"Aku akan membuatmu membalas semua perilaku burukmu!" Walaupun tengah berada dalam bahaya, Elizabeth meraih wajah Law..
Cup~
Wajah pria itu syok, ia dapat merasakan bibir mungil gadis itu menyentuh bibirnya. Elizabeth mencium Law,
"LAW SELAMATKAN AKU!!" Teriak Elizabeth.
Tanpa aba-aba, pria itu mendekap Elizabeth lalu mendarat dengan selamat ditanah. Emosinya memuncak, ia tak lagi bebas seperti yang dilakukannya tadi, ia kini berada dalam kekuasaan Elizabeth, gadis itu berhasil membuat kontrak dengannya.
"Ini semua salahmu nenek tua!!" Law yang marah melempar sesuatu pada nenek tersebut hingga membuatnya terjatuh ke tanah. Law kemudian mengikatnya agar tak kembali melakukan tindakan bodohnya.
"Memangnya kau pikir menjadi pelayan itu menyenangkan, hah?! Aku baru saja akan hidup bebas tanpa ikatan bodoh ini!!" Gerutu Law sembari menginjak-injak nenek tua tersebut.
"Tch!" Pria itu kemudian memalingkan pandangannya pada gadis yang telah menciumnya lalu menghela nafas berat, "Menjadi pelayan untuk gadis seperti ini, bahkan mencabut rumput saja tidak becus!! Aarrrghh ini menyebalkan!"
Elizabeth hanya dapat bernafas lega, ia selamat walaupun hampir saja mati konyol, ia paham telah merebut kebebasan pria dihadapannya, kembali mengingat bahwa ia tak ingin menjadikan Law sebagai pelayannya, ia hanya ingin membawanya pulang kembali pada rumahnya namun situasi saat ini sedikit berbeda dari yang diinginkannya..,
Gadis itu tiba-tiba saja merona, wajahnya merah seperti kepiting rebus. Buru-buru memalingkan wajahnya sebelum yang lain menyadarinya, 'A-aku benar-benar menciumnya! Ya ampun malunya!'
"Oi, setidaknya berterima kasih padaku!" Kesal Law.
"Ma-maaf karena memarahimu juga menamparmu tadi. Terima kasih telah menolongku, Law." Ucap Elizabeth lalu tersenyum pada Law, wajah pria itu sedikit terkejut melihat senyuman gadis dihadapannya, segera saja ia memalingkan wajahnya, pria itu memiliki semburan merah pada kedua pipinya.
"Ah, juga terima kasih Penguin dan Sachi kalian benar-benar membantuku." Tambah Elizabeth, keduanya juga sudah bersusah payah membantunya.
"Tidak masalah Elizabeth-sama, dengan begini kita dapat kembali. Law-dono telah menjadi pelayan anda, kami sangat terharu.." ucap Sachi.
"Siapa bilang aku akan ikut?!" Bantah Law. Elizabeth yang mendengar hal itu meraih lengan yukata Law,
"Law, ayo pulang." Pinta gadis itu lalu tersenyum.
.
.
.
.
Keesokan harinya..
Elizabeth bangun dari tidurnya, ia bermimpi mengenai kejadian yang terjadi semalam, gadis itu terduduk heran melihat kamar yang ditempatinya begitu rapih. Tempat tidurnya dikelilingi oleh pembatas pada sisi kanan, kiri hingga diatasnya semua terbuat dari kain berwarna merah rose, terdapat lemari pakaian baru, meja bahkan warna kamarnya terlihat cerah.
"Selamat pagi, Elizabeth-sama!" Sambut Penguin dan Sachi dihadapan gadis itu.
"A-apa yang terjadi? Dimana aku?" Tanya Elizabeth, ia merasa seperti tidak berada pada kamarnya.
