petals © votreauteur
catmong [ kim wooseok × lee sejin ]
fantasy-romance / rate-T / lowercase-semi baku
…
wooseok tak pernah percaya pada dongeng dan keajaiban, tapi semesta justru mempertemukannya dengan sejin yang entah bagaimana bicara dan membuat bunga-bunga bermekaran lewat sentuhan.
...
"lo beneran gak ikut kumpul?"
wooseok berdecak menanggapi jinhyuk, teman sekamarnya di asrama, yang menelponnya. sudah ada rencana bahwa beberapa temannya akan pergi karaoke untuk merayakan ujian akhir semester yang sudah selesai. wooseok tentu mendapat ajakan, tapi ia menolak. alasannya sederhana, ia hanya sedang ingin sendiri saja, memikirkan beberapa nilai mata kuliahnya yang belakangan sedikit terganggu.
"enggak, mau belajar gue. lo inget gak sih nilㅡ"
"aaargh, oke, oke. stop bahas nilai, please. yaudah, gue cabut sama anak-anak, jangan nginep perpus lagi lo." setelah bicara cukup panjang, panggilan itu diakhiri sepihak oleh jinhyuk. kembali, wooseok berdecak.
"tau aja gue mau ngendon di perpus," ia tertawa, melanjutkan langkahnya menuju perpustakaan kota. mendengarkan jinhyuk adalah salah satu hal yang jarang sekali wooseok lakukan, dan dia tak berniat memulainya sekarang.
tapi, mungkin kali iniㅡkali ini sajaㅡia akan melakukan hal yang diminta jinhyuk. sebab perpustakaan hari itu terlalu ramai untuk wooseok. ia tak terlalu butuh tempat yang tenang, tapi jika terlalu padat, rasanya akan pengap dan sesak. wooseok tak suka. karenanya, sebelum setengah jam ia duduk di salah satu sudut, wooseok memilih bangkit.
"kayaknya ada kafe baru sekitar sini, semoga aja gak rame." wooseok memegang ponselnya, menggunakan peta elektronik untuk menemukan satu tempat yang bisa ia singgahi. tempat yang nyaman dan tenang untuknya membaca beberapa buku yang ia pinjam dari kakak tingkatnya beberapa waktu lalu.
wooseok menemukannya, sebuah kafe yang tampak nyaman dengan tema bunga-bungaan. dindingnya dicat sewarna kayu mahoni, dengan sulur-sulur plastik yang digantung abstrak dan bunga dalam pot-pot kecil di sekeliling tempat itu. tak tampak berlebihan, tak juga terlihat kurang. segalanya terasa pas dengan porsinya.
pintu terbuka, kerincing di atas daun pintu berbunyi. sapaan ramah dari pelayan kafe terdengar. selamat datang di rumah bunga, katanya. wooseok tersenyum lalu berjalan tanpa terburu-buru menuju meja pemesanan. satu teh lemon dan sepiring kecil kukis cokelat ia pesan. pemuda itu lantas memilih kursi yang kiranya mendapat cahaya cukup untuknya membaca.
"pesanan anda," wooseok mendongak dan memamerkan senyum pada gadis di hadapannya. "selamat menikmati." ia mengucap terima kasih dengan suara lirih saat sang pelayan hendak meninggalkan mejanya.
wooseok tak memikirkan waktu saat ia larut dalam bacaannya. tanpa sadar kukisnya hanya tersisa sepotong dan teh lemonnya tertinggal dua teguk. ia mendongak, hendak memesan kembaliㅡantara sebab ia yang masih ingin tinggal, juga rasanya yang memuaskan. pemuda itu kembali berjalan menuju meja pemesanan, meminta menu yang sama sebelum berbalik ke mejanya. tapi langkahnya terhenti saat ia menemukan seseorang yang dikenalnya, duduk di meja dekat sekumpulan pot bunga ajisai.
"sejin?"
"oh, wooseok!" sejin sedikit memekik, tampak sedikit berlebihan untuk reaksi terkejut pada umumnya. "lagi ngapain?"
"hm? belajar, noh di pojok. gue ke sana dulu ya, jin." sejin hanya membalas dengan anggukan. wooseok berjalan kembali, melupakan pengelihatan anehnya tentang bunga-bunga ajisai yang bermekaran saat disentuh sejin.
"gue kebanyakan belajar kali ya?" wooseok bergumam, sesekali melirik sejin yang kini sibuk menyendok kue sambil memainkan ponselnya. tak ada yang tampak aneh. kim muda itu menggelengkan kepala, lantas terkekeh. "gue emang kebanyakan belajar."
