Seijuurou berlari cukup terengah di sebuah lorong rumah sakit besar di Tokyo. Ia mencari sekeliling daerah gawat darurat dan mendapati surai biru yang ia cari tengah terduduk diam di kursi ruang tunggu. Matanya terlihat sembab karena menangis. Terakhir kali menelepon kembali, Tetsuya sudah agak tenang dan ia mencoba memberi arahan agar Tetsuya membawa ibunya ke rumah sakit.

"Tetsuya."

Tetsuya mengangkat kepalanya dan melihat ke sumber suara. Air matanya kembali keluar. Melihat itu, Seijuurou segera duduk di samping Tetsuya dan menyandarkan kepala Tetsuya ke dadanya.

"Sei-kun. Ibu…" isaknya dengan pelan.

"Tenanglah. Jangan menangis dulu. Apakah belum ada kabar dari dokter?"

Tetsuya menggeleng, "Aku takut ibu meninggalkanku lagi."

Lagi? Batin Seijuurou Kenapa ia berkata begitu?

"Apakah ada keluarga ?" panggil seorang perawat membuyarkan pikirannya dan membuat Tetsuya segera bangkit menjawab panggilan tersebut.

"Saya sudah meminta untuk segera menjalani perawatan saat ia terdeteksi memiliki tumor pada kepalanya. Seharusnya ia menjalani perawatan lebih awal." Hela nafas dokter terdengar lelah, "Beliau benar-benar keras kepala."

"Lalu bagaimana keadaan ibu kami sekarang, sensei?" Tanya Seijuurou, seakan tahu Tetsuya terlalu shock untuk berbicara

"Untuk sekarang keadaannya sudah kembali stabil. Ia butuh istirahat lebih dan tidak boleh terlalu banyak pikiran. Saya menyarankannya untuk menginap beberapa hari dulu di sini."

"Lakukan apa yang terbaik menurut anda, Sensei. Tolong kerahkan tenaga medis terbaik di rumah sakit ini. Aku tidak peduli berapa pun biayanya." Tegas Seijuurou.

"Baiklah, Akashi-san. Saya akan mengusahakan yang terbaik."

Seijuurou hanya diam saat keluar dari ruangan dokter tadi. Ia menatap Tetsuya yang berjalan pelan di depannya. Tiba-tiba saja Tetsuya jatuh terduduk lemas, membuatnya kaget dan segera menahan tubuh kecil tersebut.

"Tetsuya? Kau kenapa?"

"Syukurlah.." isakan Tetsuya kembali terdengar, "Aku kira aku sudah kehilangannya."

Seijuurou mengangkat Tetsuya pelan dan mendudukkannya di kursi tunggu, llu berlutut di depan Tetsuya. Sambil tersenyum lembut, dihapusnya air mata Tetsuya pelan dari pipi porselen itu.

"Tenanglah. Aku sudah menghubungi kepala rumah sakit untuk melakukan yang terbaik untuk ibu."

"Arigatou, Sei-kun.. Sungguh.."

Tetsuya hanya mengangguk pelan, mencoba percaya dengan kata-kata Seijuurou dan pelahan pasrah menyandarkan kepalanya pada Seijuurou, cukup lama, hingga ia melihat ayahnya berlari datang dengan cemas dan Seijuurou menjelaskan semuanya.

"Anda tetap harus menghadiri rapat sore ini, Akashi-sama."

Terkadang Seijuurou benar-benar muak dan merasa salah memiliki sekretaris super perfeksionis bernama Midorima Shintaro. Ia terus dihubungi agar segera kembali ke kantor karena ada rapat penting dengan dewan luar negri yang diutus menemui perwakilan dari Akashi corp.

"Aku tahu. Aku akan kembali beberapa menit sebelum rapat dimulai. Tolong berhenti menghubungiku seperti kau kehilangan jejak kekasihmu, sialan."

"Saya tahu, tapi saya tetap akan meng.."