"Ini adalah ruangan anda, Elizabeth-sama. Law-dono mengubah ruangan anda agar anda dapat merasa lebih nyaman untuk tinggal disini." Jelas Sachi,
"Itu adalah pekerjaan dari seorang Pelayan yang telah memiliki kontrak dengan seorang Dewa." Tambah Penguin. Elizabeth yang mendengar kata kontrak tersebut kembali memerah wajahnya, ia masih tak percaya apa yang telah dilakukannya, ia bahkan tidak pernah sekalipun menyentuh pria manapun sebelumnya.
"Lalu dimana Law?"
"Law-dono disamping anda, Elizabeth-sama." Jawab Sachi, membuat Elizabeth terkejut, berfikir sejak kapan pria itu ada disampingnya, ia bahkan tidak merasakan keberadaan orang itu.
"Selamat pagi, Elizabeth. Maafkan saya sebelumnya, saya merasa kamar ini perlu ditata ulang jadi saya melakukannya selagi anda tertidur." Ucap Law tiba-tiba berbalik dengan wajahnya yang sangat ramah, ia tersenyum dengan tenang dan turur katanya begitu baik dan sopan. Elizabeth sangat heran saat ini, gadis itu merasa ada yang aneh, sikap pria itu sangat-sangat berbeda dari sebelumnya, ia mendudukkan dirinya di sebelah Law dan terus menatapnya,
"A-apa kau baik-baik saja Law?" Tanya Elizabeth polos, gadis itu percaya sesuatu pasti terjadi padanya mungkin kepala pria itu terbentur sesuatu.
"Biarkan saya memperkenalkan diri terlebih dahulu, saya Trafalgar Law hari ini adalah pelayan anda, Elizabeth-sama. Jika anda memiliki perintah, apapun itu akan saya lakukan, jadi mulai saat ini anda tidak perlu sungkan." Tambah Law lagi dengan senyuman ramahnya, Elizabeth mulai gelisah, pria itu benar-benar berbeda.
"Aku..aku jadi takut denganmu seperti ini. Aku pikir kau akan marah-marah lagi padaku." Ucap Elizabeth.
"Benarkah?" Tanya Law.
"Ya, tapi sepertinya kau memang tidak marah padaku setelah membuatmu menjadi seorang pelayan."
"Anda tahu, kata 'marah' tersebut sebenarnya TIDAK CUKUP UNTUK MENGGAMBARKAN BETAPA EMOSINYA DIRIKU SAAT INI!!" Teriak Law, emosinya sudah berada diujung tanduk,
"Menjadi pelayan untuk gadis lemah tak berguna sepertimu!! Ini sangat menjatuhkan derajatku!! Aku benar-benar menyedihkan!" Tambah pria itu, Elizabeth terkejut dengan teriakannya hingga jatuh terbaring, telinganya sakit dan jantungnya hampir saja copot.
"Hahh..tapi mau bagaimana lagi. Aku akan membuatmu menjadi seorang Dewi yang benar-benar cocok untuk berdiri disampingku."
Elizabeth perlahan kembali pada posisi duduknya lalu mendengarkan Law yang menjelaskan mengenai pekerjaan seorang Dewa.
"Kekuatan dari seorang Dewa adalah kekuatan Ilahinya, semakin kau menggunakannya maka akan semakin meningkat, untuk meningkatkannya kau harus mendengarkan permohonan para pendoa dan mengabulkannya. Sebagai contoh, Corazon adalah Dewa Pernikahan, dia sudah banyak mengabulkan permohonan pernikahan dan kekuatannya untuk mengikat takdir sangat kuat." Jelas Law, Elizabeth jadi mengerti apa yang dilakukan Corazon sebelum ia meninggalkan Kuil.
"I-ini membuatku kagum pada tuan Corazon." Jawab Elizabeth.
"Dia tidak seperti dirimu yang tidak bisa apa-apa. Sekarang untuk menguji seberapa kuat kekuatanmu, ubah air ini menjadi sake." Law meletakkan sebuah ember terbuat dari kayu dihadapan Elizabeth, "Kau juga bisa menggunakan jimat." Tambahnya.
