Seijuurou menatap aneh dua orang di sofa rumah sakit saat ia sampai di depan ruangan ibu mertuanya dirawat. Tetsuya yang melihatnya sampai langsung saja memberi kode agar Seijuurou membantunya. Dilihatnya Ryota, sahabatnya yang biasanya rebut itu hanya diam bersandar di bahu Tetsuya.
"Oi.. yang kau peluk itu istri orang."
Tetsuya langsung memberikan deathglare pada suaminya. Memangnya dia tidak bisa membaca keadaan? Temannya baru saja menangis dalam diam di bahunya dan itu kah yang bisa Seijuurou katakan?
"Akashicchi.."
"Hm?"
"Kalau kau ditinggalkan seseorang, lalu tiba-tiba orang itu kembali entah darimana dan memintamu kembali padanya, bagaimana?"
"… kenapa bertanya begitu?" Tanya Seijuurou dengan wajah datar
"Karena… kau yang pernah merasakannya?"
"…"
Tetsuya hanya diam mendengarkan percakapan dua orang sahabat itu. Ia cukup kaget mendengarkannya. Seorang Akashi Seijuurou ditinggalkan?
"Tergantung alasannya."
DEG. Entah kenapa Tetsuya merasakan nyeri pada hatinya. Jawaban Seijuurou yang singkat itu membuatnya merasa tidak nyaman. Berdasarkan percakapan mereka tadi, Seijuurou yang pernah mengalaminya. Lalu jika benar orang yang pergi itu kembali, apakah Seijuurou benar-benar akan mempertimbangkan untuk kembali bersama?
"Jika itu karena kesalah pahaman?" Tanya Ryota lagi
".. mungkin aku akan mendengarkan penjelasannya. Jika memang benar-benar salah paham, berarti tidak ada masalah bukan?"
Tetsuya berdiri. Ia merasa tidak ingin mendengarkan percakapan itu lebih jauh lagi. Ia sendiri tidak tahu alasannya. Hanya saja jawaban yang diberikan Seijuurou benar-benar membuatnya tidak nyaman.
"Tetsuya?"
"Aku.. aku ke kamar kecil dulu" ucapnya lesu
Ryota menepuk wajahnya pelan. Ia lupa diri.
"Bodohnya aku." Rengek Ryota, "mendengarkan hal seperti ini pasti membuatnya tidak nyaman. Dia itu istrimu. Mendengarkan jawaban itu darimu, pasti hatinya sakit. Ya Tuhan bunuh saja aku."
"Dia mungkin memang perlu kamar kecil." Ucap Seijuurou menanggapi jawaban Ryota.
Lagipula untuk apa sakit hati? Dia saja punya kekasih Batin Seijuurou
"kau bertanya begini tiba-tiba. Arah pertanyaan mu itu. Tentang Satsuki atau tentang dia?"
…
Tetsuya tengah sibuk memasak sarapan dan mempersiapkan bento untuknya dan Seijuurou. Ibunya sudah keluar dari rumah sakit beberapa hari yang lalu. Ia juga menginap di kediaman Kuroko untuk memastikan kesehatan ibunya selama tiga hari, membuatnya merasa lebih tenang dan memutuskan untuk kembali tadi malam. Sebenarnya itu juga sedikit alasannya untuk menghindari Seijuurou. Ia merasa aneh berdekatan dengan pria itu belakangan ini. Tapi ia harus kembali ke apartemen. Hari ini, ia akan kembali bekerja.
"Kau memasak apa?" Tanya Seijuurou yang entah darimana muncul di belakangnya
"UWAA!"
Kekagetannya membuat tubuhnya limbung. Untung saja Seijuurou yang berdiri di belakangnya sgera menahan tubuh kecil itu.
"Kenapa keget begitu bodoh?"
"Tu.. tumben Sei-kun sudah bangun."
"oh. Aku kira kau belum kembali. Jadi memasang alarm agar tidak telat." Ucap Seijuurou sambal mengecap tofu yang sudah selesai digoreng, "Wajahmu merah. Kau sakit?"
Ya. Mimpi apalagi yang tengah menyambangi Tetsuya? Seijuurou tiba-tiba menempelkan dahinya pada dahi Tetsuya.
"Tt-tidak! Minggir sebentar. Aku mau masak."
Seijuurou kemudiam duduk di meja makan, menunggu sarapan selesi dimasak oleh Tetsuya.
"oal Ryota, saat di rumah sakit. Apa kau tahu apa yang membuatnya menangis?"
