Feeling...

Rasa hampa yang terus melingkupinya membuatnya sadar akan hilangnya hal berharga dari hidupnya.

Sosok berharga itu, dari sisinya.

...

Langit kala itu tampak teramat elok. Dengan semburat putih bercampur oranye yang menghiasi angkasa raya. Pertanda akan datangnya kegelapan malam yang memerlukan cahaya.

Dan pertanda pula bagi dirinya untuk segera masuk ke dalam.

Akan tetapi suasana sore itu begitu menenangkan. Membuatnya tak bisa berpaling dari rasa hampa yang berawal dari kesunyian. Suara gemersik ilalang menjadi pengiring akan lamunannya.

Menyalakan rokok beraroma mint yang terselip di celah bibir seksi, dirinya tak ingin segera beranjak dari teras rumah panggung dengan dominasi kayu yang menjadi tempat bernaungnya 'saat ini'. Kedua kakinya bagai terpaku disana, tak bergeming walau angin dingin mulai berembus memberi peringatan setelahnya. Merespon acuh lalu menyesap nikotin yang tersemat di celah bibir dengan nikmat, kemudian mengembuskannya. Membuat kepulan asap beraroma khas tersebut bergerak akibat tersapu oleh angin. Kedua tangan kukuh ditekuk, menyandar pada pembatas kayu yang tampak mulai lapuk.

Onix tajam sewarna metal memandang ke arah hamparan pegunungan rumpun yang terpampang jauh di depan mata. Memandanginya tanpa berkedip. Namun sebenarnya bukan itu yang ingin ia lihat. Bukan itu pula yang ia pikirkan. Manik metal yang tampak hampa itu memandang lebih jauh dari apa yang dapat tertangkap oleh penglihatannya. Memandang ke satu arah. Satu tempat.

Tempat 'dia' berada.

Melamunkan diri sejenak, pria berusia lebih dari tiga puluh tahun itu tampak mulai terbawa oleh arus ketenangan yang menyapu dirinya. Bagai menyapu seluruh beban yang selama ini masih terasa berat dalam dada. Menarik napas dalam-dalam, kemudian menghembuskannya dengan pelan. Seakan membiarkan dirinya benar-benar hampa dan kosong beberapa saat, lalu perlahan mengisinya kembali.

Terisi. Oleh nya. Oleh sosok yang terbayang dalam angan. Mengingat seluruh hal yang ada pada eksistensi dalam kepala. Sosok bertubuh mungil yang terasa begitu pas untuk didekap. Surai coklatnya yang tampak begitu lembut dan mengundang untuk dibelai. Wajah bulat dengan bibir kecil yang selalu mengundang perhatian. Mata sewarna karamel yang begitu kontras dengan parasnya yang elok nan manis. Terbalut dalam seragam kepolisian yang menjadikan sosok itu tampak lebih hidup... Lebih nyata...

Ketika sosok itu tersenyum manis kepadanya, hati pria itu berdenyar. Sesuatu bagai meletup dalam dada. Aneh, namun menyenangkan. Akan tetapi terasa mengganggu untuk dirinya saat ini yang tengah 'menghilang'. Nyeri di dada coba di tepis, namun tetap meninggalkan bekas di hati yang tlah lama menahan tangis.

"Aku sepertinya benar-benar sudah 'sakit.'"

Gumaman dilantunkan disertai tawa tampan yang terasa hambar. Meremat sesuatu di balik fabrik pakaian yang berdebar lebih cepat. Kuat. Mencengkram fabrik sembari menundukkan kepala bersurai hitam berantakan.

"Dasar bodoh." Gumamnya.

Suara kekehan terdengar. Melunturkan sebagian lamunan dan bayangan sosok manis sebelumnya. Mengangkat wajah kembali, namun mimik yang terpasang di wajahnya kali ini berbeda.

"Jarang sekali melihatmu melamun seperti itu. Apakah sesuatu sedang terjadi dengan seorang Kougami Shinya?"

"Sesuatu selalu terjadi selama kita hidup. Tidak perlu melontarkan pertanyaan klise yang terkesan bodoh." Balas lelaki itu ketus.

"Dingin sekali, seperti biasanya. Apakah membunuhku kemudian kabur ke luar negeri dan menjadi antek teroris tidaklah termasuk perbuatan yang sungguh 'Bodoh'?"

Suara dengkusan terdengar. Kougami Shinya memasang seringai sinis tanpa melirik sosok yang menjadi lawan bicara,

"Apa orang yang sudah 'mati' pantas mengatakan hal seperti itu?"

Suara kekehan terdengar dan Kougami Shinya tak tampak senang. Seseorang tersenyum, menatap punggung tegap yang terbalut kaus hitam ketat, namun tak terlihat sekuat yang dipikirkan.

