BEAUTIFULLY CAPTURED
BLEACH BELONGS TO TITE KUBO
BLEACH LIGHTNOVEL 'WE DO KNOT ALWAYS LOVE YOU' BELONGS TO MATSUBARA MAKOTO AND TITE KUBO
STORY BY ME
WARNINGS: TYPO(s), a bit AU, OOC, ALUR CEPAT AND OTHERS
Para shinigami sudah mulai memadati sekitaran kuil tempat diadakannya resepsi pernikahan Abarai Renji dan Kuchiki Rukia. Tak terkecuali Ichigo, Orihime, Uryuu dan Sado, rekan manusia keduanya yang turut serta diundang untuk menghadiri acara sakral tersebut.
"Sepertinya di sana sudah mulai ramai, ayo," ajak Uryuu.
"Tu-tunggu! Bagaimana dengan tampilanku?" Tanya Orihime sembari menyisir rambutnya menggunakan jari-jari tangannya.
"Inoue-san, kau sudah tampil dengan sewajarnya kok," imbuh Ishida yang sama-sama membenahi pakaiannya.
"Kalian semua sudah tampil oke." Kali ini Sado angkat bicara sambil mengacungkan jempolnya seperti biasa.
"Baiklah, ayo kita masuk sebelum upacaranya mulai," ajak Ichigo mendahului langkah teman-temannya.
Beruntungnya, keempatnya tak ketinggalan acara apapun karena resepsi baru akan dimulai dalam 5 menit. Digunakanlah waktu tersebut untuk saling bertukar sapa dengan shinigami yang lain seperti Rangiku, Toshiro, Ikkaku dan yang lainnya.
Kuil yang digunakan untuk resepsi pernikahan Renji dan Rukia terbilang sangat luas karena kuil tersebut dibangun oleh keluarga Kuchiki untuk menghormati sesama leluhurnya. Walau dekorasinya terbilang sederhana, namun kesan elegan tak luput dari ornamen-ornamen yang terpajang di setiap sisi dan mayoritas berwarna putih.
"Itu Kuchiki-taichou!"
Ucapan Hinamori cukup membuat rekan-rekannya yang lain menghentikan aktivitas berbincang mereka. Kala itu, Kuchiki Byakuya bersama pengawal pribadinya baru saja tiba di kuil menggunakan tandu.
Tak lama Byakuya datang, lonceng kuil bergema, membuat para tamu yang hadir di sana mengalihkan atensinya pada acara inti. Sekejap, kerumunan itu tiba-tiba senyap.
"Oh, acaranya akan segera dimulai!" bisik Rangiku dengan antusiasme yang tinggi.
Seorang biarawati yang cukup tua berdiri di sisi gerbang utama dan memulai acara. "Mempelai pria, silahkan masuk."
Abarai Renji datang mengenakan haori hakama berwarna hitam. Rambut merahnya diikat ke atas seperti biasa dan dari balik wajahnya, terlihat ia cukup tegang.
Sejurus kemudian Renji mulai melangkah melewati gerbang bersama seorang biarawati tua yang membimbing dan berjalan di samping Renji menyusuri jalan menuju kuil.
"Wah! Abarai-kun tampak gagah!" Inoue berseru saat dirinya berdiri tepat di samping Ichigo sambil mengambil foto menggunakan kamera yang ia bawa.
"Huh, haori hakama itu yang membuatnya tampak keren begitu," komentar Ichigo.
Selangkah demi selangkah, Renji sampai dan berhenti di depan tangga menuju kuil. Diminta oleh sang pendeta untuk berbalik menghadap gerbang utama.
Untuk kedua kalinya, lonceng berbunyi.
"Kepala keluarga beserta mempelai wanita, silahkan masuk."
Byakuya turun terlebih dahulu dari tandu. Ia memakai haori hakama berwarna biru keabuan. Wajahnya tampak lebih tegas dan segar, melihat baju yang ia pakai lebih terlihat berwarna dibanding biasanya.
"Dasar, di pernikahan adiknya sendiri pun wajahnya masih dingin seperti itu," cibir Ichigo setelah melihat wajah Byakuya yang masih dingin seperti biasanya.
Byakuya mengangkat payung merah di depan tandu dan mengulurkan tangan untuk membantu Rukia turun. Tampak Rukia menunduk dari dalam dan mulai keluar dari balik tirai bambu.
Daei luar, riuh bisik-bisik terdengar.
Tubuh mungil Rukia dibalut dengan shiromuku yang terbuat dari kain putih murni, tampak memancarkan cahaya dari balik tubuhnya. Kepalanya mengenakan kerudung pernikahan. Dari balik kerudung pernikahannya, ia memakai riasan tipis yang tampak begitu mempesona.
"Astaga, Kuchiki-san begitu cantik!" Kiyone berdecak kagum kala melihat sosoknya yang keluar dari dalam tandu.
