12
Mori tidak memanggil Chuuya hari itu. Mereka bahkan tidak berpapasan. Chuuya tidak memiliki alasan untuk datang ke ruangannya dan meminta sesuatu. Ia tidak berani untuk melakukan hal seperti itu di jam kerja.
Sampai pukul tujuh tiba pun, Chuuya tidak mendapat kabar apapun. Ia benar-benar tidak melihat Mori Ougai seharian ini. Dan tubuhnya ikut merasa lemas karena kecewa.
Dua, tiga hari berlalu—tidak—lima hari sudah berlalu dengan absennya Mori. Chuuya sendiri merasa gelisah setiap malam. Ia mengingat momen-momen malam itu, namun tidak bisa berbuat banyak. Ia tidak memiliki kontak pria itu—bahkan jika punya, Chuuya akan tetap sungkan menghubungi.
Dalam perjalanan pulang, Chuuya melewati sebuah toko. Papannya menyala dengan sinar merah—mencolok dan ternyata juga menjual barang-barang yang mencolok. Chuuya tidak pernah terpikir untuk mampir sampai malam itu. Alasannya, untuk memenuhi hasrat terpendam.
Ketika memasuki toko, ia bisa melihat berbagai mainan seks, berbagai jenis, warna, dan tekstur. Ia bahkan menemukan berbagai bentuk borgol di sana.
"Apa ada yang bisa kubantu?" celetuk seorang pelayan dengan rambut kecokelatan. Chuuya terkesiap saat sedang melihat-lihat tipe mainan dengan fungsi getaran.
"Bolehkah aku merekomendasikan sesuatu? Untuk solo? Atau dengan partner?" Pelayan itu membuat Chuuya gelagapan. Ia belum pernah membicarakan masalah seintim ini dengan orang lain. Bahkan jika Mori membahasnya, ia akan berakhir bungkam.
"S-solo," balasnya pelan.
Sosok itu tampak tidak terusik dan mengambil salah satu mainan. Chuuya tampak sedikit syok dengan ukurannya. Mori pernah menggunakan versi sedang untuknya, tapi ia tidak menyangka ada yang ukurannya lebih besar.
"Mungkin tidak. Barang itu banyak terjual, tapi kurasa tidak begitu cocok untuk permainan solo."
Chuuya menelan ludah sejenak, mengikuti ke mana lelaki brunette itu berjalan. Mereka berhenti di bagian tanpa vibrator.
"Apa kau suka yang benar-benar mirip atau kau tidak peduli dengan bentuknya?" Sosok itu menunjuk rak yang dimaksud.
Chuuya yakin semua benda ini digunakan untuk analnya. Ia mengambil satu mainan yang ia anggap cukup normal dan memberikannya pada si pelayan. Lelaki itu balas tersenyum tipis dan menerimanya, sementara Chuuya memalingkan wajah dan menahan malu.
"Apa kau juga ingin membeli versi vibrator-nya? Mungkin kau akan menyukai getarannya," tawar si pelayan kini beralih ke mesin kasir.
Chuuya hanya mengangguk, mengiyakan tawaran barusan. Ia langsung menyambar kantung plastik setelah membayar, kemudian berjalan keluar dari toko itu dengan wajah merah padam.
Si pelayan memandangnya dari balik meja kasir. Ia gemar melihat sinoper itu menahan malu demi membeli dua dildo.
"Sayang sekali ia hanya bermain seorang diri," gumamnya.
To be continued
