14

Chuuya melirik jam di ponselnya. Ia sudah kembali lagi ke hari Minggu. Matahari sudah bersinar terik. Ia bahkan tidak sadar bagaimana caranya tertidur. Tapi sinoper itu menemukan dirinya terbangun di siang bolong tanpa sehelai benang pun. Ia mencium aroma semen yang pekat di atas ranjangnya.

Lelaki itu bermain solo semalam—karena tidak bisa tidur. Ia terus membayangkan Mori berada di sana, membayangkan suaranya, juga sentuhannya. Chuuya merasa melampaui batas. Ia memijat kepalanya pelan dan beranjak dari kasur.

Ketika ia menarik seprai dan hendak menggantinya, ada sebuah benda yang jatuh ke lantai dan bergetar. Chuuya geli sendiri mendengar suaranya, dengan sigap ia memungut dan mematikannya.

Benar kata pelayan itu, Chuuya sudah merasakan getarannya dan kecanduan. Namun setiap malamnya, ia membutuhkan sesuatu yang baru—tidak. Chuuya hanya membutuhkan Mori Ougai, mengulangi malam itu bersama. Ia ingin dijadikan seorang partner lagi.

Saat ia sedang melamun, bel pintunya berbunyi. Chuuya terkesiap. Ia segera melemparkan seprainya ke dalam bak cuci dan mengambil celana panjang yang tergantung di lemari, juga hoodie lengan panjang untuk menutupi tubuhnya. Kemudian lelaki itu berlari ke depan pintu dan membukanya.

Seorang pria berdiri di sana. Ia mengenakan setelan kasualkemeja lengan tanggung dan celana kain krem, juga sneaker putih.

"Apakah kau baru bangun, Chuuya?" Sapaan itu membuat si sinoper berhenti melamun, memandangi wajah yang ia rindukan selama satu minggu ini.

"I-iya," ucapnya gugup. Chuuya merasa bersalah karena tidak bersiap lebih dahulu.

"Apakah kau memiliki rencana untuk hari ini?" tanya Mori lagi, dibalas gelengan cepat.

"Aku ingin mengajakmu—,"

"T-tunggu, Mori-san. Aku tidak bisa pergi bersamamu seperti ini," potong Chuuya. Ia sendiri tidak paham apakah mengatakan hal barusan tergolong sebagai penolakan atau persetujuan, tapi yang ia tahu jantungnya tengah berdegup kencang sekarang.

"Aku datang tanpa pemberitahuan. Aku juga tidak bisa mengharapkanmu siap saat aku tiba," balas Mori. Tatapannya hangat seperti biasanya, membuat Chuuya sedikit lebih tenang.

"Mandi dan bersiaplah. Aku akan menunggumu di sini."

.

.

.

.

.

To be continued