18
"Mori-san—hh," desah Chuuya ketika pria itu mencumbu lehernya. Ia mengurung Chuuya di bawah tubuhnya, beralaskan kasur besar di ruangan itu. Pria itu tidak menunggu lama, melucuti kancing pakaian milik Chuuya, memperlihatkan dada mulusnya.
Ia mengenakan kemeja putih san cardigan merah untuk kencan tadi. Namun sekarang, yang berwarna merah adalah kedua pipinya. Mori mengecup lembut puncaknya, menariknya pelan, membuat lenguhan keluar dari bibir Chuuya.
Mori meraba perut lelaki itu, jemarinya menyusuri permukaaan kulit dan turun hingga mencapai kancing jeans-nya. Pria itu mengecupnya—merasakan kepemilikan Chuuya yang tengah mengeras sekarang. Baru saja Mori akan membukanya, Chuuya menahan, menangkup wajahnya.
"Jangan, Mori-san," elaknya.
"Kenapa?" Pria itu membalas bingung, namun kedua tangannya masih memegangi kancing dan penarik resleting celana Chuuya.
"Itu... kotor," cicitnya.
Mori hanya tersenyum. Ia mengabaikan kata-kata Chuuya dan tetap membuka jeans-nya. "Kau pernah melakukannya untukku. Aku membalasnya sekarang."
"Tapi—hh," ucapan Chuuya terpotong karena Mori menyentuhnya, memberikan remasan pelan di sana.
"Mori-san," Chuuya menginterupsi, berharap pria itu berhenti melakukannya. Namun tubuhnya tidak dapat menahan. Ia memegang pundak Mori, namun tidak memberikan tenaga.
"Tidak apa-apa, Chuuya," ujar pria itu berusaha menenangkan. Ia kemudian mengecup ujungnya, membuat Chuuya ingin sekali mengelak.
"Aku juga menyukainya," timpal Mori sebelum akhirnya mengulum kepemilikan sinoper itu. Chuuya belum pernah mendapatkan blowjob. Mori Ougai adalah yang pertama melakukannya, sekaligus yang pertama membuatnya mendesah karena hal itu.
Bibir Chuuya enggan untuk tertutup. Telinganya bisa mendengar suara kecapan dari mulut pria itu. Tubuhnya merasa amat panas seolah sedang demam, namun ada rasa kenikmatan yang menyertainya. Chuuya melayang. Kedua matanya terpejam saat itu, merasakan bagaimana Mori benar-benar memanjakan tubuhnya.
"M-mori-san, tolong—," Chuuya kembali pada kesadarannya ketika merasa terdesak. Sebentar lagi ia akan keluar. Dan lelaki itu tidak dapat menahannya.
Semen-nya keluar. Namun Chuuya merasa lega karena Mori berhenti seperti permintaannya. Hanya saja sekarang ranjang itu kotor oleh cairannya sendiri.
"Ada apa, Chuuya?" tanya pria itu menemukan raut khawatir di wajahnya.
"Tempat tidurmu— aku mengotorinya," jawab Chuuya, membuat Mori terkekeh pelan.
"Aku memang berencana untuk menodainya," Mori menyentuh milik Chuuya yang masih menegang di bawah sana, "Dan aku tidak masalah bila kau yang melakukannya."
.
.
.
.
.
To be continued
