"Ada apa nak? Kenapa sendirian disini? Kau tidak terlihat ceria.."
"Kemarilah, ini onigiri untukmu. Kau pasti lapar kan? Makanlah dan kembali ceria."
"Apa kau akan pergi lagi, Monet? Ke tempat pria itu?"
.
.
.
Elizabeth pov.
Kedua bola matakku menampakkan diri dari tidur yang lelap, aku bermimpi seorang anak kecil, anak kecil yang belum pernah kulihat sekalipun dalam hidupku tapi mimpi itu terasa nyata seolah-olah aku benar-benar berada disana dan mengenali anak itu, tapi itu hanya mimpi tak mungkin ada hubungannya dengan dunia nyataku saat ini, aku harus segera bangun.
Perlahan-lahan berdiri dari kasurku, merapihkannya lalu membereskan kamarku, ini hari kedua aku akan bekerja sebagai, kata mereka seorang Dewi tapi aku masih tak bisa percaya dengan hal itu, namun melihat mereka terlebih lagi Sachi dan Penguin yang repot-repot ingin membantuku sampai pada tuan Corazon yang secara cuma-cuma memberikan tempat tinggalnya, ini terlalu berlebihan pikirku..
"Elizabeth-sama, selamat pagi. Saatnya sarapan dan setelah itu kita akan pergi menjemput Law-dono." Ucap Sachi sembari dibantu Penguin menyiapkan sarapan pagi untukku, mereka sangat baik sekali padaku aku salut pada mereka tapi setelah mendengar akan bertemu dengan pria itu lagi, wajah ceriaku tiba-tiba saja kusut, tapi mau bagaimanapun tempat ini juga rumahnya dia tak bisa seenaknya saja meninggalkan rumahnya, dia harus kembali.
"Baiklah kita akan menjemputnya." Jawabku.
Setelah menyantap sarapan pagi, sesegera mungkin aku membersihkan tubuhku, mengenakan pakaian yang bersih, menata rambutku lalu pergi bersama Sachi dan Penguin tapi tunggu,
"Kemana kita menjemputnya?" Tanyaku.
"Kita akan pergi ke dunia Siluman." Jawab mereka serempak. Eeehhh?! Du-dunia Siluman?! Ya tuhan apa aku akan baik-baik saja?! Tunggu dulu, aku kan Tuhan? Apa aku harus memohon pada diriku sendiri?!
"Kami sarankan pada anda untuk tidak pernah pergi kesana sendirian dan karena inilah anda juga harus memiliki seorang pelayan seperti Law-dono!"
"...aha..haha" tawa garing saja yang dapat kubalas, sejujurnya aku tak begitu mengharapkannya menjadi pelayanku aku hanya berharap dia kembali tinggal, itu rumahnya dan aku merasa bersalah karena dia harus angkat kaki dari sana hanya karenaku.
Setelah perbincangan kami, sampailah pada dunia siluman. Begitu gelap dan suram, terlihat seperti pusat kota di Jepang zaman dulu. Banyak kedai-kedai disana yang bersebelahan dengan bangunan-bangunan tua seperti rumah maupun toko-toko.
Sepi sekali disini, seperti kota tak berpenghuni tapi bulu kudukku berdiri, walaupun terlihat sepi namun aku merasakan tatapan-tatapan mengerikan mengarah padaku. Aku hanya dapat berjalan mengikuti Sachi dan Penguin hingga sampai pada sebuah bangunan, bangunan itu dihiasi oleh lampu-lampu lampion ala jepang, desain bangunannya pun seperti pada jaman dulu.
La-law didalam sini? Aku hanya dapat terkejut dengan isi bangunan ini, seperti sebuah bar dengan pelayan-pelayan wanita siluman yang cantik-cantik, jauh didalamnya banyak ruangan-ruangan khusus bagi tamu-tamu VIP menurutku, ugh ini memalukan..
Sachi memintaku untuk menunggu sementara ia dan penguin memanggil Law dari ruangannya. Aku hanya dapat menunggu dibalik dinding dari ruangannya, samar-samar aku dapat mendengar suara-suara wanita didalam sana, apa yang dilakukan orang itu?!