"Tidak. Ia tiba-tiba datang. Lalu pergi sebentar. Saat dia kembali, sudah seperti itu." Tetsuya mengingat- ingat ,"Tapi aku rasa ada hubungannya dengan Aomine-kun."
"Aomine?"
"Temanku yang saat itu datang ke pernikah… pernikahan kita."
"Yang mana?"
"Yang kulitnya agak gelap."
"Yang memelukmu mesra?"
"Eh?"
"…"
"Dia hanya temanku."
".. bukan urusanku juga. Kau bebas bersama siapapun. Itu perjanjian kita. Sudah selesai makanannya?"
Tetsuya berdiri dan menata makanan di atas meja. Ia merasa tidak ingin makan. Ia ingin segera berangkat kerja. Menemui murid-muridnya mungkin bisa membuat suasana hatinya lebih baik.
"Benar. Kau juga bebas kembali pada kekasihmu yang pergi itu kalua dia kembali."
"hah?"
"Bukankah kau masih menunggunya? Kau bilang akan kembali padanya saat dia kembali bukan?"
"Kenapa kau tiba-tiba bicara tentang ini? Lagipula itu memang hakku untuk bersamanya kembali. Apa urusannya denganmu?
"Semuanya bukan urusanku?! Lalu aku ini siapa?! Pembantumu, Akashi Seijuurou sama?!" teriak Tetsuya kesal
"Ada apa denganmu sebenarnya? Itu kesepakatan kita dari awal." Jawab Seijuurou dengan suara yang mulai meninggi
"Kalau begitu lebih bagus kalau kita bercerai! Aku tidak mau jadi penghalang kalian nanti!"
"Siapa yang akan kembali? Siapa yang jadi penghalang? Kenapa kau tiba-tiba begini?! Tiba-tiba ingin bercerai? Oh. Aku tahu. Kau menyesal menikah denganku? Karena perusahaan ayahmu sudah stabil, kau tidak membutuhkanku lagi dan ingin kembali pada kekasihmu?" ucap Seijuurou emosi
"… serendah itu aku di matamu!? Aku membencimu! Aku benci!"
"Akashi Tetsuya!"
"…"
Hening beberapa menit membuat Seijuurou menatap Tetsuya dan menghela nafas mendapati Tetsuya menangis dalam diam. Ia tidak ingin berdebat lebih jauh lagi.
"Aku berangkat dulu. Tenangkan dulu dirimu. Kita bicarakan ini lagi saat aku pulang kerja nanti."
Tetsuya terduduk dan menangis tersedu saat pintu utama telah ditutup.
Ada apa denganku? Dia benar. Aku yang menyetujui semua dari awal. Kenapa aku begini?
"Taiga…" ucapnya sambil menggenggam cincin di dadanya "Aku membencinya."
…
Tetsuya duduk termenung ketika semua murid di TK sudah pulang. Ia tengah menunggu Aomine untuk menjemputnya. Mereka berencana memilih hadiah ulang tahun untuk Himuro yang akan datang hari Minggu nanti. Ia masih tidak habis pikir dengan kelakuannya. Kenapa ia bersikap seperti itu? Kenapa ia merasa tidak nyaman berada dekat Seijuurou? Padahal selama ini tidak pernah ada masalah apa-apa.
"Tetsu?"
Tetsuya terkejut dengan panggilan Aomine. Sejak kapan Aomine sampai?
"Kau kenapa Tetsu? Kenapa menangis?"
"eh?"
Tetsuya meraba pipinya. Air matanya kembali turun tanpa ia sadari.
"Si brengsek Akashi itu membuatmu menangis?"
"Tidak.. Bukan begitu Aomine-kun."
"Lalu kenapa? Apakah ada masalah dengan kesehatan bibi lagi?"
"…"
"Tetsu. Aku tidak suka jika kau tidak menjawabku."
Tetsuya mengalah, memilih menceritakan apa yang terjadi di tengah perjalanan menuju pusat perbelanjaan. Setelah Taiga, Aomine lah yang paling mengerti dirinya. Ia tahu ia tidak akan bisa menyembunyikan apa-apa dari Aomine. Terkadang ia tidak yakin apakah sahabat Taiga ini benar-benar manusia biasa, bukan seorang cenayang.
"hal seperti itu masa kau tidak mengerti." Hela Aomine
"Apa?"
"Bukankah hal itu yang dulu kau rasakan sebelum berpacaran dengan Taiga?"
