12 tahun kemudian
Tetsuya menutup matanya, merasakan sentuhan lembut padan bibir kenyalnya. Tak lama kemudian, manik birunya terbuka dan wajahnya memerah melihat pelaku yang membuat jantungnya berdebar tidak karuan.
"Aku masih merindukanmu." Bisikan lembut itu masuk ke telinganya.
"Taiga, kita sudah menghabiskan waktu seharian."
"Tapi aku akan segera pergi." Rengek Taiga
"Demi Tuhan kau hanya akan pergi praktik selama 3 hari, Taiga."
Bibir Taiga mengerucut manja, kemudian mencuri lagi sebuah kecupan di bibir mungil kekasihnya.
"Aku akan segera kembali."
Tetsuya pun keluar dari mobil dan masuk ke dalam rumah setelah melambai pada Taiga.
"Tadaima."
"okaeri, Tetsu-chan." Sapa ibunya , "selesai kencan?"
"Ibu. Kami hanya belajar bersama untuk praktik Taiga besok. Maaf aku pulang telat."
Sang ibu pun tertawa melihat Tetsuya yang menjawab malu, "Tidak apa. Taiga-kun sudah menelepon dan memberi kabar tadi."
"Apakah ada masalah dengan studi kalian?" Tanya ayahnya
"Semuanya baik – baik saja ayah. Taiga dipilih untuk praktik di Kyoto. Hebat yah." Celotehnya tanpa sadar.
"Karena itu anak kesayangan ibu mencintainya." Ledek ibu Tetsuya
"Ibuuuu.."
Tetsuya bersyukur. Bagaimana tidak? Sejak masuk ke dalam keluarga Kuroko, hidupnya berubah. Ia mendapatkan kembali kasih sayang yang dikiranya tak akan pernah lagi ia rasakan. Hidupnya pun tak pernah kekurangan. Ia bahkan diberi kesempatan untuk melanjutkan kuliah di universitas ternama. Ditambah lagi dengan kehadiran Taiga, teman masa kecil yang sejak 2 tahun lalu resmi menjadi kekasihnya.
Dan ia berjanji, suatu saat, ia akan memberi kebahagiaan kepada mereka. Setelah semua yang ia dapatkan, tak ada salahnya ia membalas budi. Apalagi kedua orang tua yang selalu memberikan yang terbaik untuknya.
Cukup sekali saja ia kehilangan orang – orang berharga dalam hidupnya. Ya. Itulah yang selalu ia tanamkan dalam hati.
…
"Aku tahu Taiga, aku akan makan tepat waktu."
Tetsuya tersenyum walau ia tengah diceramahi kekasihnya melalui telepon.
"Aku harus segera berangkat. Busnya akan jalan sebentar lagi. Kau harus menjaga diri saat aku tidak ada. Mengerti?"
"Ya ampun Taiga. Kau bahkan akan pulang lusa."
"Berjanjilah."
"Baik. Baik. Aku janji." Tetsuya mengalah. Taiga tidak pernah membiarkannya lolos walau di telepon sekalipun.
"Aku mencintaimu, Tetsuya."
Setelah menutup telepon, Tetsuya pun masuk ke dalam kelas. Ia hampir terlambat karena Taiga tidak mau menutup teleponnya. Dan ia tidak sadar, telepon nya bergetar tanpa henti di tengah pelajaran.
…
Hidup itu adil, maka kau tidak boleh mengeluh. Hal itu mulai Tetsuya percayai saat ia bertemu Taiga dan keluarga barunya. Tapi kepercayaannya kini hancur.
Ia kembali dihadapkan di situasi yang sama, dimana tim paramedic berlalu lalang di depannya. Ia hanya ingat ketika Aomine Daiki, teman baik kekasihnya menariknya dari dalam kelas dengan penuh air mata.
"Taiga tertabrak mobil."
Hanya itu yang ia ingat keluar dari mulut Aomine. Dan ketika ia sampai di sebuah ruangan, dilihatnya pasangan suami istri Kagami berpelukan dalam tangis. Di tempat tidur, terbaring sang kekasih hati… yang sudah tidak akan bangun lagi.
"Taiga. Bangun." Bisik Tetsuya sambil menggenggam tangan Taiga. Dingin.
"Buka matamu, Taiga."
Percuma, ia tahu itu. Taiga tak bergeming.