"Law-dono!!"
"Apa yang kalian inginkan lagi? Jangan ribut disini."
"Padahal anda seorang pelayan tapi malah bersenang-senang di tempat seperti ini! Apa kata Corazon-sama nanti jika dia mengetahui anda melakukan hal seperti ini!"
"Corazon sudah tidak ada lagi jadi biarkan aku bersenang-senang! Aku bekerja cukup lama disana tanpa libur jadi pulanglah!"
"Anda harus kembali Law-dono dan menjadi pelayan bagi Elizabeth-sama!" Ucap Sachi
"Tidakkah anda sedih jika kuil Corazon-sama sampai rusak dan tak terurus dengan baik?" Tambah Penguin.
"Heh, itu bukan urusanku. Aku tidak peduli mau kuil itu rusak atau apalah. Sudah sanah, sanah!"
Apa maksudnya berbicara seperti itu?! Orang ini benar-benar membuat kesabaranku habis.
"Tapi, Elizabeth-sama disini, dia ingin menemuimu." Ucap Sachi.
Muncul dari balik dinding, menatap pria rubah itu wajahnya syok melihatku datang. Ini membuatku sebal sekali, jadi kerjaannya seperti ini sejak kemarin? Minum-minum bersama wanita? Memalukan!
"Tolong katakan sesuatu, Elizabeth-sama!" Pinta Sachi dan Penguin.
"Aku tak perlu mengatakan apapun." Membalasnya dengan sebuah senyuman pada wajahku, tidak itu bukan senyuman senang, itu senyuman marahku. Aku tidak pernah marah dengan wajah marah namun dengan senyuman dan itu sontak mengejutkan mereka didalam ruangan.
"Kenapa kalian membawanya kesini?! Cepat bawa dia kembali!!" Pria itu panik setelah mengetahui diriku datang untuk menemuinya, memangnya kenapa? Dia sampai repot-repot bangun dari tidur malasnya dipangkuan siluman wanita itu.
"Tak usah repot-repot Tuan Law, aku akan kembali. Maaf mengganggu!" Ucapku dan segera beranjak dari ruangan itu.
Aku heran bagaimana bisa tuan Corazon bisa bertahan dengan pria angkuh seperti dia?! Dan lagi, perkataannya membuatku sangat sedih, disaat orang lain sangat membutuhkan tempat bernaung, dia malah membuang tempat tinggalnya seperti itu tak ada artinya sama sekali. Segala pemikiranku membuaku berhenti sejenak, mendudukkan diriku diluar bangunan itu, aku akan menunggu Sachi dan Penguin disini saja, aku lelah..
"Hey..kemarilah..kemarilah"
"Mampir kesini nona~"
Astaga aku lupa kalau ini bukan dunia tempatku! Aku dapat merasakan genggaman-genggaman dingin pada lengan tangaku, se-seorang tolong aku!
Slam!
Karena menutup mataku aku tak tahu apa yang terjadi tapi semua suara-suara yang kudengar juga tangan-tangan dingin itu tak kudapati lagi,
"Orang sepertimu hanyalah santapan gratis bagi penghuni dunia ini. Kau tak layak berada disini, kembali ke duniamu." Ucap Law yang tiba-tiba saja sudah berada dihadapanku,
"Cepat berdiri, aku akan membawamu pu—"
Plakk!!
Law memegang pipinya, wajahnya terkejut. Ya terkejut saja, kau sudah membuatku habis kesabaran sehingga tanganku harus mendarat pada wajahmu,
"Kau yang seharusnya pulang! Bukannya kuil itu rumahmu yang berharga! Apa kau pikir kau bisa seenaknya saja membuang tempat tinggalmu selama ini?! Diluar sana banyak yang tak seberuntung dirimu!" Marahku. Pria itu menatap tajam padaku, aku rasa dia pun kesal atas apa yang sudah kulakukan padanya, tamparanku keras sampai-sampai tanganku juga sakit.
"Apa kau bilang?! Dengar ya, kau itu cuma gadis lemah yang tak bisa melindungi diri sendiri! Gadis tak berdaya yang tiba-tiba saja mengaku jadi Dewi Tanah!"
