A/N:
KonoHana, entah kenapa jadi merindukan pair ini.
Cerita dengan alur lambat dan nonklimaks. Just another flat story of mine. Aroma romansa yang kuat tapi penjabarannya sedikit longgar.
Disclaimer:
Saya hanya memiliki cerita ini, bukan karakternya.
ForgetMeNot09
.
.
.
Stress Reliever
.
.
.
Ia menguap. Padahal matahari sudah terbit beberapa jam lalu. Salahkan dirinya yang memilih menumpuk pekerjaan memeriksa hasil ujian mahasiswanya di akhir minggu. Ya, ia memang tipe pria pemalas yang suka menunda-nunda pekerjaan, itu kata teman-temannya. Namun, apa pun itu tak terlalu berpengaruh pada hidupnya. Ia menikmati yang seperti ini. Bermalas-malasan di seiap akhir jam kuliah dan menumpuk pekerjaan di Jumat malam. Alasannya sederhana, ketika pada selesai jam perkuliahan masih banyak kawan yang mengajak ia hang out dan menghabiskan waktu dengan hal tak bermanfaat layaknya bujangan pada umumnya. Sedangkan hari Jumat sore, sebagian besar dari mereka memilih menghabiskan waktu dengan kekasih hati atau keluarga. Maka dari itu, dirinya memilih menyibukkan diri untuk menghalau sepi.
Tubuhnya terasa lelah. Dengan sedikit gontai ia berjalan menuju dapur dan mengeluarkan sekotak susu dingin dari lemari pendingin. Ia menatap berkeliling dan tersenyum. Ia benar tidak menyesali pilihannya untuk hidup mandiri, alih-alih menerima tawaran sang paman meneruskan kendali perusahaan yang sedang dalam tahap berkembang. Bukan perusahaan besar, hanya bisnis kecil-kecilan yang akhirnya sedikit meluas dan memiliki pasaran yang cukup baik. Ia menolak lantaran merasa bahwa bisnis bukanlah passion yang ia miliki. Ia lebih memilih menjadi seorang pengajar, dan bercita-cita menjadi guru besar seperti sang kakek. Ia tertawa kecil dengan pemikirannya.
Lain Sarutobi Hiruzen, lain Sarutobi Konohamaru.
Sudah satu tahun sejak dirinya diterima menjadi pengajar di salah satu universitas terkemuka di Konoha. Perjalanan yang cukup panjang bagi pria enggan berkomitmen seperti dirinya. Nyatanya, ia mampu bertahan dan justru menikmati pekerjaan ini. Walau kadang ada sedikit masalah dengan kawan sesama pengajar, atau bahkan dengan mahasiswanya. Salah satunya adalah Uzumaki Boruto. Mahasiswa yang merupakan anak dari seniornya semasa kuliah itu cukup sering membuat masalah. Terlalu kekanakan untuk ukuran mahasiswa semester 6 seperti dirinya.
Ia mendesah, Boruto hanya satu dari sekian mahasiswa yang menurutnya bermasalah. Jika mengingat kembali alasan pemuda itu mencari masalah dengan dirinya, ia hanya bisa menggelengkan kepala.
"Kalau suka dengan Sarada bilang saja, Prof."
Itulah sekalimat perkataan Boruto. Ya Tuhan, padahal ia memberikan perhatian lebih pada Sarada karena gadis itu selalu aktif di kelas, jangan lupakan pula tentang nilai yang selalu membuatnya berdecak kagum. Mungkin memang ia salah, tapi bukankah itu hal yang wajar? Ketika seorang guru memberikan perhatian lebih kepada murid-muridnya yang mencolok? Dan bukankah Boruto juga selalu mendapat perhatian lebih dirinya, lantaran ia bengal?
Mendadak lamunannya terhenti saat ponselnya bordering. Dengan malas ia meraih benda kecil itu di atas lemari pendingin sembari berharap semoga bukan tugas mendadak dari dekan.
Alisnya berkernyit ketika mendapati nomor asing yang masuk ke teleponnya. Tanpa ragu ia menekan tombol "terima". Tak mengapa, seandainya ternyata penelepon adalah penipu, ia sudah siap untuk menipu balik. Ia tertawa.
"Halo?"
Suara gemerasak sedikit mengganggu telinganya, maka ia menjauhkan layar ponsel itu dari indera pendengaran.
"Prof, ini Uzumaki Boruto, apakah kau lupa dengan janji untuk memberikan kuliah tambahan hari ini?"
Suara di seberang sana beradu dengan bising, tetapi beruntung dia masih dapat menangkap ucapan orang tersebut. Lantas matanya melihat kalender dan menemukan lingkaran merah di sekeliling tanggal hari ini. Seketika ia menepuk dahi. Bagaimana bisa ia lupa dengan janjinya hari Selasa lalu?
