"Mereka anak buah ahjussi?" Jihye bertanya dengan tenang.

Atasannya mengiyakan, dan Changmin rasa ini adalah saat yang tepat untuk kabur, "aku permisi dulu," dia mengatakannya dengan segera sejalan dengan langkah kakinya yang tak bisa dihentikan oleh suara apapun. Dia tak ingin berada di dalam sana lebih lama. Selama ini hubungannya dengan Yunho adalah benar-benar berdua saja, hanya tentang dia dan Yunho. Itu yang terpenting. Namun dia lupa kalau setuju ataupun tidak, ada keluarga di belakang Yunho.

Mantan kekasihnya itu sudah melawan orang tuanya dan jika mengingatnya, rasa bersalah mencengkeramnya. Bagaimana dia tak memberi tahu kedua orang tuanya seolah dia tak serius dengan Yunho. Padahal saat bersama Yunho begitu menyenangkan. Memangnya jika dia mengatakan pada kedua orang tuanya sekarang, saat mereka berdua sudah putus, apakah akan merubah sesuatu? Apakah dengan begitu Yunho akan melihat kesungguhan hatinya yang terlambat?

"Didi! Hei! Hentikan!

Bruk.

Sebuah tas wanita dilemparkan ke dadanya, dipakai untuk memukuli tubuhnya. Tidak sakit namun mengesalkan.

"Didi!" Seorang pria tinggi menghentikan gadis yang memukulinya dengan tas. Air mata dan rasa tidak suka tergambar jelas di wajahnya.

"Maaf. Apa…"

"Iya! Gara-gara kau, oppaku terluka. Kau tak cukup menghancurkan hatinya sampai harus membuatnya nyaris mati demi melindungimu? Polisi macam apa!"

"Didi! Hei, Didi! Sudah!"

Didi. Itu nama sepupu Yunho. Jadi gadis ini juga tahu? Dan pria yang bersamanya… dia… "kau yang ditemui Donghae hyung waktu itu…"

Pemuda itu memang masih sibuk menenangkan sepupunya Yunho, namun masih bisa melontarkan senyum mengejek pada Changmin, "akan lebih baik jika kau terus terang sejak dulu. Aku mengerti pekerjaanmu penuh dengan tuntutan. Padahal Yunho akan mengerti itu semua," pria itu berusaha menyeret Didi dari sana.

Changmin menunduk lemah hingga tersadar ketika matanya berat dan saat mengedipkan mata, air mata menetes ke lantai. Dia tak bisa menghentikan air yang mengalir makin deras, sehingga dia pun berjalan menjauh dari sana sambil menunduk dan mencari tempat untuk menyembunyikan diri yang sedang ada di titik terendah.

.

.

.

.

Changmin kembali ke apartemennya alih-alih kantor. Membolos, dia tak peduli. Kembali ke kantor pun tak akan bisa konsentrasi.

Akan tetapi ada seseorang yang menekan bel apartemennya, 'paket' katanya. Dia yakin tak memesan apapun. Mungkinkah ini jebakan?

Dengan pistol di tangan Changmin membuka pintunya perlahan. Dia melihat pria yang tadi menghentikan Didi di rumah sakit.

"Ada perlu apa?"

"Seperti yang kubilang tadi, paket," Dongho tak memperlihatkan emosinya, namun benar dia membawa sebuah dus besar.

"Aku tak memesan apapun," Changmin sudah tak dalam posisi siaga, namun masih tak mau membuka pintu lebih lebar.

Dongho menghela nafas, "jujur aku terkejut melihatmu bersama Donghae waktu itu. Itu menjawab semuanya, tetapi aku tak bisa mengatakannya pada Yunho. Kau menunda terlalu lama sampai Yunho tahu sendiri dengan cara yang menyakitkan. Dia juga pindah apartemen karena tak tahan dengan memori tentangmu di sana. Jadi aku datang untuk mengembalikan barang-barangmu yang tak kunjung kau ambil."

Changmin terdiam dan menahan air mata yang mendesak keluar. Dia membuka pintu dan menerima kardus itu.

"Kau memang benar agen yang handal, bukan?" Dongho mengomentari pistol yang dibawanya.

"Kau mau masuk, atau…"

"Tidak. Aku akan pergi. Jaga dirimu."

.

.