"U-um..apa kita bisa kembali sekarang?" Tanya Penguin, ia dan Sachi sedari tadi hanya memperhatikan pertengkaran kami, mereka berdua takut namun akhirnya memberanikan diri untuk angkat suara, tapi untunglah jika tidak aku akan menampar pria itu lagi.
"Bawa kembali dia! Aku bahkan tidak akan memperdulikannya jika dia menangis bahkan bersujut padaku!"
"Sachi, Penguin ayo kembali. Banyak pekerjaan yang belum diselesaikan!" Pintaku dan berjalan pergi.
.
.
.
.
Normal pov.
"Tu-tunggu dulu Elizabeth-sama! Kita harus membawa Law-dono kembali!" Sachi dan Penguin berlari mengejar Elizabeth yang buru-buru kembali, mereka masih tak rela Law tidak dibawa kembali.
"Apapun yang terjadi anda harus membuatnya menjadi pelayan untuk anda, Elizabeth-sama!"
"Aku rasa tidak perlu, lagipula kalian lihat sendiri betapa dia tak menyukaiku, menyerahlah ucapan apapun tak akan didengarnya. Lagipula mungkin akan ada pelayan lainnya yang lebih bersedia dari orang itu."
"Tapi Elizabeth-sama, Law-dono memang keras kepala namun jika anda membuat kontrak Master dan Pelayan dengannya dia akan menuruti semua perintah anda, Elizabeth-sama."
"Kontrak? Kontrak seperti apa?"
"Anda hanya perlu menciumnya!"
"Dengan begitu Law-dono akan..huh?" Sebelum Sachi menjelaskan mengenai Kontrak yang harus dilakukan lebih detail lagi, gadis bersurai indigo itu menghilang.
'A-apa maksud mereka?! Menciumnya?! Yang benar saja!' Batin Elizabeth, gadis itu terkejut dan jantungnya berdetak sangat kencang setelah mendengar Sachi, dia buru-buru kabur dan bersembunyi dibalik pepohonan.
'Tidak..tidak aku tidak akan melakukan hal seperti itu! Tidak untuk pria rubah itu maupun pelayan-pelayan lainnya! Aku hanya perlu bekerja tanpa bantuan mereka kan? Ya benar sekali!'
"Permisi nona.." ucap seseorang dari balik Elizabeth, gadis itu menoleh dan mendapati seorang nenek tua yang tengah terduduk ditanah, nenek itu terlihat lemah yang membuat Elizabeth tidak tega padanya lalu menghampiri nenek tersebut,
"Ada apa nenek? Apa yang nenek lakukan ditempat seperti ini? Apa ada yang bisa kubantu?" Tanya Elizabeth berjongkok dihadapan nenek itu.
"Nenek pergi untuk mengumpulkan kayu bakar namun mungkin karena sudah tua, kaki nenek sangat lemas, bolehkah nona mengantar nenek ke rumah nenek?" Pinta nenek tersebut,
"Tentu saja nenek, kemarilah akan kugendong nenek." Elizabeth berbalik memperlihatkan punggungnya pada nenek tersebut, nenek itupun digendongnya lalu dituntun menuju rumah yang tak terlalu jauh dari tempat pemberhentian bus yang tadi ditinggalkan Elizabeth.
Sementara itu..
"Law-donoo!!" Penguin kembali mencari Law yang saat ini kembali pada kegiatan bersenang-senangnya.
"Kali ini apa lagi?"
"Ini gawat sekali Law-dono! Elizabeth-sama menghilang!"
"Memangnya aku peduli?"
"Kumohon bantulah kami, saat ini Sachi pergi untuk mencari Elizabeth-sama, saya tak yakin jika dia akan cepat menemukan Elizabeth-sama dengan tubuh kecil itu."
"Biarkan saja, gadis itu bisa jadi makan malam untuk monster-monster disini." Pria itu lalu menyeringai,
"Jika gadis lemah itu memohon padaku, 'tolong maafkan kebodohanku karena tidak mendengarkan Law-sama, tolong selamatkan aku Law-sama.' Aku akan menyelamatkannya."
Kediaman si Nenek Tua..