"Ah maafkan aku Boruto, jujur aku lupa, tapi jangan khawatir, aku akan segera berada di sana dalam 10 menit."
Ia tidak main-main ketika mengatakan itu, karena secepat kilat ia menuju wastafel untuk mencuci muka kemudian berganti pakaian. Sebuah kaus berwarna hijau tua yang tak mampu menyembunyikan bentuk dadanya yang bidang, dan celana jin hitam. Tak mau repot, ia memakai sandal gunung yang tergeletak di depan pintu apartemen.
Langkah kakinya hampir tak menapak, sedikit berlari menuju tempat parkir di lantai dasar. Dua menit kemudian, motor besarnya sudah melaju membelah jalanan kota di Sabtu pagi yang senyap.
.
.
.
Baru saja sampai di tempat parkir perpustakaan kota, ia sudah disambut pemandangan mengerikan. Ya, baginya ini mengerikan hingga mungkin bisa membuat dunia ninja berguncang. Baiklah, ia hanya mengungkapkan sebuah metafora. Ia melihat mahasiswa yang biasa dikenal sebagai preman kampus, sedang duduk manis di taman perpustakaan dan menunduk mendengarkan seorang wanita yang sedang berbicara. Sejak kapan pemuda itu mau mendengarkan orang lain? Konohamaru tersenyum geli dan menggelengkan kepala. Ketika didekati, ia jadi sedikit tahu kenapa Boruto tidak bisa tidak untuk mendengarkan dengan saksama. Wanita berambut coklat panjang itu begitu anggun, hanya dengan kemeja putih berbalut blazer abu-abu dan rok span warna senada. Caranya berbicara tertata, lembut tetapi jelas menyiratkan ketegasan di dalamnya. Hal yang khas dari seorang wanita dari kalangan kelas atas.
Pria itu bergeming, turut hanyut dalam setiap kalimat yang wanita itu lontarkan. Ya Tuhan, ingatkan dirinya untuk kembali ke kenyataan, karena bagi Konohamaru wanita itu seperti malaikat.
Wanita itu memiliki iris pucat, jika dipikir-pikir, bukankah itu berarti dia seorang Hyuga? Ia tertawa konyol. Siapa tidak kenal Hyuga? Tentu saja ini menjelaskan segala perilaku menakjubkan dari wanita itu. Dan ia jadi ingat, ibu Boruto juga seorang Hyuga.
Tidak sadar ia telah berdiri lama, sampai sebuah tepukan keras di punggung mengagetkan.
"Profesor Sarutobi!"
Ia terlonjak, nyaris terjungkal, kemudian menoleh pada sosok gadis di depannya.
"Aaa … Sarada kau mengagetkanku," desahnya lega.
Sarada menyeringai, "Memperhatikan Boruto, atau …."
Konohamaru mengerutkan dahi, "Atau apa?"
Sarada memutar mata lalu mengajak Konohamaru mendekati Boruto.
Pria Sarutobi itu dibuat salah tingkah sekarang karena baik Boruto maupun wanita itu menatapnya tajam, meskipun wanita itu menutupinya dengan mimik datar.
"Wah, kalian habis kencan? Pantas lama sekali," ujar Boruto sinis.
Sarada hanya menatap sengit sedang Konohamaru merasa dirinya ingin menampar Boruto. Namun tentu saja ia urungkan. Matanya melirik saat sosok wanita di sebelah Boruto berdiri.
"Aku pulang dulu, Boruto. Lain kali ingat-ingat dengan baik kalau menyimpan barang."
Boruto tertawa canggung dan menggaruk kepalanya.
Wanita itu lalu menghadap Konohamaru dan membungkukkan badan.
"Saya permisi dulu, Profesor Sarutobi dan Nona Uchiha."
Konohamaru hanya bisa mengangguk kecil. Matanya tak henti mengekori langkah sang wanita.
"Tidak cukup Sarada rupanya Prof?"
Ia tersentak, dengan gemas dipukulnya lengan Boruto keras.
"Berani sekali kau Boruto, jangan mentang-mentang ayahmu kenal denganku kau bisa seenaknya saja."
Boruto mengendikkan bahunya tak acuh. Lantas ketiganya memasuki sayap kanan gedung perpustakaan kota yang memang difungsikan untuk tempat belajar mengajar.
