06
Hal pertama yang dilakukan Chuuya ketika sampai di ruangan Mori adalah menjatuhkan dirinya ke lantai. Napasnya terengah seiring pria itu mengunci pintu. Di dalam sana kedap suara. Desahan yang akan Chuuya keluarkan tidak akan sampai pada telinga siapapun kecuali Mori Ougai—sosok yang tengah menyudutkannya.
Pria itu menatap kedua matanya kagum. Ia membisikkan kata "indah" di telinganya, membuat kedua pipinya merah padam. Tangan Chuuya sedang memegangi kepemilikannya. Mori memang tidak menyentuhnya sejak tadi, namun rangsang dari vibrator membuatnya tidak nyaman.
"Mori-san—hh—apa yang ingin kau lakukan malam ini?" tanya lelaki itu, terdengar polos dan meminta di saat yang sama.
Pria itu hanya tersenyum, melepaskan celana Chuuya dari kaki mulusnya. Telunjuknya mengelus area di bawah kemaluannya, tempatnya memasukkan vibrator di koridor tadi. Chuuya mendengus pelan, merasakan benda itu masih bergetar di dalam sana.
"Aku ingin melihat vibrator-nya," ucap Mori sambil membelai rambut yang terurai di bahu Chuuya. Lelaki itu balas menatapnya bingung. Namun ia merasa harus melakukannya sekarang juga.
Mori berdiri dan memperhatikan bagaimana sinoper itu berusaha mengeluarkannya. Chuuya berjongkok dan mengejan. Kedua tangannya bertumpu pada lantai ketika vibrator itu sedikit demi sedikit keluar dari lubang analnya. Ia memejamkan mata, menahan rasa malunya di depan Mori.
"Tidak apa-apa, Chuuya," ucap Mori sambil berlutut dan mengusap pipinya. Ia memiliki kesempatan untuk melihat sepasang manik yang berkaca-kaca itu lagi, hal yang amat ia sukai.
"Mori-san—hh," sahut Chuuya ketika mendengar bunyi benda jatuh ke lantai.Telinganya juga menangkap suara getaran yang masih dihasilkan benda itu.
"Anak pintar." Mori tersenyum hangat dan mengusap kepalanya. Chuuya sendiri terududuk di lantai, membiarkan kulitnya merasakan dinginnya keramik.
Namun belum lama, Mori sudah menarik tangannya lagi, mendudukkan Chuuya di atas sofa dan melucuti kancing kemejanya. Chuuya tidak mengelak. Ia hanya tersipu karena setelahnya Mori dapat melihat kedua puncak dadanya yang tengah menegang.
Pria itu mencubitnya agak keras, membuatnya lebih menonjol dari sebelumnya. Ia juga mengulumnya, membuat Chuuya merasa geli dan basah. Tangannya terkepal di atas sofa, membiarkan Mori bergerak dengan bebas untuk mencumbu dadanya. Chuuya meringis pelan saat pria itu menggigitnya, meninggalkan bekas di pinggirnya.
"Mori—hh—san, jangan—," panggil Chuuya ketika pria itu menjilat puncak dadanya. Warnanya sudah berubah kemerahan karena ulah sosok bermata violet itu.
"Aku ingin melihatmu menangis lebih lama," ucapnya kemudian mengusap air mata yang mengalir di pipi Chuuya.
"Mata ini tampak sangat indah saat berkaca-kaca."
.
.
.
.
To be continued