...
namun sepertinya takdir mulai bergerak sesukanya. wooseok justru kini sering berjumpa dengan sejin. cukup aneh mengingat sudah tiga semester mereka berada di jurusan dan beberapa kelas yang sama, bahkan tinggal di satu gedung asrama, tapi tak sekalipun mereka berjumpa sesering ini.
awalnya wooseok menganggap itu biasa. tapi, semakin sering bertemu, wooseok semakin merasa ada yang berbeda dari sejin dibanding dirinya dan orang sekitarnya. seolah ada aura lain yang ia keluarkan. rasanya seperti angin yang membawa gugur daun lebih banyak berhembus pada si pemuda lee.
wooseok tak ingin memikirkannya terlalu jauh. ia bukan orang yang tertarik dengan dongeng dan sejenisnya. ia bahkan masuk dalam jajaran orang yang tak percaya adanya kekuatan magis. baginya semua itu hanya ada dalam film. tak nyata.
tapi hari itu ia menemukan sejin, berjongkok di taman belakang asrama, bicara pada bunga matahari yang ditanam penjaga asrama beberapa minggu lalu. "mataharinya udah mau tenggelam, tidur sana." ia bahkan melihat sejin menepuk kelopak bunga.
wooseok segera berlari kembali ke kamarnya saat melihat sejin hendak bangkit. rasanya jantung wooseok seperti tertinggal di taman. ia berdoa semoga sejin tak menyadari keberadaannya tadi.
…
tapi rupanya, harapan kadang memang tak bisa jadi kenyataan. sebab kini, dua hari setelah insiden di taman belakang asrama, wooseok menemukan sejin ada di kamarnya bersama jinhyuk dan byungchan. jinhyuk yang mengundang keduanya untuk mengerjakan salah satu tugas kuliah bersama. wooseok hendak kabur, tapi jinhyuk memintanya membantu.
"kemaren kan lo udah gue bantuin tugas prof. hwang. bantuin kek sekarang." wooseok tak bisa mengelak. ia akhirnya turun tangan membantu tiga kawannya itu.
dua jam mereka habiskan hingga akhirnya jinhyuk meminta berhenti sejenak. ia mengajak byungchan untuk membeli beberapa makanan ringan juga minum untuk mereka berempat, serta meminta wooseok dan sejin menjaga kamar. wooseok menggerutu, tapi tak bisa bertindak apa-apa saat jinhyuk sudah menghilang di balik pintu.
"tuh anak emang semaunya sendiri, dasar." sejin terkekeh di tempatnya. wooseok tak berani menoleh. ia membiarkan situasi menjadi canggung di antara keduanya. hingga tiba-tiba sejin bangkit dari duduknya.
"gue tau lo liat, seok," wooseok mau tak mau menoleh. sejin berjalan menuju jendela, tempat wooseok menyimpan beberapa pot bunga mawar dan daffodil. "pas di kafe, lo liat gue mekarin hydrangea kan? juga di taman belakang pas gue ngobrol sama bunga matahari di sana. iya, kan?"
wooseok tak menjawab. ia terlalu terkejut saat sejin menyentuh kelopak mawarnya yang hampir layu sebab terlalu lama tak ia siram dan jemur dengan benar. perasaan yang selalu ia dapat saat berada di dekat sejin, kini semakin menguat. angin lembut yang bergerak melewati jendela kini terasa mengelilingi bunga miliknya. lantas bunga itu kembali merekah, terlihat begitu indah seolah mereka baru saja mekar.
ada suara sesuatu menabrak perabotan yang membuat sejin menoleh, ia tersenyum maklum melihat wooseok yang menyandarkan diri pada kaki ranjang. kentara sekali ia terkejut hingga menabrakkan diri. sejin bergerak mendekat setelah angin dan beberapa cahaya menghilang dari sekeliling jendela. ia kembali duduk di tempatnya semula, tampak puas melihat bunga-bunga wooseok kembali segar.
hening mengitari. tak ada satupun dari mereka yang membuka suara. tapi, sejin akhirnya memanggil nama wooseok.
kim wooseok, seseorang yang tak percaya magis dan keajaiban, mendengar hal paling aneh dalam hidupnya dari seorang lee sejin; "sebenernya gue tuh … keturunan peri."
setelahnya, wooseok pingsan.
•••
a/n; i'll stop it here, this is just a short version, maybe? haha but, i'll make the long version of this story asap on my twt account and that'll be some kind of socmed au hehehe thanks for coming! (and maybe, just maybe, i'll continue this one too as the summary of my socmed au:D)