.

.

Untuk pertama kalinya Changmin mengambil cuti. Hal yang sempat membuat bahkan atasannya terbelalak. Namun dia tak bisa dihentikan hingga atasannya yang juga adalah paman Yunho memberinya tiket liburan. Bicara soal anak buah kesayangan.

.

.

.

.

Yunho menyelesaikan pekerjaannya hari itu sedikit lebih awal. Tak ada pertemuan lagi dan tak ada undangan makan-makan juga. Atau kencan buta yang diatur oleh teman-temannya semenjak beberapa bulan setelah Yunho keluar rumah sakit.

Akan tetapi hari ini dia bebas dari itu semua dan rasanya ingin makan sesuatu yang hangat. Rasanya cukup dingin, Yunho jadi berpikir mungkin sebaiknya dia membeli mobil, bukankah dia juga sudah sejak lama mempunyai SIM? Sempat mendapat saran dan sedikit ejekan dari rekan kerjanya yang mengatakan 'Sudah punya gaji besar, kenapa tak membeli mobil?'

Waktu itu pikirannya untuk membeli rumah untuknya dan calon tunangannya.

Pertunangan itu tak pernah terjadi.

Kata temannya, sebaiknya dia menghabiskan sedikit uang untuk menyenangkan diri, melepas stres, liburan misalnya. Perjalanannya selama ini hanya untuk urusan kantor dan sedikit perjalanan ke Gwangju. Mungkin benar perlu sedikit liburan akan tetapi setelah harus berdiam di rumah sakit tanpa bisa banyak bergerak, dan harus berdiam di rumah dengan Dongho dan Didi serta teman-temannya yang lain bergantian membantu, Yunho ingin segera kembali bekerja dan menyibukkan diri.

Bulan lalu baru kembali lagi ke klub MMA, untungnya luka-lukanya tak sampai melukai organ penting. Jadi dia bisa kembali beraktivitas tanpa gangguan gangguan meski bekas luka yang tersisa ada yang cukup terlihat. Salah satu temannya sampai membawa kakaknya yang seorang dokter bedah untuk menemui Yunho. Operasi plastik untuk bekas lukanya? Ada-ada saja.

Sudahlah, hari ini dia akan cari makan di Hongdae. Ada banyak makanan di sana. Apa yang sebaiknya jadi menu makan malam? Kari daging? Steak? Menu india? Ah, sup telur dan gorengan juga lezat.

Pergi ke Hongdae dengan taxi, Yunho berjalan-jalan sedikit sambil terus memikirkan apa yang sebaiknya dia beli. Sup telur dulu untuk menghangatkan perut.

Tak ada yang aneh saat dia menyantap sup telur dan gorengan di sini. Hanya dia tak terlalu bisa makan makanan panas. Juga ada pesan dari Dongho yang menanyakan sedang ada dimana dia sekarang dan akan menyusul untuk makan kari bersama.

Yunho menyelesaikan makannya dengan santai dan keluar untuk menuju restoran kari Jepang di Hongdae. Hampir sama dengan restoran kecil yang dia datangi, reatoran kare juga tak terlalu besar. Yang agaknya berbeda dengan dengan restoran do daerah sini adalah restoran India di depan sana. Rumah makan yang cukup besar, dengan dua lantai dan dinding kaca. Cukup romantis tapi saat ini dia hanya akan fokus untuk makan saja, bukan suasana. Pernah dia ingin mengajak mantannya kesana tapi tak pernah terwujud.

Waktu hampir sampai, Yunho melihat ada seseorang yang sedang menyudutkan seorang lain yang lebih tinggi. Kalau ada tindak kekerasan yang nyata dia akan panggil polisi, jadi dia berjalan lebih pelan.

"Dengar, Jeonghoon! Aku tahu kau hanya memanfaatkan Yoora. Jika sesuatu terjadi padanya…" pria yang membelakanginya itu memberikan gestur dengan tangan di depan leher. Orang-orang sekarang begitu mudahnya memberikan ancaman kematian.

Akan tetapi pria tinggi itu bisa membalasnya seolah tak terpengaruh, "bukankah kau yang bermaksud memanfaatkannya? Kau punya maksud terhadap orang tuanya…" jawabannya begitu menantang. Namun bukan itu yang membuat Yunho berhenti berjalan dan melihat baik-baik pada pria tinggi itu. Melainkan suaranya. Suaran yang sudah tak didengarnya beberapa bulan ini.

