All the characters belong to Masashi Kishimoto
.
.
.
Illusion
Oneshot by Sweet Sugar Lollipop
.
.
.
Mereka bilang, ketika kau menyukai seseorang, kau akan menemukannya dimanapun, secara otomatis, matamu akan langsung tertuju padanya, dan aku setuju.
Aku menemukannya diantara rak-rak buku perpustakaan. Walau suasana sunyi dan dingin, disekitarnya selalu terasa hangat dan damai.
Aku menemukannya diantara petak-petak berbunga di belakang sekolah. Walaupun hanya ada mawar disana, namun aroma lavender miliknya menarikku mendekat.
Aku menemukannya diantara warna-warni dunia yang cerah. Terselip diantara warna merah muda, kuning dan cokelat. Namun dia terlihat lebih bersinar, lebih gemerlap, hingga aku takut mendekat.
Aku menemukannya terlukis dilangit malam. Saat bulan purnama bersinar indah, langit bersih tanpa bintang, begitu terang hingga membutakan.
Aku menyukai tawa lembutnya. Gestur tubuhnya ketika tersipu malu. Helaian rambutnya yang selalu terlihat indah. Dan kedua pipi yang tak henti merona.
Aku menyukai setiap kebaikan kecilnya, lantunan suaranya, senandung lagu nostalgia yang selalu dinyanyikannya, sapaan dipagi hari, lalu genggaman tangannya yang hangat.
Segala tentangnya memabukkan hingga aku tidak bisa bernafas.
Sasuke tertawa kecil melihat tulisan tangannya. Dia baru saja menuliskan perasaannya. Konyol. Tidak pernah dia tergila-gila pada seseorang seperti ini sebelumnya.
Beberapa potret Hinata menempel erat pada dinding kayu, disamping peralatan kebun dan alat-alat pertukangan miliknya. Gudang yang beraroma pinus ini selalu menjadi tempat favorit Sasuke. Semua harta karunnya disimpannya disini.
"Sasuke, kau didalam?"
Suara Itachi terdengar memanggilnya dari luar. Sasuke menghembuskan nafasnya kasar. Telah berulang kali dia menyuruh Itachi untuk menjauh dari gudangnya, tetapi sepertinya Itachi tidak pernah menghiraukannya.
Kesal, Sasuke meletakkan kertas yang tadi digunakannya untuk menulis diatas meja, lalu bergegas menuju pintu.
"Ada apa?"
Itachi menatapnya dengan teliti. "Apa kau sudah meminum obatmu?"
"Kau kemari hanya untuk menanyakan itu?"
"Aku mengkhawatirkanmu, Sasuke."
"Aku tidak perlu kau khawatirkan, Itachi. Aku baik-baik saja."
Itachi menggeleng. "Kau tidak baik-baik saja. Kau sakit. Kau harus meminum obatmu atau kembali ke rumah sakit."
Tangan Sasuke terkepal. Geram, Sasuke berbicara dengan gigi terkatup. "Baiklah. Akan ku minum obat sialan itu. Sekarang pergilah!"
Sasuke memperhatikan Itachi yang mulai menjauh dalam diam. Setelah Itachi menghilang dari pandangannya, Sasuke kembali menutup pintu gudang, lalu bergegas menuju tasnya untuk mengambil kotak obat dan botol air minumnya.
"Merepotkan." Keluhnya setelah menelan tiga butir pil dosis hariannya.
.
.
.
"Kurasa Sasuke semakin parah, Itachi."
"Ya, aku juga bisa merasakannya, Naruto. Sebulan terakhir ini dia sering menghabiskan waktunya di gudang."
"Aku tahu. Dia juga mulai melantur soal 'Hinata' lagi. Dia sering memotret bayangannya. Ini mengerikan. Kita harus melakukan sesuatu."
"Aku akan mengontrol keadaannya untuk beberapa hari kedepan. Jika tidak ada perubahan, sepertinya dia harus kembali kerumah sakit."
"Baiklah. Pastikan Sasuke meminum obatnya, Itachi. Sebelum keadaan semakin gawat."
"Akan aku awasi dia. Sudah lima tahun sejak kejadian itu dan Sasuke tidak bisa hidup seperti ini."
.
.
.
Sasuke duduk dibangku halte sambil melihat foto-fotonya yang dipotret hari ini. Bibirnya tersenyum kecil ketika melihat sosok Hinata disetiap foto yang dipotretnya.
"Cantik." Bibirnya bergumam.
Sebuah aroma yang familiar tiba-tiba merasuk kedalam penciumannya. Refleks, matanya menoleh kearah datangnya aroma itu. Disana berdirilah Hinata. Kedua tangannya memeluk sebuah buku tebal, kedua matanya menatap ujung sepatunya.
