Disclaimer
One Piece hanya milik Eiichiro Oda seorang dan bukan milik saya :)
.
.
Peringatan!
Cerita ini terinspirasi oleh cerita Kamisama Hajimemashita yang penulis berusaha melakukan sedikit perubahan hehe. Out of Character (OOC), CharaxOC, EYD berantakan, Typo.
.
.
.
.
Selamat membaca
.
.
.
.
.
.
Rasa ingin sekali untuk tinggal bersama keluarga yang harmonis, ayah dan ibu yang menyayangiku, hidup berkecukupan tapi yang aku dapatkan? Aku tidak pernah mengharapkan hal-hal ini, ini begitu menyakitkan. Ibu kenapa harus pergi? Ayah kenapa kau memberikan beban yang sangat berat untuk kupikul? Kenapa kalian meninggalkanku?!
.
.
.
.
Saat ini aku hanya dapat duduk dibangku taman, hari sudah malam dan aku tak tahu harus bagaimana. Tiba-tiba saja sekelompok orang datang dengan jas hitam lengkap ke rumah, mereka menanyakan ayah akan utang-utangnya namun tanpa kusadari ayah telah melarikan diri, sebagai ganti rugi mereka mengambil semua barang pribadi kami bahkan milik ibuku. Tidak hanya itu saja, ibu pemilik apartemen kami pun menagih dan aku sama sekali tak memiliki uang yang cukup untuk membayarnya, aku bahkan belum bekerja dan masih seorang siswi..
"Hahh..." menghela nafas panjang, aku rasa aku akan tidur disini saja untuk sementara waktu dan besok aku akan mencoba untuk mencari pekerjaan dan tempat tinggal.
Mencoba menyusun rapih tas punggungku sebagai bantal dan mengambil kain tipis sebagai selimutku, membaringkan diri diatas bangku taman yang dingin dan menatap langit terbuka.
"Jika Dewa itu ada, mengapa mereka setega ini melakukan hal ini padaku? Aku selalu berdoa memohon hal-hal yang baik terjadi untuk semua orang.."
"Gyaaaahh!!!"
Buru-buru bangun dari bangku taman, seseorang berteriak sangat kencang dimalam hari. Menakutiku saja, apa orang mabuk baru saja melihat hantu kah?
Tiba-tiba saja seseorang berlari dengan sangat kencang mengarah padaku,
"To-tolong usir mereka!!" Pinta pria yang tiba-tiba saja sudah berdiri diatas bangku taman yang kutiduri tadi.
"Woof! Woof!!" Gonggongan dua anjing yang cukup mengerikan, tentu saja siapapun akan takut dengan anjing segalak itu tapi tak apalah walaupun dia seorang pria, rasa takut akan sesuatu pasti ada.
"Tenanglah tuan, jika tuan panik maka mereka akan semakin galak," jawabku sembari mengayun-ayunkan kedua tanganku mengusir anjing-anjing tersebut. "Syuhh..syuhh ayo pulang, tuan kalian pasti sedang mencari kalian."
Kedua anjing itu pun berlarian pergi, sungguh mengganggu tidurku saja padahal sudah larut malam seperti ini kenapa pria berpakaian rapih ini bisa sampai dikejar-kejar anjing?
"Apa anda baik-baik saja tuan?"
"Y-ya, terima kasih sudah membantuku, aku sangat takut dengan anjing. Sudah lama sekali aku tidak mengunjungi kota ini, setelah tiba bukannya mendapatkan sambutan baik malah dikejar-kejar anjing." Jawab pria itu, pria yang tinggi juga memiliki rambut yang cukup panjang dengan poni yang menutupi alisnya, rambutnya berwarna kuning, dia seperti orang asing.
"Apa kau orang lokal disini nona?"
"Huh? Saya? Ya, tapi saya sudah kehilangan tempat tinggal, hehe" jawabku dengan tawa yang menyedihkan. Aku pun menceritakan kejadian menyedihkan yang menimpaku sore tadi, pria itu sampai sedih mendengarkannya.
