11

Chuuya melirik jam di ponselnya, waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam—waktu tidurnya bila tidak memiliki tugas apapun. Besok ia sudah kembali bekerja, mungkin juga akan bertemu lagi dengan atasannya.

Sinoper itu tersenyum sendiri. Ia mengingat malam-malam mereka menghabiskan waktu berdua di kantor. Chuuya merasakan panas di sekujur tubuhnya. Ia mendudukkan diri di atas ranjang, mencoba untuk menenangkan diri. Namun ia tidak dapat melakukannya.

Samar ia membayangkan Mori menyentuhnya lagi. Chuuya sedikit menurunkan celana dan menemukan miliknya tengah berdiri. Apakah ini yang disebut dengan "terangsang"? Chuuya mungkin sering mengalaminya selepas bangun tidur, namun ia tidak akan mengalaminya di saat seperti ini.

Chuuya harus segera tidur, namun ia perlu meredakannya. Tangannya memegang batang kemaluannya dan meremasnya pelan. Kemudian ia memegangnya lagi dan mengelusnya naik dan turun. Gerakannya semakin cepat, namun Chuuya tak kunjung merasa puas. Alih-alih precum-nya mengalir, ia malah merasa kosong di bagian belakang.

Chuuya melepas seluruh celananya dan berdiri menghadap dinding. Perlahan ia melebarkan pipi bokongnya sendiri dan memasukkan telunjuknya ke dalam lubang anal. Tubuhnya menegang, merasakan sensasi aneh namun adiktif. Chuuya tidak bisa berhenti. Ia memasukkan dan mengeluarkan telunjuknya seperti yang Mori lakukan.

Sayangnya ia tetap merasa kurang. telunjuknya tidak dapat mencapai titiknya. Jari-jari Mori mungkin lebih panjang hingga membuatnya mendesah lebih kencang. Namun Chuuya tidak dapat mengharapkan kehadiran pria itu sekarang. Ia memasukkan jari tengah bersama telunjuknya dan kembali mencoba untuk orgasme.

"Mori-san—hh," ucapnya pelan, membayangkan pria itu sedang berada di sana dan melihatnya dengan sepasang mata violet.

Chuuya menambahkan jari manisnya, kemudian merintih sendiri karena rasa perih. Bibirnya meloloskan desah dan matanya berkaca-kaca—membuat Chuuya kembali teringat perkataan pria itu. Ia menyukainya, menyukai ketika Chuuya menangis dan membuat irisnya tampak basah dan mengkilap. Mori Ougai menyukai pemandangan itu. Ia akan tersenyum dan terus menghujamnya.

Dengan membayangkan semua itu, Chuuya berhasil melakukannya—membuat lantainya kotor oleh noda putih. Ia lalu terduduk di sana, menangis dengan frustasi, memikirkan apa yang baru saja ia lakukan seorang diri.

.

.

.

.

.

To be continued