Dalam perjalanan, Konohamaru banyak diam. Sesekali telinganya mendengar gurauan dari Boruto dan Sarada yang sepertinya memang sangat akrab. Hell bahkan ia paham, bahwa pemuda Uzumaki dan gadis Uchiha itu saling menyukai. Hanya saja gengsi terlalu tinggi membuat keduanya melakukan hal bodoh untuk menutup perasaan.
.
.
.
"Sudah tidak ada yang ditanyakan lagi?" tanya Konohamaru.
Kedua mahasiswa di depannya menggeleng.
"Padahal banyak yang belum memahami materi ini, tapi kenapa hanya kalian berdua yang datang?"
Boruto menyeringai, "Bosan mungkin Prof, jujur saja aku ikut karena yakin Sarada pasti ikut, dan aku khawatir kalian berbuat-"
Belum selesai ucapan Boruto, pemuda itu sudah dihadiahi cubitan keras di lengannya. Sontak ia mengaduh, Uchiha Sarada bukan sembarang wanita saat ia memukul.
Sedangkan Konohamaru hanya tertawa dan membalas, "Bilang saja kau cemburu kalau melihat Sarada bersama laki-laki lain."
Sudah bisa diduga, Boruto dan Sarada mematung, dengan pipi yang merona. Konohamaru masih tertawa dan meninggalkan mereka. Biar saja, sekali-kali seperti ini, toh ia memang dikenal dosen paling santai.
Pria Sarutobi itu melirik jam tangannya. Sudah menjelang tengah hari, baru beberapa jam dari pertemuan mereka tapi rasanya sangat lama, dan ia lapar sekali. Sepertinya semangkuk ramen bisa membuat perutnya kenyang, dan kini ia memutuskan untuk mampir sebentar di Ichiraku.
Tak sampai 15 menit motor hitam miliknya sudah sampai di depan kedai sederhana di tepi jalan. Kendati sederhana, peminatnya cukup banyak. Terbukti dari tidak adanya bangku kosong saat ini. Konohamaru mendesah, masa iya dia harus menunda makan siangnya? Tidak bisa, dia sangat lapar. Berubah pikiran ke tempat lain juga ia enggan. Perutnya sudah terlanjur menanti semangkuk ramen, dan jika ia memaksakan diri makan makanan lain, bisa dipastikan ia tidak akan kenyang.
Tiba-tiba matanya menemukan satu kursi kosong. Hanya saja, kursi di seberangnya sudah terisi. Tak masalah baginya selama orang di depan kursi itu mengizinkan dan tidak diizinkan pun ia akan memaksa. Ya ... Sarutobi Konohamaru memang begitu.
Ia melangkah mantap menuju kursi itu setelah memesan menu terlebih dahulu. Langkah pria itu terpaku. Di luar dugaan, orang yang duduk menghadap kursi kosong itu, rasanya baru ia lihat tadi pagi. Ada apa dengan sesuatu bernama kebetulan? Baik, ia hanya berlebihan.
"Halo, boleh duduk di sini?"
Yang disapa mendongak, irisnya melebar sejenak, sebelum kembali pada mode datarnya.
"Profesor Sarutobi?" lirihnya.
Konohamaru mengangguk, "Jadi boleh?"
Wanita itu tersenyum simpul dan mengangguk, "Silakan."
Konohamaru bersyukur, dia tak harus berlama-lama negosiasi. Siapa sangka ia kan dapat kursi ini dengan mudah. Pria itu menatap wanita di depannya. Iris sewarna kayu jatinya tak berkedip. Bagaimana bisa seseorang makan ramen dengan begitu anggun? Tetap menerapkan table manner dengan sempurna. Oh Konohamaru tertawa. Sedikit mengundang kernyitan di dahi sang wanita.
"Ada masalah, Profesor?" tanya wanita itu.
"Ti ... tidak," jawabnya.
Sebentar kemudian ia kembali menatap sang wanita Hyuga. Jika dipikir-pikir cantik juga ya. Wajahnya pucat berpoles make up tipis. Rambutnya dibentuk sanggul asal, membuka dengan jelas kulit leher yang terlihat mulus. Nyaris Konohamaru bersiul, untung ia tarik lagi. Bagaimanapun ia tidak mau dianggap aneh. Apalagi ini bukan acara bersenang-senang bersama kawannya.
"Ehm ..."
Ia berdehem untuk meminta perhatian, dan itu ia dapatkan lewat tatapan penuh tanya dari wanita di depannya.
"Saya tidak menyangka, orang seperti Anda datang ke tempat ini," ujarnya santai, tapi menyimpan rasa penasaran.
Wanita itu diam sebentar, kemudian tersenyum.
"Apa maksud Anda dengan orang seperti saya?"
Konohamaru masih tidak melepas tatapannya, "Hyuga adalah para jenius. Anda tahu pasti apa yang saya maksudkan, Nona ... atau Nyonya?"