"Kau pasti membenci ayahmu yang tega meninggalkanmu kan? Hiks,"
"Tapi sejujurnya aku pun meninggalkan tempat tinggalku, bukan karena hal buruk tapi aku harus pergi meninggalkan mereka. Aku ingin tahu apa keluargaku baik-baik saja? Jika aku kembali aku yakin pasti Law akan segera menghajarku."
"Tidakkah itu lebih baik? Saya yakin orang bernama Law itu juga seluruh keluarga anda marah karena mereka mencemaskan anda. Memiliki tempat untuk kembali bernaung itu sebuah keberuntungan." Jawabku tersenyum.
Pria itu hanya memperhatikanku lalu membalas senyumanku.
"Aku lupa, siapa namamu nona? Namaku Corazon, sebetulnya itu hanya julukkanku tapi aku merasa nyaman dengan panggilan itu hehe"
"Nama saya Elizabeth Edelweiss, anda bisa memanggil saya Elizabeth saja."
"Baiklah nona Elizabeth, aku akan memberikanmu rumahku untuk kau tinggali" pria berambut kuning itu tiba-tiba saja berdiri, tu-tunggu! Dia mau memberikanku apa?!
"E-eeh?! A-apa saya tidak salah mendengarnya? Anda ingin memberikan tempat tinggal anda?" Tanyaku panik.
"Aku tidak bisa terus meninggalkan rumahku kosong tanpa seorang pemilik sah" pria itu membalikkan dirinya dan mendekatiku, sangat dekat..
Cup~
Tanpa aba-aba dan aku pun kehilangan pertahanan diriku, pria bernama Corazon itu mengecup keningku.
"Kau orang yang jauh lebih cocok untuk menjadi seorang tuan di rumahku. Alamat rumahku sudah kutuliskan dalam kertas ini, katakan pada mereka jika Corazon menyuruhmu datang." Pria itu pun pergi dengan meninggalkan secarik kertas, aku masih tidak percaya apa yang dilakukannya padaku. Aku..aku sangat malu, tanganku masih menutupi kening bekas kecupan Corazon, kenapa dia harus menciumku?
.
.
.
.
Menjadi tuan rumah yang baru? Apa maksudnya? Apa dia menipuku? Tapi aku tidak tahu jika yang dimaksudkannya benar tanpa mengeceknya terlebih dahulu, lagipula kalau tidak pergi kesana aku harus berkemah dialam terbuka! Ah tidak, aku coba saja pergi kesana mungkin apa yang dikatakan Corazon benar.
Berjalan mengikuti peta yang digambar oleh Corazon, gambarnya sangat berantakan tapi lucu aku tetap paham kemana arahnya hingga..
"Ku-kuil?! Ini menuju kuil? Aku rasa aku memang telah dibohonginya, haahhh... Elizabeth kau memang bodoh, jangan pernah mempercayai perkataan orang dewasa." Ucapku, tapi tidak salah lagi memang peta itu mengarah kesini. Sebuah kuil yang sudah tua dan gelap gulita tanpa sedikitpun cahaya, aku jadi susah melihat lebih jauh kedalam.
"Corazon-sama..Corazon-sama, selamat datang kembali. Kami telah menunggu anda."
Eh? Apa aku tidak salah mendengarnya? Ada yang memanggil nama tuan Corazon?! Tu-tunggu dulu, a-a-apa barusan saja aku melihat api yang melayang-layang?! Api berwarna biru...i-i-itu pasti
"AAAAAHHHHH!!!!!" Teriakku sangat kencang, aku mengambil langkah seribu dan berlari secepatnya memasuki kuil yang gelap itu, untungnya pintu tak dikunci aku memasukinya tapi kenapa harus berlari kedalam kuil? Ah Elizabeth kau sangat bodoh, saking paniknya malah bersembunyi didalam kuil sumber keanehan yang kau lihat.
