Lulus
by Vira D Ace
Bungou Stray Dogs belong to Asagiri Kafka and Harukawa Sango
[little note: Indonesia!AU, gaje bin lebay, judul menipu?]
Happy reading!
~o~
Kelulusan tahun ini memang berbeda dari tahun-tahun sebelumnya.
Mata Atsushi tidak lepas dari layar ponselnya. Jemarinya lincah meng-scroll layar, memerhatikan ratusan postingan berisi ijazah online ataupun foto kumpulan siswa dengan seragam yang dicoret-coret—baik secara langsung maupun via picsart—bertebaran di timeline, lengkap dengan tagar #LulusJalurCorona yang baru saja jadi trending topic sejak beberapa jam lalu.
Pemuda itu menghela napas. Rasanya ingin ikut membagikan keluh kesahnya juga, mengingat beberapa jam lalu ia baru saja menerima lembar ijazah berformat PDF yang menyatakan dirinya lulus. Tapi keinginan tersebut diurungkan, karena takut dibully oleh kakak-kakak kelas maha laknat—apalagi yang punya titel Dazai Osamu di atas nama Nakajima Atsushi dalam kartu keluarga—yang kebetulan tahu akunnya, seperti sebagian orang yang membagikan foto-foto seragam sekolah warna-warni hasil cat semprot sembari menggantung tagar #LulusJalurCorona.
Sungguh, ingin sekali pemuda itu mengacak-ngacak wajah siapapun yang menggantung tagar itu hanya demi membuat angkatan yang lulus tahun ini iri setengah mampus.
Padahal Atsushi sudah dapat izin dari sang Mama, supaya bisa ikut corat-coret seragam bareng teman-temannya begitu lulus. Sayang sekali takdir tidak mengizinkan, hingga perayaan kelulusan dengan teman-teman seangkatan tahun ini hanya bisa dilakukan via grup chat, saling mengirim foto buket bunga ataupun seragam yang dicoret-coret pakai picsart, juga ucapan selamat karena akhirnya bisa lulus meski suasananya menyedihkan.
Mana Dazai selaku abang tak berbudi menertawainya tadi siang, gara-gara tahu Atsushi baru saja menerima ijazah onlinenya.
"Liat, nih. Ini Abang sama temen-temen Abang waktu lulus. Keren gak tuh?"
Atsushi hanya bisa elus dada ketika Dazai pamer foto dirinya dan teman-teman seangkatannya yang berpose ria dengan seragam putih abu-abu yang dicoret cat semprot. Lagi puasa, Atsushi tidak boleh menyumpah, mengamuk, apalagi menghajar kakak laknatnya ini—tunggu buka puasa, barulah Atsushi bisa mengajaknya perang sarung.
"Hngh ..." Atsushi meregangkan diri. Berlama-lama rebahan di atas kasur sambil scrolling sosmed bisa melelahkan juga rupanya. Untungnya tidak sampai haus, karena waktu berbuka masih bisa dikatakan lama.
Pemuda berhelai putih itu beranjak duduk. Iris ungu kekuningannya mengedar ke seluruh penjuru kamar. Kamarnya rapi—tidak ada yang perlu dibereskan. Buku-buku pelajaran yang ada di atas meja juga tertumpuk rapi berdasarkan ukuran dan jenis—meski sebenarnya Atsushi tidak peduli, toh nampaknya ia tidak akan membuka buku-buku itu lagi dalam waktu lama, apalagi buku bertitel Matematika Wajib yang isinya penuh coretan penuh nestapa, derita selama 3 jam dikali sekian minggu karena Atsushi tidak paham materi.
Mengetahui tidak ada yang perlu dilakukan, sekaligus disadarkan untuk kesekian kali kalau waktu berbuka puasa masih lama, Atsushi memilih untuk kembali rebahan, sekaligus berjibaku dengan ponsel. Rewatch beberapa anime mungkin bisa membantunya membunuh waktu, hitung-hitung meredakan kekecewaan akibat rencana merayakan kelulusan yang berantakan akibat pandemi, juga kekesalan karena garam dari abang tercinta.
Namun, niat buat menonton ulang anime yang tayang musim semi tahun lalu itu agaknya harus ditunda, ketika telinga Atsushi yang belum disumpal earphone mendengar suara ketukan pintu disertai sebuah panggilan yang berbunyi, "Dek, bantuin Abang bersih-bersih, sini! Disuruh Mama tadi!"
~o~
"Dek, itu lantai di bawah sofa udah disapu?"
"Eh, belum—" Atsushi yang kedapatan bagian menyapu buru-buru mengarahkan sapunya ke bawah sofa. Dazai yang mengingatkan tadi lanjut mengelap jendela. Suasana kembali berubah hening karena setelahnya tidak ada yang bicara.
Atsushi menyelesaikan pekerjaannya lebih dulu ketimbang sang abang. Begitu selesai, ia menyandarkan sapu di dekat dinding, lalu duduk lesehan di lantai. Sesekali irisnya melirik Dazai yang—tumben sekali mau—berjibaku dengan jendela, lengkap dengan kain lap dan semprotan pembersih kaca. Barangkali berkah Ramadhan, makanya Dazai mau-mau saja bersih-bersih, meski kadang-kadang kelakuannya masih sebelas dua belas dengan setan yang belum dikurung—untuk testimoninya silakan lihat kejadian beberapa jam lalu.
