15

Selama pergi dan sama sekali tidak menghubungi, Mori kira semuanya akan berubah. Ia berpikir sinoper itu pasti melupakannya. Namun saat melihat dildo di atas nakas lelaki itu, ia terkekeh pelan—berpikir bahwa Chuuya memakainya semalam. Nakahara Chuuya begitu polos. Mori merasa berdosa menjadi yang pertama menodainya.

Sikap Chuuya saat ia tiba-tiba datang juga tampak tidak berubah. Ia tampak terkejut, terlihat polos dan indah di saat yang sama. Mori semakin jatuh dalam pesonanya, berpikir untuk mengikat Chuuya saat itu juga. Tapi ia tidak ingin terlalu cepat.

Pria itu berpikir untuk mendekatinya perlahan dengan alibi sebagai partner. Untuk itu ia berniat untuk mengajak Chuuya makan siang bersama.

"Maaf kalau Mori-san menunggu—," ujar Chuuya yang baru saja keluar dari kamar mandi dan melihat mainan seksnya berada di tangan Mori, "—lama."

Sontak wajahnya berubah merah padam. Ia terdiam di depan kamar mandi sambil memalingkan muka. Mori yang melihat perilaku Chuuya segera menaruh kembali benda itu di atas nakas, berdehem pelan untuk menetralisir suasana.

"Apa kau sudah siap, Chuuya?"

"Aku hanya perlu mengambil ponsel dan dompetku. Sebentar," ujarnya seraya mengambil kedua benda itu dari atas nakasnya. Sekilas ia mencuri pandang pada mainan barunya. Amat memalukan membiarkan Mori melihatnya, tapi sudah terjadi. Dan Chuuya tidak ingin menyinggungnya.

"Ayo," ujar Mori seraya menggamit tangan Chuuya dan keluar dari kamarnya. Chuuya mengunci pintunya sejenak, kemudian turun ke bawah. Mori mempersilakan Chuuya duduk ke kursi di samping kemudi sebelum ia ikut masuk.

"Ke mana Mori-san akan mengajakku?" tanya Chuuya penasaran.

"Apa kau ingin pergi ke suatu tempat?" Mori balik bertanya lagi.

Chuuya terdiam sejenak. Ia tidak terpikir untuk pergi ke manapun.

"Apa kau memikirkan suatu tempat yang ingin kau kunjungi bersamaku?"

Chuuya makin terdiam. Ia sama sekali tidak berpikir untuk berpergian bersama pria ini. Melihat wajahnya saja ia sudah sangat bersyukur.

"Apa ini..." Chuuya memberi jeda sebentar, "...sebuah kencan?"

Mori tertawa selagi pandangannya terfokus ke jalan, sementara itu Chuuya tertunduk malu, merasa telah bersikal lancang.

"Orang sepertiku tidak berani mengungkapkannya. Tapi kau mengatakannya dengan mudah, Chuuya."

"M-maaf—,"

"Terima kasih," ucapnya sebelum Chuuya menyalahkan dirinya sendiri lebih jauh.

.

.

.

.

.

To be continued