All the characters belong to Masashi Kishimoto

.

.

.

A. Absolute

Hinata mengedipkan matanya berulang kali, mencoba menghalau air hujan memasuki matanya. Tubuhnya gemetar kedinginan, bibirnya membiru.

"Kau milikku." Desisan rendah itu membuat Hinata bergidik. Amarah memuncak dalam dirinya.

"Aku bukan milik siapa-siapa." bentak Hinata geram. Cengkraman si pria mengetat di pergelangan tangannya. "Kau menyakitiku brengsek!" umpat Hinata.

"Kau milikku, Hinata! Dan akan selalu seperti itu."

Hinata menatap murka pada onix didepannya.

"Sialan kau Uchiha Sasuke! Seenaknya saja kau..."

Makiannya terhenti ketika bibir tipis si Uchiha membungkam bibirnya. Rasa panas menjalari wajahnya yang kedinginan.

"Milikku. Kau milikku"

.

.

.

B. Bad "Girl" Gone Wild

"Ya ampun! Itu si Hyuuga?"

"Urgh, apa-apaan itu?"

"Penampilannya berbeda, ya. Lebih sexy."

"Ihh, seenaknya saja dia menggandeng Sasuke. Memuakkan."

Telinga Hinata memerah mendengar semua bisik-bisik para siswa saat dia dan Sasuke memasuki pekarangan sekolah.

"Sa-sasuke. Tolong lepaskan gandenganmu."

Sasuke menatap Hinata tajam. "Aku harus menjaga tubuhku. Aku tidak ingin kau melakukan sesuatu yang tidak senonoh pada tubuhku."

Wajah Hinata merona. "Seharusnya aku yang berkata seperti itu. Kenapa kau memakaikanku rok sependek itu? Apa-apaan dengan kemeja ketat ini? Dan kenapa kau mengikat rambutku?"

Sasuke mengibaskan rambutnya dengan culas. "Tubuh seindah ini tidak boleh disembunyikan."

Ngeri, Hinata melotot pada Sasuke yang sedang bergelayut manja padanya. "A-aku ingin tubuhku kembali!"

"Ck. Mesinnya rusak, ingat? Kata Itachi mesin itu membutuhkan waktu sebulan untuk diperbaiki."

Mata Hinata mulai memerah menahan tangis. "Ja-jadi aku harus terperangkap dalam tubuhmu selama sebulan?"

Sasuke menarik pinggang Hinata mendekat lalu berbisik ditelinganya ;

"Kamu beruntung, lho. Tubuhku itu kan…" Sasuke menghentikan ucapannya lalu dengan sengaja meletakkan tangannya diatas perut Hinata.

Wajah Hinata merona sempurna. Sasuke tersenyum mesum.

Melihat wajahnya sendiri menampilkan senyuman mesum itu membuat Hinata tidak kuat lagi.

"Kyaaaa. Sasuke-kun pingsan!"

.

.

.

C. Cat'suke'

"Duduk yang manis!"

Dengan enggan Sasuke menuruti perintah. Gadis itu mengambil sesuatu dari tasnya lalu memasangkan pada kepala Sasuke. Mencoba tenang, Sasuke mengambil nafasnya dalam-dalam lalu menghembuskannya pelahan.

"Nah sekarang tangannya!"

Sambil mempertahankan wajah datarnya, Sasuke bertanya "Apakah ini benar-benar diperlukan, Hinata?"

Sang gadis mengangguk antusias. Sasuke membuang wajahnya kesamping. Enggan menuruti perintah Hinata.

"Sa-Sasuke-kun tidak mau melakukannya ya?"

Dengan ragu-ragu, Sasuke melirik kearah Hinata. Kedua pearl milik Hinata sudah berkaca-kaca. Sasuke mengumpat dalam hati. Memaki dirinya yang langsung luluh ketika melihat kedua mata memelasHinata.

"Baiklah." ujarnya pasrah. Kedua tanganya mengepal, tangan kirinya diposisikan didekat telinganya dan tangan kanannya di dekat pipinya.

