Tetsuya baru saja menyelesaikan shift kerjanya di sebuah taman kanak-kanak tempatnya bekerja paruh waktu. Selesai berganti pakaian, ia kembali duduk termenung di ruang ganti guru. Tangannya naik menyentuh cincin yang bertengger manis di balik pakaiannya. Perasaan rindu yang besar menyeruak di dadanya, membuat tetesan bening keluar dari manik birunya yang indah. Ia merindukan Taiga.

Teringat kembali kejadian malam yang lalu saat ayahnya memanggilnya dan sang ibu ke ruang kerja, memberi tahukan bahwa keluarga Akashi telah menentukan tanggal pernikahannya dengan sang tuan muda yang baru saja ia temui beberapa kali. Walau dikatakan bertemu, pria bersurai merah yang kini berstatus sebagai tunangannya itu hanya menjemputnya dari TK pulang ke rumah, atau ke mansion keluarga Akashi untuk sekedar memberi salam pada orang tua Akashi. Ayahnya terus menerus meminta Tetsuya untuk memikirkan kembali keputusannya, meyakinkan dirinya bahwa ia tak perlu mengorbankan apa-apa, bahkan hampir menelepon Akashi Masaomi untuk membatalkan semua, namun ia menolak, meyakinkan bulatnya tekad yang telah ia buat kepada pasangan Kuroko.

"Kuroko sensei, ada yang mencarimu." Panggil salah satu rekan gurunya

Awalnya Tetsuya mengira, ia akan kembali disambut Akashi Seijuurou yang seenaknya datang tanpa pemberitahuan untuk menjemputnya. Akan tetapi, saat ia keluar, bukan Seijuurou yang datang menemuinya.

"Himuro-kun.."

Himuro Tatsuya, salah satu sahabat terbaik Taiga saat sekolah, kini duduk di hadapan Tetsuya yang tengah meminum vanilla milkshake kesukaannya di taman dekat tempat Tetsuya bekerja.

"Kau tidak berubah sama sekali, Kuroko." Kata Himuro sambil tersenyum hangat.

Diantara dua sahabat Taiga, jika Aomine Daiki ibarat api yang membara, Himuro ibarat air yang senantiasa tenang dan menghadapi segala hal dengan kepala dingin.

"Tumben sekali berada di Tokyo."

"Aku dinas untuk 3 hari. Lalu ke sini karena merindukanmu."

Tetsuya terkekeh, "Kau…. sudah menerimanya kan?"

Himuro menatap Tetsuya lembut dan mengangguk.

"Aku kaget saat mendapatkan undangan pernikahanmu. Sejak kapan kau berpacaran dengan orang sehebat itu?"

Tetsuya diam. Memangnya dia dengan Seijuurou pernah berpacaran? Bahkan setelah bertemu, belum sempat menyandang status teman Akashi Seijuurou, ia sudah melesat ke level dengan status tunangan.

"Sudah cukup lama," bohongnya, "Kami menyembunyikannya karena Akashi-kun takut media menggangguku. Bahkan kami setuju pernikahan ini akan dilaksanakan tanpa media apapun yang akan hadir. Hanya orang terdekat yang kami undang."

Bukan maksud Tetsuya untuk berbohong. Ia takut kedua orang tuanya akan di cap buruk oleh Himuro bila ia jujur tentang keadaan ekonomi.

"Apa kau mengundang Daiki?"

"Tentu saja."

"Bagaimana pendapatnya?"

"Entahlah." Tetsuya menghela nafas, "Ia bahkan sama sekali belum menghubungiku dalam sebulan ini. Aku rasa ia akan marah padaku."

"Kenapa begitu?"

"Karena… aku mengkhianati Taiga?"

Himuro melihat mata biru di hadapannya dengan hangat. Ia tahu Tetsuya belum sepenuhnya melupakan sahabatnya.

