01
Koridor saat pulang kerja memang selalu ramai. Begitu pula koridor tempat Nakahara Chuuya bekerja. Jarum di arlojinya sudah menunjuk angka tujuh ketika ia menaiki lift bersama beberapa karyawan lain. Orang-orang di sana memang gemar bekerja hingga larut. Chuuya sendiri mungkin tidak terlalu gila kerja. Namun ia jarang menghabiskan waktu di apartemennya. Lelaki bersurai sinoper itu tidak memungkiri fakta bahwa harinya lebih banyak dihabiskan di kantor. Karena alasan itu pula ia enggan mengadopsi hewan peliharaan.
Mereka―Chuuya dan beberapa karyawan lain naik dari lantai lima belas. Semakin ke bawah, semakin banyak pula orang yang mendesak masuk ke dalam ruang sempit itu. Ketika angka di atas pintu sudah mencapai angka delapan, kondisi di dalam sana resmi penuh. Orang-orang dari lantai di bawah mereka sudah tidak dapat bergabung lagi. Chuuya sendiri berada dalam posisi tersudut. Ia sulit untuk bergerak ke manapun. Bahkan sulit untuk merogoh ponsel di sakunya.
"Aku tidak menyangka akan terjebak bersamamu, Chuuya," sebuah bisikan tertangkap oleh telinganya. Terdengar berat seperti seorang pria. Yang dipanggil menoleh sedikit dan menemukan sosok yang sangat ia kenal. Rautnya berubah terkejut. Ia lalu bergumam pelan untuk mengiyakan.
Sapaan pria itu tidak berhenti di sana. Chuuya merasakan remasan pelan pada bokongnya. Ia mendengus tidak nyaman, namun urung melontarkan protes. Ia tidak ingin orang-orang di dalam lift menyadari apa yang sedang terjadi.
Menganggap respons Chuuya, sosok itu berhenti meremas bokongnya. Jemarinya beralih menyusuri area kemaluannya, sedikit menekan agar sinoper itu dapat merasakannya. Chuuya sekali lagi mendengus―lebih terdengar seperti menghembuskan napas yang ia tahan ketika pria itu mengelus-elus area di bawah celananya. Kedua pipi Chuuya memerah. Ia mengedarkan pandangan ke sekelilingnya, menatap orang-orang yang tengah sibuk dengan diri masing-masing sementara dirinya tengah dilecehkan.
Ada bunyi bel singkat yang menandakan bahwa mereka telah tiba di lantai dasar. Seluruh penghuni lift berhambur keluar, membuat Chuuya tidak lagi tersudutkan. Ia hendak berjalan keluar ruang sempit itu sebelum bisikan rendah sampai ke daun telinganya yang memerah, "Maukah kau bermalam di ruanganku lagi, Chuuya?"
Sinoper itu merasakan sepasang manik violet tengah menatap ke arahnya. Jemarinya sudah berhenti menyentuh, namun sorotan itu seolah menahannya. Ia tersipu dan menoleh, menjawab tawaran pria itu.
"Ya, Mori-san."
.
.
.
.
.
To be continued
