All the characters belong to Masashi Kishimoto
.
.
.
After Death
Oneshot by Sweet Sugar Lollipop
.
.
.
Hinata terpaku. Sebelah tangannya bertumpu pada meja, menopang dagunya. Buku catatan terbuka lebar didepannya. Matanya fokus menatap punggung seseorang didepannya yang sedang tertawa bersama sahabat-sahabatnya. Tanpa sadar Hinata tersenyum sendiri. Lonceng istirahat berbunyi, sosok berambut merah muda datang, menyedot seluruh perhatian kelas ketika dengan anggunnya dia melangkah masuk, dan langsung bergelayut manja pada seseorang yang sedari tadi diperhatikan Hinata. Hinata mengalihkan pandangannya kearah buku yang terbuka lalu mendesah.
Sunyi. Tidak ada siapa-siapa disini. Hanya ada dirinya. Hinata memperhatikan sekelilingnya, noda jelaga berbekas ditembok yang dulu putih gading, kaca jendela menguning buram. Meja-meja menghitam, kursi-kursi meleleh, bekas-bekas kebakaran ada dimana-mana. Tidak ada buku yang terbuka dimejanya, tidak ada suara tawa, dunia diluar terlihat hitam-putih, sepi mulai terasa menggigit.
"Sudah puas?" suara baritone itu mendinginkan waktu. Sesaat segala memori membeku.
Hinata bangkit berdiri, kursi yang dari tadi didudukinya langsung hancur menjadi debu. Hinata berbalik lalu menatap pria dengan irish semerah darah yang sedari tadi menunggunya.
"Belum."
Si pria menatap Hinata tajam. "Kita tidak bisa terus menerus berada disini, Hinata."
Hinata tersenyum. "Ini pertama kalinya kau memanggil namaku." Sesaat, pria itu membelalak kaget, namun ekspresi datar kembali mengambil alih otot-otot wajahnya.
"Apa ada yang ingin kau kunjungi lagi?"
Hinata tersenyum lagi. Sebulir air mata menuruni pipinya.
"Satu memori lagi. Dan aku siap pergi."
.
.
.
Ruangan itu penuh sesak. Hinata merasa oksigen mulai menipis, rasa sesak mulai menghimpit paru-parunya.
Hinata berdiri di dihadapan pria berambut emo yang sedang terlihat gugup dalam balutan tuxedo putih. Selubung tipis yang menutupi kepalanya tidak menghalanginya melihat betapa tampannya pria yang berada dihadapannya saat ini. Hinata tersenyum. Sebelah tangannya memegang erat buket bunga, sedangkan sebelah tangannya berada dalam genggaman si pria. Prianya, suaminya, dunianya, Sasukenya.
Sasuke membungkuk, hingga bibirnya sejajar dengan telinga Hinata. Tangannya dengan lembut menarik Hinata mendekat. Pipi Hinata merona merah.
"Aku akan mencintaimu, kemarin, sekarang, nanti dimasa depan. Mencintaimu melewati batas waktu yang berlaku, mencintaimu menembus dimensi dunia, mencintaimu tanpa ragu. Kita adalah satu, selalu dan selamanya."
Buket bunga yang digenggamnya terjatuh, tangannya yang kini terbebas dari buket mengelus pelan pipi pria pujaannya.
"Kita adalah satu, selalu dan selamanya."
Bayang-bayang mengabur. Tidak ada Sasuke dihadapannya. Buket bunga yang terjatuh tadi telah menghitam. Kelopak-kelopak mawar itu rontok. Hanya ada Hinata, dengan balutan gaun putih yang kini penuh bercak darah merah. Potongan-potongan artikel koran menghujaninya. Hinata menangkap selembar artikel yang melayang didepannya. Headline artikel itu menghujam hatinya.
"TERORIS? BOM DIGEDUNG RESEPSI, 89 ORANG LUKA-LUKA, 71 ORANG MENINGGAL"
Hinata melepas potongan artikel itu yang langsung berubah menjadi debu. Air mata kembali mengaliri pipinya.
"Sudah siap?"
Hinata menoleh dan melihat pria itu berdiri disampingnya.
Hinata menghapus air matanya, lalu memaksakan sebuah senyum.
"Kau tahu? Ini sama sekali tidak adil."
Si pria tersenyum. "Tidak ada yang adil didunia ini, Hinata."
"Bukankah ini terlalu tiba-tiba? Bisakah, bisakah kau memutar kembali waktu?"
"Waktu itu cair, mustahil melawan tsunami yang datang tiba-tiba."
Hinata terdiam. Matanya menatap retakan-retakkan merah yang kini menjalar disekelilingnya.
"Kenapa kau membawaku kesini?"
"Ini permintaanmu, Hinata."
"Semua memori ini, aku tidak ingin melupakannya."
Pria itu melangkah mendekat. "Ada permintaan terakhir?"
"Apa kau akan mengabulkannya?"
"Tentu."
"Aku…."
Pria itu tersenyum. Sayap segelap malam tumbuh dipunggungnya, melingkupi Hinata. Retakan merah semakin membesar, menjalar kemana-mana.
"Ini sudah waktunya."
"Terima kasih, Tuan Shinigami."
"Semoga suatu saat, ketika kau terlahir kembali didunia ini pada masa yang berbeda, kau menemukan kebahagiaan yang kau inginkan."
.
.
.
Hinata membuka matanya perlahan. Langit diatasnya berwarna biru tanpa awan, matahari tidak terasa menyengat. Udara seharum musim panas, rumput dibawah kulitnya terasa menggelitik. Bunga Daisy bergoyang lembut disapa angin. Sesaat, sebuah bayangan hitam menutup pandangannya dari indahnya langit biru.
"Sudah bangun?"
Hinata tersenyum. "Kemari, berbaringlah denganku."
Sasuke tersenyum lalu berbaring disamping Hinata. Sebelah tangannnya menggenggam erat tangan Hinata.
"Aku mencintaimu." Sasuke berbisik.
"Aku juga mencintaimu, Sasuke-kun."
"Selamanya seperti ini, sepertinya tidak buruk."
.
.
.
FIN
.
.
.
Note :
Pernah di publish di Grup Lovely Fanfic of Sasuhina di Facebook, 23 Februari 2017