Hinata menatap Sasuke dengan mata berbinar

"Suaranya. Suaranya mana?" pinta Hinata menggemaskan.

Terbelah antara keinginan menembak dirinya sendiri atau berharap bumi menelan dirinya, Sasuke membuka mulutnya lalu berkata

"Miaww..."

Sedetik. Dua detik.

"Kyaaa. Sasu-kun kawaiii!"

.

.

.

D. Dazed

"Sasuke-kun."

Tubuh Sasuke sontak menegang. Wajahnya memerah. Keringat dingin bercucuran di dahinya. Hinata mengambil tempat duduk disamping Sasuke lalu menyentuh lengannya lembut.

"Sasuke-kun baik-baik saja 'kan?"

Sasuke menatap Hinata lalu segera mengalihkan tatapannya pada langit biru tanpa awan. Deburan ombak menyapu bibir pantai.

"Hn."

Hinata tersenyum. Semilir angin menerbangkan helaian indigo milik Hinata. Aroma lavender yang bercampur aroma laut merasuk penciuman Sasuke. Membuatnya semakin gugup. Memberanikan diri, Sasuke memanggil Hinata.

"Hi-Hinata-hime."

Hinata menatap Sasuke dengan kedua matanya yang berkilau bagai purnama.

"Ya, Sasuke-kun?"

Suara lembut itu terdengar manis ditelinga Sasuke. Wajahnya kembali merona. Telapak tangannya berkeringat.

"Sial!" maki Sasuke dalam hati.

"Kenapa aku tak bisa berpikir atau bereaksi normal bila bersamanya?"

.

.

.

E. Echo

Sasuke mengintip dari balik bayang-bayang. Menatap gadis jelita yang sedang meratap nasibnya dipinggir danau. Obsidian miliknya menyiratkan rasa iba. Masih dirasakannya getaran kemurkaan Hera disekelilingnya. Mengabur dalam bayang-bayang, Sasuke muncul disamping peri hutan yang sedang tersedu itu.

"Kau baik-baik saja?"

Gadis itu tersentak. Matanya yang sepucat purnama, memerah karena tangis. Rambut indigonya kusut. Hidungnya berair.

"Baik-baik saja." Ulang gadis itu. Air mata kembali mengaliri pipinya.

Sasuke menghembuskan nafasnya pelan. "Aku Hades."

"Hades." Gadis itu mengulang. Segera dihapusnya air mata dipipinya.

Sasuke tersenyum. "Ikutlah denganku." Titahnya.

Gadis itu menatap bingung. "Denganku?" ulangnya dengan nada bertanya.

Sasuke mengulurkan tangannya. "Ya. Akan kubuatkan taman di dunia bawah untukmu."

Gadis itu melirik sekelilingnya dengan takut. "Dunia bawah." Desahnya ragu.

"Akan kujauhkan kau dari murka Hera. Ayo." Bujuk Sasuke lagi.

Rona merah menjalari pipi si peri hutan yang pucat. Tangannya yang rapuh meraih uluran tangan Hades.

"Ayo." Ulangnya malu-malu.

Sasuke tersenyum. Lalu keduanya melebur dalam bayang-bayang.

.

.

.

F. Farewell

Hinata memasukan pakaian terakhirnya didalam koper. Sambil mendesah lelah, Hinata menutup kopernya lalu menarik risletingnya.

Ditatapnya lagi ruangan yang telah ditempatinya selama lima tahun terakhir. Hinata mendudukannya dirinya diatas kasur lalu menarik nafas dalam-dalam. Diliriknya foto diatas meja, kesal, Hinata meraih foto tersebut lalu menelungkupinya.

Diraihnya amplop yang sedari tadi ia letakan diatas bantal. Ditatapnya amplop tersebut dengan rasa sakit. Sambil menahan tangis, Hinata meletakan amplop tersebut diatas meja, disamping foto yang ditelungkupinya tadi. Hinata mengigit bibir bawahnya, mencoba menahan isak yang nyaris meluncur dari bibirnya sambil melepaskan cincin perak yang melingkar dijarinya. Diletakkannya cincin itu diatas amplop lalu diraihnya koper hitam yang sedari tadi menunggunya. Diedarkannya pandangan terakhir pada sekeliling kamar, berusaha menyingkirkan memori-memori bahagia yang kini terasa pedih. Setetes air mata menuruni pipinya.

