All the characters belong to Masashi Kishimoto
.
.
.
Rain Confession
Oneshot by Sweet Sugar Lollipop
.
.
.
Hujan menderas. Kali ini bukan hanya air, tetapi salju pun mulai membaur. Dingin. Tangan mungil Hinata mencengkram erat rantai ayunan. Langit menggelap. Disebelah selatan guntur menggelegar.
Masih berusaha menata hati, Hinata mengosongkan pikirannya. Seragamnya yang basah melekat ditubuh. Bibirnya mulai memucat karena kedinginan.
Hinata menggelengkan kepalanya, berusaha menghilangkan dengungan memori-memori luka. Tetapi bagai kutukan, semua memori itu terus berputar diotaknya.
Bibirnya yang beku berbisik: "Selamat... Sakura."
.
.
.
"Lihat, lihat." Seru Sakura sambil memamerkan tangannya.
"Wahhh~ Cantiknya~" Ino memuji.
"Iya 'kan?" Kata Sakura bangga. Pipinya merona, matanya berbinar bahagia.
"Bagaimana menurutmu, Hinata? Cantik bukan?"
Hinata tersenyum. Matanya memperhatikan cincin platina dengan ukiran kipas yang melingkar manis dijari Sakura.
"Iya. Ini cantik." Puji Hinata.
Senyum Sakura melebar.
"Ini cincin warisan keluarga Uchiha. Kemarin, aku sudah bertunangan dengan Sasuke."
Hinata terbelalak. Ino kaget, lalu langsung memeluk Sakura.
"Kyaaa~ Selamat... Tunggu, kenapa kau tidak mengundang kami?" Protes Ino.
"Gomen~ Acaranya hanya khusus keluarga saja. Tapi tenang. Sebulan setelah kelulusan nanti, kami akan menikah. Kalian mau menjadi pengiringku, kan?"
"Me-menikah?" Kaget, suara yang keluar dari bibir Hinata terdengar kaku.
Sakura mengangguk, senyum bahagia masih melekat dibibirnya. "Ya. Sasuke akan kuliah di Swiss. Mikoto-kaasan tidak ingin dia sendiri disana."
"Ku-kuliah di Swiss?"
Sakura menelengkan kepalanya bingung. "Lho? Hinata tidak tahu? Ah, teganya Sasuke! Kamu 'kan sahabatnya."
Hinata tersenyum canggung. "A-ah. Mungkin dia pernah mengatakan itu sebelumnya. Aku memang punya ingatan yang buruk~"
Sakura tersenyum lalu mengalihkan perhatiannya pada Ino. Mereka mulai membicarakan hal-hal mengenai 'menjadi menantu Uchiha'. Ino yang telah berpacaran dengan Uchiha Sai selama 4 tahun berharap segera dilamar dan Sakura menyemangatinya.
Hinata menulikan telinganya. Suasana kelas yang bising menjadi sunyi begitu saja. Hinata lalu menundukkan kepalanya. Sakit. Hatinya terasa sakit. Dadanya terasa sesak. Kenapa? Kenapa dari sekian banyak laki-laki yang ada didunia ini Hinata harus jatuh cinta pada teman masa kecilnya itu?
Sakit. Pandangannya memburam. Dan semua terasa gelap.
.
.
.
"Urgh."
"Sudah sadar?"
"Dimana..."
"UKS. Kau pingsan tadi."
"Sudah berapa lama aku disini?"
"Tiga jam."
"Aah. Maaf. Karena aku, Uchiha-sensei jadi terlambat pulang."
"Daijobu, Hinata-chan. Ah, karena kau sudah sadar, aku akan menelepon Sasuke untuk-"
"Uchiha-sensei." Potong Hinata.
"Ya?"
"Kenapa Sensei tidak memberitahukanku?"
"Tentang?"
"Sasuke."
Guru kesehatan muda itu menghela nafas sedih. "Gomen, Hinata. Itu adalah keputusannya."
Isakan kecil meluncur dari tenggorokan Hinata.
"Seharusnya sensei... Memberitahukanku... Agar aku... Tidak lagi berharap padanya..." Terbata-bata, Hinata menjaga agar tidak menangis.
"Gomen, Hinata."
Sebuah tangan menepuk pelan kepala Hinata dengan lembut. Air mata yang sedari tadi dibendungnya meluap.
"Hiks... Aku harus bagaimana, Itachi-nii?"
.
.
.
"Hinata? Sedang apa kau disini?"
Hinata mendongak. Matanya bersibobrok dengan onix milik lawan bicaranya.
"Sa-sasuke-kun!"
"Kau kehujanan. Nanti bisa sakit."
Hujan semakin deras. Sasuke mendekat lalu memanyungi Hinata. Dibawah lindungan payung biru milik Sasuke, Hinata menggigil.
Sasuke melepaskan syal yang dikenakannya lalu dengan sebelah tangan memakaikannya pada Hinata.
"Apa yang kau lalukan disini?" Sekali lagi Sasuke bertanya.
Hinata menggeleng pelan. "Hanya menikmati hujan."
Genggaman Sasuke pada gagang payung mengencang.
"Bohong! Kau punya masalah, bukan?"
Hinata menggeleng lagi. Kepalanya menunduk. "Tidak ada, Sasuke-kun."