"Kami berdua sering berharap, kalau kau akan menemukan kebahagiaan lainnya, Kuroko. Terus menerus meratapi Taiga bukanlah jalan terbaik. Dan aku cukup senang karena orang yang akan menjadi pasanganmu menggantikan Taiga adalah pria yang hebat."

Dering ponsel Tetsuya memotong pembicaraan Tetsuya dan Himuro. Ia melihat nama peneleponnya. Datanglah si penculik putra tunggal keluarga Kuroko. Tetsuya hanya berharap hari ini ia akan dipulangkan langsung ke rumahnya, bukan ke mansion Akashi. Lain ceritanya bila Akashi Shiori berada di sana, ia cukup nyaman dengan wanita tersebut, tetapi jika Masaomi yang ada di sana, Tetsuya merasa hidupnya penuh intimidasi.

"Sepertinya aku harus segera kembali, Himuro-kun. Maaf tidak bisa lama menemanimu." Kata Tetsuya

"Tidak apa. Aku akan menghadiri pernikahanmu dan mendoakan yang terbaik untukmu."

Terkadang Tetsuya berharap, ia bisa sedikit membenci pria di depannya. Tapi itu mustahil. Pria itu terlalu baik untuk dibenci.

"Maafkan aku, Himuro-kun." ucapnya sedikit terisak, "Maaf."

"Ehh? K-Kuroko, aku tidak bermaksud apa-apa." Himuro kaget dengan isakan Tetsuya

"Maaf… karena telah mengambil Taiga darimu.."

Himuro berdiri dan memeluk Tetsuya. Tidak ada rasa marah atau pun kesal. Walaupun di depannya adalah orang yang dicintai Taiga, nama pria yang diam-diam ia simpan dalam hatinya. Tetsuya sudah seperti adiknya sendiri.

"Aku tidak mau dituduh yang macam-macam oleh tunanganmu, Kuroko," dan Tetsuya tahu, Himuro juga tidak bisa menahan air matanya, "Berhentilah menangis, bodoh. Jangan sampai sifat bodoh Taiga menurun padamu."

Tetsuya kembali mengunjungi Taiga hari ini. Ia menatap nisan tersebut dengan air mata di wajahnya.

"Aku akan menikah, Taiga."

Tetsuya terus menatap nisan di depannya, "maafkan aku."

Air matanya terus turun, disusul hujan gerimis yang mulai deras.

"Maafkan aku, karena yang akan kutunggu di altar bukanlah dirimu."

Tetsuya terduduk di depan pusara Taiga. Hujan yang turun semakin deras sama sekali tidak membuatnya berpikir untuk beranjak dari sana. Ia hanya ingin menghabiskan waktunya dengan Taiga hari ini. Melepas semua kerinduan dan keluh kesahnya pada Taiga hingga ia merasa sesuatu melindunginya dari hujan, membuatnya menatap ke atas dan mendapati pria dengan kulit tan mengah memayungi dirinya.

Pria berkulit tan tersebut menatap Tetsuya dengan penuh arti.

"Aomine-kun."

"Aku tidak suka melihatmu menangis seperti ini di hadapan Taiga. Apa kau berniat membuatnya tidak tenang sampai kau bertemu dengannya lagi?"

"…"

"Kenapa kau menikah?"

"Eh?"

"Yang aku dengar dari Himuro, kau berpacaran dengannya. Tapi kau tidak bisa membohongiku, Tetsu."

"…aku.. aku yakin ibu sudah menceritakan semua tentang masalah keluargaku, Aomine-kun."

Aomine mengangguk. Keluarga Kuroko memang sudah cukup dekat dengan Aomine Daiki, sahabat Taiga sejak kecil.

"Aku… hanya ingin membantu ayah dan paman Kagami. Dan inilah satu-satunya cara untuk melakukannya."

Aomine menepuk kepala Tetsuya pelan, lalu menarik Tetsuya ke dalam pelukannya, membuat Tetsuya kembali meneteskan air mata.