Ia berjengit dengan pemikiran terakhir. Sayang saja rasanya kalau wanita sesempurna ini sudah bersuami.
"Nona, terima kasih. Saya tidak menyangka, orang berlatar pendidikan tinggi seperti Anda masih berpikiran sempit seperti itu," jawab wanita itu dengan tenang, sembari meletakkan sumpitnya di atas mangkuk, pertanda hidangannya telah habis.
Kedua tangan wanita itu terlipat dan bertumpu pada meja. Tanpa menanggalkan mimik tanpa ekspresi, netra piasnya menatap mata Konohamaru.
Pria itu tertawa lagi, ia selalu suka wanita yang lugas dan punya harga diri tinggi seperti ini. Mirip sebuah tantangan. Jangan ditanya tantangan apa, karena ia akan menjawab, tantangan untuk ditaklukkan.
"Bukan berpikiran sempit, tapi menyatakan realita. Anda tahu, bahkan kadang orang-orang di luar sana memiliki gengsi tinggi melebihi kemampuan mereka secara finansial."
Sang Hyuga mengangguk, ia paham benar maksud perkataan Konohamaru. Namun sepertinya enggan untuk berada lebih lama di sini.
"Sayangnya saya harus segera pergi, Profesor. Ada pertemuan yang harus saya hadiri," ujar wanita itu seraya berdiri.
"Ahhh ... sayang sekali, padahal saya berharap bisa lebih lama lagi berbincang. Pertemuan bisnis tentunya, Anda pasti sibuk sekali."
Wanita itu menggeleng, "Pertemuan keluarga. Sampai bertemu kembali, Profesor."
"Saya menantikan itu, Nona Hyuga ... maaf?"
Seakan paham, wanita itu menjawab sebelum berlalu.
"Hanabi, Hyuga Hanabi."
.
.
.
Peluhnya mulai bercucuran. Matanya tajam laksana elang. Ia menyeringai, menatap penuh kuasa pada wajah cantik yang terlihat lemah. Rona merah di wajah yang berbingkai rambut coklat basah, dan tubir yang menyuarakan desah, membuat gairahnya kian menggelora. Ia mempercepat gerakannya, sedikit lagi ... sedikit lagi ...
Tersentak,
ia terduduk, napasnya tersengal. Setelah memejamkan mata sejenak, ia menatap tubuhnya yang mandi keringat. Heran, ia memang lupa menyalakan pendingin ruangan. Namun dengan cuaca seperti ini seharusnya peluh tak sampai begini. Jadi ini benar-benar lantaran mimpi itu.
Pria itu tertawa. Ia membanting tubuhnya ke kasur dan memandang atap kamar. Sudah lama ia tidak bermimpi seperti ini, mengingat ia rajin memuaskan diri. Kenapa kali ini? Bahkan dengan wanita yang baru sekali, koreksi, dua kali ia temui.
Mungkin ini pertanda buruk, pikirnya. Ya, tidak mungkin seorang seperti dirinya terpengaruh satu dua peristiwa yang selintas lalu.
Setelah puas dengan reka ulangnya tentang mimpi itu, ia beranjak pergi dari tempat tidur dan mandi. Hari ini ia sudah berjanji mengantar sang kakek untuk berkunjung ke rumah pamannya.
Sebelum selesai dengan sarapan, ia baru ingat, ia memang sudah izin pada ketua jurusan, tapi belum sempat memberi kabar pada koordinator kelas yang akan ia ajar. Maka ia mengambil ponsel, dengan mulut masih menggigit roti.
Jarinya menggeser layar riwayat panggilan untuk mencari nomor Boruto. Ya, dia hanya tidak mau disangka benar-benar ada sesuatu antara dirinya dengan Sarada jika harus menghubungi gadis koordinator kelas itu. Setelah menemukan nomor kontak yang menghubunginya dua minggu lalu, ia langsung menekan tombol "panggil".
"Halo ...," ucap seseorang di seberang sana.
"Halo Bo-"
Ia baru sadar, bukan suara Boruto melainkan suara seorang wanita. Wanita itu ... wanita yang baru saja hadir dalam mimpi mesumnya. Wow fantastis!
"Halo?"
"Ya halo, maaf apakah saya berbicara dengan Nona Hyuga Hanabi?"
Ia menyeringai, menebak dengan pasti raut kebingungan dari Hanabi di sana.
"Ya, jika boleh tahu saya sedang berbicara dengan siapa?"
"Lupa dengan saya Nona? Sarutobi Konohamaru," jawabnya.
Pikirannya benar-benar mengutuk "kebetulan".