"Aku akan membongkar identitasmu…"

"Jeonghoon?" Nama itu meluncur dari mulut Yunho. Membuat kedua pria itu menoleh ke arah Yunho. Jelas ada sepasang mata yang menatap galak padanya, dan sepasang mata yang menatapnya dengan keterkejutan. Seperti mata seekor rusa.

"Yu… Yunho hyung?" Gantian nama Yunho yang meluncur dengan sedikit tergagap.

Pria pengancam tadi kembali menoleh ke arah Jeonghoon dan bergantian menoleh pada Yunho.

"Kau ada masalah?" Yunho terdengar santai.

"Tidak," Jeonghoon menjawab sesantai mungkin.

"Lama tidak bertemu. Aku mau minum lassi dan makan kari dengan naan. Kau mau ikut? Aku akan mentraktirmu, kita bisa mengobrol banyak," Yunho kemudian melanjutkan, "kau bisa ajak temanmu ini juga."

'Teman' dari Jeonghoon ini menoleh ke arah Yunho dan Jeonghoon seakan sudah siaga jika pria ini tiba-tiba menyerang Yunho, "kami tidak hanya berdua. Ada tiga orang lagi."

"Semakin meriah, bukan?" Yunho tersenyum.

.

.

.

.

Ketiga teman Jeonghoon yang lain ternyata sudah ada di dalam restoran India, dua wanita dan seorang pria.

"Siapa yang kalian ajak ini?"

"Aku hyungnya Jeonghoon. Kami sudah lama tidak bertemu dan hilang kontak, jadi kuharap kalian akan memaafkanku. Tentu saja aku akan mentraktir kalian."

Seorang wanita semampai dengan style terkini yang cukup bold segera memeluk tubuh Jeonghoon, memaksa pria tinggi itu untuk melingkarkan lengannya ke pundak wanita berambut panjang itu, "aku kekasihnya. Kenalkan, namaku Yoora."

"Senang berkenalan denganmu, aku Yunho. Kalian sudah memesan? Ayo Jeonghoon, kau juga harus segera memesan sesuatu," Yunho duduk di salah satu kursi, bergabung bersama mereka yang sebenarnya tak jauh beda soal umur. Mungkin pakaianlah satu-satunya hal yang membuatnya tak sesuai ada bersama orang-orang ini. Masih dengan jas dan coat panjang. Akan tetapi saat melepaskan coat panjangnya, gadis selain Yoora atau mungkin juga kekasih Jeonghoon sempat terdiam dan berkedip-kedip.

Jeonghoon berusaha keras untuk tidak menelan ludah karena melihat Yunho terbalut jas yang sengaja dipesan di tempat langganannya. Jas biasa saja sudah membuatnya terlihat gagah, apalagi dengan jas yang sengaja disesuaikan ukuran dan jahitannya. Pekerja kantoran dengan badan yang bagus, andai mereka tahu Yunho juga ikut klub MMA.

"Kau pebisnis?"

"Manajer."

Seperti itukah aura yang tampak darinya?

Jeonghoon duduk tepat di depan Yunho. Bukan karena ingin menikmati pemandangan, sama sekali bukan, dia tentu saja punya peran yang harus dimainkan di sini. Sebagai seseorang yang sudah lama tak bertemu dengan Yunho. Sudah berapa lama? Dari mana dia harus memulai? Berapa bulan? Atau tahun?

Tentu saja aslinya hanya beberapa bulan saja semenjak hari itu di rumah sakit. Saat pertama kali bertemu langsung dengan ibu dan adik perempuan Yunho. Juga sepupunya Didi. Juga hari saat Dongho menyerahkan barang-barangnya yang 'tertinggal' di apartemen Yunho. Juga hari dimana dia menemukan benda dalam kardus yang Dongho berikan yang kini setia melingkari salah satu jemarinya.

"Jadi dimana kau bekerja sekarang?" Yunho bertanya. Tak salah baru saja Yunho melihat ke arah jemarinya dan mengenali benda yang dipilihnya dengan teliti dan disimpan untuk beberapa lama; yang tak pernah diberikan Yunho pada mantan kekasihnya.

