"Kenapa kalian menyembunyikan hal sepenting ini dariku?"
"Maaf Tetsu-chan. Ibu tidak ingin kau khawatir karena hal ini."
"Tapi penyakit itu bukanlah hal kecil. Ibu. Jika aku tidak tahu apa-apa dan sesuatu terjadi kepada ibu, apakah ibu membayangkan betapa menyesalnya aku nanti karena tidak berbuat apa-apa?"
Pasangan Kuroko itu hanya diam. Mereka mengerti, Tetsuya pasti kecewa karena mereka cukup lama menyembunyikan hal ini. Mereka hanya tidak ingin anak semata wayangnya ikut khawatir.
"Aku sudah dewasa, ayah, ibu. Jadi kumohon, jangan menyembunyikan apa-apa lagi dariku."
"…."
"Apa lagi yang terjadi pada perusahaan?"
Kuroko Jyousei menyerah. Ia memilih menceritakan segalanya kepada Tetsuya. Toh mereka sudah ketahuan. LAgipula kata-kata Tetsuya ada benarnya. Ia sudah dewasa.
"Lalu apa syarat dari Akashi Corp?"
Tetsuya melihat kedua orang tuanya saling melirik.
"Ayah. Ibu.."
Jyousei menatap istrinya yang terlihat pasrah lalu melihat Tetsuya, "Mereka ingin kami menikahkanmu pada putra mereka."
Tetsuya terdiam. Inilah maksud mereka dengan kata 'menjual' yang didengarnya tadi.
"Ayah akan menolaknya, Tetsuya. Kau tidak perlu khawatir."
"Tidak ayah."
Ibunya mengangkat kepala yang menatap Tetsuya dengan tatapan yang tak bisa diartikan.
"Aku akan menerimanya."
"Tidak, nak. Ini masalah ayah. Kau tidak perlu menanggung apa-apa."
"Kalau begitu tolong jujur padaku, ayah. Aku tidak ingin ada kebohongan. Apakah ada cara lain untuk menyelamatkan perusahaan ayah dan paman Kagami selain menerima tawaran Akashi Corp?"
Jyousei hanya diam, menatap anaknya. Tak lama ia menutup matanya. Terlihat keputus asaan yang jelas di wajahnya yang lelah. Lalu menggelengkan kepalanya.
"Tetsu-chan. Ibu tidak ingin kau mengorbankan dirimu."
"Ayah. Ibu."
"…"
"Lagipula, ini sudah saatnya bagiku untuk melupakan Taiga bukan?"
Dan di sinilah Tetsuya berada. Di sebuah kebun bunga milik keluarga Akashi. Bayangan kejadian beberapa hari lalu bermain di benaknya hingga ia tak sadar sang 'calon' suami telah menatapnya cukup lama.
"Kuroko-san?"
"ehh? Ah.. maaf Akashi-san. Anda mengatakan apa?"
Akashi kembali diam. Pria di depannya ini cukup berbeda dengan orang lain yang ditemuinya. Biasanya mereka akan banyak bertanya menunjukkan ketertarikan di depannya. Namun Kuroko Tetsuya, mungkin, sedikit berbeda. Namun ia merasa mendapatkan jawaban atas sikap pria iniketika melihat sebuah cincin yang melingkari jari manis pria tersebut.
"Kau sudah setuju dengan pertunangan ini?" Tanya Akashi.
"Bagaimana denganmu, Akashi-san? Jika kau keberatan, aku tidak masalah. Aku akan membicarakannya kembali kepada kedua orang tua kita."
"Aku hanya mengikuti apa yang pria tua itu inginkan."
"Apakah itu berarti anda setuju?"
"Apa alasanmu menyetujuinya?" Akashi kembali bertanya.
Manik biru Tetsuya menatap Akashi. Ia hanya tersenyum, "aku butuh bantuan keluargamu untuk orang tuaku."
Akashi sedikit terkekeh. Pria ini benar-benar jujur. Uang. Itukah tujuannya?
"Kalau begitu apakah kau bisa membantuku?" Akashi kembali bertanya, "Jika pertunangan ini berhasil membuat kita menjadi sebuah keluarga, kau cukup memainkan drama sebagai istri yang hidup bahagia denganku. Terlepas dari hal itu, kita bebas menjalani hidup masing-masing tanpa mengikat satu sama lain."
"Hanya itu?" Tetsuya berpikir, yah, memang hal seperti itu yang perlu ia tunjukkan kepada orang tuanya agar mereka bisa tenang, "Baiklah. Jadi, apakah anda akan setuju dengan pertunangan ini?"
"Mungkin dengan satu atau dua syarat."
mulai merasa pria bersurai merah ini mulai bersikap menyebalkan. Sebenarnya Akashi Seijuurou ini bersedia membantu keuarganya atau tidak?
