Feeling...

Gambar dengan makna yang begitu mendalam. Sosok dalam angan yang diharapkan akan menjadi nyata...

Sebuah Delusi...

...

Sosok yang berada di balkon itu diam membisu. Menatap hamparan gedung-gedung pencakar langit yang dipenuhi hiruk pikuk bising metropolitan. Terang benerang dimana-mana. Seakan malam tak memiliki artinya lagi sebagai kegelapan alami. Mata besar sewarna karamel lembut menyorot, dalam, namun tampak pudar dan memantul sendu.

Rokok yang terus mengepulkan asap halus di biarkan begitu saja, tersemat di antara jari telunjuk dan jari tengahnya yang mulai mendingin. Membiarkan aroma nikotin menyelubunginya dirinya. Membaui aroma semerbak yang bagai candu.

Ya. Candu bagi dirinya yang merindu.

Bukan rindu akan sesapan nikotin yang dapat berujung pada racun. Ia bahkan tak pernah sekalipun menyesap benda itu. Akan tetapi... Dengan menyalakannya, membaui aroma nikotin khas yang bercampur mint alami ini, ia seakan dapat menemukan sesuatu yang telah lama hilang.

Seuatu itu... Sosok itu... Ya-

"Kougami-san..."

Nama itu terucap tanpa diminta. Pelan dan lirih hingga terbias oleh desis lembut angin malam. Namun tak dapat menghilangkan kesan muram dan kelabu yang tersemat ketika tereja oleh sepasang bibir kecil yang gemetar. Namun di bungkam langsung ketika suatu rasa tak terjelaskan merasuk. Membuat gelanyar nyeri tak mengenakkan yang membuat dadanya sesak. Panas, sakit, mencekik tenggorokan, pahit tekecap hingga ke lidah. Membuat kelu, sulit bicara.

Ingin terlepas, ingin dilepas. Namun tak ingin dan tak bisa ketika mengingat semua yang terjadi sejak pertemuannya dengan sosok mantan enforcernya itu hingga empat tahun ini,

Empat tahun semenjak kepergiannya.

Kepergian Kougami Shinya.

Putung rokok terjatuh ke lantai berkeramik mengkilap, dibiarkan saja atas dasar ketidak sadaran. Bergerak, tersapu oleh angin dan menghilang. Sama seperti seorang Kougami Shinya yang memutuskan untuk terlepas dari dunia yang selama ini menjadi belenggunya. Memutus rantai yang mengekangnya sebagai anjing kepolisian yberhati dingin yang tanpa segan menodongkan pistol kepada para kriminal.

Dan bila sang enforcer bisa tanpa segan memutus rantai seperti itu, sudah pasti tak ada keraguan baginya untuk memutus hubungan dengan seorang Akane Tsunemori yang hanya bagai benang kan?

Akane sendiri tahu. Ia sadar. Bagi Kougami, Akane mungkin hanya menjadi penghalang untuk meraih kebebasannya. Seperti insiden Makishima Shougo. Ia hanya tak ingin melihat Kougami menjadi sosok anjing kepolisian. Ia tak ingin melihat enforcer yang dihormatinya itu membunuh atas dasar dendam dan kebencian. Akane sudah berjanji pada lelaki itu untuk membuatnya tetap menjadi seorang polisi yang berjalan pada jalur kebenaran.

Akan tetapi tak ada yang dapat Akane lakukan saat itu. Ia tak dapat menghentikan Kougami yang terus memburu Makishima. Ia tak dapat menahan ledakan amarah dan dendam lelaki itu. Bahkan ketika suara letusan senjata api itu terdengar, yang ia lakukan hanyalah berteriak. Memanggil namanya dengan berlinang air mata. Menatap sosok yang berdiri sembari menggenggam pistol yang mengeluarkan asap di hadapan mayat seorang Makishima Shougo yang sudah tergenang oleh darah segar.

Dan senyum penuh kepedihan yang terukir di wajah tampan penuh luka menjadi akhir bagi hubungan keduanya...

Kedua lengan ditekuk, menyandar pada palang besi yang menjadi pembatas balkon dan udara bebas. Mendekatkan rokok yang masih mengepulkan asap. Membaui aromanya lamat-lamat, membuat hatinya yang semula berantakan menjadi lebih tenang dan tertata. Menutup mata barang sejenak dan menghembuskan napas pelan. Seakan melepas penat dan beban yang selama ini ditanggungnya sendiri semenjak kepergian sang enforcer kesayangan-nya...

"Kira-kira apa yang sedang dilakukan Kougami-san saat ini ya?" Pertanyaan itu dilontarkan pada diri sendiri. Aroma nikotin membumbung tinggi, makin pekat tercium. Membuat sesuatu yang selalu diinginkannya tercipta.

"Kebiasaan burukmu itu masih belum hilang juga eh?"

"Kau bahkan memiliki banyak kebiasaan yang lebih buruk dariku."

"Tapi efek yang ditimbulkan sebagai perokok pasif hampir sama seperti perokok aktif pada umumnya."

"Yah, ini takkan membuatku mati dengan cepat, setidaknya untuk sekarang."

Suara decihan terdengar.

"Kau membicarakan hidup dan mati semudah itu seakan pernah merasakannya."

Menghela napas, "Ya. Aku tak pernah merasakannya, tapi aku sendiri tak merasa benar-benar hidup selama empat tahun ini, Kougami-san."

Menyesap rokok yang tersemat di jemari dengan nikmat, kemudian menghembuskannya pelan. Sosok itu menyeringai. Embusan angin malam membuat rambut hitamnya yang terurai berantakan bergerak-gerak, menutupi mata yang selama ini tak pernah menampakkan cahayanya lagi.

"Apa kau merindukanku?"

Satu kalimat terkahir dengan sukses menghantarkan dentuman menyakitkan di dada sang inspector muda. Tubuh yang masih terbalut seragam kerja itu berbalik cepat, mata yang berdenyar karena pantulan cahaya dan air mata membola. Menatap sosok jangkung berjaket kehijauan di hadapannya yang tersenyum pedih menyakitkan. Mendekat, mengulurkan tangan besar yang begitu ia impikan untuk mendarat di kepala coklatnya.

Namun menghilang begitu saja sebelum berhasil menyentuhnya.

Dan tepat saat itu, air mata akane jatuh menuruni kedua pipinya.

Sebuah delusi, semu, namun cukup untuk membuatnya melepas rindu. Akan tetapi menyisakan luka dan lara setelahnya.

Bayangan seorang Kougami Shinya.

Namun terasa begitu nyata adanya.

Bibir bergetar di gigit pelan. Putung rokok jatuh menggelinding di samping badan. Akane Tsunemori jatuh terduduk, memeluk lututnya sembari terisak sendirian.

"Apakah hanya aku yang merindukanmu disini, Kougami-san? Apakah aku memiliki arti dimatamu yang hanya memantulkan dendam dan kepedihan itu?"

"Akankah kau kembali...?"

[BERSAMBUNG]

Cebong-chan's note :

Gegara liet fanart KouAka jadi kepengen bikin fanfik mereka tiba-tiba TT_TT. Abis cerita wwktu dek akane ditinggal bang Kougami bin Toyib di s2 itu bener-bener berkesan nyesek TT_TT bahkan akane samoe ngehalu ngobrol ama Bang Kougami TT_TT.

Yahh pokoknya buat yang suka sama fandom ini, review nya ya minna~ ;3 siapa tahu bong-chan asa semangat buat ngelanjut lagi wkwkwk