08
Gerakan pria beriris violet itu berangsur-angsur melambat. Ia menghentikan kegiatannya pada ronde pertama karena mendengar napas Chuuya yang tersengal-sengal. Lelaki itu akan sangat lelah bila ia tidak memberi jeda.
Dengan segera ia melepaskan Chuuya dan membiarkannya berbaring, sementara dirinya melepas pakaian dan menjatuhkannya ke lantai. Ia berjalan ke kamar mandi yang berada di ruangnya. Mori biasa menggunakan fasilitas itu bila jadwalnya terlalu padat. Namun akhir-akhir ini ia selalu menggunakannya selepas bercinta.
Pria itu pergi menyiapkan air mandi dan menaruh pakaiannya serta milik Chuuya ke dalam mesin cuci. Kalau melakukannya sekarang, maka setelan mereka dapat segera kering.
Chuuya beranjak dari sofa tanpa mengenakan sehelai benang pun. Mori juga mengambil kemejanya untuk dicuci. Lelaki itu terduduk di lantai, memperhatikan sofa tempat mereka berhubungan. Ada sedikit noda cairan di atasnya. Ia mengambil beberapa lembar tisu di meja Mori dan pergi ke kamar mandi untuk membasahinya dengan air dan sedikit sabun. Lelaki itu tidak suka meninggalkan jejak—lebih tepatnya ia tidak suka membuat orang lain kerepotan karena dirinya.
"Apa yang sedang kau lakukan, Chuuya?" suara Mori menginterupsi. Chuuya menoleh dari depan wastafel. Namun dengan cepat memalingkan wajahnya kembali. Ia melakukan apa yang diinginkan dan langsung kembali ke dalam ruangan.
Mori tidak marah apabila Chuuya tidak menyahut. Lelaki itu terlalu segan padanya. Ia membiarkan Chuuya membersihkan jejak mereka sementara menyiapkan air mandi mereka.
Ya, mereka, Chuuya tidak perlu repot membersihkan apapun nanti karena Mori dapat memulai ronde baru di dalam bathtub.
Setelah semua siap, Mori menyusul sinoper itu ke dalam ruangannya. Ia telah selesai membersihkan sofanya juga membuang tisunya. Mori tersenyum seraya memanggilnya mendekat.
"Apa kau mau menemaniku mandi?"
.
.
.
.
.
To be continued
