All the characters belong to Masashi Kishimoto
.
.
.
Marry Me?
Oneshot by Sweet Sugar Lollipop
.
.
.
Hinata terdiam. Kepalanya menunduk.
'Sekarang bagaimana?' Pertanyaan itu terus berputar diotaknya. Haruskah dia marah? Tapi apa haknya? Haruskah dia menangis? Tapi untuk apa?
"Hinata?"
Sambil berhitung sampai sepuluh, Hinata memberanikan diri menatap pemuda berambut merah didepannya.
"Maafkan aku."
Hinata menghembuskan nafasnya pelan.
"Tak apa, Gaara. Aku, mendukungmu."
Iris jade itu melebar tak percaya.
"Sungguh?"
Hinata mengangguk.
"Arigato, ne. Kamu sahabatku yang terbaik!" Senyum yang telah lama menghilang kembali muncul di bibir Gaara.
"Kalau begitu tunggu apa lagi? Sana, pergi nyatakan perasaanmu."
Gaara mengangguk. "Kau akan menghiburku bila aku ditolak, bukan?"
Hinata memaksakan sebuah senyum.
"Kau tidak akan ditolak, Gaara."
Gaara tertawa lalu melangkah pergi. Kepala Hinata terasa pusing. Dikeluarkannya sekotak rokok menthol dari tas tangannya. Hinata baru saja hendak menyulut rokok yang telah terjepit diantara bibirnya ketika sebuah suara menginterupsinya.
"Merokok tak baik untukmu."
Hinata melirik kesamping lalu menyalakan lighter.
"Bukan urusanmu, Sasuke."
Sasuke tersenyum miring. "Bukannya seharusnya kau patah hati?"
Hinata memutar matanya bosan. "Kau menguping, ya?"
Sasuke tergelak. "Tentu saja tidak. Aku hanya kebetulan lewat sini."
Hinata meniupkan asap rokok yang ditahannya pada Sasuke. "Stalker."
Sasuke mengibaskan tangannya menghalau asap. Keningnya berkerut. "Hei, kalau mau mati jangan ajak aku." Protesnya.
"Terserah. Aku mau pulang." Ucap Hinata lalu mulai melangkahkan kakinya. Sambil mengeluh tentang salju yang tebal, Hinata kembali menghirup rokoknya dalam-dalam. Trotoar terasa licin karena salju. Selangkah, tiga langkah, lima langkah.
"Hei, Hinata!" Panggil Sasuke.
Hinata menoleh. "Apa?" Jawabnya ketus.
"Karena sepertinya cintamu tidak akan terbalaskan, bagaimana kalau kita menikah saja?"
Hinata menaikkan sebelah alisnya, tertarik.
"Apa kau sedang melamarku?"
Sasuke tertawa. "Tentu saja tidak. Aku hanya mengusulkannya."
Hinata menghirup rokoknya sekali lagi. Bibir tipisnya menghembuskan asap rokok perlahan.
"Baiklah. Ayo kita menikah."
"Hah?"
"Tuli, ya?"
Sasuke mengerjabkan matanya takjub.
"Kau setuju?"
"Ya."
"Begitu saja?"
"Ya."
Sasuke menggaruk kepalanya canggung.
"Kau yakin?"
Hinata mengerutkan keningnya.
"Kau berubah pikiran?"
"Tentu saja tidak."
Hinata menjatuhkan rokoknya keatas salju lalu menginjaknya.
"Kalau begitu aku mau cincin berlian yang besar sebagai cincin pernikahan."
Sasuke mendengus. "Matre."
Hinata terkekeh. "Aku juga mau rumah. Aku tidak ingin tinggal bersama keluargamu. Oh, aku juga ingin berbulan madu di London."
Sasuke tersenyum. "Anggap saja semuanya sudah beres. Maukah kau menikah denganku besok?"
Hinata mengedikkan bahunya acuh. "Tergantung."
"Pada?"
"Ayahku."
Sasuke berjalan mendekat lalu meraih tangan Hinata, menyelipkan jemarinya diantara ruang jari sang gadis.
"Kalau itu juga sudah beres, mau menikah denganku besok?"
Hinata tertawa. "Ya."
Sasuke menarik Hinata mendekat lalu memeluknya. Tawa Hinata merambat hingga Sasuke juga ikut tertawa.
"Aku serius, lho."
"Aku juga."
Hening. Salju kembali berjatuhan.
"Sejak dulu, aku sudah suka padamu."
"Sejak dulu, yang aku suka itu kamu."
.
.
.
FIN
.
.
.
Note:
Pernah di publish di Grup Lovely Fanfic of Sasuhina di Facebook, 16 Oktober 2016