"Ada perlu apa Profesor?"
Tak suka basa basi, eh? Dia suka ini.
"Sebenarnya ada perlu dengan Boruto. Saya kira ini nomornya karena hari Sabtu dua minggu lalu dia memakai nomor ini menghubungi saya."
Gumaman terdengar oleh pria itu. Mau tidak mau ia jadi teringat lagi pada mimpinya.
"Ya waktu itu bocah Uzumaki itu lupa meninggalkan ponselnya di rumah. Jadi ia menghubungi Anda dengan ponsel saya."
Konohamaru tersenyum geli. Sempat hilang juga rupanya keanggunan Hanabi jika sudah berhubungan dengan Boruto.
"Kalau begitu saya minta maaf, dan apakah boleh saya meminta Anda menyampaikan pesan saya?"
"Mohon maaf Profesor, Boruto tidak tinggal di sini, jadi lebih baik saya berikan saja nomornya kepada Anda."
Konohamaru mengangguk dan mulai mencatat nomor yang dibacakan Hanabi. Cara yang tergolong kuno alih-alih mengirimnya lewat pesan teks atau sosial media.
"Terima kasih, Nona."
"Sama-sama Profesor."
Hanya begitu? Ya, Konohamaru bukan pria yang tidak berpikir dalam bertindak. Entah mengapa dia merasa sesuatu yang besar sedang menunggunya. Seperti berbagai kebetulan yang akan mengikuti kebetulan-kebetulan ini. Pria itu tertawa lagi, belakangan memang ia banyak tertawa.
.
.
.
"Sampai kapan, Konohamaru?"
Ia diam saja, tapi jelas menunjukkan ekspresi jengah. Lalu kakek tua di seberangnya menjawab asal.
"Dia mungkin tidak tertarik pada wanita."
Konohamaru tersedak, Asuma tergelak dan Kurenai tersenyum canggung. Ini bukan bahasan yang bagus.
"Kenapa Paman repot memikirkan aku? Aku sudah paham Paman, hanya saja memang aku belum punya niat untuk ke sana," elak Konohamaru.
"Jangan terlalu lama bermain, Anak Muda. Atau kau akan terlena dan tenggelam saat menyadari bahwa kau butuh berkeluarga," jawab Sarutobi Asuma tegas.
Konohamaru memutar matanya bosan, sebelum menemukan sosok gadis tomboi yang sedang tergesa-gesa memakai sepatu.
"Aku sedang menunggu Mirai, kalau kalian tidak keberatan."
Tentu saja jawabannya mengundang kekagetan yang lain. Hiruzen menjatuhkan koran yang sedang ia baca, Asuma ternganga hingga rokoknya terjatuh dan Kurenai menatap tak percaya pada pria itu.
Whack!
Sial, bahunya sakit sekali terkena pukulan si gadis tomboi.
"Jangan mengada-ada, Kak! Kau membuat semuanya jantungan!"
Pria itu tertawa sambil meringis.
"Aku pergi dulu Ayah, Ibu, Kakek dan ..." Mirai mendelik menatap saudara sepupunya.
"Iya Sayang," goda Konohamaru.
Dan lemparan sandal mengenai bahunya, lagi.
"Omong-omong Konohamaru."
Konohamaru menoleh pada pamannya. Apa ini? Apa pamannya mau menanyakan keseriusannya pada Mirai? Hanya dengan pemikiran itu ia bisa terkekeh.
"Ya Paman?"
"Tolong wakili aku dalam perayaan kerja sama di Sharingan Inc. minggu depan."
Konohamaru mendesah sebal. Matanya melirik Hiruzen untuk meminta pembelaan, tapi sang kakek malah pura-pura tidak melihat.
"Aku tidak mau Paman. Apalagi dengan keluarga Uchiha. Biar kutebak, kau sendiri juga sebenarnya malas kan bertemu Uchiha Fugaku?" serangnya.
Asuma mengepulkan asap rokoknya pelan, "Tidak juga, aku hanya sudah berjanji pada Mirai untuk mengantarnya ke Suna. Jangan katakan kau yang akan mengantarnya!"
Asuma mendelik, Konohamaru menggaruk-garuk kepala salah tingkah, ketahuan kalau ia berencana untuk kabur dari pertemuan.
"Lagipula, sekarang pemimpin Sharingan bukan lagi Uchiha Fugaku melainkan Uchiha Itachi."
"Wow ... begitu ..."
"Di sana akan banyak utusan dari perusahaan lain juga. Kau tak perlu tegang, ini benar-benar hanya perayaan, bukan acara resmi."
