05
Chuuya seperti dimanjakan dua arah ketika Mori menjilati miliknya, menyeka precum yang sejak tadi keluar dari sana. Sinoper itu tiba-tiba mengelak, mendorong pria itu untuk berhenti. Ia tidak berani melihat atasannya melakukan hal itu untuknya.
"Mengapa, Chuuya?" tanya Mori. Chuuya sempat melihat seringai di bibirnya sebelum berganti ekspresi kecewa.
"Aku tidak ingin Mori-san melakukannya," sahut Chuuya. Ia memalingkan wajahnya malu sementara kedua tangannya menutupi kemaluan.
"Aku berbohong kalau tidak ada cara lain," ucap Mori kemudian. Ia mengeluarkan saputangan dan menghampiri Chuuya, menyingkirkan kedua tangannya. Saputangan itu menutup ujung kepemilikannya.
"Kau harus menyimpan tenaga untuk menahannya nanti," ujar Mori kemudian mengecup dahi Chuuya singkat. Azure lelaki itu masih berkaca-kaca, menatapnya, meminta persetujuan.
Mori mengangguk singkat, membiarkan semen lelaki itu mengotori saputangannya. Telinganya menangkap permohonan maaf, lagi dan lagi. Namun pria itu hanya tersenyum sebagai balasan.
"Apa kau benar-benar takut semen-mu mengotori lantai?" tanya Mori dibalas anggukan pelan.
"Apa aku boleh memberikan solusinya?" Chuuya balas menatap yakin. Azure-nya berkilat cerah.
"Tapi kau akan merasa amat tersiksa," ujar pria itu seraya mengelus batang kemaluan sinoper itu. Pundak Chuuya menegang oleh sentuhan itu, namun kepalanya mengangguk lagi.
Mori tersenyum tipis, mengambil sesuatu di dalam sakunya, sebuah batang logam tipis dengan ujung tumpul. Chuuya menatapnya bingung. Namun begitu Mori menyandingkan logam itu dengan miliknya, ia bergidik.
"Bukankah aku sudah mengatakannya?" Alih-alih memasukkan kembali logam itu ke dalam saku, Mori justru menyentuh ujung kepemilikan Chuuya, mencari lubang kecil di sana.
Lelaki itu tidak menghindar. Meski tubuhnya gemetar hebat, ia tetap berada di sana, menahan perih ketika batang itu perlahan masuk ke dalam lubang kecilnya.
Chuuya menggigit bibirnya sendiri, memandang anak tangga lain menuju lantai tiga. Ia ragu dapat berjalan lagi sampai ke sana dalam kondisi ini.
Namun Mori menggenggam tangannya, siap untuk menuntun langkah Chuuya sampai ke ruangannya.
"Masih terlalu dini untuk beristirahat, Chuuya," ujar Mori seraya menarik sinoper itu untuk melanjutkan perjalanannya.
To be continued
