02

Chuuya tidak bisa mendeskripsikan hubungan apa yang terjadi di antara mereka. Ia bekerja untuk pria itu, bercinta dengan pria itu, mendesah dan memanggilnya "Mori-san"—alih-alih panggilan sayang antar pasangan. Pria dengan manik violet itu tidak memiliki hubungan dengan siapapun selain Nakahara Chuuya. Ia memang mengagumi seorang gadis berusia lima tahun ketika bakti sosial perusahaan. Tapi ia tidak peduli lagi setelah kembali ke kota. Dan Chuuya tetap ditariknya untuk bermalam.

Sinoper itu berlutut di koridor lantai dasar. Satu hal yang terbesit di kepalanya adalah mengapa pria ini selalu memilih tempat umum untuk berhubungan. Chuuya merasa was-was setiap Mori Ougai menyuruhnya melakukan sesuatu. Seperti saat ini, ia tengah mengulum kejantanan pria itu—sambil berharap tidak akan ada yang lewat di sana. Mori akan mengusap surai jingganya pelan bila ia merasa kurang. Permainan Chuuya tidak dapat disebut ahli. Ia baru pertama dihadapkan dengan sesuatu seperti ini.

Mori menyebutnya sebagai "partner". Chuuya tidak terlalu mengerti ketika ia ditanyai hal ini. Kala itu, dirinya tengah beristirahat di atap gedung. Pria itu datang dan membagikan rokok miliknya.

"Maukah kau menjadi partner-ku?" ucapnya pada si bawahan. Chuuya tidak memiliki jawaban lain. Namun sekujur tubuhnya menegang ketika pria itu mencuri ciuman dari bibirnya, memberikan lumatan basah di sana.

Kala itu, pikiran Chuuya benar-benar kosong. Ia tidak membayangkan seperti apa partner yang diinginkan atasannya itu. Sampai hari ini.

Saat ini.

"Chuuya-kun," panggil suara itu.

Yang disebut mendongak, menatap wajahnya dengan sepasang azure yang berkilat indah. Mori sendiri gemar menatapnya. Favoritnya adalah ketika iris itu tampak berkaca-kaca dan saat bibirnya sedikit terbuka selepas tautan dalam.

Mori membalik posisi mereka dan menahan Chuuya di depan dinding. Dengan cepat ia melucuti celananya dan meraba permukaan mulus bokongnya lagi, seperti di dalam lift—kali ini terasa lebih nyata dan halus.

Chuuya menggigit bibirnya pelan untuk menahan lenguh ketika pria itu menelusupkan jemarinya ke dalam celahnya, melebarkan pipi bokongnya. Sinoper itu menoleh, menatap Mori dengan wajah merah padam.

"Aku menyukainya." Ia tersenyum tipis, perlahan memasukkan telunjuknya ke dalam lubang anal Chuuya.

.

.

.

.

.

To be continued