Konohamaru mau tidak mau menyetujui. Ya hitung-hitung sebagai tebusan karena ia menolak meneruskan perusahaan pamannya.
.
.
.
Hari ini Konohamaru benar-benar lelah. Seharian tadi mengajar persiapan ujian tengah semester. Tak banyak mahasiswa yang minat pelajaran tambahan sebenarnya, tetapi ia merasa memiliki tanggung jawab moral untuk melayani mereka yang berminat.
Langkah kakinya perlahan saat memasuki gedung megah milik Uchiha. Bukan lantaran ia ragu, ia hanya penat. Ya Tuhan, semoga saja dalam pesta ini ia bisa menepikan diri dari keramaian dan beristirahat.
Rupanya apa yang diharapkan tak benar terkabul. Sejak mengisi daftar hadir dan memasuki aula utama, ia sudah mendapat perhatian sebagian orang. Ia paham, ini mungkin karena cara berpakaiannya yang terlalu biasa.
Hell ia tidak peduli.
"Sarutobi Konohamaru."
Uchiha Itachi, pria bijak idaman setiap wanita menurutnya, menyapa dengan ramah.
"Selamat malam, Tuan Uchiha Itachi," balas Konohamaru.
Seperti paham akan pribadi Konohamaru, Itachi mempersilakan tamunya itu untuk menikmati pesta.
"Di lantai dua ada beberapa ruang pribadi. I know you're not into business party."
Konohamaru meringis.
Ia membawa dirinya naik ke lantai dua. Ada beberapa orang di sini, meski bisa dibilang cukup lengang. Alih-alih memasuki salah satu ruang yang pintunya terbuka, Konohamaru menuju pintu kaca yang menghubungkan aula lantai dua dengan balkon di luar.
Uchiha memang jenius. Hanya dari pemilihan gedung saja mereka sudah terlihat memukau. Dari lantai dua ini, Konohamaru bisa melihat taman bunga, yang konon kabarnya dirawat sendiri oleh Uchiha Mikoto. Taman ini sungguh menakjubkan, mungkin jika ini tempat umum akan banyak orang datang sekadar untuk melepas lelah, atau bahkan berdua dengan kekasih.
"Profesor?"
Telinga Konohamaru menegak. Ia bisa merasakan tengkuknya merinding dengan mendengar suara itu.
Sial!
Lagi-lagi kebetulan itu mengerikan.
Pria itu menoleh untuk dibuat bungkam. Di hadapannya seorang Hyuga Hanabi berdiri anggun. Gaun hitam panjang yang menempel pada tubuhnya, menonjolkan setiap lekuk yang sempurna. Bagian atas berbentuk kemban yang memamerkan belahan dadanya sedikit gagal karena tertutup rambut yang tergerai. Bagian bawahnya terbelah di sisi kanan, melajur dari atas lutut hingga ke telapak kaki yang telanjang.
Tunggu!
Telanjang?
Konohamaru bingung kenapa Hanabi tidak memakai alas kaki. Lantas mata coklatnya melirik tangan kiri Hanabi yang sedang membawa sepatu berhak tinggi. Tatapan pria itu menyipit, bibirnya berkedut, sebelum ia tertawa terbahak-bahak.
"Ada masalah?"
Pria itu menyadari nada tidak suka dari Hanabi. Namun ia masih bertahan selama beberapa saat untuk benar-benar menghentikan tawanya. Lalu dengan mata yang sedikit berair ia menatap jenaka pada Hanabi.
"Anda menggagalkan euforia saya," jawab Konohamaru.
Dilihatnya wanita itu mengernyitkan dahi sembari berjalan mendekat, ke pagar balkon tepatnya.
Hanabi memandang langit malam yang perlahan mulai menampakkan bintang kemudian tersenyum. Wanita itu tidak tahu, bahwa senyumnya yang hanya sesudut kecil mampu membuat hati pria di dekatnya menghangat.
"Saya hanya sedikit lelah ..."
Konohamaru diam, ia memilih ikut menatap langit dan menunggu Hanabi untuk meneruskan ucapannya.
"Ini sama sekali bukan saya, tapi karena tidak punya pilihan maka saya lakukan."
Padahal pernyataan itu sangat semu. Namun sepertinya Konohamaru paham. Mungkin Hanabi tak jauh berbeda dari dirinya? Hanya saja jika ia memilih menolak, Hanabi memilih mengalah.
"Kenapa tidak punya pilihan? Setiap manusia pasti punya pilihan dalam hidupnya," ujar Konohamaru.
Sejenak terasa hening, yang terdengar hanya deru rendah angin malam.
"Kak Hinata, Anda pasti mengenalnya, sudah memilih jalannya dengan meninggalkan perusahaan ayah. Jadi ..."
