Hypnosis Microphone adalah milik King Record.
Saya hanya meminjam tokoh tersebut dan tidak mengambil keuntungan apapun dari penulisan fiksi penggemar ini.
Enjoy!
remember it's samatoki x fem!ichiro
21 y.o sama and 19 y.o ichi
please press back if you don't like genderswitch.
Menghabiskan hampir seumur hidupnya mendekam di rumah sakit sudah menjadi takdir yang terpaksa dipasrahkan gadis berumur sembilan belas tahun ini. Biasanya gadis ini akan dengan semangat berusaha membuat gagasan-gagasan out of the box yang membuatnya terlibat masalah. Namun, tidak lagi ketika kekasihnya memarahinya dan mengatakan akan berhenti menjenguknya setiap hari jika gadis sulung keluarga Yamada ini tidak mau menurut.
"Hei, Samatoki-san."
Yang dipanggil menoleh untuk mendapati kekasihnya menatap keluar jendela kamar rawat inapnya. "Bagaimana jika aku tidak mendapatkan donor paru-paru yang sudah kita semua harapkan bertahun-tahun lamanya?"
Lelaki dengan usia dua puluh satu tahun itu beringsut mendekati Ichiro yang duduk di atas ranjang rawatnya. "Kenapa tiba-tiba berpikir begitu?"
"Tidak tahu..." Ichiro berbalik mendapati kekasihnya sudah duduk di pinggir ranjang miliknya, menatap Ichiro dengan lembut.
Ichiro suka tatapan itu. Walau sedih rasanya melihatnya. Bagaimana jika Ichiro pergi terlalu cepat? Ia tidak bisa lagi mendapatkan tatapan lembut penuh cinta dan rasa sayang dari kekasihnya tersebut.
"Ada yang mengganggu pikiranmu?"
Banyak.
Tangan yang lebih besar dari miliknya elus pelan rambut hitam legam panjangnya dengan lembut lalu lanjut menarik tubuh rampinh Ichiro ke dalam dekapannya, membiarkan Ichiro bersandar pada pundaknya.
"Banyak," jawab Ichiro jujur.
"Apa saja?"
"Misalnya kenapa orang-orang menamai keju sebagai keju bukan susu asin?" Ichiro berceletuk asal. "Atau kenapa roti dinamakan roti bukannya tepung padat?"
Ucapan Ichiro mengundang tawa kecil melantun dari bibir Samatoki. "Jangan berkilah."
"Aish, Samatoki-san tidak asik. Serius terus." Ichiro memprotes dengan pipinya yang digembungkan kesal, kepalanya didongak tatap Samatoki, dan netra dwi warnanya tubruk langsung kedua netra tajam kekasihnya.
"Maaf." Samatoki pilih tarik tangan kanan Ichiro yang kemudian ia kecup punggung tangannya. Membuat Ichiro memerah hebat.
"Sudah sering aku cium masih malu?" goda Samatoki.
Ichiro balas ambil tangan kiri Samatoki lalu ia gigit. "Balasan buat aku kesal!" rajuknya.
Tidak tahan dengan tingkah laku kekasihnya yang dengan cepat dapat berubah namun tetap menggemaskan (oh Tuan Aohitsugi, budak cinta sekali anda) maka Samatoki memilih lepas Ichiro dari pundaknya dan menghadiahi Ichiro hujan kecupan pada seluruh wajahnya. Ichiro tertawa geli ketika bibir Samatoki mendarat di rahangnya membuat Samatoki tambah gemas dan mengakhiri sesi gemas-gemasan ini dengan menggigit pipi Ichiro.
"Jangan digigit!!" jerit Ichiro kegelian seraya merebahkan dirinya, disusul Samatoki yang ikut berebah di kasur rawat Ichiro.
"Samatoki-san, sesak tahu."
"Biar, badanmu kan kecil ngapain merasa sesak."
"Ish."
Samatoki bersandar pada pundak Ichiro sementara Ichiro menyandarkan kepalanya di atas kepala Samatoki. Keheningan mengisi ruangan rawat inap Ichiro. Keduanya bergelut dengan pikiran masing-masing.
"Aku sayang Ichiro." Samatoki selalu penuh kejutan.
"Kenapa tiba-tiba?"
"Tidak tahu, pokoknya aku sayang Ichiro," jawabnya seraya mengaitkan jemari mereka. "Sayang pakai sekali."
"Kenapa?" tanya Ichiro, membuat Samatoki mendudukkan tubuhnya namun masih menautkan jemari mereka.
"Apa yang kenapa?"
"Kenapa Samatoki-san sayang Ichiro?" susah payah ludah diteguk Ichiro. Lidahnya kelu. Namun, ia harus mengeluarkan pertanyaan ini dari kepalanya. "Kenapa Samatoki-san harus jatuh cinta dengan seorang penyakitan seperti Ichiro? Seseorang dengan penyakit cystic fibrosis seperti Ichiro?"
"Hey, sayang—"
"—kenapa Samatoki-san tidak jatuh cinta dengan orang yang bisa membahagiakan Samatoki-san saja? Kenapa Samatoki-san lebih memilih jatuh cinta dengan Ichiro yang bahkan tidak boleh meninggalkan rumah sakit?" Ichiro memotong cepat ucapan Samatoki seraya menatap netra tajam Samatoki yang menatapnya lembut.
"Kalau aku mati—"
"Hey." Kali ini giliran Samatoki memotong ucapan gadis yang menurutnya hampir menangis ini.
"Ichiro, sayangku, manusia tidak bisa memilih untuk jatuh cinta kepada siapa, ingat?" Samatoki berucap lembut seraya tangan satunya menyingkirkan anak rambut yang menutupi salah satu mata dwi warna milik Ichiro. "Begitu juga aku."
"Aku jatuh cinta pada segala aspek yang ada pada dirimu. Sisi buruk maupun baikmu."
Ichiro memasang wajah protes. "Hey kenapa sisi buruk disebutkan lebih dulu!"
Samatoki tertawa. "Aku serius, bocah."
"Aku juga serius. Kenapa harus aku, Samatoki-san?"
"Karena hanya Ichiro yang aku inginkan. Selalu Ichiro."
Ichiro tertegun dengan jawaban Samatoki.
"Hanya Ichiro yang selalu aku inginkan untuk dicintai, untuk dihujani kasih sayang, untuk dikecup, untuk direngkuh, untuk dijaga."
Ichiro hanya dapat terdiam menatap Samatoki.
"Sesulit itu kah untuk Ichiro percaya, hm?" Samatoki usap lembut punggung tangan Ichiro menggunakan ibu jarinya.
Ichiro akhirnya buka suara, "Samatoki-san buat aku ingin menangis."
Tawa Samatoki meluncur membuat Ichiro ikut tertawa. Setidaknya, walau hidupnya mungkin tidak akan lama lagi, ia bisa merasakan menjadi orang paling beruntung di dunia. Karena ia dicintai sebegitu dalamnya oleh Samatoki Aohitsugi. Karena hanya selalu ia yang akan dicintai oleh Samatoki Aohitsugi. Bahkan, ketika ia akhirnya menghembuskan napas terakhirnya.
author note;
hahahaha...
awalnya mau bikin gemes-gemesan...
tapi...
udahlah, ini tuh juga gemes.
dangdut banget samatoki!! :