"Bangun Taiga!"
"Tetsu-chan. Taiga sudah pergi." Tangis ibu Taiga
"Tidak! Bibi. Ia janji akan segera pulang. Ia janji… ia…"
Pertahanannya pun runtuh. Air matanya tak terbendung lagi. Tetsuya berlari kencang keluar dari rumah sakit. Dirasakannya hujan mengguyur tubuhnya, seakan langit ikut menangis melihatnya.
"Kenapa Tuhan! Kenapa kau ambil mereka dariku? Apa salahku?!" jeritnya kuat tanpa mempedulikan sekitarnya.
Kedua orang tuanya dan Kagami mengejarnya. Mereka mengerti. Mereka tahu seberapa besar cinta anak mereka terhadap satu sama lain.
"Tetsuya. Ibu mohon. Bangunlah. Jangan seperti ini."
Tetsuya tersadar. Apa yang ia lakukan? Ibunya menangis? Karenanya. Air mata sang ibu, yang paling tidak ingin ia lihat, kini keluar deras karenanya.
"Ibu. Maaf… Maafkan aku. Jangan menangis."
"Tetsuya. Biarkanlah Taiga pergi. Ikhlaslah. Jangan membuatnya menderita dengan melihatmu seperti ini." Pinta ayah Taiga.
Tetsuya tahu. Bukan orang tua Taiga tidak sedih. Tidak mungkin mereka tidak sedih. Mereka juga hancur. Tetapi yang dikatakan ayah Taiga benar. Ia juga tak ingin ibunya menangis lagi karenanya.
Ia sebenarnya sangat ingin menangis sekuat-kuatnya. Kembali lagi, ia takut menyakiti kedua orang tuanya. Tetsuya hanya manusia biasa. Mentalnya yang sudah pernah hancur, mentalnya yang mulai ia bangun kuat, kembali hancur. Terulang kembali.
Sama seperti sebelumnya. Segalanya menjadi gelap. Saat Tetsuya bangun, ia hanya mendapati sebuah cincin indah melingkari jarinya. Yang ia tahu, itu adalah cincin yang dipersiapkan Taiga untuk hari ulang tahunnya. Taigalah yang seharusnya melingkarkan cincin itu ke jarinya. Namun semua hanya tinggal mimpi.
…
Tetsuya tersenyum manis di depan sebuah nisan, tempat kekasih hatinya tidur untuk selamanya.
"Aku sudah lulus, Taiga." Katanya sambil memamerkan foto yang ia ambil pada hari kelulusannya beberapa hari yang lalu.
"Belakangan ini aku harus membantu ayahku di kantor. Sepertinya keadaan perusahaan sedang goyah. Setiap hari ia terlihat lelah saat pulang kerja. Ibu juga tidak begitu sehat." Keluhnya.
Tak ada jawaban. Sudah tentu.
"Aku merindukanmu."
Tangisnya kembali keluar. Sudah 2 tahun lamanya sejak Taiga tidak ada lagi untuk menghiasi hari-harinya. Tidak bisa berbohong, Tetsuya masih snagat mencintai Taiga. Ia bukannya tidak mencoba. Tetapi Taiga terlalu indah untuk ia lupakan.
"Aku akan kembali lain waktu. Aku pulang dulu." Tetsuya terhenti. "Aku mencintaimu."
…
Kuroko Jyousei menekan kepalanya yang sakit. Ia terus menerus melihat sekeliling. Perusahaan terbesar di Jepang. Ia kini berada di dalamnya. Akashi Corp.
"Kuroko-san. Silahkan masuk. Akashi-sama menunggu anda di dalam."
Jyousei pun masuk ke dalam ruangan besar di lantai teratas perusahaan tersebut.
"Duduklah, Kuroko-san."
Akashi Masaomi. Jyousei sering melihatnya di Tv atau majalah besar. Pemilik perusahaan terbesar di Jepang. Siapa yang tidak mengenalnya?
"Akashi-san. Itu.."
"Aku tahu apa yang akan kau tanyakan. Benar. Aku akan membantu perusahaan mu dan perusahaan Kagami."
"…"
"Dengan satu syarat."
"Apa itu, Akashi-san?"
"Aku ingin anakmu, Kuroko Tetsuya, menikah dengan anakku, Akashi Seijuurou."
