04
Chuuya bisa menebak kegiatan apa yang dimaksud Mori Ougai untuk "olahraga malam". Tapi menaiki tangga darurat hingga ke lantai tiga akan membuat ketegangannya menurun. Ia bisa saja melupakannya di tengah jalan dan perlu memulai dari awal lagi.
Namun semua itu tidak terjadi malam ini. Pria itu tahu apa yang harus dilakukan dan meninggalkan sebuah vibrator di dalam lubang analnya. Bentuknya seperti sebutir telur, namun bergetar lebih cepat semakin tinggi ia naik. Chuuya hampir saja menyerah sebelum mencapai lantai dua ketika Mori menaikkan levelnya.
"Tidak perlu takut, Chuuya. Tidak ada yang melihatmu di sini," hibur Mori sebelum mengecup pipinya singkat. Sinoper itu mengangguk pelan, tetap berpegangan pada pembatas tangga erat-erat sambil melangkah ke atas.
"Mori-san—hh," panggil Chuuya. Ia tidak dapat meninggalkan desah di akhir panggilannya karena sulit untik menahan rangsang di dalam tubuhnya.
"Ya, Chuuya?" sahut pria itu melingkarkan sebelah tangannya di pinggang Chuuya, membantunya naik di setiap anak tangga.
"Apa kau tidak—hh—pernah ingin pulang cepat?" tanyanya murni penasaran. Satu hal yang membuat Mori bertahan ada Nakahara Chuuya adalah karena ia tidak pernah memiliki maksud khusus. Sebagai seorang pemilik gedung sekaligus perusahaan ini, Mori sudah sepantasnya menjaga jarak dengan para karyawannya. Namun Chuuya adalah kasus khusus.
Laki-laki ini hanya segan padanya sebagai atasan. Ia bahkan tidak berpikir panjang untuk menjawab pertanyaannya di atap gedung dulu. Nakahara Chuuya tidak menolak ciuman yang tiba-tiba ditujukan padanya—malahan mencoba menyambut sebisanya. Ia bahkan meminta maaf—hal yang seharusnya dilakukan Mori karena melecehkannya.
"Kau benar-benar naif," sahut pria itu, tidak menjawab pertanyaan barusan.
"Apa Mori-san tidak memiliki—hh—seseorang yang menanti di rumah?"
Pria itu memasang senyum tipis. Tangannya perlahan mengelus area di bawah perut Chuuya. Sesuai perkiraan, milik lelaki itu masih menegang. Precum-nya merembes dan membasahi bagian depan celananya.
"Bagaimana denganmu?" tanyanya balik.
"Aku tinggal—hh—sendiri," sahut Chuuya cepat. Lelaki itu bahkan tidak mempermasalahkan Mori yang sedari tdi tidak menjawab pertanyaannya.
"Apakah kau akan menungguku sepulang kerja?" tanya pria itu lagi seraya membuka resleting celananya, membiarkan kepemilikan Chuuya bebas dari sangkar.
"Mori-san," tahan Chuuya. Tangannya berusaha membenahi celana dan memasukkan kemaluannya kembali. Namun Mori melarang, membiarkannya terlihat jelas dengan precum yang menetes ke lantai.
"Maaf," elak Chuuya. Ia menunduk, melihat cairannya yang mengotori anak tangga.
Mori hanya tersenyum dan mengambil saputangan dalam sakunya. Ia membersihkan noda precum di lantai sebelum mengantar Chuuya melewati tangga menuju lantai tiga.
"Bertahanlah, Chuuya," ujarnya, mengabaikan kemaluan Chuuya yang masih terpampang.
Mereka sampai di putaran. Chuuya bersandar pada dinding sejenak sementara mengatur napas. Tangannya mengusap kepemilikannya sendiri. Berharap cairan yang sedikit demi sedikit keluar dari sana segera berhenti. Namun pada akhirnya precum itu hanya membuat tangannya basah. Miliknya masih menegang dan meneteskan cairan lagi.
Mori menaikkan level vibrator-nya sekali lagi kemudian memasukkan pengaturnya ke dalam saku. Ia berlutut di hadapan Chuuya, menatap milik lelaki itu sambil tersenyum.
"Mori-san, tolong—hh—jangan—,"
Sepasang violet balas menatapnya hangat.
"Bukankah tidak ada pilihan lain?"
To be continued