Elizabeth segera mengambil secarik kertas jimatnya lalu menuliskan sake, ia meletakkannya diatas air tersebut.
"Baiklah, Sachi coba cicipi." Pinta Law, sachi kemudian mengambil gelas berukuran kecil, menuangkan air tersebut lalu meminumnya.
"Ra-rasanya! Rasanya jadi sangat menyegarkan seperti air jernih dari pegunungan, Elizabeth-sama!" Ucap Sachi. Law segera beranjak dari tempatnya lalu berjalan pergi,
"Aku mau pulang!" Kesalnya.
"Jangan Law-dono!!" Penguin berlari menarik pria itu agar tidak kabur. Law begitu kesal seakan-akan apa yang dijelaskannya seperti tak ada artinya, gadis itu menurutnya tak bersungguh-sungguh dan benar-benar membuang waktunya.
.
.
.
.
Di halaman belakang..
"Aku tak boleh menyerah!" Ucap Elizabeth menyemangati dirinya sendiri, gadis itu berada di sana sudah lebih dari satu jam lamanya bersama dengan jimat-jimat yang ditulisinya. Ia berusaha membuat pohon-pohon bunga yang tak bermekaran itu untuk mekar, pada sekelilingnya terdapat banyak pohon yang ditempelnya dengan jimat bertuliskan 'Mekar'
"Elizabeth-sama, anda harus makan siang untuk mengembalikan energi anda." Penguin datang dengan sebuah nampan berisikan beberapa makanan untuk Elizabeth yang tengah bekerja keras.
"Terima kasih banyak Penguin, kau sangat membantu!" Elizabeth menghentikan sejenak kegiatannya lalu menikmati santapan siangnya.
'Ini membuatku malu akan diriku sendiri, sebelum kuketahui apa yang dilakukannya, Law menyiapkan segalanya untukku, kamar tidurku, memasak, bersih-bersih dan lainnya. Katanya itu memang telah menjadi tugas seorang pelayan. Aku tidak bisa terus bersantai seperti ini, aku pun harus melakukan sesuatu, tapi..apa yang bisa kulakukan?' Batin Elizabeth.
Gadis itu kembali melakukan latihannya dan berharap jika itu berhasil namun tak berselang lama ia merasa lelah dan tertidur.
Dari kejauhan Law melihat gadis bersurai indigo itu tengah tertidur, ia perlahan mendekatinya,
"Aku lupa memberitahumu, jimat ini menguras kekuatan dari penggunanya. Kau akan roboh seperti ini jika menulis banyak jimat seperti itu." Ucap Law, pria itu mengangkatnya lalu membawa gadis itu pada kamarnya, membaringkannya lalu pergi.
.
.
.
.
Elizabeth's pov.
Perlahan membuka kedua mataku, aku terkejut melihat kamarku lagi tapi kali ini bukan karena kamarku rapih tapi seingatku aku tertidur di taman saat tengah berlatih menggunakan jimat, siapa yang membawaku kembali?
Perlahan beranjak dari kasur, aku ingin tahu sudah berapa lama aku tertidur. Ini pasti sudah malam, aku lupa besok harus sekolah! Oh ya ampun aku belum mencuci seragam sekolahku!
Buru-buru mencari seragam sekolah dan mendapatinya terlipat rapih didalam lemari dan sudah dicuci, pasti Law yang mencucinya, ini memalukan apa dia tidak pikir itu pakaian seorang wanita! Tu-tunggu dulu jangan-jangan dia mencuci pakaian da—
"Oh? Sudah bangun rupanya." Aku benar-benar jadi terbiasa mendengar suaranya, segera menoleh pada pria berwajah dingin itu, dia hanya bersandar pada pintu dan memperhatikanku.
"Ka-kau tidak mencucinya kan!"
"Mencuci apa?"
"Pakaian...dalamku.." wajahku sampai rasanya panas sekali, ini sangat memalukan!
