10

Malam yang amat panjang baginya. Chuuya belum pernah berada di kantor selarut ini. Ketika Mori Ougai mengantarnya kembali ke apartemen, fajar sudah tampak. Dengan sebuah kecupan perpisahan, Chuuya harus memulai hari ini tanpa pria itu.

Alasan mengapa Mori mendesaknya untuk tinggal lebih lama adalah karena akhir minggu. Kantor tutup pada saat itu. Dan tidak ada alasan bagi Chuuya untuk berada di sana.

Matanya masih sembab karena menangis semalaman. Anehnya, Mori tidak memprotesnya. Justru ia mengatakan bahwa kedua matanya tampak indah—dan membuat wajah Chuuya merah padam.

Lelaki sinoper itu baru lulus dari sekolahnya, ia sudah mengalami masa percobaan di kantor itu sampai akhirnya menjadi pegawai tetap di bagian arsip. Kedua matanya cukup teliti untuk mencari dokumen-dokumen penting yang dibutuhkan para pegawai.

Bila membahas masa-masa awal, Chuuya juga ikut mengingat kali pertama ia melihat Mori Ougai. Terjadi saat Chuuya sedang mengantar sebuah dokumen ke mejanya. Mereka tidak saling menatap, hanya saja Chuuya sudah tahu kalau ia perlu merasa segan dengan pria itu. Ia memegang posisi tertinggi, mampu untuk memecatnya kalau saja berbuat kesalahan.

Lalu, kali pertama mereka saling menatap—bisa dibilang ketika berada di atap minggu lalu. Itu akar dari segala hal yang terjadi hari ini dan dua malam sebelumnya. Pria itu menatapnya hangat. Kontras dengan rumor yang mengatakan bahwa ia begitu kejam.

Chuuya tidak merasakannya. Ia menyukai bagaimana Mori menanyakan keadaannya, apakah ia takut atau merasa tersiksa. Ia juga menyukai bagaimana mata violet itu menatap kagum, serta kedua tangan yang selalu menjaganya.

Merespons pikiran itu, Chuuya menggeleng cepat. Ia di sini berperan sebagai partner. Dan Mori tidak menyebut apapun masalah perasaannya. Ia tidak boleh melewati garis.

.

.

.

.

.

To be continued