17
Entah kapan, namun seharusnya sejak dulu Chuuya bertanya-tanya bagaimana seorang Mori Ougai bisa begitu dekat dengannya. Pria itu tanpa ragu menciumnya, juga bercinta dengannya. Namun sebelum ia menyadari sesuatu, Mori sudah membawanya ke tempat yang paling privat―kediamannya.
Chuuya mengingat bahwa pria itu tidak pernah memberitahukan apapun tentang kehidupan pribadinya. Namun sekarang, yang ia dapati adalah tangan pria itu tengah menuntunnya masuk bak seorang pendamping. Chuuya hendak menarik tangannya, tapi Mori sudah menggenggamnya terlebih dahulu, menariknya berjalan berdampingan.
Kediaman pria itu besar, sesuai dengan jabatannya sebagai pemilik perusahaan. Chuuya tidak paham mengapa Mori memerlukan seseorang untuk menemaninya. Seharusnya pria itu sudah memilikinya sejak dulu.
"Aku sudah lupa kapan terakhir kali membawa seseorang kemari," celetuk Mori, membuyarkan lamunan Chuuya.
"Aku mengambil cuti setelah perjalanan bisnis yang panjang. Jadi aku membutuhkan waktu berlibur," ujar pria itu seraya menuntun Chuuya menuju sebuah kamar di lantai dua. Ruangan itu bernuansa sederhana. Ada sebuah televisi di depan ranjang besarnya. Juga pintu besar yang terhubung dengan balkon.
"Ini kamarku," ujar Mori memperkenalkan. "Tapi aku jarang tidur di sini. Aku lebih senang tertidur di ruang kerja," pria itu menoleh menatap Chuuya, "Atau di kantor bersamamu."
Chuuya menelan ludah sejenak. Ia berpikir keras mencerna kalimat Mori Ougai barusan. Tidak ada kesimpulan lain yang lebih tepat, namun Chuuya tetap ragu untuk mempercayainya.
"Bisakah kau mengambil cuti besok?" tanya pria itu seraya berjalan menghampiri Chuuya dan mengusap pipinya. Sinoper itu membeku di tempatnya. Ia mendongak, menyambut Mori yang kemudian memangut bibirnya dalam.
Selama beberapa saat ia terlarut dalam ciuman itu. Kemudian, saat membuka mata, sepasang violet menyambutnya ramah.
"Temani aku tidur malam ini, Chuuya," minta Mori.
"Ya, Mori-san."
.
.
.
.
.
To be continued