"Sayonara, Sasuke-kun."

Kemudian pintu ditutup.

.

.

G. Gangster

"Bawa wanita itu kemari!" Perintah Sasuke pada dua ajudannya yang langsung membungkuk hormat dan bergegas keluar ruangan.

Sasuke menuang wiski dalam gelasnya dan menambahkan sekotak es batu didalamnya. Sambil menunggu, Sasuke menghabiskan minumannya dalam satu tegukan.

Wanita itu memberontak. Helaian indigonya kusut. Matanya penuh kebencian. Sudut bibirnya berdarah. Lebam kebiruan menghiasi pipi dan pelipisnya.

"Uchiha sialan!" makinya keras.

Sebuah tangan melayang lalu menampar pipi si wanita.

"Perempuan jalang! Rendahkan suaramu!" hardik ajudan Sasuke yang tadi menampar si wanita. Tangannya bergerak lagi, hendak kembali melayangkan tamparan.

"Juugo, cukup." Titah Sasuke.

Sang ajudan membungkuk hormat.

"Bawa dia kehadapanku."

Dua orang yang mengawal si wanita menariknya maju. Wanita itu memberontak. Tangannya yang terbelenggu rantai mengayun-ayun liar. Sesampainnya dihadapan Sasuke, wanita itu dipaksa berlutut.

Masih dalam posisi duduk di singgasananya, Sasuke meraih wajah wanita itu kasar.

"Hyuuga Hinata. Pimpinan kelompok Black Butterfly."

Hinata, si wanita itu meradang. "Jangan sebut namaku, brengsek! Tidak sudi namaku disebut oleh mulut busuk penghianat sepertimu."

Cengkraman Sasuke pada wajah Hinata mengeras.

"Penghianat, katamu?" geram Sasuke.

"Cuh!" Hinata meludah diwajah Sasuke. Ludah bercampur darah mendarat mulus di pipi Sasuke.

Sasuke menutup matannya, berusaha menahan gejolak amarah atas penghinaan yang diberikan Hinata. Tangannya bergerak, lalu sebuah tamparan keras mendarat dipipi Hinata.

"Sialan kau Hyuuga! Akan kupastikan seluruh anggota Black Butterfly hancur dengan tanganku sendiri!" ancam Sasuke. Sebelah tangannya mengusap ludah Hinata di wajahnya.

Hinata terkekeh. Bibirnya pecah akibat tamparan Sasuke tadi.

"Uchiha, kau menyedihkan!"

Sirene polisi berbunyi nyaring diluar. Sasuke membeku. Hinata menyeringai iblis. Diludahnya alat pelacak yang ditempel digigi gerahamnya. Sasuke terperanjat.

"Kau tidak lupakan, kalau kakakku pemimpin Satuan Kepolisian Tokyo?" ejek Hinata pada Sasuke.

Pintu ruangan didobrak. Sasuke membatu.

"Busted!"

.

.

.

H. Harangue

"Sasuke! Sasuke!"

Sasuke membuka matanya malas. Semilir angin memainkan helaian indigo milik gadis yang sedang berdiri disampingnya. Aroma manis susu sapi menguar dari tubuh si gadis.

"Sasuke! Bangun!"

"Hn." Sasuke menutup matanya lagi. Sang gadis menghentakan-hentakan kakinya kesal.

"Sasuke! Kau seharusnya membantu kak Itachi di ladang! Atau membantu paman Fugaku memancing disungai! Dasar pemalas! Sedari tadi Bibi Mikoto mencarimu. Dia khawatir karena kau belum makan siang. Bangunlah pemalas! Kalau seperti ini terus, kau tidak akan bisa menikah! Perempuan mana yang ingi menikah dengan pemalas sepertimu? Lihat lenganmu! Kau pasti tidak pernah bekerja sehingga lengan itu terlihat seperti..."