"Maaf sudah membuatmu repot nona muda, sampai mau menggendong nenek yang berat ini ke rumah nenek." Cemas nenek tersebut, belum lagi gadis itu menggendongnha dengan tumpukan kayu bakar yang dipikul nenek tersebut.
"Eh? Haha tak apa nenek, aku senang dapat membantu!" Balas Elizabeth ceria walaupun begitu ia merasa punggungnya sedikit nyeri karena berat yang dipikulnya,
"Terima kasih atas sambutannya nenek, tapi aku harus kembali." Nenek yang hendak menyajikan beberapa camilan menghentikan kegiatannya dan sempat tertunduk seperti tengah memikirkan sesuatu..,
"Kau tahu nona muda, sudah semakin gelap diluar. Sebagai orang tua, nenek tak tega dan tak bisa membiarkan seorang gadis muda sepertimu keluar akan sangat berbahaya. Nona pasti mengetahuinya kan?" Jawab nenek tersebut dengan sebuah senyuman terpampang pada wajahnya,
"Nona bisa bermalam disini untuk sementara waktu, nenek mempunyai satu kamar kosong, tidurlah disana."
"..benar juga, kalau begitu aku akan bermalam disini. Sekali lagi terima kasih." Ucap Elizabeth tak lupa tersenyum ramah, gadis itu memang selalu memiliki senyuman yang indah sampai-sampai nenek tersebut tak melepaskan tatapannya dari gadis itu, perlahan-lahan nenek tersebut mendekatinya lalu menyentuh keningnya,
"Nenek melihat tanda yang indah pada keningmu, kau gadis yang beruntung. Ah maaf, kau harus segera beristirahat nona muda." Nenek itupun beranjak pergi.
.
.
.
.
Setelah menerima pakaian dari nenek tersebut, Elizabeth mengganti pakaiannya. Kini ia siap untuk beristirahat sejenak, punggungnya pegal dan hari sudah malam jadi pikirnya tak apa untuk menginap, membaringkan tubuhnya. Pikirannya membawa dirinya kembali pada nenek tua yang tadi menyentuh keningnya, ia merasa ada yang janggal,
'Ini hanya aku atau kuku nenek tersebut sangat panjang?' Batin Elizabeth,
Krak..krak
Gadis itu merinding dan perlahan menoleh melihat penyebab dari suara-suara aneh itu dan terkejut,
"Y-ya ampun rupanya itu kamu, Sachi. Kamu mengagetkanku saja." Ucap Elizabeth lega, ia pikir akan ada monster yang datang memakannya,
"Maaf mengagetkan anda, Elizabeth-sama. Tapi anda harus segera pergi dari sini, tempat ini adalah rumah nenek sihir!"
"Eeehhh?! Pantas saja aku merasa ada yang janggal, kenapa aku bisa sampai seceroboh ini!" Ucap Elizabeth, dia selalu melupakan bahwa ia bukan berada di dunia manusia melainkan dunia siluman, gadis yang begitu kikuk.
"Sekarang anda perlu menggunakan ini, Elizabeth-sama." Sachi memberikan Elizabeth 2 kertas berukuran segi empat yang cukup kecil juga sebuah kuas.
"Gu-gunakan ini? Untuk apa?"
"Ini adalah salah satu kekuatan dari seorang Dewa, kertas ini adalah sebuah jimat. Anda perlu menuliskan sesuatu lalu menempelkannya pada objek apa saja dan apa yang anda tuliskan akan menjadi nyata."
"Ba-baiklah akan kucoba, ini terlalu mendesak dan aku bahkan tak tahu jika ini akan benar-benar bekerja." Gadis itu segera menuliskan sesuatu pada secarik kertas,
"Nona..apa anda didalam? Nenek mendengar suara aneh dari dalam sana.." suara nenek tua itu kembali namun diikuti dengan suara seperti cakaran pada dinding-dinding.
Karena tak kunjung menjawab, nenek tersebut menghancurkan pintu kamar Elizabeth menggunakan kukunya juga sebuah pisau, mendapati ruangan kosong. Nenek itu menoleh ke penjuru tempat hingga pada pintu depannya yang terbuka, menaruh curiga, ia berlari keluar.
