Kuroko Jyousei menatap gedung yang baru saja ia kunjungi. Terbesit di benaknya kalimat sang penguasa bisnis. Ia bingung. Sejak kepergian Kagami Taiga, banyak pemilik saham yang menarik saham mereka dari perusahaan yang ia bina dari nol bersama Kagami Haruto, sahabat yang sangat ia sayangi. Bahkan, penawaran saham kepada orang-orang baru tidak berhasil. Padahal mereka sudah menekan harga seminim mungkin. Cukup banyak yang beranggapan bahwa Kagami Taiga, tonggak penerus perusahaan telah tiada dan masa depan perusahaan hanya tinggal nama belaka. Memang benar, Taiga telah banyak memberi ide-ide brilian kepada perusahaan. Tentu saja ia ingin menyelamatkan perusahaan tersebut. Tapi, yang benar saja?
Ia hanya mencoba datang ketika mendapat pesan elektronik dari perusahaan besar tersebut bahwa mereka bersedia bekerja sama dengan beberapa kondisi yang disetujui. Dan hasil pertemuan mereka menyatakan bahwa ia cukup memenuhi satu kondisi saja. Hanya SATU, yaitu menikahkan anak semata wayangnya pada orang yang bahkan belum ia kenal.
…
Dentuman musik yang memekakkan telinga tidak membuat lautan manusia merasa risih. Malah, mereka semakin bersemangat meliukkan tubuhnya mengikuti dentuman musik. Seorang model papan atas masuk melalui pintu masuk khusus. Ia tidak mau dirinya terkena skandal aneh karena mengunjungi klub malam yang ramai bahkan pada hari biasa. Dimasukinya ruangan VIP dimana temannya berada. Di dalam ruangan, terlihat seorang pria bersurai merah tengah menenggak habis minuman keras elit diikuti tuangan berikutnya dari seorang pelayan yang berada di samping.
"Akashicchi! Sudah cukup minumnya." Teriaknya berniat melawan kuatnya musik
Sepasang mata heterochrome memicing tajam pada pemilik suara. Ia mengacak kecil rambut merahnya, kemudian duduk dengan tegak berkharisma, memancing perhatian beberapa lawan jenis yang sejak tadi ingin mengajaknya melewati malam bersama.
"Sejak kapan kau memulai peran sebagai ibuku, Ryota?"
Kise Ryota, model tersebut meneguk ludah, merasakan intimidasi yang kuat dari tatapan mematikan yang dilancarkan teman masa kecilnya.
Akashi Seijuurou. Putra tunggal dari keluarga Akashi, raja bisnis dari negeri matahari terbit. Ketenarannya tidak kalah dari kedua orang tuanya. Dalam usia yang menginjak angka 25, kecerdasannya dan kepiawaiannya telah diakui banyak pebisnis senior yang berkutat di bidang mereka masing-masing.
"Akashi-sama, bagaimana kalau kita pindah ruangan?" rengek seorang wanita dengan pakaian minim yang memberanikan diri menggoda, mengalungkan lengannya pada Akashi.
Dan dalam hitungan detik, wanita itu sudah terhempas kuat ke lantai. Teman-temannya menahan nafas, tak adayang bergeming untuk menolongnya. Tidak ada yang berani melakukannya.
"Apa kau kuberi izin untuk menyentuhku dengan tangan kotormu?"
Ryota menghela nafas, berjalan menuju wanita tersebut, kemudian menariknya bangun dan mendorongnya kea rah pintu keluar.
"Ayo pulang, Akashicchi." Ajaknya, sebelum temannya menutup paksa klub malam tersebut.
…
Ryota menatap temannya yang duduk di kursi penumpang belakang melalui kaca. Ia mengemudikan mobilnya menuju apartemen temannya. Ditatapnya wajah tampan Akashi Seijuurou yang dipenuhi guratan lelah. Sudah setengah tahun lamanya ia mendapati keadaan Akashi seperti ini. Sejak kepergian kekasihnya.
"Satsuki…" erang Akashi dalam keadaannya yang sudah setengah sadar.
Ryota kembali menghela nafas panjang. Momoi Satsuki. Entah apa yang merasuki wanita itu hingga pergi meninggalkan seorang pria yang menjadi pujaan semua orang. Bahkan banyak model dan artis lain yang jauh lebih cantik, pria maupun wanita, berbaris mengantri untuk menjadi kekasih Akashi Seijuurou dan wanita itu malah menghilang dengan hanya meninggalkan sehelai surat berisi kalimat 'maaf dan selamat tinggal'. Sejak itu, Akashi menjadi seperti bukan dirinya. Ia menghabiskan seluruh waktu, mungkin untuk mengalihkan perhatiannya, dalam pekerjaan dan minuman keras.
"Akashicchi, kita sudah sampai."
Ia yakin temannya tak lagi mendengarnya. Ia yakin Akashi telah mabuk. Tanpa menunggu lagi, ia membopong tubuh temannya, memasuki apartemen barunya, karena apartemennya yang lama telah ia hancurkan karena ingin melupakan wanita yang telah meninggalkannya.