Masih sambil memayungi mereka berdua, Sasuke merendahkan tubuhnya sehingga kepalanya menyentuh kepala Hinata.
"Kau bisa bercerita padaku, Hinata. Aku saha-"
"Cukup."
"Hn? Ada apa Hina-"
"Aku bilang cukup, Sasuke!"
Sasuke mengerutkan keningnya bingung. Hinata tidak pernah membentaknya.
"Ada apa, Hinata?"
.
.
.
Sakura menangis. Disampingnya, Ino bergetar karena amarah.
"Kumohon, Hinata. Kau punya segalanya. Sedangkan aku, aku hanya memiliki Sasuke. Jangan rebut dia dariku."
Hinata mematung. Lidahnya kelu.
"A-aku tidak berniat merebut Sasuke darimu, Sakura."
"Kalau begitu jauhi dia! Dia milikku, Hinata!" Jerit Sakura histeris.
Hinata menggeleng. "Dia sahabatku, Sakura. A-aku ti-"
"Jangan bersembunyi dibalik label sahabat, Hinata! Kau tidak sanggup meninggalkan Sasuke karena kau mencintainya, bukan? Karena kau ingin merebutnya dari Sakura, iya kan?" Sembur Ino dengan marah.
Kesal, tanpa sadar Hinata menggigit bibirnya hingga berdarah. Jemarinya yang mungil mengepal erat.
"Apa aku salah? Apa aku salah karena menyukainya? Apa aku salah karena menyimpan perasaan padanya? Aku menyukainya terlebih dahulu! Lama sebelum Sakura bertemu dengannya! Aku tidak akan merampasnya darimu, Sakura! Tidak boleh 'kah aku menyimpan perasaan ini sendiri? Kau sudah memilikinya. Apa aku tak boleh tetap berada disisinya sebagai sahabat? Nyakinlah pada Sasuke. Dia memilihmu. Kalau kau yakin dia mencintaimu, seharusnya kau tidak perlu mengemis padaku untuk meninggalkannya."
Tangis Sakura mengencang.
"Kumohon. Hanya dia yang ku punya, Hinata..."
Tangan Ino bergerak, lalu Hinata merasa pipinya terbakar.
"Sahabat macam apa kau?"
"Jauhi aku, Sasuke."
.
.
.
"Hn?"
"Jangan berlaku baik padaku, Sasuke."
"Kenapa?" Tangannya yang bebas meraih helaian rambut Hinata yang menutupi wajah lalu menyelipkannya dibelakang telinga.
Lampu taman berkedip. Hujan mereda. Tangan Sasuke mematung diudara.
"Pipimu lebam." Bisiknya tidak percaya.
Hinata terdiam. Tangannya bergerak menutupi pipi kirinya yang membiru.
"Siapa yang melakukan ini padamu?" Desis Sasuke geram.
Tatapan Hinata terpaku pada ujung sepatunya yang bernoda tanah. "Bukan siapa-siapa. Aku terjatuh."
"Jangan bohongi aku, Hinata. Siapa yang melakukan ini? Tenten? Karin? Neji?"
Hinata menggeleng pelan.
"Ino?"
Lagi-lagi Hinata menggeleng.
"Sakura?"
Hinata mendesah, lalu kembali menggeleng.
"Sakura. Sakura yang melakukan ini padamu, bukan?"
"Bukan Sakura yang melakukan ini. Tidak perlu panik. Lagipula, ini sama sekali bukan urusanmu, Sasuke."
"Tentu saja ini urusanku, Hinata! Kau sa-"
"Apa? Sahabat? Sahabat terbaikmu? Teman masa kecilmu? Berhenti bersikap baik padaku Sasuke!" Jerit Hinata.
Air mata menuruni pipinya yang pucat.
"Berhenti bersikap baik padaku."
Kali ini Hinata terisak hebat. Hujan kembali menderas.
"Hinata..."
"Kumohon Sasuke. Berhenti bersikap baik padaku. Kalau seperti ini terus, aku tidak bisa berhenti mencintaimu."
Sasuke terdiam.
"Bodoh, bukan? Aku tahu kau tidak bisa menyukaiku lebih dari sebatas sahabat. Tapi disinilah aku. Memendam perasaan dengan berharap suatu saat nanti, sekali saja, kau bisa melihatku. Bukan sebagai sahabat, tetapi sebagai wanita. Baka. Hinata no baka."
Tawa kecil meluncur dari bibirnya.
"Hinata bodoh." Disela tawanya, Hinata kembali terisak.
"Hinata, aku-"
"Jangan katakan apapun, Sasuke. Aku tidak ingin mendengar apapun."
Hening. Yang terdengar hanya rinai hujan memeluk bumi.
"Pergilah Sasuke."
"Hinata-"
"Pergi!!!"
Sasuke mundur selangkah. Ekspresinya kecut. Perlahan, tangannya meraih tangan Hinata lalu meletakkan payungnya pada genggaman Hinata.
Ditelinganya, Sasuke berbisik ; "Sayonara, Hinata."
Hinata menarik nafas panjang lalu memaksakan sebuah senyum.
"Sayonara, Sasuke."
.
.
.
FiN
.
.
.
Note:
Pernah di publish di grup Lovely Fanfic of Sasuhina di Facebook, 30 November 2016
