Tetsuya hanya diam melihat seorang pria berambut kuning yang tengah meributi suaminya. Di tengah resepsi, pria itu tiba-tiba datang dan berceloteh panjang lebar namun ditanggapi Seijuurou dengan dingin. Bahkan pasangan tua Akashi juga menganggap tak ada apapun yang terjadi saat telinganya bahkan sudah membuat kepalanya berputar dengan suara lengkingan pria kuning yang dirasanya tidak asing.
"Nee.. Kurokocchi, apa yang membuatmu mau menikah dengan si brengsek ini?"
Kurokocchi? Panggilan macam apa itu.
"Jangan sok kenal dengannya, Ryota." Ucap Akashi, "kalian bahkan belum kukenalkan, dan bisakah kau tenang sedikit?"
"Bagaimana aku bisa tenang? Aku sedang melakukan pemotretan di luar negri dan baru saja tadi malam aku menerima undangan pernikahan dengan namamu, membuatku pulang dengan pesawat paling pagi hari ini. Hidoiiii-ssu Akashicchi. Apa kau tidak menganggap persahabatan kita sebagai hal yang sakral?" Rengek pria tersebut.
"Aku lebih pusing jika acara sakral ku hari ini dirusak suara berisikmu." Balas Seijuurou
Tetsuya semakin tidak mengerti. Bagaimana ada pria seberisik itu di sekitar Seijuurou yang begitu tenang.
"Ini Kise Ryota. Orang yang entah darimana menempel dariku sejak kecil. Dia seorang model, jadi kau pasti merasa tidak asing dengan wajahnya." Jelas Seijuurou pada Tetsuya, "mengobrol saja dengannya sebentar. Aku akan menyambut beberapa tamu dulu."
Tetsuya mengangguk. Ia juga tidak mengenal siapa pun di tempat itu. Ia kembali melihat Ryota yang memandang kepergian suaminya dengan lega.
"Kise-kun?"
"Ah. Haha. Aku hanya tidak menyangka kalau Akashicchi akan menikah secepat ini. Aku kira ia akan terus memikirkan Momoi."
"Siapa itu Momoi?" Tanya Tetsuya
"Kau tidak tahu tentang Momoi?" Ryota balik bertanya.
Tetsuya menggeleng. Apakah Momoi pacar Seijuurou? Gawat. Apakah ia sudah menjadi perusak hubungan orang?
"Momoi-san itu mantan pacar Akashicchi. Tapi sudah tidak penting lagi. Lagipula kalian sudah menikah. Berarti Akashicchi sudah melupakannya. Ah. Tentu saja, kau bahkan jauh lebih cantik darinya."
Ryota kembali berceloteh panjang lebar tentang penampilan Tetsuya. Sedikit memberi candaan sehingga membuat Tetsuya tidak bosan ditinggal Seijuurou.
"Tetsu! Selamat atas pernikahanmu!"
Sebuah pelukan mendarat dari belakang Tetsuya. Ia mengenal baik suara bass tersebut. Berbalik, ia melihat Himuro dan Aomine tersenyum padanya.
"Aominecchi…."
Aomine tertegun dengan suara yang ia kenal. Saat memperhatikan lebih jelas, ia kaget bertemu dengan model papan atas tersebut. Ia tidak menyangka akan bertemu dengannya di acara pernikahan Tetsuya.
"Kise."
"Kalian saling kenal?" Tanya Tetsuya
"Ah.. Aku harus segera pergi lagi, Kurokocchi. Masih ada jadwal kerja. Lain kali aku akan mengunjungimu dan Akashicchi." Kata Ryota, "sampaikan salamku pada Akashicchi."
"Dimana suamimu, Kuroko?" Tanya Himuro
Tetsuya menunjuk ke arah Seijuurou yang masih sibuk berbicara dengan beberapa tamu.
"Aomine-kun. Kau diam sekali."
Aomine tersadar sekilas dari lamunannya kemudian tersenyum kepada Tetsuya.
"Tidak apa. Kau bahagia?"
Tetsuya menghela nafasnya, "bahkan saat aku berjalan ke altar tadi, aku masih membayangkan bahwa dia-lah yang ada di sana, Aomine-kun."
"Kemarilah" kata Aomine sambil menarik Tetsuya ke pelukannya, "Dia pasti akan bahagia jika kau bahagia."
Himuro mengelus kecil surai baby blue adik kesayangan mereka, "Daiki benar. Kau harus bahagia."
Tetsuya mengangguk, menghapus sekilas air matanya dan menyamankan diri dalam pelukan Aomine. Tanpa mereka sadari, dua pasang mata tengah menatap mereka penuh arti.