"I-ini bekerja, dia tak menyadari keberadaanku!" Gumam Elizabeth, gadis itu menempelkan kertas jimat itu pada keningnya, pada jimat itu tertulis 'tak terlihat'
Gadis itu perlahan-lahan keluar dari kamarnya, berlari secepatnya keluar dari rumah mengerikan tersebut. Cerobohnya ia melepaskan kertas jimat tersebut dari keningnya hingga nenek tersebut kembali merasakan keberadaannya,
"Disana kau rupanya!" Nenek yang melihat Elizabeth berlari menuju pemberhentian bus yang tak jauh darinya, ia mengejar Elizabeth. Gadis itu menyadari dirinya dikejar, ia berlari sekencangnya.
"Elizabeth-sama! Kemari!!" Teriak Sachi yang tengah memanjat sebuah pohon,
"Tu-tunggu!!" Gadis itu secepatnya berlari menuju pohon tersebut lalu memanjatnya, "A-ku takut sekali, Sachi!"
"Elizabeth-sama, masih ada sedikit waktu. Gunakan kertas jimat anda dan panggil Law-dono!"
"Ta-tapi!"
"Itu akan bekerja Elizabeth-sama, percayalah!"
Elizabeth terdiam sejenak, dengan seluruh kecemasannya ia benar-benar berharap Law datang menyelamatkannya, ia tahu akan perbuatannya tapi. 'Aku tak ingin mati sekarang..'
Gadis itu menulis pada kertas tersebut, tak lama kemudian kertas tersebut melayang dan terbang menuju arah kota.
.
.
.
.
Di sebuah Bar..
"Law-dono tolonglah! Selamatkan Elizabeth-sama!"
"Peduli setan!" Balas Law sembari meneguk sake, namun pria itu menyadari secarik kertas menuju padanya, perlahan-lahan terbakar ia mendengar suara,
"Law, selamatkan aku.." suara yang lemah, perlahan-lahan menghilang diikuti dengan kertas tersebut.
"A-apa barusan.." tanya Penguin,
"Kurasa aku akan pergi kesana, aku ingin melihat wajah menangisnya." Sebuah seringai diwajahnya, ia belum merasa puas rasanya ingin melihat gadis itu menangis dihadapannya.
.
.
.
Diatas pohon..
"A-aku tak kuat lagi memanjat dan ini tinggi sekali, aku takut!" Ucap Elizabeth terengah-engah, menoleh kebawah dan menemukan nenek sihir itu memanjat dan hampir meraih kakinya.
"To-tolo—"
"Sepertinya kau kesulitan ya?" Ucap sebuah suara yang membuat Elizabeth segera menoleh padanya, rasanya ingin menangis namun gadis itu berusaha menahannya setelah melihat wajah mengejek dari pria yang baru saja tiba itu,
"Jangan pedulikan aku, aku kemari hanya untuk lihat-lihat saja. Teruskan kegiatan kalian~"
Elizabeth yang hendak meraih salah satu dahan pohon hampir saja terjatuh, nenek tersebut menggenggam kaki kirinya.
"Kyaaaaa!! Le-lepaskan aku!" Teriak Elizabeth,
"Makananku!" Ucap nenek tersebut dan pisaunya diarahkan pada kaki Elizabeth, Law yang melihat hal tersebut sedikit bergerak dari tempatnya, wajahnya sempat panik namun ia menahan dirinya, Elizabeth berhasil menendang nenek tua itu hingga cengkramannya terlepas.
"Wow ini menegangkan rupanya, jarang sekali aku melihat hal seperti ini." Law terkekeh melihat gadis itu, namun Elizabeth tak menjawab apapun, ia cukup jengkel akan kelakuan pria itu tapi ia harus menyibukkan diri melawan kematiannya.
Elizabeth kembali meraih dahan pohon tadi namun,
Crack!
Dahan tersebut patah dan Elizabeth terjatuh, Law akhirnya beranjak dari tempatnya, berusaha meraih gadis yang tak lama lagi akan mendarat ditanah.
"Aku akan membuatmu membalas semua perilaku burukmu!"
.
.
.
Bersambung..
