All characters belong to Masashi Kishimoto

.

.

.

Regret

A oneshot by Sweet Sugar Lollipop

.

.

.

Hanya karena Naruto tidak menangis bukan berarti dia tidak tersakiti. Hanya karena Naruto sanggup berdiri tegap sambil tersenyum lebar, bukan berarti dia bahagia.

"Selamat atas pernikahannya, Sasuke, Hinata."

"Terima kasih, Naruto." Yang menyambutnya dengan senyum merekah indah adalah Hinata. Naruto merasa luka hatinya tercubit. Perih.

"Kenapa kau datang?" Pertanyaan ketus itu dari Sasuke. Naruto tahu, sampai kapanpun Sasuke tidak akan pernah memaafkannya.

"Aku hanya ingin melihat Hinata untuk yang terakhir kalinya."

Mereka terdiam. Udara penuh rasa canggung merebak.

"Papa!" Suara kecil itu membuat Naruto tersentak.

'Himawari.' Bibirnya nyaris meletuskan nama yang terus membayanginya beberapa bulan terakhir. Badannya refleks berbalik kearah suara.

Disanalah putri kecilnya, mengenakan gaun putih berbunga merah muda, rambut indigo sebahunya tampak lembut berkilau, dua garis tanda lahir dimasing-masing pipinya yang bersemu merah.

'Kau akan meninggalkan Hinata yang tengah hamil? Apa yang ada dikepalamu?' flashback tudingan yang diberikan Sasuke padanya empat tahun lalu masih terngiang jelas dikepalanya.

'Aku harus pergi! Aku tidak ingin menjadi ayah diusia semuda ini, Sasuke.'

'Brengsek kau! Umurmu 21 tahun, sialan! Hinata masih 19!'

'Aku tidak peduli, Sasuke! Aku masih ingin bebas.'

'Dasar bajingan tengik! Kau akan menyesali ini, Naruto!'

Setetes air mata menjatuhi pipinya. Ingatan itu meninju tepat pada egonya. Kini Naruto menyesal. Melihat tawa Himawari, senyum Hinata dan keposesifan Sasuke membuat Naruto menyesali perbuatan pengecutnya dulu.

"Papa!" Himawari berlari mendekat.

Sebelum Naruto bereaksi, Himawari telah masuk dalam pelukan Sasuke yang kini tertawa lebar.

Kaget dengan ekspresi yang ditunjukkan Sasuke, Naruto tanpa sadar mundur selangkah. 15 tahun berteman dengannya, Naruto tidak pernah mendengar Sasuke tertawa sebahagia itu.

"Setelah ini, Papa akan pulang kerumah, bukan?"

Sasuke tersenyum lalu mencubit pipi Himawari gemas. "Tentu saja, Hima sayang. Karena Papa sudah resmi menikah dengan Mama, Papa tidak akan pergi lagi."

Sebelah tangan Himawari terulur menuju pipi Ibunya. "Hima sayang Papa dan Mama."

Hinata meraih tangan kecil Himawari lalu mengecupnya.

"Mama dan Papa juga sayang Hima."

Naruto berbalik lalu bergegas meninggalkan taman tempat resepsi pernikahan Sasuke dan Hinata. Tidak ada tempat untuknya disini.

Naruto sampai digerbang taman dengan cepat. Disamping mobilnya, berdirilah Sakura.

"Bagaimana?"

Tenggorokannya tercekat. "Mereka bahagia, Sakura."

Sakura menepuk bahu Naruto dengan rasa prihatin.

"Setidaknya mereka berada ditangan yang tepat, Naruto."

"Aku tahu."

Hening.

"Sasuke akan membahagiakan mereka. Hinata adalah hidupnya, segalanya bagi Sasuke."

Naruto terdiam. Walaupun masih sakit, tetapi hatinya lega.

Untuk terakhir kalinya Naruto melayangkan tatapannya pada taman itu.

"Mereka akan baik-baik saja."

.

.

.

FIN

.

.

.

Note :

Pernah di publish di Grup Lovely Fanfic of Sasuhina di Facebook, 4 Mei 2017