07
Pemilik sepasang azure itu tidak habis pikir dengan apa yang ia dengar. Perkataan Mori Ougai terdengar samar, mengandung arti yang sulit untuk ia cerna. Chuuya tidak merasa cukup untuk menjadi seorang partner bagi atasannya ini. Namun sekarang, yang ia dapati adalah tangan yang melingkar di tubuhnya, membawa Chuuya untuk duduk di atas pangkuan pria itu.
Mori mengusap dahinya, menyingkirkan helai jingga yang menghalangi pandangan. Kemudian ia mengecup ujung hidungnya. Chuuya memejamkan mata sesaat, lalu menemukan sepasang iris berwarna violet tengah menatapnya lekat.
"Chuuya, kau tampak tersiksa," ujar pria itu sambil mengelus punggungnya yang tertutup kemeja putih.
Sinoper itu tidak menyinggung apapun sejak tadi, bahkan ia juga tidak mengaduh dengan bibirnya. Namun Mori tetap mengetahuinya, tidak melupakan apa yang telah ia lakukan sebelumnya.
"Kau tidak perlu takut untuk mengeluarkannya," ujar Mori seraya menyentuh kepemilikan Chuuya yang masih menegang di bawah sana.
"Tapi, Mori-san—," ucapannya tertahan ketika pria itu meraih tangan Chuuya, menaruhnya di atas kejantanannya yang masih tertutup celana. Lelaki itu bisa merasakannya, menegang sama seperti miliknya.
"Aku akan menemanimu," tambahnya sambil kemudian menyuruh Chuuya bertumpu pada lututnya sendiri. Mori, sementara itu membuka resleting celananya, menunjukkan miliknya yang sudah berdiri tegak.
Chuuya sendiri menunduk, memperhatikan bagaimana ujung kejantanan pria itu sedikit menyentuhnya. Terasa panas sekaligus memancing. Sinoper itu memegang sandaran sofa dengan tangan kirinya, sementara yang kanan perlahan memastikan milik Mori benar-benar masuk ke dalam lubangnya.
Ia meringis di tengah jalan, merasa penuh oleh kejantanan pria itu. Mori meraba permukaan punggungnya. Terus turun hingga kedua tangannya berhenti di pipi bokong Chuuya, melebarkan jalan masuk untuk kepemilikannya.
Chuuya melenguh pelan, membiarkan celahnya penuh sesak. Pegangannya berubah menjadi cengkraman dan air matanya kembali mengalir. Ada rasa perih di bawah sana saat Mori memasuki tubuhnya, namun semua itu sebanding dengan kenikmatan setelahnya. Chuuya tidak dapat menahan diri untuk bergerak, mencari kenyamanan agar titiknya terhujam.
Mori duduk dengan tenang di bawahnya sembari menatap iris Chuuya yang berkaca-kaca. Selangkah sebelum mencapai puncak, ia menahan tubuh Chuuya, meraih milik lelaki itu yang telah berubah kemerahan. Mori menarik batang logam yang sedari tadi ia pasang. Semen Chuuya keluar dengan deras, membasahi pakaian dan sofanya. Juga membuat lelaki itu menggigit bibir karena gugup.
Pria itu hanya tersenyum seraya mendorong tubuh Chuuya hingga berbaring di permukaan sofa. Ia menatap wajahnya, juga iris birunya yang indah. Perlahan Mori menghujam tubuhnya lagi, memasukkan dan mengeluarkan kejantanannya dari lubang Chuuya dengan tempo yang semakin cepat.
Chuuya sendiri hanya dapat melingkarkan tangan di tengkuk atasannya, membuka bibirnya untuk mendesah dengan kencang. Kejantanan Mori terus menghujam titiknya, membuat tubuhnya merasakan kenikmatan terus menerus.
"Sebut namaku, Chuuya," bisik pria itu.
"Mori-san—hh," lenguh si sinoper, "Mori-san."
Napasnya terdengar memburu di tengah tempo yang cepat itu. Chuuya memperhatikan ekspresi puas pria di atasnya. Bersamaan dengan sensasi aneh ketika semen milik Mori keluar di dalam tubuhnya.
.
.
.
.
.
To be continued