…
Tetsuya baru saja kembali dari perusahaan ayahnya. Ia ingin meminta kejujuran ayahnya. Saat ia memeriksa laporan perusahaan tadi siang, ia melihat angka yang tidak seharusnya ada pada data lengkap di meja kerja ayahnya.
"Aku benar-benar sudah kehilangan akal." Terdegar suara sang ayah dari ruang kerjanya.
Entah kenapa Tetsuya bersembunyi di balik dinding. Ia melihat ayah dan ibunya, dengan wajah yang tidak seceria biasanya, tengah duduk berhadapan.
"Aku tidak ingin menjual anakku." Jawab ibunya
Apa? Menjualnya?
"Aku tahu, sayang. Aku tidak akan melakukannya. Hanya saja, aku hampir putus asa. Haruto terus tersenyum dan menyemangati diri kami sendiri, padahal aku tahu, ia juga sangat kesulitan." Ayahnya menghela nafas, "dan tiba-tiba saja perusahaan sebesar itu mengajukan kerjasama dengan syarat seperti itu."
"Apakah tidak ada cara lain, Jyousei?"
Jyousei mengerti, ketika istrinya menyebut nama kecilnya, ia tidak bisa lagi menyembunyikan apa-apa.
"Satu-satunya cara adalah menerima tawaran dari Akashi-san."
"Aku tetap tidak akan menerimanya. Pikirkan perasaan Tetsuya jika tahu kita menjualnya demi keegoisan kita!"
"Aku tahu itu!"
Tetsuya tercekat. Ada apa sebenarnya? Mengapa namanya muncul dalam hal ini. Dan ini pertama kalinya ia mendengar bentakan ayahnya. Ia yakin, ini bukan masalah yang bisa diselesaikan dengan mudah.
"Maaf, sayang. Aku benar-benar tidak tahu harus bagaimana lagi. Keadaan perusahaan semakin goyah. Biaya pengobatanmu semakin tinggi. Aku…"
Ini juga pertama kalinya, Tetsuya melihat ayahnya menangis. Dan pengobatan ibunya? Apa maksudnya? Mengapa semua terdengar semakin membingungkan?
"Aku lebih baik mati daripada harus menjual anakku." Jawab ibunya dengan tenang meski air matanya ikut mengalir, merasakan dan mengerti perasaan suaminya.
"Tidak sayang. Aku tidak akan membiarkannya. Tenanglah, aku akan mencari cara lain. Kau akan tetap hidup. Aku janji."
Dan Tetsuya tidak tahan lagi untuk terus bersembunyi. Ia melangkahkan kakinya ke ruang kerja ayahnya, membuat kedua orang tuanya membelalakkan mata melihat Tetsuya masuk, dengan wajah yang meminta penjelasan penuh.
…
Akashi Seijuurou tiba di kediaman utama keluarganya. Dibalasnya sapaan beberapa pelayan rumah yang sudah bersamanya sejak kecil. Dirinya terus bejalan menuju ruang keluarga tempat ia dan kedua orang tuanya berkumpul.
"Kau sudah sampai, Sei." Sapa Shiori, ibunya "Duduklah."
"Apa maksud pembicaraan kalian di telepon tadi?" Tanya Seijuurou
"Tidak bisakah kau duduk lebih dulu?"
Seijuurou memilih duduk. Ayahnya tidak bisa dilawan dan ia cukup mengerti itu.
"Kau akan menikah."
"Itulah yang ingin kutanyakan. Apa maksud ayah? Ayah dan ibu tahu jelas kalau aku belum ingin menikah. Aku masih…"
"Sampai kapan kau akan menunggunya?" potong Masaomi
Seijuurou terdiam. Ia lelah disuguhkan pertanyaan itu setiap kali mereka bertemu. Dan tiba-tiba dikatakan akan menikah. Ia bahkan tidak tahu apa-apa tentang pilihan orang tuanya.
"Tiga bulan adalah persyaratan mu untuk menunggunya dan ini bahkan sudah setengah tahun, Sei."
Ayahnya benar. Ia juga sudah lelah.
"Lalu, siapa calon istriku?" tanyanya menyerah.
"Mereka baru saja tiba." Jawab ayahnya singkat. Ini gila, pikirnya.
Tak lama kemudian pintu diketuk. Seijuurou memutar bala matanya malas, kemudian berdiri untuk bersikap sopan, atau mungkin ayahnya akan membunuhnya di tempat saat ini juga.
"Selamat pagi, Akashi-san."
"Pagi, Kuroko-san dan nyonya Kuroko. Dan ini…"
"Ini putra saya." Jawab Jyousei singkat, membiarkan Tetsuya maju selangkah
Saat itulah manik heterochrome Seijuurou bertemu dengan sepasang manik aquamarine lain di hadapannya.
"Kuroko Tetsuya desu."
Seijuurou terdiam melihat kekosongan di wajah itu. Seakan mendapat sinyal dari ayahnya, ia pun sedikit membungkukkan badannya, "Akashi Seijuurou desu."
TBC…
