All the characters belong to Masashi Kishimoto

.

.

.

Inspired by "The Blue Library", a comic by Hayashi Minase.

.

.

.

Hinata membanting novel yang baru saja selesai dibacanya dimeja penjaga perpustakaan. Keningnya berkerut, bibirnya mengerucut kesal.

"Uchiha-san, sudah kukatakan, aku tidak ingin membaca Novel dengan akhiran happy ending! Aku muak!" Protesan meluncur dari gadis pemilik rambut indigo tersebut.

Uchiha Sasuke menatap Hinata dengan cuek. "Hyuuga, disini dilarang berbicara dengan keras. Kau harus berbicara dengan suara kira-kira dari nada suaramu tadi. Suaramu mengganggu yang lain."

Hinata mendelik. Dia makin kesal. Diedarkan tatapannya pada ruang baca perpustakaan yang kosong. "Tidak ada siapa-siapa disini, Uchiha-san!"

Sasuke menghembuskan nafas lelah. Rusaklah sorenya yang tenang. Berterimakasihlah pada Hyuuga Hinata, gadis kelas 3 SMA yang baru saja meledakkan amarah padanya. Sasuke memijit keningnya.

"Aku tidak ingin membaca sesuatu yang berakhir 'happy ending'. Aku tidak suka." Hinata kembali menyerocos.

Sasuke bangkit dari kursinya, "Duduklah dulu, Hyuuga."

Hinata tak bergeming. Sasuke mengacak rambutnya kesal. Selama 25 tahun hidupnya, baru kali ini dia merasa begitu kesal pada seorang gadis.

"Hyuuga~"

"Kau menipuku. Kau berkata bahwa itu adalah novel hurt."

"Hyuuga, tolonglah duduk dulu."

"Kalau tahu kau akan menipuku, aku tidak akan meminta rekomendasi novel darimu! Aku juga tidak akan membaca lagi disini!"

"Duduklah dulu, Hyuuga~"

Hinata menggeleng tegas. Sasuke memejamkan matanya. Urgh, ingin sekali dia menjitak kepala gadis dihadapannya ini.

"Baiklah, aku minta maaf telah menipumu." Sasuke mengangkat kedua tangannya diatas kepala tanda menyerah.

Hinata masih saja terdiam. Tangannya bersidekap dibawah dadanya.

Sasuke menghembuskan nafas kesal. "Apa yang harus kulakukan agar kau mau memaafkanku?"

"Traktir aku kopi." Hinata akhirnya bersuara. Bibirnya membentuk serigaian kemenangan.

Sasuke mengalah. "Baiklah."

Sasuke telah mencapai pintu ketika dia melihat Hinata belum juga beranjak dari tempatnya berdiri tadi.

"Kenapa kau masih saja berdiri disitu?"

"A-aku akan menunggumu disini saja."

Sasuke bedecak. "Kau tahu peraturannya, Hyuuga. Dilarang membawa makanan atau minuman kedalam perpustakaan."

Hinata memutar matanya bosan. "Jadikan ini pengecualian, Uchiha-san. Tak 'kan ada yang memarahimu, toh ini perpustakaan milik keluargamu."

Sasuke menghela nafas frustasi. "Baiklah. Hanya kali ini."

Hinata tersenyum senang. "Aku akan menunggumu disana." Ucapnya sambil menunjuk meja yang terletak dekat jendela.

"Terserahlah, Hyuuga."

Sasuke kembali dengan dua kaleng jus apel dan memberikan salah satunya pada Hinata. Hinata menerimanya dengan kesal.

"Kukira aku sudah mengatakan padamu, aku ingin kopi."

Sasuke mendengus, lalu duduk diseberang Hinata.

"Kopi tidak baik untuk pertumbuhan remaja."

"Yeah, sekarang kau beralih profesi sebagai pakar gizi." Sindir Hinata.

Sasuke mengedikkan bahunya cuek. "Aku hanya berbagi informasi."

Hinata membuka kalengnya dan mulai menegak jusnya.

Hening. Angin senja yang masuk lewat jeruji jendela menerbangkan rambut Hinata yang digerai dengan lembut.

Cantik.

"Kau ingin bercerita?" Suara bariton Sasuke memecahkan keheningan.

Hinata mengalihkan pandangannya pada jendela, berpura-pura sedang menikmati pemandangan diluar. "Tidak ada yang dapat kuceritakan padamu."

Sasuke menopang dagunya dengan tangan kanan, mulai mencermati wajah Hinata.

"Mengapa kau tidak menyukai cerita yang berakhir bahagia?"

Hinata tertawa miris. "Bahagia? Apa itu bahagia?"

Sasuke membuka kacamatanya, lalu meletakkan diatas meja. "Aku tak tahu pasti karena begitu banyak artinya. Yang jelas bahagia itu perasaan senang, nyaman, yang membuat kita menjalani hidup ini dengan tenang. Itu menurutku." Sasuke lupa kapan terakhir kali dia mengoceh sepanjang ini.