"Yang benar saja, mana mau aku menyentuh benda menjijikan itu." Balasnya padaku, astaga ucapannya menyakitkan sekali.
Aku langsung meninggalkannya karena malu juga kesal padanya, sudahlah tak ada gunanya berdebat dengan orang itu. Aku harus segera mencuci dan mempersiapkan peralatan sekolahku.
Untungnya aku hanya memiliki sedikit pakaian kotor untuk dicuci, lagipula pakaian dalamku masih ada yang bersih. Semua peralatan sekolah sudah kupersiapkan bahkan pekerjaan rumahnya pun sempat kukerjakan sebelum diusir dari apartemen. Sudah dua hari aku berada disini namun pendidikanku tidak terganggu karena libur dihari minggu juga hari senin yang kebetulan sekali libur nasional sehingga sekolah diliburkan, besok aku harus kembali bersekolah aku tidak bisa membiarkan pekerjaan sebagai seorang Dewi menghalangi kegiatan sekolahku.
"Elizabeth-sama saatnya makan malam." Panggil Sachi.
"Baik!" Segera berlari menuju ruang makan, Law sedang menyiapkan hidangan makan malam kami, aku lagi-lagi merasa tak enak padanya,
"Biar kubantu, Law" ucapku lalu mengambil beberapa mangkuk dari dapur, kembali lalu meletakkannya diatas meja. Law hanya menatapku, tatapannya mengerikan.
"Kau ini kenapa? Berusaha supaya tidak dibilang tak berguna?" Ejeknya.
"Tidak, ini cuma naluriku saja." Jawabku tersenyum, aku tidak boleh terbawa emosi padanya, elizabeth kau harus kuat menghadapi pria sedingin es itu!
Kami pun makan malam bersama, sesekali Sachi dan Penguin menceritakan hal-hal lucu dan itu menggelitik perutku namun Law hanya fokus untuk makan, dia makan dengan tenang tanpa ekspersi apapun, apa dia tidak punya emosi selain marah?
.
.
.
.
Pukul 6.20 pagi
Setelah bersiap-siap, aku mendapati Law berada di ruang makan, sepertinya dia membuatkan sarapan pagi, tapi aku belum mengatakan apapun mengenai pergi ke sekolah.
"Law kenapa bangun sepagi ini untuk memasak?" Tanyaku.
"Karena kau bangun."
"Darimana kau tahu aku sudah bangun?!"
"Kau begitu berisik di kamar mandi!" Balasnya kesal, ah pasti karena suara air membangunkannya.
"Maaf ya Law jadi membangunkanmu."
"Cih, terserahlah. Cepat habiskan! Membuatku repot-repot saja masak lagipula kau mau kemana pagi-pagi begini?"
Padahal kan aku tidak pernah memintanya untuk memasak, dasar aneh, "Aku akan pergi ke sekolah."
Dia tidak menjawabku, ada apa? Sembari menikmati sarapan pagi aku menoleh padanya, dia hanya diam saja disana.
"Ada apa? Apa kau lupa kalau aku anak sekolah?"
"Aku tidak mengizinkanmu."
"Apa maksudmu?"
"Sudah kukatakan, aku tidak mengizinkanmu! Kau tidak akan pergi ke sekolah."
"Eeeehhh?! Tidak bisa begitu! Aku harus sekolah, aku punya banyak hal penting disana!" Segera menyelesaikan makan pagiku, aku harus bergegas pergi dari sini, aku kenal aura tak menyenangkan ini, dia kesal padaku. Sebelum beranjak pergi tangan Law menahanku,
"Kenapa kau bodoh sekali! Apa kau tidak paham situasimu! Jika kau pergi, makhluk buas diluar sana pasti akan menyerangmu! Lihat jidatmu, simbol itu membuatmu berbeda dari manusa lainnya!" Law sampai harus mendorong-dorong keningku seperti itu, apa dia tidak lelah hanya marah-marah seperti itu,
"Kalau begitu Law ikut denganku"
"Aku punya banyak pekerjaan disini!! Dan juga kau harus segera menguasai kekuatanmu!!"