"Kau benar, ia terlihat begitu cantik," tambah Isane.
"Huh, dasar Abarai! Ia beruntung juga dapat gadis cantik macam Kuchiki!"
Ichigo membatu. Bahkan bagi Ichigo, Rukia benar-benar cantik hari ini.
Matanya tak dapat lepas dari bagaimana Rukia yang mulai berjalan di bawah naungan payung merah yang digenggam Byakuya.
"Uh…"
Suara Orihime mulai terisak. Tampaknya ia menangis.
"Ada apa, Inoue?"
"Tak kusangka, Kuchiki… Kuchiki-san akan menikah secepat ini. Ah, ma-maaf, Kurosaki-kun, aku jadi menangis seperti ini," ujarnya sambil menghapus air mata yang keluar dari pelupuknya menggunakan punggung tangannya.
"K-Kurosaki-kun, bisakah kau mengambil fotonya untukku?"
"Baiklah."
Kamera itu kini berada di tangan Ichigo.
Dari balik layar kameranya, ia mengambil fitur zoom agar dapat menangkap sosok Rukia yang berjalan.
Cekrek.
Dilihat dari sisi pun, Rukia tampak seperti orang yang berbeda. Walau wajahnya tertutup kerudung pernikahan yang tipis, Ichigo masih dengan jelas melihat wajahnya. Ia tersipu, tersenyum di baliknya.
Cekrek.
Netra indah ungu miliknya yang beratus kali ia tatap kini menatap tampak dihiasi binar bahagia.
Cekrek.
"Kuchiki-san!"
Rukia seperti mencari sumber suara tersebut, mengedarkan pandangannya dan mendapati Orihime melambaikan tangannya. Matanya tertuju pada Orohime, dan juga pria yang berada di sisinya.
Sambil tersenyum, terdapat genangan air mata yang tertangkap di pelupuk matanya.
Cekrek.
Ichigo berhasil mendapatkannya. Rasanya, jari-jarinya sudah memencet tombol ambil foto untuk berpuluh-puluh kalinya hingga Rukia dan Byakuya kini berada tepat di depan Orihime dan dirinya.
Pandangan keduanya bertemu.
Tangannya reflek untuk turun, menurunkan kamera yang ia genggam sebelumnya. Padahal ini adalah angle yang bagus untuk mendapatkan fotonya.
Tapi, bisakah dirinya menikmati pemandangan yang hanya berlangsung beberapa detik itu saja menggunakan lensa miliknya sendiri?
Lagi-lagi, Rukia tersenyum sekilas dan kembali melanjutkan perjalanannya menuju tangga kuil bersama Byakuya.
Tanpa sadar, bibirnya tersenyum getir. Sudah sepantasnya wanita macam Rukia mendapatkan pria macam Renji yang sudah menemaninya puluhan tahun, bukan?
Dalam hatinya, ia memprotes kepada Tuhan, kenapa pula keduanya harus menerima takdir bahwa mereka harus hidup di dunia yang berbeda?
Ichigo kembali mengangkat kameranya, menangkap beberapa foto lagi saat Rukia mulai mendekati tangga kuil dengan Renji yang menunggunya.
Sial, kenapa tidak ia saja yang berdiri di sana?
Hingga saat Byakuya menurunkan payung merahnya dan membiarkan adiknya bersanding dengan Renji, likuid bening miliknya benar-benar jatuh setelah Byakuya menyentuh bahunya dan berbisik.
Sang pendeta membacakan norito-soujou, guna meresmikan hubungan keduanya.
Cekrek.
Dari balik matanya yang tertutup kamara, air mata menyusuri rahang pipinya. "Kau benar-benar cantik hari ini dan kuharap kau selalu disertai kebahagiaan, Rukia."
Cekrek.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
おわり
*haori hakama: pakaian tradisional Jepang yang digunakan di acara-acara penting
*shiromuku: baju pengantin wanita tradisional Jepang berupa furisode berwarna putih bersih dengan motif tenunan yang juga berwarna putih.
*norito-soujou: semacam doa yang dipanjatkan oleh pendeta Shinto.
Author's Note :
Pasti banyak yang sudah tahu kalau cerita ini diambil dari lightnovelnya Bleach karya Tite Kubo-sensei beserta Makoto Matsubara-sensei hehe dan entah kenapa saya masih bertahan dengan pair IchiRuki ini /tolong, heu
Padahal, keduanya memang crackpair walau momen keduanya sangat banyak and that was one of many reasons why I really love this pair! Saya suka kesederhanaan Rukia, jujur. Dan rasanya, saya masih ada dalam fantasi IchiRuki /sadar, oi
Mungkin sekian curahan mengenai fiksi saya kali ini.
Terima kasih sudah membaca~
Sincerely,
Yusvira