"Apa itu?"
"Sebagai tunanganku, mungkin kau bisa berhenti memanggilku Akashi, Tetsuya."
"Hm.. Seijuurou-san?"
"Memangnya aku atasan atau kolegamu?"
"Sei…-kun?"
"Well itu lebih baik. Lalu syarat yang kedua."
"…"
"Akan lebih enak dipandang jika di pertemuan kita selanjutnya kau tidak memakai cincin yang menunjukkan bahwa kau ini milik orang lain." Akashi terkekeh dan mengulurkan tangannya seakan meminta sesuatu, "bisakah kau melepasnya?"
Nafas Tetsuya tercekat. Cincin yang merupakan kenangan terakhirnya dengan Taiga. Sejak cincin itu melingkar di jarinya, ia tak pernah sekalipun melepasnya. Haruskah ia melepasnya sekarang? Demi pria lain?
Akashi dengan jelas dapat melihat keraguan dan keberatan di wajah Tetsuya. Sepenting itukah orang itu di hati Tetsuya? Jika memang begitu, baginya Tetsuya cukup egois melepasnya cintanya demi uang.
"Kalau memang tidak bisa,.."
"Bisa." Jawab Tetsuya
Tetsuya tidak ingin menghancurkan kesempatan ini. Cara satu-satunya demi membantu kedua orang tuanya. Jalan yang bisa membantunya membayar hutang budinya kepada keluarga Kuroko yang sudah bersedia menerimanya.
"Aku akan melepasnya." Maafkan aku, Taiga.
"…"
Saat sebuah cincin mendarat di telapak tangannya, Akashi menghela nafas. Ia kemudian melepas sebuah kalung polos yang melingkar di lehernya. Terlihat biasa, memang. Tetapi Tetsuya bisa menebak bahwa harganya cukup mahal. Tubuhnya tersentak kaget saat Akashi mengalungkan kalung itu melewati kepalanya, dengan cincin yang baru dilepasnya sebagai liontin kalung tersebut.
"Setidaknya kau bisa menyembunyikannya di balik pakaianmu." Kata Akashi, "Ayo kembali."
Tetsuya hanya diam. Ia melihat kalung milik Akashi yang sekarang berpindah ke lehernya. Tadinya ia kira ia harus kehilangan semua. Ia pikir pria itu akan membuang cincinnya. Air matanya hampir saja jatuh jika ia tak berusaha menahannya. Namun ia cukup lega. Setidaknya dari sikap barusan, Akashi Seijuurou bukanlah pria yang kejam.
"Terima kasih, Sei-kun."
…
Keluarga Akashi berjalan sembari mengantar keluarga Kuroko yang baru saja berpamitan. Walau sudah cukup lama berbincang, masih terasa sedikit ketegangan diantar dua kepala keluarga tersebut. Sedangkan ibu Tetsuya merasa lega saat melihat Akashi Shiori bersikap cukup baik terhadap putranya. Tetsuya memang mudah membuat orang menyayanginya. Ia hanya takut Tetsuya tidak bisa menerima semua dalam waktu singkat. Akan tetapi, ketakutannya sedikit memudar ketika melihat interaksi anaknya dengan tuan muda keluarga Akashi tersebut.
Dua pasang orang tua tersebut cukup kaget saat Seijuurou menarik tangan Tetsuya secara tiba-tiba.
"Kau belum memberikan nomor ponselmu padaku, Tetsuya."
Tetsuya pun sedikit kaget dengan kelakuan Akashi. Teringat syarat yang diajukan Seijuurou padanya, ia pun memilih ikut mengambil peran dalam drama yang dimulai Seijuurou. Setelah bertukar nomor ponsel, ia bisa melihat Seijuurou tersenyum lembut dan menepuk kepalanya lembut, membuat orang tua mereka terperangah.
"Aku akan menghubungimu." Bisik Seijuurou dengan memastikan bahwa orang tua mereka bisa mendengarnya
"Baiklah, Sei-kun." Balas Tetsuya dengan senyum ramah.
Entah bagaimana sepasang pemuda ini akan memainkan peran mereka. Akashi Seijuurou hanya lelah mendengarkan kicauan keluarganya tentang kisah cintanya dan Kuroko Tetsuya hanya ingin membalas jasa kedua orang tuanya.
Mereka berdua hanya belum menyadari drama yang mereka mulai mungkin akan menimbulkan perasaan yang tidak pernah mereka bayangkan, perasaan yang mereka anggap sudah tidak akan mereka rasakan lagi.
Sebuah cinta, akankah hadir dalam hidup mereka kelak? Atau kah mereka akan menjalani drama ini seumur hidup?
TBC…