"Tapi sekolah itu penting!"
Aku dapat melihatnya hanya menarik nafas panjang agar dapat bersikap tenang, dia tidak lagi menatapku marah tapi berjalan pergi meninggalkanku, aku bingung dengannya, dia khawatir??
"Baiklah terserah padamu tapi gunakan ini." Dia kembali lagi membawa sesuatu,
.
.
.
.
Di Sekolah..
Elizabeth adalah salah satu gadis berprestasi di sekolahnya, dia akan selalu meraih posisi pertama jika itu mengenai ranking tapi tidak untuk pergaulan. Elizabeth tak memiliki banyak teman oleh karena itu ia tak tahu harus menetap dimana ketika diusir dari apartemennya.
Siswa-siswi sekolah menengah atas itu bagaimanapun tidak banyak bergaul dengan Elizabeth, menurut mereka murid berprestasi adalah orang yang tak keren atau hanya nerd yang ketinggalan zaman.
Gadis itu kini harus menahan malu karena para siswa-siswi dari sekolahnya tengah menertawainya, penampilannya hari ini begitu mencolok dengan sebuah Kerchief atau lebih dikenalnya Bandana berwarna merah terang menutupi keningnya hingga rambut indigonya, kain itu berbentuk segitiga jika dilihat dari belakang.
'Law kenapa dirimu jahat sekali! Aku sampai harus mengenakan hal memalukan seperti ini..' batin Elizabeth sembari mengutuk Law yang usil padanya.
"Kyaaa Flint-sama~ dia sangat tampan kalau dilihat secara langsung!"
"Iya yaa~ ahh aku berharap bisa sekelas dengannya!"
Beberapa siswi-siswi melewati Elizabeth yang membuatnya penasaran, 'Rasanya aku pernah mendengar nama itu..'
Setibanya dikelas, hendak menghampiri kursinya
Brakk!
Suara pintu terbuka cukup keras mengagetkan seisi kelas, seseorang muncul darisana dan Elizabeth hanya dapat mendengar teriakan juga sorak-sorai dari para gadis-gadis.
'I-itu kan Flint Maxwell! Salah satu penyanyi terkenal yang sedang booming! Dia sekelas denganku?! Ini sebuah keberuntungan!'
Flint Maxwell, pria tampan, rambutnya berstyle Quiff dan dicat merah mahogany, dia dijuluki sebagai seorang Malaikat yang jatuh ke bumi, selama konsernya banyak yang mengatakan kalau pria itu memiliki sayap berwarna hitam, ia begitu tampan hingga membuat banyak dari penggemarnya adalah perempuan.
Flint mendekati Elizabeth yang membuatnya langsung gugup tetapi Elizabeth tidak ingin terlihat seperti orang konyol yang tak mengetahui sosok dihadapannya, Elizabeth dapat dikatakan salah satu penggemar baru dari Flint, beberapa bulan lalu ia baru saja mendengarkan lagu-lagunya hingga mendatangi beberapa konsernya,
"F-flint-san, senang bertemu dengan an—"
"Minggir."
"Eh?"
"Bangku itu milikku, kau duduk saja dibelakang." Flint menabrak bahu Elizabeth, melewatinya lalu duduk begitu saja di tempat Elizabeth. Sedangkan Elizabeth hanya mematung tak percaya orang yang dikaguminya berlagak seperti itu..
.
.
.
.
Bersambung..
————————————————
Author's Note~
Hi-hi pembaca, ini Eriza yang berbicara~ terima kasih telah membaca Fanfiction ini senang rasanya jika kalian menyukainnya :D ngomong2 sedikit info Flint Maxwell adalah Original Character (OC) dari author jadi jangan bingung ya kenapa ada karakter itu padahal kan didunia OP gaada xD