"Huff..huuff..se-sekarang aku harus apa? Seseorang tolong aku!" Aku tidak tahu harus berbuat apa, ini menakutkan sekali dan aku hanya sendirian saja. Bersandar pada pintu kayu, memeluk lutut sambil menangis.
"Corazon, apa itu kau?"
Apa ini hanya halusinasiku atau karena rasa takut aku mendengar suara lagi?! Suara ini berbeda, suara yang cukup berat dan berbeda dari yang kudengar tadi. Aku menoleh sekelilingku yang cukup gelap mencari dimana sumber suara itu hingga mendapati sosok pria berambut hitam tinggi mengenakan kimono, ada telinga seperti telinga hewan, dari belakangnya aku bisa melihat ekornya yang cukup panjang dan berwarna hitam.
Elizabeth mungkin kau kurang tidur sampai berhalusinasi, aku mengucak mataku tak percaya yang kulihat namun berharap itu hanyalah halusinasiku saja. Pria itu berbalik dan melihat padaku, a-aku bisa melihat gigi taringnya...ini..ini menakutkan, ini bukan halusinasi!
"Lama sekali kau pulang. Heh, kau meninggalkanku dan membuatku menjaga kuil bodoh ini selama lebih dari 20 tahun! Dasar bodoh, akan kubunuh kau sekarang juga!!" Teriak pria itu mendekatiku dan hendak mencengkramku.
"Tu-tunggu dulu! A-aku bukan Corazon..!!" Teriakku dan pria itu berhenti menyerangku, wajahnya sangat dekat. Tak berselang lama, dia kembali berdiri tegak menatapku dengan tatapan dingin, aku bisa melihat matanya seperti mata seekor rubah, berwarna kuning terang, begitu tajam dan terlihat seperti mata seorang pembunuh.
"Sachi, Penguin. Dia buan Corazon" panggil pria itu mengalihkan pandangannya dariku.
Poof!
"Benarkah, Law-dono?"
Tiba-tiba muncul dua kurcaci, mereka mengenakan topeng yang aneh, wajah tersenyum dan wajah menangis. Apa lagi ini? Setelah api yang melayang, pria rubah, sekarang kurcaci? Aku rasa aku akan pingsan sebentar lagi.
"Tapi gadis ini memiliki simbol Dewa Tanah di keningnya."
Eh? Dewa tanah? Keningku? Apa maksud mereka? Tapi keningku memang dicium tuan Corazon.
"Kami dapat merasakan jiwa Corazon-sama dari gadis ini." Ucap kedua kurcaci itu, aku hanya dapat kebingungan mencoba menghilangkan bekas kecupan itu pada keningku dengan menggosok-gosok keningku, mungkin dengan begitu mereka tidak bisa merasakan jiwa atau apalah itu aku sangat bingung saat ini.
"Tetap saja dia bukan Corazon. Oi kau, kau sebenarnya siapa?" Tanya pria rubah itu padaku, dia tampak tak senang.
.
.
.
.
"Jadi Corazon memberikan rumahnya padamu?"
"Y-ya, setelah aku menceritakannya kalau aku tidak memiliki tempat untuk tinggal, dia langsung memintaku untuk tinggal disini."
"Tulisan cakar ayam ini memang tulisannya. Pria yang kau temui itu Dewa Tanah disini, dan dia tinggal di Kuil ini."
"Eeeehh?! Jadi dia siluman juga?!"
"Bukan bodoh! Makanya dengar bener!"
"Mengingat dia memberikanmu rumah ini dan memintamu menjadi Tuan Rumah, itu berarti dia menyerahkan posisinya sebagai Dewa Tanah padamu."
Poof!!