"Hinata." panggil Sasuke.

Hinata menghentikan ocehanya lalu menatap Sasuke yang masih berbaring dirumput. "Ya?" jawabnya kesal.

Sasuke bangkit dari tidurnya, dalam posisi duduk, Sasuke menengadah menatap Hinata.

"Sudah selesai?" tanyanya.

Hinata mendengus. "Selesai apanya?"

Sasuke mengacak rambutnya. Beberapa helai rumput kering berjatuhan.

"Pidato. Pidatonya sudah selesai?"

Hinata menarik nafas dalam dan menghembuskannya dengan kasar.

"Sudah!"

"Bagus. Duduklah disini." Ucap Sasuke sambil menepuk rumput disebelahnya. Hinata menurut. Baru saja si gadis selesai merapikan gaunnya, Sasuke langsung merebahkan kepalanya ke pangkuan si gadis.

"Sasuke!" pekik Hinata protes.

"Shh! Diamlah Hinata!"

"Ta-tapi..."

"Diamlah sebentar." Hinata menurut lagi.

Angin memainkan helaian rambut Hinata. Bunga-bunga daisy bergoyang. Burung-burung bercicitan. Sengatan matahari melembut. Langit bersih tanpa awan.

"Ini cuaca yang bagus untuk bersantai, bukan?"

Hinata mengembangkan senyum. "Ya."

.

.

.

I. Ink

Hinata menatap kesal pada noda ditanganya. Noda itu merambat pada apapun yang disentuhnya. Baju, blazer, kertas, mug, pulpen, hingga ponselnya. Masih sambil bersungut-sungut, Hinata meraih ponselnya lalu menghubungi tunangannya, Uchiha Sasuke.

"Ya?"

"Sasuke, tolong aku." Rengek Hinata.

"Ada apa?"

"Aku telah ternoda, Sasuke. Tolong aku." Hinata makin merengek.

"Ternoda? Siapa yang melakukannya?" Suara Sasuke terdengar panik disebrang.

"Urgh, pokoknya aku sudah ternoda, Sasuke." Hinata mengadu.

"Aku kesana. Jangan tutup teleponnya. Bila dia macam-macam lagi, teriak saja."

Hinata mengerutkan keningnya bingung. "O-oke.''

Tidak sampai lima menit, Hinata mendengar derap sepatu mendekat. Pintu ruang kerjanya menjeblak terbuka. Disana berdirilah Sasuke bersama Juugo dan Lee, kepala keamanan kantor.

"Dimana?" tanya Sasuke. Matanya menatap sekeliling ruangan dengan nyalang. Hinata melongo.

"Dimana dia, Hinata? Apa yang dilakukannya padamu?" Sasuke berjalan mendekati Hinata.

"Berhenti disana, Sasuke!" Hinata berseru panik.

"Kenapa, Hime?" Sasuke bingung.

"A-aku telah ternoda! Jangan dekati aku!"

"Hime... Siapa yang telah menodaimu?" Sasuke bertanya lagi, sambil menatap Hinata cemas.

Tanpa ragu-ragu, Hinata menujuk ke satu arah. "D-dia!"

Sasuke, Juugo dan Lee sontak melihat kearah Hinata.

Hening.

"Printer?" ucapan Lee memecahkan keheningan yang mulai terasa horor.

Hinata mengangguk membenarkan. "Tintanya bocor dan menodai seluruh barang-barangku." Jelas Hinata polos.

"Lihat tanganku! Aku ternoda, Sasuke!"

.

.

.

J. Jealous

"Kenapa?"

Hinata berbalik menatap objek yang sedari tadi diajaknya berbicara.

"Kenapa?" Hinata bertanya lagi.

Hening.

Masih tidak ada jawaban.

"Uchiha Sasuke! Jawab aku!" Kali ini dia berteriak. Air mata mengaliri pipi porselennya.