PIP. Hubungan ponsel tersebut pun diakhiri sepihak oleh Seijuurou. Ia masuk ke dalam ruangan tempat ibu mertuanya dirawat. Tetsuya tengah menyuapi sang ibu sambil menyanyikan kicauan kekesalan akibat ibunya yang kelelahan atau banyak berpikir.

"Ibu bisa pingsan lagi jika kau terus menceramahinya, Tetsuya."

Ibu Kuroko terkekeh, melihat bangga pada anaknya karena dibela sang menantu

"Ibu tidak apa-apa. Jadi berhentilah membuat ibumu pusing, Tetsu-chan."

Ponsel Seijuurou kembali berbunyi, membuatnya ingin melemparnya keluar jendela karena berpikir bahwa Midorima kembali menghubunginya. Namun niat itu ia urungkan saat ia melihat nama pemanggil. Itu ayahnya.

"Aku permisi dulu untuk mengangkat telepon."

Tetsuya dan kedua orang tuanya mengangguk, mempersilahkan Seijuurou keluar ruangan.

"Tetsu-chan, apa kau.."

"Aku tahu apa yang akan ibu tanyakan." Potong Tetsuya, "Aku bahagia ibu. Jadi tolong jauhkan pikiran-pikiran negatif dari otak ibu. Ibu bisa lihat, Sei-kun bahkan terus menemaniku sedari tadi."

"Kami melihatnya, nak. Ibumu hanya ingin memastikan." Jawab sang ayah

"Ibu rasa, ia sangat peduli padamu. Dan ibu cukup tenang melihatnya."

Benarkah? Batin Tetsuya sadar Ia memang terus bersamaku sampai aku tenang tadi.

Wajah Tetsuya memerah saat melihat Seijuurou kembali masuk ke ruangan tempat ibunya dirawat, tersadar akan bagaimana memalukannya ia di depan Seijuurou tadi. Menangis tanpa henti sampai hampir tertidur dalam dekapannya jika ayahnya tidak datang tadi.

"Kenapa wajahmu merah? Menangis lagi?" Tanya Seijuurou sambil menyentuh dahi Tetsuya, "Kau tidak demam sama sekali."

"T-tidak apa-apa. Aku hanya agak lelah."

"Kalau begitu, aku permisi ke kantor dulu, ibu, ayah. Ada rapat yang tidak bisa kutinggalkan. Aku akan kembali lagi nanti."

"Maaf merepotkanmu, Seijuurou-kun." Jawab ayah Tetsuya

"Tidak. Ibu Tetsuya adalah ibuku juga. Kalau begitu, aku berangkat dulu."

Tetsuya makin memerah saat Seijuurou tiba-tiba datang dan mengecup pipinya sekilas, sebelum akhirnya keluar dari ruangan.

Okay. Ini acting Tetsuya. Seperti biasa saat ibu mengunjungi apartemen. Sialan. Keadaan tadi benar-benar memalukan.

Kise Ryota berjalan santai di lorong rumah sakit. Para perawat banyak yang meliriknya dengan mata berbentuk hati. Jika saja mereka tidak dalam jam kerja atau pun tidak mengingat etika kerja untuk menghargai pasien ataupun privasi penjenguk, mereka mungkin sudah menerjang model berambut kuning tersebut.

"Dimana ruangannya ya?" gumamnya pelan.

Saat ia menelepon Seijuurou untuk mengajaknya bertemu, betapa kesalnya saat si sekretaris hijau yang menjawab teleponnya mengatakan bahwa Seijuurou berada di rumah sakit karena ibu mertuanya sakit. Ia pun memutuskan untuk menjenguk karena lokasi tempat ia melakukan wawancara kecil tadi ada di kafe dekat rumah sakit tempat ibu mertua Seijuurou dirawat.

"Ah. Itu dia. 2906."

Ryota kemudian segera membuka pintu ruangan, cukup keras karena kebiasaan hebohnya.

