09
Tidak ada alasan bagi Chuuya untuk berkata tidak. Lelaki itu kini tengah berdiri di depan dinding. Mori bersikeras untuk membersihkan semen-nya di dalam tubuh Chuuya, memasukkan dua jarinya ke dalam lubang analnya. Chuuya sendiri juga tidak dapat menahan lenguhnya. Membersihkan celahnya sama saja dengan melakukan foreplay; pemanasan sebelum penautan tubuh. Ia merasa salah jika mendesah, namun suara itu tetap keluar juga.
"Apa kau merasa terangsang, Chuuya?" Pilihan kata pria itu membuat si sinoper tersipu malu. Ia tidak bermaksud, namun memang benar adanya.
Beberapa menit berada di dalam sana, akhirnya telunjuk dan jari tengahnya keluar, bersama dengan cairan putih yang sebelumnya tertinggal di dalam sana. Chuuya menghela napas lega dan merosot ke lantai. Itu sebelum akhirnya Mori mengangkat tubuhnya ke dalam bathtub. Chuuya terkesiap, hendak keluar dari sana karena merasa tidak nyaman. Namun Mori menahannya dan menyusul ke dalam sana. Chuuya menekuk lututnya, memberikan tempat untuk pria itu.
"Bukankah aku mengajakmu untuk mandi bersama?" ulang Mori. Ia mendekati sinoper itu dan mencuri sebuah ciuman dari bibirnya. Chuuya tanpa berpikir panjang menyambutnya, membalas sesapan yang diberikan pria itu, membuat tautan mereka semakin dalam.
Mori memutus ciuman itu dan tersenyum puas. Chuuya adalah seseorang yang penurut. Walaupun beberapa detik sebelumnya sempat berniat keluar dari tub, sekarang ia malah duduk di hadapan Mori, memalingkan wajah dan menyembunyikan semburat merahnya.
"Apa kau masih menangis?" ucap Mori, membuat sinoper itu menoleh padanya.
"Tidak," sahut Chuuya pelan.
Mori terkekeh pelan, "Maafkan aku karena—,"
"Tidak. Aku yang seharusnya melakukan itu. Aku tidak bisa menahan sakit. Lain kali aku akan—,"
"Sekarang?" potong Mori dengan nada berharap. Chuuya mengerjap sebagai balasannya.
"Bagaimana kalau kau mencobanya lagi sekarang?"
"M-Mori-san..."
"Terlalu cepat untukmu, ya?"
"Tidak," sambar Chuuya, "Aku tidak masalah dengan itu."
"Kemari," ujar Mori seraya mengulurkan tangannya. Chuuya menyambutnya ragu, namun membiarkan pria itu menggamit tangannya lagi.
Ia sekarang duduk di pangkuan Mori, merasakan milik pria itu berdiri tegak seperti tadi. "Aku tidak bisa menahannya," bisik Mori di telinganya.
Kali ini, ketika Chuuya bersiap untuk memasukkannya dengan usaha sendiri, Mori menahan. Ia tersenyum dan menatap azure Chuuya penuh kerinduan.
"Jangan menahannya," ujar Mori.
Chuuya tertegun sejenak, ekspresinya berubah bingung.
"Menangislah di hadapanku."
.
.
.
.
.
To be continued