"Yah, aku tak menyalahkan apa yang sudah berlalu. Semua terjadi karena pilihanmu. Mungkin kau pikir sekarang kau sudah bebas, tapi bukankah yang kau lakukan hanya melarikan diri saja?"

Angin tiba-tiba berhenti berhembus. Putung rokok dimatikan dengan cara tidak biasa. Tubuh yang sebelumnya menumpu pada pagar pembatas dengan rileks kini tampak lebih tegang, lebih waspada. Surai raven berantakan yang menjadi daya tarik turun, menutupi manik metal yang sebelumnya berkilat karena sesuatu.

"Apa maksudmu?" Tanyanya dingin. Menutupi susuatu yang terasa ingin membeludak dalam dada. Seringai terukir, tampak bangga karena menemukan satu 'titik' yang menjadi kelemahan seorang 'Kougami Shinya.'

"Kau sebenarnya melarikan diri dari apa? Sistem bedebah yang disebut Sibyl itu, ataukah-" Jeda sejenak, jantung bagai dipacu cepat. Dan Kougami Shinya merasakan suatu dentuman keras ketika kalimat itu terucap,

"-kau hanya tak ingin Inspector itu melihat sosokmu 'yang sebenarnya'?"

DEG!

Ctak!

Tanpa di duga. Tanpa aba-aba. Kougami tiba-tiba meraih pistol di kantung senjata yang tak pernah lepas dari tubuhnya. Berbalik cepat, menodongkan senjata api yang teramat berbahaya itu tanpa ragu sedikitpun. Untuk sesaat kilat kemarahan tampak di wajahnya yang mengeras karena rasa kesal dan emosi yang tertahan di dada.

"MAKISHIMA-" Akan tetapi yang terjadi selanjutnya sungguh sesuatu yang jauh lebih tak masuk akal.

Sesuatu yang terasa 'menyiksa' dan berhasil meruntuhkan semua 'pertahanannya'.

DEG!

Angin berembus kencang, menerbangkan surai raven dan makin mengacaknya. Namun waktu bagai terhenti di sana.

Dan Kougami Shinya mematung di tempatnya sembari mengarahkan moncong senjata api pada sosok gadis bersurai coklat dalam balutan seragam kepolisian...

Sosok itu... Gadis itu... Disini-

"Apa kau sungguh tak ingin kembali, Kougami-san?"

Manik metal membola nanar. Sesak terasa hingga ke jantung berada. Menohoknya tak tanggung-tanggung kala sosok itu tampak dihadapannya. Memandangnya dengan sepasang karamel yang menyorot pilu penuh sendu, namun mengharapkan pengertian yang mampu membuat seorang Kougami Shinya tak mampu mengatakan apapun.

Tanpa sadar tangan Kougami yang tak memegang senjata terangkat. Bagaikan refleks, ingin mencoba menggapai sosok di hadapannya yang terlihat begitu nyata adanya.

"Inspector-"

Syuuu~

Namun sosok itu tiba-tiba menutup matanya dan menghilang, tersapu oleh angin bagaikan debu di udara. Meninggalkan seorang Kougami Shinya yang kembali mematung di buatnya. Mata membola, nanar, kosong, namun penuh rasa sesak mendalam. Pistol di tangan terjatuh begitu saja, berkelotak di atas lantai papan kayu. Tampak syok kala sosok sebelumnya menghilang.

Ketika kesadarannya perlahan kembali, sosok itu menunduk. Menyembunyikan wajahnya di balik surai raven, kemudian melangkah mundur. Punggung ditegapkan, menyandar pada tiang kayu di yabg terasa lemas bergerak, menutupi wajah kemudian menggigit bibir dengan penuh frustasi.

"Mungkin kematian adalah jalan yang terbaik bagi pembalasan dendam. Namun yang kurasakan setelahnya hanyalah kehampaan. Tetapi-" Tangan kekar bergerak, menyentuh dada yang sibuk berdenyar menyakitkan,

"Akan tetapi kaulah yang selama ini mengisi kehampaan di dalam diriku dan membuatku memiliki tujuan yang baru. Kau lah alasanku masih bertahan hingga saat ini, Akane..."

[BERSAMBUNG]

Nah lho! Malah bikin fanfik multichapter. Padahal pyscho-pass fandom minor yang paling minor eh.

Yah, lagi pula emang bong-chan sendiri gatahan buat bikin fanfik nya mereka sih TT_TT

But makasih yang kemaren pada ngasih support dan ngedukung bong-chan buat update! TT_TT ASELI BONG-CHAN SENENG KARENA TERNYATA MASIH ADA YANG MINAT SAMA CERITA MACEM INI DI FANDOM SUOER MINOR! TT_TT SANKYUU MINAAA!

Next biar bong-chan teteo semangat, mohon RnR nya ya minna~ UwU