"Kurokoc..chi..?"

Panggilannya terhenti saat melihat pria berkulit tan tengah mengelus kepala Tetsuya. Menyadari kedatangan Ryota, Tetsuya pun menyapanya, tanpa menyadari pandangan Aomine pada model papan atas tersebut.

"Kise-kun. Kenapa kau bisa tahu?" Tanya Tetsuya

"Ah.. Aku tadi menghubungi Akashi dan ia memberi tahu tentang ibumu." Kata Ryota gugup, lalu menatap Ibu Tetsuya yang terlelap, "bagaimana keadaan beliau?"

"Sudah lumayan stabil. Ibu baru saja tidur tadi setelah sedikit berbincang dengan Aomine-kun."

"Selamat siang.. Aomine-kun."

Aomine menatap Ryota yang memanggilnya dengan cukup sopan, lalu menundukkan kepalanya, seolah memberi salam.

"Tetsu. Kau sudah makan?" Tanya Aomine.

Tetsuya menggeleng, "Kise-kun? Apakah kau sudah makan siang?"

"Ng… Aku.. sudah."

Aomine kemudian berjalan menuju pintu, "Aku akan membeli sedikit makanan. Mengobrol saja dulu."

Tetsuya dan Ryota sedikit mengobrol tentang keadaan ibu Tetsuya, hingga bagaimana keadaan pernikahan Tetsuya dengan Seijuurou. Ryota menyukai Tetsuya. Sejak kehadiran pria yang tiba-tiba saja ia temui sebagai mempelai sahabatnya, ia merasa Seijuurou terlihat lebih mempunyai kehidupan.

"Apakah Akashicchi sering membuatmu kesal? Dia memang anak yang menyebalkan. Bahkan saat sekolah dulu, ia selali memerintah dengan angkuhnya." Cerita Ryota panjang lebar

Dan kisah Akashi Seijuurou terhenti saat pintu ruangan kembali terbuka, memunculkan Aomine yang membawa sebungkus makanan. Aomine memberikan bungkusan plastic kepada Tetsuya sebelum mengambil sebuah roti dan melemparkannya kepada Ryota.

"Eh?" hela Ryota bingung "Aku.. sudah.."

"Makanlah. Biasanya ucapanmu selalu berhenti sebentar jika berbohong tentang makan." Kata Aomine tegas. "Kau juga, Tetsu. Aku harus kembali bekerja. Sampaikan salamku pada bibi."

"Okay. Terima kasih sudah menjenguk, Aomine-kun."

Ryota memandang bungkusan roti yang ada di tangannya. Roti kari, kesukaannya. Ia merasa matanya panas. Hatinya berdebar kencang, menyadari bahwa rasa itu belum hilang. Kemudian segera berlari keluar ruangan.

"Kise kun?"

"Maaf, aku permisi sebentar." bisik Ryota pelan

Ryota terus berlari, melalui tangga darurat karena melihat perjalanan lift yang masih jauh dari lantai tempat ia berada. Ia sampai di basement rumah sakit, melirik susunan mobil yang berjejer di menangkap bayangan orang yang dikejarnya.

"Aominecchi!"

Pria berkulit tan itu berhenti saat mendapati namanya dipanggil kuat oleh suara yang sering menyambangi telinganya dulu, kemudian berbalik menatap pria tampan yang terengah-engah karena lelah dengan peluh membasahi wajahnya.

"Ryota…" bisiknya pada dirinya sendiri.

"Aominecchi…hh.." hela Ryota lelah, "Apakah kau… belum memaafkanku?"

"…"

"Apakah kau tidak bisa mempercayaiku lagi?" Tanya Ryota saat tetesan air mata mengalir turun dari mata indahnya.

Aomine tak berkedip menatap masa lalunya.

"Aku benci melihat air matamu…" jawabnya singkat.

TBC

Bagaimana minna-san? Apakah ceritanya membosankan? Masih ada yang menunggu ff ini tidak ya?