"Wahh ini sangat menggembirakan! Selamat! Mari kita rayakan!" Kedua kurcaci itu tiba-tiba muncul lagi,
"Silahkan, terimalah hadiah dari kami~!" Mereka berdua terlihat senang sembari menyodorkanku beberapa makanan, benar sekali aku sama sekali belum makan apapun seharian ini dan makanan itu terlihat lezat.
"Tu-tunggu dulu kalian semua aku—"
Tiba-tiba sentuhan dingin terasa pada daguku, pria bernama Law itu memalingkan wajahku mengarah padanya lagi-lagi terlalu dekat ini membuatku sangat takut dan malu.
"Memangnya gadis lemah sepertimu bisa apa disini? Menjadi Dewi Tanah sekarang? Heh, jangan membuatku tertawa, membantu gadis sepertimu aku tidak sudi, tidak terima kasih! Aku tidak menginginkannya disini, usir dia!" Ucap Law. Perkataannya sungguh kejam, ini membuatku sangat marah, aku tidak suka ini.
"Tapi Law-dono, dia yang dipilih oleh Corazon-sama bagaimanapun itu pilihan Corazon-sama!" Ucap salah satu kurcaci itu membelaku.
"Aku tidak pernah menginginkan hal ini terjadi padaku asal kau tahu, jangan seenaknya berkata buruk padaku! Seharusnya aku yang mengatakan hal itu, tidak terima kasih aku tidak ingin tinggal disini!" Ucapku marah, sudah cukup atas hinaan ini aku bisa bersikap baik padanya jika pria itu sedikit menunjukkan sopan santun.
Setelah marah padanya, pria itu sempat terkejut lalu sekarang dia terdiam memalingkan wajahnya, aku rasa dia kesal setelah aku memarahinya tapi aku tak peduli dia sangat tak sopan padaku padahal tuan rumahnya begitu baik!
"Jika kalian menginginkan gadis ini tinggal disini kalau begitu aku yang akan pergi dari tempat ini." Ucap Law sambil berjalan menjauhiku, tiba-tiba saja angin kencang bertiup diikuti dengan kabut dan pria itu mulai tak terlihat,
"Aku adalah pelayan Corazon, aku tidak akan melayani gadis itu. Minta saja anjing dijalanan untuk menggantikan posisiku." Ucapnya lalu menghilang.
.
.
.
.
Siluman, jiwa-jiwa gentayangan..ini semua pasti hanyalah mimpi. Aku mungkin hanya bermimpi saja, jika aku bangun pastinya semua telah kembali normal, aku yakin itu.
Kedua mataku terbuka menatap langit-langit yang terbuat dari kayu, aku merasakan kasur yang cukup membuatku nyaman untuk berbaring. Sesekali menguap aku memutuskan untuk bangun dari tidurku,
"Aku bermimpi hal-hal yang aneh, mungkin karena terlalu lelah.."
"Selamat pagi, Elizabeth-sama" ucap seseorang yang membuatku terkejut, ahh ternyata bukan mimpi, ini semua kenyataan.
"Saatnya bekerja!" Tambah mereka lagi.
"Tunggu..tunggu, aku belum mengatakan jika aku setuju untuk tinggal disini." Ucapku, mereka tiba-tiba saja datang dan menyuruhku untuk bekerja.
"Eeh?! Tapi kami membutuhkan anda Elizabeth-sama! Setelah Law-dono pergi, kami tak memiliki siapapun untuk melindungi tempat ini, tolonglah tinggal disini Elizabeth-sama!" Pinta mereka, merengek seperti anak kecil. Baiklah tak apa, mereka telah mempersilahkan diriku untuk tinggal disini tanpa sungkan walaupun tidak untuk pria rubah kejam itu.
Aku harus membalas mereka. "Baiklah aku akan tinggal disini~" jawabku sambil tersenyum, mereka berdua begitu senang hingga melompat-lompat.