Sasuke tersenyum dan hendak memanggil Hinata ketika sesosok pria yang familiar mendekat, lalu memeluk bahu Hinata mesra.
"Itu... Aku?"
Sasuke tidak mengerti. Ada dirinya disamping Hinata. Tetapi setelah diperhatikan lebih baik, 'Sasuke' yang itu lebih muda. Kira-kira berumur 18 atau 19 tahun. 'Sasuke' itu membisikkan sesuatu yang membuat pipi Hinata merona, lalu mereka tertawa bersama.
Hati Sasuke terasa perih. Sebuah ingatan dibelakang kepalanya mendesak kepermukaan.
Traffic lights telah berwarna merah, Hinata dan 'Sasuke' bersiap-siap untuk menyebrang. Dari arah kanan sebuah truk kehilangan kendali, Sasuke bisa melihat Hinata berusaha mendorong agar 'Sasuke' menjauh, lalu membiarkan tubuhnya terhantam truk itu.
Kepala Sasuke terasa tertusuk-tusuk. Ketika ilusi 'Sasuke' dan Hinata didepan matanya menghilang, ingatan itu kembali muncul. Sasuke ingat ketika dirinya terbangun dirumah sakit dengan tubuh tergips. Sasuke ingat ketika dia menghadiri pemakaman Hinata. Sasuke ingat dia meletakkan sebuket besar bunga lavender diatas makam Hinata.
Sasuke ingat karena terlalu sedih, dia melupakan Hinata.
Sasuke ingat, ketika dia berhenti meminum obatnya, ilusi tentang Hinata yang hidup kembali padanya.
Sakit dikepalanya semakin menjadi, satu benturan keras dikepalanya lalu semua berubah menjadi gelap.
Sasuke terbangun diatas awan. Langit biru membentang luas. Disampingnya berdiri Hinata.
"Indahkan?" Suara merdu itu mengalun, membawa segala kerinduan mendesak keluar.
"Kamu pergi." Sasuke berusaha untuk tidak menyalahkan Hinata, tetapi kalimat itu meluncur begitu saja.
"Maafkan aku, Sasuke."
Sasuke meraih tangan Hinata dan menggenggamnya erat. "Kali ini, bawa aku bersamamu."
Hinata tersenyum, sebelah tangannya yang bebas meraih pipi Sasuke lembut. "Belum waktunya, Sasuke."
Sasuke mendekat, lalu menyatukan kedua kening mereka.
"Aku merindukanmu."
"Aku tahu."
"Aku mencintaimu, Hinata."
"Aku juga mencintaimu, Sasuke."
Perih, Sasuke meraih tubuh Hinata lalu membawanya dalam pelukannya.
"Waktuku hampir habis." Ucap Hinata nyaris berbisik.
Sasuke mengeratkan pelukannya. "Jangan tinggalkan aku lagi, Hinata."
"Berjanjilah padaku, Sasuke. Berjanjilah untuk melanjutkan hidupmu."
Sasuke terdiam. Dalam pelukannya, Hinata mulai memudar.
"Berjanjilah padaku untuk mulai belajar mencintai lagi."
"Jangan membuatku melakukan itu, Hinata."
"Berjanjilah padaku. Mulailah hidup baru. Dan kenang aku disaat bahagiamu."
"Jangan tinggalkan aku, Hinata."
"Aku akan selalu bersamamu, Sasuke. Selamanya."
Sasuke terbangun dengan air mata dipipinya. Bayangan tentang Hinata yang memudar dalam pelukannya masih membekas. Permintaan Hinata terus teringiang dikepalanya.
Tangan kirinya bergerak menuju selang infus yang tertancap di nadi kanannya dan mencabutnya dengan kasar. Rasa sakit menjalar hingga ke lengan atasnya.
Persetan. Sasuke ingin bertemu Hinata sekarang juga.
Tangan kirinya kini bergerak menuju masker oksigen dan melepaskannya. Setiap tarikan nafas terasa menyiksa. Kepalanya terasa tertusuk-tusuk. Sakitnya membutakan.
Peduli setan dengan permintaan Hinata, toh Sasuke tidak berjanji.
Tubuh Sasuke mendingin. Tarikan nafasnya memendek. Sebentar lagi.
"Tunggu aku, Hinata."
.
.
.
FIN
.
.
.
#nb : tiba2 macet ditengah. Entah kenapa Isi ceritanya malah jadi kayak gini :( niatnya bikin yg psycho, trus berubah jadi mental illness, trus entah kenapa jadi begini :(
Maaf kalau ceritanya terkesan dipaksakan atau terkesan tidak nyambung.
Note:
Fic ini pernah di publish di Grup Lovely Fanfic of Sasuhina di Facebook, 17 Mei 2017
