16
Mori mengajak Chuuya ke sebuah restoran. Sinoper itu bisa membayangkan berapa banyak yang dikeluarkan Mori untuk sebuah meja makan privat dan wine mahal di atas meja; pasti amat banyak. Chuuya tidak paham mengapa Mori mengajaknya ke tempat seperti ini.
"Ini ucapan terima kasih karena telah menjadi partner yang baik," ujar Mori seraya menuangkan minuman itu ke dalam gelas Chuuya. Lelaki itu mengambilnya, sedikit gugup karena baru pertama kali mencoba minuman semewah ini.
"Minum perlahan. Kalau kau menyesapnya pelan-pelan, maka akan terasa lebih nikmat," ucap pria itu saat Chuuya mengangkat gelas.
Sinoper itu meminum dua tegukan kecil, kemudian menaruh kembali gelasnya ke atas meja. Chuuya kira minuman dari anggur akan terasa amat asam. Tapi yang tertinggal di lidahnya adalah manis, membuatnya sedikit terkejut dan kembali menatap Mori.
"Bagaimana?" tanya pria itu sambil memperhatikan wine di gelasnya sendiri.
"Manis," sahut Chuuya pelan.
Mori tersenyum kecil mendengar jawaban Chuuya. "Apa kau menyukainya?"
"Tentu saja."
Mori menaruh gelasnya kembali ke atas meja dan menatap Chuuya tepat pada kedua azure-nya. Sepasang manik itu tampak berbinar indah, membuatnya semakin terpesona.
"Apa kau juga menyukaiku?"
Chuuya tidak bisa menjawab pertanyaan itu. Ia terlalu takut memikirkan konsekuensi untuk jawaban yang akan ia lontarkan. Tapi sekarang pipinya merona malu, membuat Mori mengerti bahwa pertanyaannya barusan terlalu eksplisit.
"Maaf," ujarnya lagi, menyuruh Chuuya mengabaikan pertanyaan barusan secara tersirat.
"T-tapi aku tidak membenci Mori-san," sambar Chuuya. "Aku menyukai waktu yang kita habiskan berdua. Aku juga menikmati—," ucapannya terhenti. Chuuya terdiam memikirkan kalimat yang terlintas di benaknya.
"Jangan menyembunyikannya, Chuuya," balas Mori, "Aku ingin mendengar kelanjutkannya." Ungkapan pria itu terucap ketika makanan utama mereka datang.
Chuuya memiliki kesempatan untuk berpikir lebih lama selagi pelayan restoran menyajikan makanan mereka. Ketika mereka sudah ditinggalkan berdua, Mori meraih tangan Chuuya mengelus buku jarinya, berharap sinoper itu lekas menjawab rasa ingin tahunya.
"A-aku menikmati makan siang ini," ucap Chuuya kemudian, menimbulkan air kecewa di wajah Mori.
"Kalau begitu, makanlah. Steak-mu akan dingin bila terus melamun." Mori berucap lagi dengan seulas senyum. Ia memotong daging di piring Chuuya agar pas untuk satu gigitan.
"Mori-san," tahan Chuuya, "Kau tidak perlu melakukannya untukku."
"Kenapa?" tanya pria itu sambil menatap wajahnya.
Chuuya menelan ludah sejenak, "Aku merasa terlalu merepotkanmu. Aku minta maaf."
Mori menusuk potongan steak dengan garpu dan menyodorkan ke depan mulut Chuuya. Lelaki itu menerimanya, memakan suapan yang diberikan Mori.
"Apakah aku boleh meminta permintaan maaf itu?"
Chuuya hanya bergumam. Ia tidak bisa bicara karena sedang menguyah makanan.
"Bermalamlah di rumahku."
Kedua azure itu membulat sempurna. Chuuya tidak paham bagaimana cara menebus permintaan itu dengan menginap di rumah Mori. Bukankah itu akan membuatnya semakin kerepotan?
"Aku membutuhkan seseorang untuk menemaniku," ujar Mori lagi seraya mengelus punggung tangan Chuuya.
"Dan aku menginginkan dirimu"
.
.
.
.
.
To be continued