Pria yang tadi mengancamnya sepertinya fokus dengan percakapan mereka berdua, yang terdengar seperti kawan lama yang lama tak bertemu. Andaikan mereka memang hanya pernah menjadi teman saja.

Tak lupa memberikan perhatian pada kekasih barunya yang manja. Namun rasa hatinya merasa tak enak. Meski ini hanya pura-pura. Meski saat ini dirinya menjadi Jeonghoon untuk mendapat sebanyak mungkin informasi tentang ayah gadis ini dan semua bisnis ilegal yang dijalankan oleh pria itu, tetap saja justru cincin yang melingkar di jemarinya menjadi ingatan tentang dirinya yang sebenarnya. Ironis apa yang tak sempat Yunho berikan padanya dengan berlutut justru selalu dikenakannya.

Shim Changmin adalah apa yang ada dibalik samaran ini.

Bahkan di saat genting saat dia dicurigai oleh teman Yoora yang Changmin duga adalah pengawas ayah Yoora, Yunho menyelamatkannya. Dia bisa pergi, pura-pura tak tahu. Mungkin rasa keadilan yang besar karena didikan pamannya, yang adalah atasan Changmin. Yang mana pun, dia kembali berhutang nyawa.

10 menit sejak mereka mengobrol, pria yang tadi mengancamnya sepertinya mulai percaya dengan identitas Jeonghoon sebab Yunho memperkuatnya. Dan dia mulai makan dalam diam. Yunho juga bisa meladeni teman wanita Yoora dengan baik dan sopan. Bahkan gadis itu sepertinya jadi merasa malu karena telah mengenakan atasan yang terbuka, satu hal yang sepertinya bukan selera Yunho.

Setengah jam berubah menjadi sejam hingga akhirnya Yunho memutuskan untuk undur diri, "ah, aku akan ke Jeju besok, kurasa aku akan pulang sekarang. Sampai ketemu lagi kalau begitu. Dan Yoora ssi, aku menantikan undangan pernikahan kalian."

Changmin mengutuk hatinya yang masih merasa sakit oleh kata-kata Yunho barusan.

.

.

.

.

Yunho sempat menoleh ke arah Changmin dan Yoora, dan bagaimana interaksi keduanya terlihat begitu natural dan mesra. Penyamaran yang hebat dan hatinys yang sempat bertingkah. Mereka dulu bahkan kesulitan untuk sekedar bergandengan tangan.

Akhirnya keluar restoran India dan berjalan ke arah restoran kari Jepang dengan kedua tangan di dalam coat panjangnya, "kau telat!" Dongho langsung mengatakannya saat Yunho masuk.

"Maaf, aku bertemu dengan teman lama… anak buah pamanku…"

Dongho mengerti bahwa ini soal kepolisian dan semacamnya. Tentu saja dia sudah mendapat banyak tekanan karena paman Yunho adalah ayah dari kekasihnya. Kenapa jadi seperti ini, Dongho masih tak mengerti.

"Makananku sampai habis, tahu!"

"Sebagai permintaan maaf, akan kubayari. Aku kebetulan akan memesan roti kari untuk dibawa pulang."

"Sebenarnya kau bertemu dengan siapa?"

Yunho hanya bergedik dan mengangkat tangan untuk memesan 4 roti kari dibawa pulang, "aku yang harusnya tanya, kukira kau akan membuang kardus itu alih-alih mengembalikannya. Kenapa? Kau tahu aku meletakkan cincin di dalamnya."

Dongho tak menjawabnya.

"Kurasa sebaiknya aku mulai cari pacar," Yunho melemparkan senyum pada Dongho, namun pria yang bisa jadi merupakan calon sepupunya itu bahkan tak bisa berpura-pura tersenyum.

.

.

.

.

.

End

Tamat

.

.

.

Sudah mulai menulis ini sejak pertengahan tahun lalu (?) Waktu selesai malah ragu2 mau posting gk posting gak posting gak.

Anyway, akhirnya bisa juga buat ending yang begini ;) bittersweet, no?

Waktu selesai baru nggeh ini ada 17.309 words, 62 halaman di MS Word. Yg bikin mikir. Ngapain si bikin sepanjang ini yg sampai males buat cek typo dll.

What da ya think?

And so I'm gonna back to my unfinished black widow fanart