"Kalau Akashi Seijuurou itu berani menyakitimu, aku akan jadi orang pertama yang menarikmu ke kantor kependudukan dan mengubah namamu menjadi Aomine."

Dan hal itu sukses membuat Tetsuya tertawa.

Kau harus membantuku menjaganya dari sana, Bakagami. Batin Aomine.

Waktu sebulan berlalu dengan cepat sehingga kini Tetsuya berlomba dengan jantungnya untuk menenangkan diri. Ia memakai tuxedo putih yang membuatnya terlihat manis, duduk menunggu di ruang ganti sambil menggenggam tangan sang ibu.

"Saat ibu menikah, ibu juga setegang ini." Ucap ibu Tetsuya

"Benarkah?"

"Tetsu-chan… ibu minta maaf."

"Ibu…" Tetsuya menangkup wajah ibunya "Sudah kukatakan, aku sudah yakin dengan semua ini. Sei-kun bahkan sangat baik padaku."

"Seandainya ada yang bisa ibu lakukan untukmu."

"Eumm.. ada."

"Apa itu? Katakan Tetsu-chan, ibu pasti akan membantumu."

Tetsuya tertawa melihat sikap antusias ibunya. Ia tidak ingin ibunya tertekan dengan keadaannya. Berusaha meyakinkan sang ibu bahwa pilihannya sudah tepat, Tetsuya sering menceritakan beberapa kebohongan kepada ibunya. Biarlah, toh pernikahan ini juga nantinya akan penuh kebohongan.

"Cukup ajari aku memasak makanan-makanan lezat untuk suamiku nanti."candanya

"Ayah bahkan baru beberapa kali menikmati masakanmu."

Tetsuya dan ibunya menatap kea rah ayah mereka yang masuk ke dalam ruang ganti mempelai.

"Sudah waktunya, Tetsuya."

"Tetsu-chan…"

Tetsuya tersenyum, lalu berdiri dan memeluk kedua orang tuanya.

"Terima kasih, sudah menjadi orang tua terbaik untukku, Ayah, Ibu."

Tetsuya berjalan pelan menuju altar dimana Akashi Seijuurou berdiri. Pria itu terlihat sangat tampan, ya, Tetsuya akui. Ia mengubur imajinasinya dalam-dalam demi menerima kenyataan. Pria di altar bukanlah Taiga.

"Aku titip Tetsuya, Seijuurou-kun."

Akashi Seijuurou mengangguk pasti, menerima tangan yang baru pertama kalinya ia genggam, membawanya ke hadapan Tuhan. Seijuurou melirik kecil mempelainya. Wajah yang indah, tersenyum manis kepadanya saat ia mendapati Seijuurou tengah meliriknya. Entah apa arti senyuman itu, Seijuurou tidak mengerti. Yang ia tahu, yang saat ini berada di sampingnya bukanlah gadis yang ia impikan.

"Akashi Seijuurou, bersediakah anda menerima Kuroko Tetsuya sebagai pasangan hidup anda, mencintainya dalam suka dan duka, hingga maut memisahkan kalian?"

Cinta? Seijuurou tersenyum, "Saya bersedia."

Pertanyaan yang sama pun ditujukan kepada Tetsuya, dijawab dengan anggukan dan kata bersedia yang meresmikan mereka berdua sebagai pasangan sehidup semati.

"Anda boleh mencium mempelai anda."

Seijuurou dan Tetsuya saling menatap. Okay. Berciuman. Bahkan saling bergandengan pun baru mereka lakukan saat Seijuurou menerima tangan Tetsuya tadi.

"Permisi." Bisik Seijuurou dan membuat Tetsuya mengerjapkan matanya.

Bibir mereka bertemu. Hanya kecupan ringan namun dengan jeda cukup lama. Seijuurou kemudian melepas tautan bibir mereka, diiringi dengan tepuk tangan dan ucapan dari para hadirin.