"Untuk ukuran orang dewasa, kau cukup cerewet, Uchiha-san." Hinata menatap Sasuke. Sasuke tersenyum tipis.

"Berbagilah denganku, Hyuuga. Kau akan merasa lebih baik setelahnya."

Hinata tertawa renyah. "Oh, sekarang kau mulai menjadi seorang psikiater."

Sasuke tersenyum lagi. Sepertinya dia mulai menyukai tawa Hinata.

"Aku hanya ingin kau merasa ringan."

Hinata tersenyum. "Apa semua orang dewasa selalu suka mencampuri urusan orang lain?"

Sasuke melipat tangannya diatas meja. Matanya fokus pada wajah Hinata. "Tidak juga. Kami hanya akan mencampuri urusan orang yang kami anggap menarik. Dan kau Hyuuga Hinata, kau membuatku tertarik."

Pipi Hinata bersemu. Sejenak dia hanya tergagap tanpa suara. Terlalu syok untuk mengatakan sesuatu. Kali ini, giliran Sasuke yang tertawa.

Hinata mengerjapkan matanya. Berusaha melawan kegugupannya. "Kenapa kau tertawa?"

Sasuke menggeleng. "Sudah adakah yang mengatakan padamu kalau kau sangat manis saat kebingungan?"

Hinata kembali menatap kearah jendela. Wajahnya merona sempurna. "Gombal..." Cicitnya.

Sasuke mengulurkan tangannya, mengacak rambut Hinata dengan gemas.

"Ceritakan padaku, Hyuuga."

Hinata menghela nafanya pelan. Matanya kini dialihkan keatas meja. Jari tangannya mengetuk-ngetuk permukaan meja kayu tersebut.

Hinata bimbang. Ia ingin memberi tahu Sasuke, namun ia ragu Sasuke dapat memberi solusi padanya. Hinata kembali menatap keluar jendela, menegak jusnya sedikit, lalu memantapkan hatinya untuk bercerita.

"Mengapa aku benci cerita dengan akhir bahagia? Alasannya sederhana. Karena aku tidak pernah merasa bahagia." Diberanikannya menatap wajah Sasuke. Maniknya mencari-cari rasa iba dari mata kelam milik pemuda itu, namun yang ditemukannya hanyalah rasa penasaran. Hinata mendengus.

"Waktu itu aku duduk dikelas 4 SD, ketika kedua orang tuaku bercerai. Kau tahu? Mereka bercerai karena ibuku memiliki selingkuhan. Cih, betapa memalukan." Hinata kembali menatap jendela. Berusaha menata hatinya yang kini kembali membiru.

"Lalu dua tahun lalu ada Toneri. Kupikir dia adalah yang terbaik untukku, kupikir dialah kebahagiaanku. Tapi ternyata dia malah berselingkuh dengan sahabatku sendiri. Oh, betapa naifnya aku. Mereka datang meminta maaf padaku. Matsuri, sahabatku itu, menangis sambil memintaku memaafkannya. Sedangkan Toneri, dia berkata bahwa aku boleh membencinya, tapi aku tidak boleh membenci Matsuri, karena menurutnya dialah yang bersalah. Dihadapanku, mereka tampak begitu panik. Urgh, benar-benar memuakkan."

Sasuke mengulurkan tangannya, dan meraih tangan Hinata dalam genggaman.

Hinata menatap tangan kiri Sasuke yang sedang menggenggam tangan kanannya dengan sendu.

"Aku tidak pernah bahagia." Bisiknya lirih.

"Sekalipun, aku tidak pernah bahagia. Keluargaku berantakan, percintaanku hancur, persahabatanku rusak, tak ada lagi yang dapat membuatku bahagia."

Sasuke meremas tangan Hinata lembut. "Mungin yang perlu kau lakukan hanyalah percaya."

Hinata menatap Sasuke, lalu mengangkat sebelah alisnya. Dia menuntut penjelasan.

"Kau hanya perlu percaya bahwa akan ada seseorang yang dapat membahagiakanmu, memberikanmu tempat yang aman untuk berlindung dari segala kesulitan. Pangeran berkuda putihmu."

Hinata mengerjapkan matanya beberapa kali, seakan-akan tidak percaya dengan pendengarannya. "Tidak akan ada pangeran berkuda putih untukku, Uchiha-san."

Sasuke tersenyum lembut. "Tentu saja ada!"

Hinata menelengkan kepalanya bingung. "Siapa?"

Sasuke memajukan tubuhnya dan mengecup bibir Hinata sekilas.

"Aku."

End

Note:

Pernah di publish di Grup Lovely Fanfic of Sasuhina di Facebook, 8 Januari 2016