Senyum miris terukir dibibirnya. "Bosan, ya? Kau bosan padaku hingga akhirnya kau tidur dengan jalang itu!"

Hinat mengepalkan tangannya lalu memukul-mukul dadanya sendiri berulang kali.

"Sakit. Ini sakit, Sasuke." Ratapnya pilu.

Hinata berjalan menuju sosok pria yang dicintainya.

"Jawab aku, Sasuke. Sebegitu bosannya 'kah kau padaku?" Hinata mendekat. Jemari lentiknya mengusap permukaan kaca yang membatasinya dengan orang tercinta. Bunyi gelembung cairan pengawet membuat Hinata tersenyum kecut. Kilatan sinting muncul dimatanya.

"Seharusnya kau jangan membuatku cemburu, Sasuke."

Hinata menarik nafas. Bau cairan kimia merasuk hidungnya.

"Setidaknya dengan begini, kau akan tetap bersamaku."

.

.

.

K. Key

Sasuke mengepakkan sayap hitamnya. Matanya menyorot tajam kebawah. Dalam wujud ini kegelapan malam tak lantas membuatnya kesusahan melihat.

Gelisah. Sasuke menghapus keringat dingin didahinya. Kembali terngiang kemurkaan ayahnya.

" Kalau kau tidak menemukan kunci itu sebelum fajar. Kupastikan tulang-tulangmu patah dengan kedua tanganku sendiri! "

" Sial! " umpatnya. Fajar tinggal beberapa jam lagi dan dia belum juga menemukan kunci yang tidak sengaja dihilangkannya. Kunci yang sangat penting. Kunci hatinya.

Sebagai manusia setengah iblis, Sasuke membutuhkan kunci itu agar bisa mengeluarkan hatinya dari tubuhnya. Darah iblis terlalu asam, dan jika hatinya tidak dikeluarkan untuk dicuci dengan darah malaikat secara berkala, Sasuke akan mati.

Sasuke berhenti dipucuk pohon sambil tetap mengawasi sekelilingnya ketika matanya menangkap sosok seorang gadis yang sedang duduk diatas batu dengan tampang kalut. Sasuke membentangkan sayapnya lalu mendarat dibelakang sang gadis tanpa suara. Sasuke lalu merapal mantra agar dirinya terlihat seperti manusia biasa.

"Siapa kau?" tanyanya.

Gadis itu berbalik menghadap Sasuke dan terperanjat.

"Na-namaku Hinata."

Sasuke terpaku. Gadis itu benar-benar cantik. Gadis itu bercahaya, dalam artian harafiah. Mahkota indigonya tergerai lembut. Bibir yang mungil dan hidung yang mancung. Bulu matanya lentik. Dan matanya...

"Purnama penuh." Bisik Sasuke tanpa sadar.

"Tuan. Tolonglah aku." Perkataan itu membuat Sasuke tersadar dari kekagumannya.

Melihat tidak ada tanggapan dari Sasuke, gadis itu melanjutkan.

"Aku kehilangan pemilikku."

Sasuke mengerutkan keningnya. "Pemilik?"

Gadis itu mengangguk.

"Namanya Sasuke Uchiha. Aku adalah kunci hatinya."

.

.

.

L. Liar

"Aku mencintaimu." Hinata berbisik di telinga Sasuke.

Sasuke tersenyum lalu mengeratkan pelukkannya pada Hinata. Tangan Hinata bergerak, lalu mulai mengelus punggung Sasuke.

"Sangat. Aku sangat mencintaimu." Bisiknya lagi.

Sasuke mengurai pelukannya lalu menatap kedua mata Hinata.

"Katakan lagi." Pintanya

Hinata tersenyum. "Aku sangat mencintaimu, Sasuke."

"Pembohong." batin Sasuke menjerit. Kebohongan itu terlukis jelas dalam mata sang kekasih.

"Aku mencintaimu, Sasuke." Hinata mengulang perkataannya.

Hatinya terasa terbelah. Matanya terasa pedih.

"Pembohong." Jeritnya diam.