"…"
"Tetsu. Jantungmu berdebar-debar melihatnya. Kau tidak suka saat membayangkan ia akan bersama orang lain. Bukankah kau juga begitu saat melihat Tatsuya bersama Taiga dulu?"
Tidak. Tidak mungkin. Batin Tetsuya
"Kau mulai jatuh cinta padanya, Tetsu."
"Tidak, Aomine-kun. Aku hanya mencintai Taiga. Aku tidak pernah melupakannya sedikitpun Aku tidak mungkin ja-…"
"Tetsu." Aomine menyela, "Kau tidak harus melupakannya untuk jatuh cinta pada orang lain. Dia selalu hidup dalam hatimu, dalam hati kita semua. Tidak ada yang melupakannya."
"Tapi.."
"Kita sudah sampai." Kata Aomine setelah memarkirkan mobilnya, "Hanya itu yang bisa kukatakan. Semuanya kembali lagi padamu. Dan ingat kata-kataku, Tetsu. Taiga tidak pernah mengatakan kalau kau tidak boleh mencintai orang lain. Bahkan jika ia masih hidup dan seandainya kau mencintai orang lain, ia akan merelakanmu, asal kau bahagia."
"…"
"Sudahlah. Ayo turun. Jangan memaksakan dirimu untuk berpikir dengan perasaan tidak karuan seperti itu."
Tetsuya turun dari mobil dan menatap Aomine yang berjalan di depannya.
Tidak. Aku yakin aku hanya mencintai Taiga. Aomine pasti salah. Aku hanya kesal karena ia merendahkanku tadi.
Dan wajah Akashi Seijuurou kembali mengisi benaknya walau batinnya terus mengatakan bahwa ia mencintai Taiga.
…
"Akashi-sama! Ada kebakaran di gudang di pabrik C. Saya permisi untuk meninjaunya." lapor Midorima kepada CEO nya
"Kenapa bisa begitu?" Seijuurou berdiri, "Aku ikut. Cepat berangkat."
Seijuurou dan sekretarisnya pun segera menuju pabrik yang dimaksud. Ketika sampai di sana, beberapa pekerja tengah sibuk memadamkan api yang mulai membesar. Suasana sangat kacau, membuat Seijuurou tidak tahan untuk segera menyelesaikan masalah di sana.
"Ada apa ini?!" Tanya Seijuurou keras karena ricuhnya daerah pabrik
"Ada korsleting di dalam saat mereka menghitung stock, Akashi-sama. Pemadam kebakaran sudah dalam perjalanan ke sini." Lapor mandor pabrik
"Nebuya-san! Abe-san masih berada di dalam! Tidak ada yang melihatnya keluar!"
"Apa!"
Seijuurou melihat seember air dan segera menyiramkannya ke seluruh badannya lalu berlari masuk ke dalam api.
"Akashi-sama!" teriak Midorima panik, lalu segera menghubungi Akashi Masaomi.
…
Tetsuya dan Aomine baru saja sampai di depan apartemen Seijuurou. Tetsuya menghela nafasnya. Ia benar-benar takut untuk pulang. Ia tidak ingin masuk ke dalam rumah.
"Tetsu. Apa kau ingin lari dari masalah?" Tanya Aomine
"Aku.."
RING RING. Dering ponsel Tetsuya memotong jawabannya sendiri. Ia melihat layar. Akashi Shiori, ibu mertuanya menelepon. Perasaannya gugup. Apakah Seijuurou benar-benar mengikuti perkataannya untuk bercerai dan memberi tahu orang tuanya? Pelahan, ia menekan tombol hijau dan menempelkan ponsel ke telinganya.
"Tetsu-chan! Cepat ke rumah sakit!"
"Ibu?"
"Sei tidak sadarkan diri setelah masuk ke dalam api untuk menyelamatkan pekerja pabrik. Sekarang ia dibawa ke rumah sakit Tokyo."
Lemas. Hanya itu yang Tetsuya rasakan. Ponselnya pun terjatuh ke bawah dashboard. Aomine menatapnya heran.
"Tetsu?"
"R…R..Rumah sakit." Ucap Tetsuya bergetar saat air mata kembali turun ke pipinya, "Antarkan aku.."
Tanpa banyak bertanya, Aomine pun menginjak gas saat melihat wajah Tetsuya yang ketakutan. Ia ingat wajah itu. Wajah saat ia menarik Tetsuya keluar dari dalam kelas.
Siapa lagi yang ingin kau ambil dariku, Tuhan? Batin Tetsuya seiring isakan tangisnya menguat pelahan.
TBC…