…
Seijuurou membuka matanya, terbangun dari tidurnya saat mencium wangi masakan. Sudah beberapa bulan belakangan ia bangun dengan keadaan seperti ini. Disentuhnya sisi tempat tidurnya dan mendapati ruang kosong. Tetsuya pasti sudah bangun. Tentu saja. Dikiranya darimana wangi masakan itu keluar jika bukan Tetsuya yang memasak.
Pintu kamar terbuka dan Tetsuya berjalan masuk ke dalam kamar.
"Aku baru saja akan membangunkanmu." Kata Tetsuya sambil membuka gorden jendela kamar, "Mandilah. Pakaianmu sudah kusiapkan. Lalu turunlah untuk sarapan."
"Hm."
Jawaban singkat. Selalu itu yang Tetsuya dapatkan setiap pagi. Bukan karena Seijuurou memperlakukannya dengan buruk. Siapa yang sangka, seorang Akashi Seijuurou yang sempurna di mata banyak orang, susah untuk bangun pagi?
Mereka tinggal berdua di apartemen Seijuurou. Awalnya, ayah Seijuurou berniat meminta mereka tinggal di mansion saja, namun mereka menolak. Dengan dalih ingin hidup berdua menikmati masa pengantin baru, mereka meminta izin untuk tinggal di apartemen Seijuurou yang disambut baik oleh orang tua mereka.
Seijuurou dan Tetsuya lebih bersikap layaknya teman serumah daripada suami istri. Hanya jika ketika orang tua mereka berkunjung, mereka akan bersikap sedikit lebih mesra. Dan mereka tidur satu kamar. Satu ranjang. Itu pun sudah menjadi kesepakatan mereka. Tidak ingin membuat orang tua curiga bilamana mereka berkunjung dan mendapati kamar lain ditempati Tetsuya.
"Kau tidak bekerja hari ini?" Tanya Seijuurou yang tengah mengikat dasinya.
"Off. Aku akan mengunjungi ibu ku di rumah."
"Baiklah. Ngomong-ngomong, perusahaan ayahmu sudah mulai stabil. Kagami Haruto-san yang menjadi pemegang saham besar juga banyak membantu mencari klien baru."
Tetsuya tersenyum, "syukurlah kalau begitu."
"Hei Tetsuya."
"Hm?" jawab Tetsuya singkat sambil menyusun kotak bekal Seijuurou
"Kau tidak berniat mencari pacar?"
Tetsuya menolehkan kepalanya, menatap suaminya bingung lalu tertawa.
"Suami macam apa yang meminta pasangannya mencari pacar?"
"Benar juga." Seijuurou menjawab
Keduanya diam. Tetsuya yang sudah selesai menyusun bekal menyerahkan kotak tersebut kepada suaminya.
"Apakah Sei-kun sudah bertemu kekasih yang Sei-kun inginkan?" Tanya Tetsuya
Seijuurou kemudian mengambil kunci mobilnya dan menerima bekal yang diserahkan Tetsuya, bersiap puntuk pergi bekerja.
"Kurasa aku masih setia kepada istriku untik sekarang." Ucap Seijuurou "Aku berangkat."
"Hati-hati di jalan."
Setia untuk sekarang katanya? Tetsuya pun menggeleng kecil dan terkekeh, lalu merapikan dapur dan bersiap-siap mengunjungi ibunya.
…
Sekitar satu jam perjalanan, Tetsuya tiba di kediaman keluarga Kuroko. Tidak ada yang membukakan pintu saat ia mengetuk dan menekan bel. Padahalia sudah memberitahukan kepada ibunya kalau ia akan berkunjung. Ia lalu mengambil kunci dan membuka pintu rumah tersebut.
"Ibu?"
Tak ada jawaban membuat Tetsuya merasa cemas. Ia berlari ke lantai dua, membuka pintu kamar ibunya, namun nihil.
"Ibu. Ibu dimana?"
Kembali berlarian di sekeliling rumah, alangkah kagetnya ia ketika ia tiba di dapur.
Ibunya terbaring lemah di lantai dengan hidung yang mengeluarkan darah. Membuat ketakutan Tetsuya kembali. Ketakutan akan kehilangan orang yang ia sayangi.
"Ibu. Bangun. Ibu kenapa?" ucapnya gemetaran, merasa setengah jiwanya melayang pergi
Dengan gemetar, ia meraih ponselnya dan menghubungi satu-satunya orang yang terpikirkan olehnya.
"S.. Sei-kun… Aku.."
"Ada apa Tetsuya?" jawab Seijuurou bingung.
"Tolong aku… ibu.."
"Tetsuya? Ada apa?"
Hanya tangisan yang keluar. Tetsuya merasa ia tak sanggup lagi mengatakan apa-apa. Hal itu membuat Seijuurou merasa hal yang buruk telah terjadi.
"Batalkan semua jadwal hari ini." Ucapnya kepada sekretarisnya, lalu melesat menuju parkiran untuk menyusul istrinya.
…