Sasuke mengangkat kedua tangannya lalu mengelus pipi Hinata yang selembut satin. Hinata tak bereaksi. Matanya masih menatap Sasuke. Kosong. Hampa. Senyum masih melekat dibibirnya.

"Terima kasih." Bisik Sasuke pada Hinata.

"Terima kasih telah membohongiku."

Tangan Sasuke meraih tengkuk Hinata dan menekan tombol daya yang tersembunyi disana. Cahaya dimata Hinata meredup, lalu mati.

.

.

.

M. Mauve

Sasuke mencampur warna-warna di palletnya.

"Tidak. Bukan seperti ini." Bisiknya geram.

Sudah dua minggu ini Sasuke uring-uringan. Lukisan utamanya macet ditengah jalan. Berulang kali Sasuke mencampur warna untuk sentuhan akhir pada lukisannya, namun ia belum juga menemukan warna yang tapat.

Kesal, Sasuke membanting palletnya dilantai. Warna-warna terciprat kesegala arah. Belum puas, Sasuke mearaih botol-botol dan tube warna lalu melemparkannya kedinding. Diambil kuas-kuasnya lalu dengan amarah yang mengebu-gebu, dipatahkannya kuas-kuas itu. Salah satu patahannya menusuk tangannya hingga berdarah.

"Arrgh!" Jeritnya kesal.

Tanpa memperdulikan studionya yang kacau balau, pakaianya yang penuh noda cat atau tangannya yang terluka, Sasuke menyambar jaket lalu pergi keluar.

"Segelas kopi akan mengembalikan kewarasanku." Pikirnya.

Sasuke melangkahkan kakinya dengan berat dalam kepadatan Shibuya. Udara mulai terasa dingin, Sasuke mengupat dalam hati karena melupakan sarung tangannya. Mempercepat langkahnya, Sasuke berbelok lalu masuk kedalam cafe. Sasuke mengambil tempat disudut. Seorang pelayan menghampiri dan mencatat pesananya. Sambil menghembuskan nafasnya, Sasuke kembali memikirkan warna yang tapat untuk lukisannya. Saat pesanannya datang, Sasuke sudah kehabisan warna untuk dipikirkan.

Sasuke sedang mengangkat cangkirnya ketika sebuah suara menghentikannya.

"Sasuke-kun."

Sasuke mengalihkan perhatian pada sumber suara. Seorang wanita berdiri disampingnya. Mengenakan mantel berwarna putih gading dan syal ungu, raut wajah wanita itu tampak ragu.

"Kamu, Uchiha Sasuke, kan?" tanyanya.

Sasuke mengangguk. "Hn."

Wanita itu tertawa lembut. Diselipkan helaian indigonya kebelakang telinga.

"Syukurlah aku tidak salah orang. Sasuke-kun masih ingat aku, kan?"

Sasuke menelengkan kepalanya. Lalu menggelengkan dengan raut wajah yang menyiratkan permintaan maaf.

Wanita itu mengerucutkan bibirnya lucu. "Aku Hinata. Hyuuga Hinata. Kita sebangku selama tiga tahun di SMA. Ingat?"

Sasuke terperanjat. "Hinata?"

Wanita itu tertawa lalu mengangguk. "Boleh aku duduk disini?"

Sasuke mengangguk. Tanpa sengaja, pandangan mereka bersibobrok. Manik ungu pucat milik Hinata menatap obsidian Sasuke penuh kebahagiaan.

"Mauve." Sebuah suara berbisik disudut otak Sasuke.

Sasuke tersenyum lalu berhenti memikirkan lukisannya distudio.

Dia sudah menemukan warna yang tepat.

.

.

.

Mini dictionary :

1. Dazed ( adj )

Unable to think or react normally

2. Echo (n)

- Sound reflected off a surface so that it seems to be repeated

- Greek myth ; narcissus and echo

3. Harangue (v)

Speak loudly and angry to sb in a way that criticizes them

4. Mauve (adj, n)

Pale purple color

Note:Pernah di publikasikan di Grup Lovely Fanfics of Sasuhina di Facebook, 3 Maret 2017