03

Chuuya menelan ludah gugup. Kedua lututnya mendadak lemas ketika Mori memasukkan telunjuk ke dalam analnya. Sinoper itu mengepalkan tangan, melirik sedikit ke belakang dan menemukan senyum ramah tertuju ke arahnya.

"Apa kau takut, Chuuya?" ucapnya pelan seraya menggerakan jarinya masuk dan keluar dari tubuh Chuuya.

Yang ditanya tidak menyahut, namun pundaknya tampak gemetar. Mori menangkap dengusan, hasil dari perasaan takut bercampur dengan kenikmatan. Ia tidak menghentikan gerakan jarinya, tapi membuat temponya semakin cepat.

Alih-alih dengusan, kali ini Mori menangkan suara napas sinoper itu. Memburu seolah sedang berlari sprint. Chuuya sendiri merasakan panas menyelimuti tubuhnya. Pelipisnya berkeringat seraya tubuhnya merespons sentuhan pria itu.

Pinggulnya bergerak maju dan mundur, sedikit membuat Mori kewalahan mengatur kembali tempo yang sudah ia ciptakan. Pria itu tidak ingin memutusnya. Oleh karena itu, jari tengah pun ikut menyusul telunjuknya. Tubuh Chuuya berhenti bergerak setelah dua jari dipaksa masuk ke dalam analnya.

Ia meringis pelan, mencoba meraih lengan Mori. Pria itu menyambut tangannya, membiarkan jemarinya menelusup di sela-sela milik Chuuya—menggamitnya.

"Kau benar-benar ketakutan," bisik rendah.

Chuuya hanya melenguh pelan sebagai balasan. Ia merasa tidak nyaman dengan tempat di mana mereka berada, namun ia tidak dapat memutusnya begitu saja. Tubuhnya merasa candu, urung untuk berpindah dari sana.

"Tapi aku belum melakukan apapun," tambah Mori, "Kau juga belum memanggil-manggil namaku."

"Mori-san—hh," sambar Chuuya. Ia menengok dan memperlihatkan sepasang azure yang berkaca-kaca, persis seperti yang disukai pria itu.

"Oh, kau baru melakukannya," sahut Mori kemudian menghentikan permainan jarinya. Ia membenahi celana Chuuya dan singgah sebentar menyentuh kepemilikannya. Pria itu bisa merasakannya berdiri tegak dan menegang—sedikit basah karena precum.

"Mori-san, aku—," ucapan Chuuya tertahan karena pria itu terus mengelusnya. Bila ini terus berjalan, maka ia akan mencapai klimaksnya dan keluar di koridor kantor.

"Bukankah aku mengundangmu bermalam di ruanganku?" bisiknya pelan, "Kau perlu ke sana untuk mendapatkannya."

Mendengar perkataan itu, Chuuya langsung menarik tangan Mori menuju lift. Ruangan Mori Ougai berada di lantai tiga. Tidak akan butuh waktu lama untuk menahan hasratnya. Namun pria itu justru menolak, menahannya untuk tetap di tempat.

"Apakah kau tidak ingin sedikit olahraga malam?"

.

To be continued