Konohamaru menunggu tapi Hanabi tak kunjung melanjutkan ucapannya.
"Anda yang menggantikannya," sambung Konohamaru.
Hanabi mengangguk lalu menoleh. Sesuatu yang tak Konohamaru sangka, wanita itu tersenyum simpul.
"La ... lalu, jika tidak memegang perusahaan, apa yang akan Anda lakukan?" lanjut pria Sarutobi itu gugup.
"Entahlah ... mungkin menjadi dosen seperti Anda?"
Mimik jenaka wanita itu membuat Konohamaru terkekeh. Jika diperhatikan, atmosfer saat ini lebih ringan dibandingkan pertemuan mereka sebelumnya.
"Jika Anda menjadi dosen, pasti banyak mahasiswa yang tidak betah," ledek Konohamaru.
Hanabi tertawa kecil. Entah kenapa ia begitu menikmati keberadaan pria ini. Jika dipikir-pikir, pria ini setipe dengan Naruto dan Boruto, pria humoris yang suka mengikuti pilihannya sendiri. Biasanya orang seperti ini punya sisi protektif yang cukup kuat kan?
Hanabi tertawa dalam hati membayangkan hal itu.
"Nona ..."
Hanabi menoleh, "Ya?"
Konohamaru melihat jam tangannya lalu menyeringai tipis.
"Anda terikat jam malam?"
Mungkin terkesan konyol tapi ya, bukankah jam malam acap diterapkan bagi orang-orang penting macam Hanabi?
Konohamaru tersenyum lebar saat didapatinya Hanabi menggeleng. Dengan keberanian yang baru saja ia kumpulkan, ia tarik tangan sang wanita keluar dari gedung megah itu.
"Anda akan mengajak saya ke mana, Pro-"
"Konohamaru, panggil saya dengan nama itu."
Hanabi terkejut, tapi ia mengangguk.
Keduanya kini sampai di tempat di mana Konohamaru memarkirkan motornya. Pria itu mengambil jaket dari bagian dalam jok motor dan memberikannya pada Hanabi. Hanabi yang masih kebingungan, menerima begitu saja. Wanita itu masih belum paham juga, sampai Konohamaru menaiki motor.
"Pakai jaketnya!"
"A-apa?"
Dasarnya Konohamaru tidak sabaran, ia turun dari motor, merebut jaket itu dan memakaikannya pada Hanabi. Lantas mengambil helm dan memakaikannya pada kepala sang wanita.
"Ka-kau gila?" teriak Hanabi tertahan.
Konohamaru terkekeh menyadari Hanabi yang berubah mode. Pria itu menaiki motor dan menatap Hanabi yang masih terlihat kesal.
"Ayolah, aku tahu apa yang kau butuhkan saat ini!" ajak Konohamaru.
Ia yang melihat Hanabi menggigit bibir bawahnya ragu, tersenyum geli. Ia paham, Hanabi pasti sangat ingin ikut dengannya.
"Ta-tapi ..."
Wanita itu menatap gaunnya yang menjadi masalah. Konohamaru mengikuti arah pandang sang wanita.
"Duduk menyamping saja, aku bawanya pelan-pelan," tawarnya.
Tak lama kemudian Hanabi mengangguk dan tersenyum tipis.
Sepasang manusia itu kini duduk di atas motor yang berjalan seiring dengan embusan angin malam. Tanpa mampu menyembunyikan senyum yang terus bertengger di bibir.
.
.
.
Sudah satu bulan sejak pesta perayaan Uchiha, Konohamaru belum bertemu lagi dengan Hanabi. Di samping dirinya yang sibuk menjabat ketua program studi baru, ia juga tidak punya alasan yang bagus untuk menemui Nona Muda Hyuga itu, bahkan untuk sekadar menghubunginya. Bukan Konohamaru pengecut, ia hanya tidak mau menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi Hanabi menentukan sikap. Dia tidak berhak untuk itu, sama sekali tidak.
Jika ditanya apa dia rindu, dia akan menjawab ya. Namun, dia bukan remaja tanggung yang mengedepankan perasaan dan ego. Hell, dia adalah pria di usia 35 yang sudah sangat matang. Segala permasalahan apalagi jika menyangkut perasaan, akan ia benamkan dalam lautan logikanya. Paling-paling ia hanya menghadirkan bayangan wanita itu dalam setiap fantasi. Hahahaha ...
Hari ini dia kembali pulang larut. Pekerjaan sebagai ketua program studi benar-benar menguras tenaga. Jika dulu dia hanya berkutat pada mata kuliahnya sendiri, kini lebih banyak disibukkan dengan urusan administratif. Yang seperti ini biasanya cepat membuat perut lapar.