"Kalo udah selesai, balik ke kamar aja, Dek," Dazai tiba-tiba berkata ketika iris cokelat manisnya tak sengaja bertemu dengan sepasang iris ungu berbubuh kuning.
Atsushi mengerjap. "Ah, ya-"
Mungkin setengil-tengilnya Dazai saat menggoda adiknya, pemuda itu masih punya sisi baik—
"Oiya, kalo udah update ss-an ijazahnya di twi*tter, mention Abang, yak? Ntar Abang bales pake foto kelulusan Abang dua tahun lalu."
—lupakan. Dazai memang sudah mirip setan dari sananya, dan Atsushi mau tidak mau harus mengakui.
Mendengar celetukan tadi membuat Atsushi langsung menatap kakaknya tajam. Si bungsu mendengus keras seraya mengerucutkan bibir. Dazai menghentikan pekerjaannya sejenak—mengelap kaca jendela rumah—dan balas melirik adiknya. Seketika pemuda itu tertawa keras.
"Abang ih!"
"Wajahmu lucu, sumpah—AHAHAHA!"
"Ish," Atsushi makin cemberut, kesal karena punya kakak modelan gini. Dazai masih tertawa. Atsushi diam-diam menunduk. "... Padahal aku sama temen-temen sudah ada rencana ..."
Tawa Dazai berhenti. Pemuda itu masih menatap Atsushi, meski senyum tengilnya belum hilang juga. "Mau ngapain? Corat-coret seragam?"
"Lebih dari itu," Atsushi mendengus. "Abang pernah lulus SMA juga, jadi pasti Abang tau kami mau ngapain aja."
"Pfft ..." Dazai terkekeh ringan. Meninggalkan kain lap dan botol semprotan tadi di depan jendela, pemuda itu melangkah ke arah Atsushi, kemudian berjongkok di depannya yang masih duduk di lantai. "Abang tahu, kok."
Berfoto dengan kawan-kawan sekelas, lalu bersalaman sekaligus minta maaf dan mengucapkan terima kasih atas ilmunya pada guru-guru tercinta, juga melepas perpisahan dengan tangis seolah tidak akan bertemu lagi untuk selamanya. Tentu saja Dazai tahu, karena ia mengalaminya juga 2 tahun lalu. Waktu Dazai lulus Atsushi masih kelas satu, dan waktu itu pula Dazai berpesan pada adiknya, supaya melewati 3 tahun masa SMA dengan sebaik-baiknya.
Kelulusan Dazai jelas jauh berbeda dengan Atsushi. Tidak ada tangis, bersalaman dengan guru, apalagi berfoto ramai-ramai buat terakhir kali. Makanya Atsushi kesal ketika Dazai menggarami, karena momen berharga yang ia nantikan sejak lama terpaksa dibatalkan lantaran faktor keadaan.
"Terus Abang masih ngegaremin ..." lagi, Atsushi mendengus. "Aku juga mau, tahu?"
"Ya ... Abang tahu sih, sakit rasanya kalau perpisahan nggak dilewatkan dengan acara-acara besar," Dazai merangkul adiknya. "Tapi begini-begini ada dampak positifnya juga, kok—Mama pernah bilang kalo seragam putih semasa sekolah itu disimpan saja, daripada dijadikan kanvas buat corat-coret."
"Tapi kan Mama udah ngasih izin kemarin."
"Mama mah ngomongnya doang boleh, dalem hati mana tau—kayak Abang pas lulus kemaren, corat-coret seragam, pulang-pulang Mama misuh sendiri."
"Pfft, serius?"
"Lagi puasa nggak boleh bohong, nih~"
Atsushi terkekeh ringan. Dazai ikut tertawa ketika mendapati wajah cemberut adiknya barusan seketika berubah jadi senyum geli.
"Lagian juga, beberapa bulan habis lulus itu, Abang baru sadar," Dazai mendengus kecil seraya tersenyum tipis. "Kayak, anjir—gua nyorat-nyoret seragam abis lulus kemaren buat apaan coba? Seneng dan puasnya sebentar doang, abis itu bingung sendiri."
Atsushi turut mangut-mangut. "Hee ..."
"Tapi foto hasil corat-coret seragamnya ada gunanya juga, lho."
Dahi Atsushi mengernyit. "Hah?"
"Itu, lho~" Dazai terkikik. "Lumayan, bisa dipake buat ngegarem adek sendiri begitu dia lulus—bhaks!"
"Ish!"
Lagi-lagi Dazai tertawa keras. Atsushi mendelik sambil mendengus kasar. Namun, setelahnya, pemuda berhelai keperakan itu ikut terkekeh, karena perasaannya sudah lebih baikan ketimbang sebelumnya.
-end-
Meski aku bukan salah satu siswa yg lulus tahun ini (ya aku lulusnya tahun lalu, itupun lulus SMP :'u), tapi terima kasih pada salah satu temen yang ngeliatkan tagar twitternya di SW (aq jarang buka twt maap-), juga obrolan sama salah satu kakak sepupu yang lulus SMA tahun ini (dan digaremin kakaknya, meski topiknya bukan soal corat-coret seragam putih abu-abu), diriku jadi kepikiran buat nulis fic gaje bin lebay ini- /woe
Anyway, buat para kakak-kelas tahun terakhir yang baru aja lulus, selamat! Meski acara perpisahan nggak bisa dilakukan seperti angkatan tahun-tahun sebelumnya, tetep semangat! :'D