Mengenakan pakaian bekerja yang diberikan kedua kurcaci itu padaku, mereka juga memberikanku beberapa peralatan bersih-bersih seperti sapu lidi, kain untuk mengepel lantai, pembersih debu yang terbuat dari bulu-bulu, dan lain-lain.
"Elizabeth-sama biar kami jelaskan. Kuil ini harus selalu bersih dari kotoran karena jika kuil tak dibersihkan, akan banyak makhluk jahat yang muncul."
"Aku mengerti, akan kukerjakan. Tapi ngomong-ngomong aku tak bisa membedakan kalian, siapa Sachi dan siapa Penguin?" Tanyaku.
"Aku Sachi, dan dia yang memakai topeng sedih itu Penguin." Jawab Sachi, ahh jadi dia Sachi yang membelaku semalam. Mereka sangat baik, aku akan bekerja keras disini membantu mereka!
Sembari membersihkan rumput-rumput liar dan membersihkan dedaunan kering aku mengingat kembali wajah pria yang sangat tak menyukaiku itu, wajahnya terus terbayang..aku penasaran dia punya hubungan apa dengan tuan Corazon hingga enggan untuk membantuku?
"Hey Sachi, Penguin. Pria bernama Law itu sebenarnya siapa?" Tanyaku.
"Law-dono adalah pelayan setia Corazon-sama. Awalnya Law-dono hanyalah rubah liar, namun Corazon-sama mengambilnya dan menjadikan Law-dono sebagai penjaga untuknya sekaligus menjaganya dari anjing-anjing yang sering datang di kuil."
"Aah jadi karena itu tuan Corazon begitu takut dengan anjing saat itu, hehe lucu sekali hanya karena anjing." Jawabku tertawa kecil, mereka sangat aneh.
Setelah membersihkan halaman depan, di dalam rumah kini aku harus membersihkan halaman belakang, lagi-lagi mencabut rumput liar, mereka tumbuh sangat cepat jika tidak segera dibersihkan dalam beberapa hari.
"Ouch!" Karena menarik rumput liarnya terlalu kuat, aku melukai jariku. Perih tapi ini tak apa-apa, aku juga begitu ceroboh tak menggunakan sarung tangan saat bekerja,
"Coba lihat, bahkan mencabut rumput saja tidak becus. Kau memang gadis lemah yang tak bisa apa-apa."
Pria itu datang lagi, aku jadi sangat mengenal suaranya karena mengejekku semalam. "Kenapa kembali? Bukannya kau meninggalkan tempat ini? Pergilah, aku sibuk disini." Jawabku, pria ini menyebalkan.
"Kau sama sekali tidak cocok dijadikan Dewi dan aku yakin kau hanya melarikan diri dari rumah, pulang sanah!"
"Yang melarikan diri itu ayahku, lagipula aku tidak punya tempat untuk kembali."
Pria itu terdiam, aku berbalik untuk melihat wajah tak senangnya tapi dia hanya menatapku tanpa ekspresi apapun, sadar aku menatapnya, dia mendecih lalu menghilang lagi tapi sesaat setelah menghilang sebuah suara berkata padaku,
"Jangan menyentuh cermin di aula pemujaan"
"Ada apa dengannya, datang hanya untuk mengejek." Gumamku.
.
.
.
.
"Aahh melelahkan sekali" ucapku sambil berbaring pada lantai kayu.
"Dewa, kuatkanlah anakku yang akan melahirkan supaya persalinannya aman dan lancar, anaknya dapat lahir dengan selamat dan sehat, Amin."
Baru saja aku mendengar sebuah suara yang memohon, menoleh pada jendela yang tak jauh dariku aku melihat seorang nenek yang berjalan meninggalkan kuil,
"Apa dia baru saja berdoa?" Tanyaku.
"Benar sekali, Elizabeth-sama. Itu adalah permohonan doa dari mereka yang memberikan persembahan mereka." Jawab Sachi.
"Menetap disini dan mendengarkan permohonan juga adalah tugas dari seorang Dewa." Tambah Penguin.