Saat berpikiran seperti itu, matanya terhenti pada sebuah kafe yang sepertinya baru, karena ia tidak melihatnya minggu lalu. Atau ia terlalu abai?
"Mungkin mampir sebentar di kafe itu," gumamnya.
Lagi pula banner di dekat pintu kafe bertuliskan diskon 50% sampai akhir minggu.
Rupanya dewi fortuna tidak sepenuhnya berpihak padanya. Saat memasuki kafe, ia melihat beberapa mahasiswa yang duduk berpasang-pasangan. Sialnya lagi, tinggal sepasang kursi yang kosong. Ini memang diatur begini atau bagaimana?
Baiklah, dia memilih mengabaikan itu dan memanjakan rasa laparnya. Ia memesan sepotong kue coklat dan secangkir kopi pekat. Rasanya itu akan cukup mengganjal perut sebelum sampai apartemen.
Saat akan menarik kursi yang sudah diincar, tiba-tiba orang lain menarik kursi di seberangnya. Konohamaru mendongak dan kembali dibuat bodoh oleh "kebetulan".
"Ka-kau?"
Hyuga Hanabi mendengus, menggumam tentang kenapa dia selalu bertemu dengan laki-laki ini?
"Halo Hanabi," cengir Konohamaru tanpa merasa bersalah.
"Halo ..."
"Kau punya teman untuk duduk di sini?"
Hanabi menatap pria di depannya dengan ekspresi datar. Tak bisa ditebak apa ia senang atau tidak dengan keberadaan Konohamaru di sini. Bagaimanapun Konohamaru masih ingat, malam itu Hanabi terlihat bahagia bersamanya.
"Inginnya menjawab iya, tapi jujur saja tidak," ujar Hanabi sembari mendudukkan diri di kursi.
"Hahaha kau kejam sekali."
Konohamaru pun ikut duduk.
Meski pada awalnya mereka terlihat tegang, tetapi menit berikutnya mulai santai. Berbincang masalah pekerjaan sampai masalah Boruto.
Konohamaru bisa menangkap bahwa Hanabi terlihat lebih bahagia dari malam itu. Ya, mungkin malam itu memang sang wanita sedang dalam kondisi downnya.
"Bukankah kau pernah bilang biasanya menghabiskan waktu dengan teman-teman?" tanya Hanabi.
"Tidak bisa lagi sejak jabatan konyol baru ini," dengusnya mengundang Hanabi tertawa kecil.
"Akhirnya Konohamaru bukan lagi pria bebas seperti katanya waktu itu."
Pria itu mendengus lagi. Setelah memakan potongan terakhir kuenya, ia melirik Hanabi yang masih saja membuatnya kagum hanya dengan pakaian sederhana semacam kemeja lengan panjang dan rok span pendek.
"Sesekali jadilah dirimu sendiri jika sedang tidak berada di dalam bisnis," celetuk pria itu.
"Tidak bisa, Konohamaru. Orang sudah tahu siapa aku, mereka sudah paham bagaimana seorang Hyuga seharusnya bersikap, dan itu akan terus melekat."
Konohamaru mengangguk paham. Ia menatap Hanabi dengan intens. Ya, ia tak pengecut mengakui bahwa ia tertarik pada wanita ini.
Hanabi yang merasa diperhatikan mendongak, balas menatapnya dengan wajah bingung. Seolah bertanya, "Ada apa?"
Konohamaru menyeringai, "Jangan berekspresi begitu, aku jadi ingin memakanmu tahu?"
Hanabi mendelik, mukanya menyepuh merah.
"Jangan bercanda!"
"Apa aku terlihat sedang bercanda?"
"Tidak, tetapi kau terlihat seperti sedang merayuku."
"Kurang lebih seperti itu, jadi apa kau mau kurayu?"
Hanabi diam. Konohamaru ikut diam. Sebelum keduanya tertawa lepas, mengundang perhatian seisi kafe.
"Kau gila, Sarutobi."
"Kau cantik, Hyuga."
Hanabi melambaikan tangannya, "Baiklah ... baiklah ... Tell me what you want!"
Sang pria menegakkan tubuhnya, "A kiss for now."
"Kita tidak bisa melakukannya di tempat umum," ujar Hanabi santai.
Melihat keduanya telah selesai dengan santapan, Konohamaru berdiri dan mengulurkan tangan.
"My place then?"
Hanabi menerima uluran tangan pria itu dengan perasaan hangat.
"Fine."
Konohamaru berjanji dalam hati akan membantu meredakan stres Hanabi dan dirinya sendiri.
.
.
.
TAMAT