"Dan ini adalah tugas berikutnya untuk anda Elizabeth-sama." Sachi meletakkan tumpukan buku-buku dihadapanku.
"Ba-banyak sekali ini! Buku-buku ini untuk apa?"
"Ini adalah catatan dari para pengunjung kuil yang memberikan persembahan dan berdoa, catatan ini dibuat oleh Law-dono lebih dari 20 tahun." Jelas Sachi.
"Lebih dari 20 tahun?!" Ucapku terkejut sambil membaca isi catatan-catatan tersebut, tulisannya begitu rapih dan sangat bagus bahkan dariku.
"Setelah Corazon-san meninggalkan kuil dan tak ada yang mendengarkan permohonan doa, pengunjung pun semakin berkurang. Tapi kami berterima kasih pada Law-dono karena meringankan beban kami, masih ada pengunjung yang datang."
"Elizabeth-sama, semua pekerjaan yang kami tunjukkan hari ini semua dilakukan oleh Law-dono lebih dari 20 tahun jadi sekali lagi kami meminta bantuannya." Sachi dan Penguin bersujut padaku, ini membuatku sedih selama ini mereka harus bekerja sendirian tanpa seorang Dewa yang harusnya melakukan semua hal ini.
Kenapa tuan Corazon harus meninggalkan mereka seperti ini?
"Baiklah, aku akan membantu. Kalian pun juga harus berusaha keras bersamaku, janji?" Ucapku sambil tersenyum ria pada mereka, aku dapat melihat gerak-gerik mereka yang begitu bahagia walaupun tak bisa melihat wajah mereka karena topeng yang menutupi mereka, aku yakin mereka tersenyum.
"Kalau begitu Elizabeth-sama, kita harus membawa Law-dono kembali, dia harus melayani anda! Karena Corazon-sama memberikan posisinya maka Law-dono pun harus mematuhinya!" Ucap keduanya.
Ah aku lupa dengannya, ini mengerikan aku harus kembali bertemu wajah dingin itu lagi..
End of Elizabeth's pov.
.
.
.
.
Normal pov.
"Jadi anda disini, tuan Law!" Ucap seorang pria kekar dengan hanya satu mata, matanya besar sekali. Itu adalah siluman, Law tengah berada di dunia siluman tepatnya disebuah kedai, sedang menikmati semangkuk mie. Pria itu cukup kesal karena seorang gadis tak dikenalnya memutuskan tinggal dikediamannya, saat ini ia harus berhadapan dengan orang-orang merepotkan lainnya.
"Saya mencari anda kemana-mana tuan! Apa ini tidak jadi masalah bagi anda seorang pelayan dewa untuk berada di dunia siluman?" Tanyanya.
"Moodku sedang jelek, jangan bicara padaku." Jawab Law, wajahnya sudah menampakkan rasa kesal yang tinggi.
"Kami mendengar gosip kalau kediaman anda sudah tak dihuni oleh Dewa lagi, bolehkah kami mengambil alih tempat itu? Kami juga mencium bau lezat dari sana, seperti bau gadis manusia. Tak apa kan jika kami memakannya?"
"Hn, makan saja aku tak peduli."
"Yaayy! Kami pikir anda akan marah"
"Tidak kok, kau bisa memutuskan untuk memakannya atau tidak, kau tidak perlu izinku tapi asal kau tahu,"
Splash!
"Moodku buruk hari ini, bukannya sudah kukatakan tadi? Jangan bicara padaku." Ucap Law, pria itu memotong siluman bermata satu itu dengan cakarnya hingga seluruh tubuhnya terpisah-pisah, darah mengalir dimana-mana.
"Hooh, seorang gadis manusia ya? Heheheheh ini informasi yang sangat membantu." Ucap seseorang yang menonton aksi Law tak jauh dari kedai tersebut.
.
.
.
.
Bersambung..
